Aldi Mahendra seorang pemuda yang hidup sebatang kara, dia dari usia empat tahun hidup di jalanan. Hingga akhirnya bertemu seorang kakek yang mengangkatnya menjadi cucunya. Aldi di sekolah hingga lulus SMK, kini dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar.
Walaupun uangnya tak seberapa tapi bisa untuk makan setiap hari, apalagi pekerjaan untuk lulusan SMK itu sedikit susah. Aldi di pandang rendah oleh siapapun hingga saat ini berusia 19 tahun dia tetap berusaha hidup di setiap gempuran ombak yang besar datang di kehidupannya.
Semua berubah ketika mendapatkan sebuah cincin merah delima, kehidupannya berubah menjadi lebih baik lagi tapi sesuatu keanehan di kedua matanya membawa dia kedalam dunia yang seharusnya tidak terjadi.
Perjalanan kota maupun di desa menjadi tolak ukur bagi pengalaman Aldi menjadi lebih berani lagi, seperti bentuk tubuhnya yang tinggi dan kekar dengan wajah tegasnya mulai terlihat dalam perjalanan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sita Sangat Berterima Kasih
Bunyi notifikasi transfer uang terdengar pelan di ponsel Sita yang sedang berusaha memejamkan matanya, dia sangat lelah dengan musibah hari ini. Perubahan begitu cepat baginya yang selalu ada simpanan uang tapi kini hanya tersisa dua ratus ribu saja.
"Ya tuhan dua puluh juta banyak sekali," dengan suara berat Sita berkata, air matanya turun seketika melihat nominal sangat cukup hidupnya dan kebutuhan anak semata wayangnya.
"Mbak, pakai uang itu dulu jangan mikir untuk di balikin," pesan masuk dari Aldi.
Sita yang membacanya tidak menyangka Aldi akan mengirimkan begitu banyak uang kepada dirinya, tangis tersedu-sedu Sita terdengar menyakitkan bagi orang paham tentang sulitnya hidup.
Tidak semua janda anak satu bisa bertahan dalam kehidupan yang berat, apalagi tinggal di desa dengan ekonomi rendah dan pekerjaan sangat berat menjadi banyak orang merantau ke kota.
"Al, kamu dapat uang darimana?," tanya Sita di dalam pesan singkatnya.
"Itu uang halal kok mbak, sudah malam mbak sita cantik, tidur ya!!," balas Aldi.
Sita yang membacanya tersenyum kecil, dia tidak menyangka bahwa Aldi memiliki uang cukup banyak tapi dia juga ingin tau darimana uang itu. Apalagi Sita tau bagaimana kehidupan sehari-hari Aldi dari sekolah sampai lulus kini.
Usia Sita baru dua lima tahun dan Aldi masih sembilan belas tahun, Sita sudah mengenal Aldi sejak dia gadis dulu pertumbuhan dia juga salah satu kenangan kebersamaan satu desa.
Tempat di usia lima belas tahun Aldi mendengar bahwa Sita akan menikah, itu menjadi kabar bahagia setelah kakeknya tiada. Apalagi Aldi sudah kenal dengan calon suami Sita yang cukup baik padanya.
"Iya mbak tidur," balas Sita, dia sangat berterima kasih dan menunggu kepulangan Aldi besok.
Aldi meletakkan ponselnya, dia kini menonton televisi bersama Niko. Sedangkan Salma menjauh dari Aldi setelah Aldi meletakkan ponselnya kembali dia duduk di sampingnya.
Salma merebahkan kepalanya di dada bidang Aldi.
"Itu siapa kak?," tanya Salma, dia sedikit penasaran.
"Itu mbak Sita, kamu lupa!!," balas Aldi.
Salma bangun perlahan lalu dia berusaha mengingat nama yang tidak asing baginya, dia terus mengingat berkali-kali hingga dia sadar siapa yang di maksud Aldi.
"Ohh mbak Sita itu. Aku kira tadi cewek kak Aldi," ujar Salma, dia yang tadinya cemburu kini ada pertanyaan lebih dari itu tapi di tahan.
"Boleh juga sih tapi aku belum ingin memiliki perasaan apapun," balas Aldi.
"Ish kak Aldi," dengan wajah cemberut dia berbicara cukup keras membuat Aldi kaget.
Aldi yang melihat Salma memalingkan wajahnya kebingungan kenapa dengan gadis di sampingnya ini. Aldi akhirnya paham jika Salma cemburu kepada perkataannya tadi.
"Sini-sini jangan marah-marah kamu itu," Aldi berkata pelan, lalu dia menarik perlahan kepala Salma merebahkan di dada bidangnya.
Salma masih cemberut aja wajahnya kesal dengan apa yang di ucapkan Aldi tadi, namun perhatian Aldi kepada dirinya seperti yang selalu dia rasakan bersama sang Ayah.
"Kak Aldi, Salma gak tau tentang perasaan ini yang begitu nyaman ketika dekat denganmu. Kenyamananmu seperti ayah berada di sampingku, perasaan sayangku lebih dari itu. Aku sangat suka kepadamu tapi aku tak berani mengatakan itu," hati Salma berkata, perasaan yang dari dulu dan kini kembali sepenuhnya.
Salma tau bahwa Aldi teman kakaknya dan Usianya hanya beda setahun tapi Kedewasaan Aldi lebih dari kakaknya Niko, dia menyukai Aldi bukan sekedar kakak tapi lebih dari segalanya. Namun dia tidak berani mengungkapkan perasaannya dia hanya begitu manja ketika kembali bertemu Aldi setelah empat tahun penuh tidak bertemu.
Salma hanya tau kabar Aldi dari kakaknya Niko setiap bertemu di rumah, karena Niko tidak ikut ke kota dia tinggal bersama neneknya di desa karena tinggal sendirian.
Hingga sekarang kepergian nenek dan ayahnya menjadi kesedihan mendalam bagi keduanya, ibu yang masih ada entah berantah ada dimana dan kabarnya pun tidak mereka ketahui.
Tapi untungnya, ayah mereka memberikan tabungan cukup hingga lulus kuliah atau sekolah saja. Niko mengalah hanya tamat SMK dia tau kapasitasnya sendiri dan adiknya lebih cerdas darinya jadi dia memberikan biaya sepenuhnya kepada sang adik.
Peninggalan kostan yang cukup besar dan rumah di bawahnya menjadi investasi jangka panjang bagi mereka berdua, penghasilan yang cukup terbilang banyak namun juga pengeluaran untuk mengurus kostan dan rumah terbilang setengah dari pendapatannya.
"Salma kamu masuk tidur sana," pinta Aldi dengan lembut.
"Gak mau kak, Salma mau tidur disini bareng kak Aldi," balas Salma.
Aldi menghela napasnya dia bingung harus bagaimana karena Niko sendiri tidak mungkin bisa meminta adiknya kedalam untuk tidur sendiri.
"Ya sudah ambil selimut sana," pinta Aldi, Salma beranjak pergi mengambil selimut begitu cepat.
Kini sofa di putar menjadi dua tempat cukup untuk Aldi dan Salma sedangkan Niko di satunya, karena Aldi tidak mau tidur di kamar.
Televisi masih menyala dengan Niko masih belum tidur, sedangkan Aldi sudah terlelap bersama Salma dalam pelukannya. Salma merasakan kehangatan dalam pelukan Aldi dia sangat nyaman hingga ikut tertidur pulas.
"Sialan mereka berdua sudah tidur duluan lagi," umpat Niko, dia sendiri sebenarnya takut kalau tidur sendirian di rumah ini.
Dia mengambil selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya karena takut tidak bisa tidur kalau lebih malam lagi.
Televisi masih menyala dengan suara berisik kini mereka sudah tertidur pulas, Namun Salma ternyata belum begitu pulas dia membuka matanya melihat Aldi yang sedang tertidur memeluk dirinya.
"Terima Kasih kak, kamu sudah mau menuruti keinginanku yang seharusnya tidak kau pedulikan. Aku sangat sayang kepadamu kak Aldi," gumam pelan Salma.
Dia dengan perlahan memejamkan matanya dalam dada bidang Aldi.
Malam yang penuh keindahan bagi mereka yang merasa cukup dengan apa yang di dapatkan hari ini, mengeluh capek dan lelah itu hal wajar dalam menjalani hidup yang cukup keras.
Gemerlap lampu kini kian meredup dengan rintik-rintik hujan yang cukup deras di luar rumah memberikan dinginnya malam seperti AC alami dari keindahan dunia ini.
Setiap harapan, keinginan dalam sebuah kenyamanan dan keamanan menjadi rasa yang melelahkan bagi mereka yang masih bekerja hingga malam hari. Kebutuhan hidup yang begitu besar membuat mereka harus bekerja keras siang dan malam.
Hingga hamparan harapan hingga keinginan terus menerus meningkatkan cara berfikir manusia yang berkembang dalam kekuatannya sendiri.
Pagi menyapa dengan janji-janji keindahan dunia yang penuh akan rintangan, dalam sebuah rumah ada aktivitas yang mulai terbangun dengan perlahan.
Niko sudah terbangun dia pergi meninggalkan Aldi dan Salma karena ada keperluan, saat Aldi terbangun dia melihat Salma masih tertidur pulas dalam pelukannya.
Dia membelai rambut halus Salma dengan lembut, dia bingung sendiri kenapa Salma lebih nyaman dekat dengan dirinya di bandingkan kakaknya sendiri. Mereka kalau bertemu pasti ada keributan kecil, tapi rasa sayang Niko kakaknya begitu jelas pada adiknya.
"Pagi Kak Aldi," ucap Salma.
"Pagi juga Salma," balas Aldi, dia kini memandang kembali wajah Salma.
"Nyaman sekali tidur bersama kak Aldi," ujar Salma, lalu membenamkan kepalanya kembali.
"Iya cantiknya kakak," balas Aldi. "Kamu gak kuliah hari?," lanjut Aldi bertanya.
"Masuk siang kak, nanti jam sepuluh," jawab Salma.
"Aku mau lanjut tidur lagi bareng kakak, biar di bilang cantik terus," ujar Salma, jantung berdebar-debar karena mendengar ucapan Aldi yang memuji kecantikannya.
"Iya sudah kamu tidur saja kakak mau bangun," ucap Aldi.
"Enggak mau kak, aku mau kakak disini dulu," balas Salma, dia menahan tubuh Aldi dalam pelukannya.
"Sudah pagi Salma, kakak mau mandi sudah asem ini badan kakak," ujar Aldi.
"Aku suka kok, sudah pokoknya temenin Salma tidur lagi sebentar aja. Nanti jam delapan bangun," pinta Salma.
Aldi menghela napas panjang dia pasrah dengan keinginan adik Niko yang selalu ingin dekat dirinya. Akhirnya Aldi memeluk tubuh Salma dengan perlahan, hingga mereka tertidur kembali.
Dengkuran pelan Salma terdengar jelas, ternyata Aldi tidak tidur dengan perlahan melepaskan pelukan Salma. Dia beranjak dari gadis muda yang selalu ingin dekat dengannya setelah bertemu kembali.
Dengan langkah pelan Aldi pergi untuk membersihkan dirinya. Dia masuk kedalam kamar Niko untuk mandi, setelah selesai dia memakai pakaian yang baru beli kemarin.
Celana training panjang abu-abu begitu pas dengan Baju hitam lengan panjang, kini Aldi duduk di depan rumah Niko melihat setiap penghuni yang keluar satu persatu.
°°°°°
Ceritanya udah bagus, hanya tinggal memperbaiki peletakkan tanda baca.