Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Sumpah Setia di Hadapan Alam Semesta
Suasana di depan altar pernikahan itu hening seketika. Ribuan pasang mata dari berbagai ras dan dunia memandang dengan takjub dan haru. Musik yang tadinya bergema perlahan meredup, menyisakan suara alam yang tenang sebagai latar belakang.
Elara dan Kael berdiri bersanding di atas panggung yang dikelilingi oleh bunga-bunga suci. Di hadapan mereka, berdiri seorang Penyelenggara Upacara yang dipilih khusus oleh Sang Pencipta—seorang tetua yang memiliki aura bijaksana dan tenang.
"Anak-anakku," suara tetua itu lembut namun mampu terdengar sampai ke ujung lapangan. "Hari ini, kita berkumpul bukan hanya untuk merayakan sebuah pernikahan biasa. Kita menyaksikan penyatuan dua kekuatan terbesar yang pernah ada. Cahaya dan Kegelapan, Matahari dan Bulan, Kunci dan Gembok."
Tetua itu menatap Kael terlebih dahulu.
"Kael, apakah kau menerima Elara menjadi istrimu? Apakah kau berjanji untuk melindunginya, menghargainya, dan mencintainya apa adanya, baik saat ia bersinar terang maupun saat ia sedang lelah dan redup? Apakah kau berjanji untuk menjadi pendamping yang setia sampai akhir zaman?"
Kael tidak mengalihkan pandangannya dari mata Elara. Matanya memancarkan keyakinan yang tak tergoyahkan.
"Aku berjanji," jawab Kael tegas. "Dengan jiwa dan ragaku, aku menjadikannya milikku selamanya. Tidak ada jarak, tidak ada waktu, dan tidak ada kekuatan apa pun di alam semesta ini yang bisa memisahkan aku darinya."
Saat kata-kata itu terucap, langit di atas mereka berubah. Awan-awan membentuk huruf-huruf raksasa yang bersinar emas, menuliskan janji tersebut ke dalam catatan sejarah alam semesta agar abadi selamanya.
Giliran tetua itu menoleh ke arah Elara.
"Elara, apakah kau menerima Kael menjadi suamimu? Apakah kau berjanji untuk menjadi pelita yang membimbing jalannya, menjadi kelembutan yang menyejukkan hatinya, dan menjadi rumah tempat ia pulang kapan pun? Apakah kau berjanji untuk setia dan mengikutinya ke mana pun ia pergi, bahkan sampai ke ujung dunia atau kedalaman jurang maut sekalipun?"
Wajah Elara bersinar bahagia. Air mata haru menetes perlahan, namun senyumnya tidak pernah pudar.
"Aku berjanji," sahut Elara dengan suara lantang namun manis. "Aku akan menjadi cahayanya saat ia berada dalam kegelapan, dan aku akan menjadi kekuatannya saat ia merasa lemah. Hatiku sudah terkunci rapat untuknya, dan hanya ia yang memegang kuncinya selamanya."
ZAP!
Seketika itu juga, petir menyambar namun tidak menimbulkan suara keras, melainkan suara lonceng yang indah. Energi murni dari langit turun menyelimuti tubuh mereka berdua, memberkati ikatan mereka dengan kekuatan ilahi.
"Dan karena tidak ada lagi keraguan di hati kalian," kata Tetua itu dengan senyum lebar, "Maka dengan kuasa yang diberikan padaku oleh hukum alam dan cinta... aku nyatakan kalian berdua sebagai Suami dan Istri."
"Kau boleh mencium pengantin wanita!" sorak Tetua itu.
Kael tidak menyia-nyiakan waktu. Ia perlahan menarik kerudung tipis yang menutupi wajah Elara ke belakang, memperlihatkan wajah cantik istrinya yang bersinar. Ia memegang kedua bahu gadis itu, lalu membungkuk sedikit.
Mereka berciuman di hadapan seluruh dunia.
Sorak-sorai meledak dahsyat!
"HOORRAAAAYY!!!"
"HIDUP RAJA DAN RATU!!!"
"SELAMAT BAHAGIA!!!"
Orkestra memainkan lagu paling megah. Bunga-bunga beterbangan, kembang api meletus indah di langit membentuk bentuk hati dan bintang. Para tamu dari Elysium ikut bertepuk tangan, para raksasa menghentakkan kaki kegirangan, dan para peri menaburkan debu ajaib yang membuat semua orang merasa bahagia.
Darian dan Nenek Mara di bawah panggung menangis bahagia sambil berpelukan. Perjuangan panjang mereka, air mata dan keringat yang tumpah, semuanya terbayar lunas dengan pemandangan indah ini.
Pesta pernikahan berlangsung selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti. Makanan melimpah, musik tak berhenti, dan tawa terdengar di setiap sudut kota.
Namun, di tengah kemeriahan itu, ada momen-momen tenang yang hanya dimiliki oleh pasangan suami istri baru ini.
Suatu malam di hari ketiga pesta, Kael mengajak Elara terbang meninggalkan keramaian. Mereka naik tinggi, melewati awan, hingga sampai ke puncak menara tertinggi di kota, tempat angin bertiup bebas dan pemandangan kota terlihat seperti hamparan lampu-lampu bintang.
Mereka duduk berdampingan di tepi atap, kaki mereka menjuntai ke bawah, saling bersandar bahu ke bahu.
"Rasanya seperti mimpi ya?" bisik Elara sambil memainkan cincin di jarinya yang kini bersinar lembut. "Dulu aku takut takdir kita akan berakhir tragis. Tapi sekarang... rasanya kita bisa menaklukkan segalanya."
Kael memeluk pinggang istrinya erat-erat, menciummu pelipisnya.
"Karena kita tidak lagi melawan takdir, sayangku. Kita membuat takdir kita sendiri. Dan takdir kita adalah kebahagiaan."
Elara mendongak menatap wajah suaminya di bawah cahaya bulan. "Kael... ada sesuatu yang ingin kukatakan."
"Apa itu?"
"Selama kita berlatih di Elysium, Sang Pencipta pernah berbisik sesuatu padaku," kata Elara pelan. "Dia bilang... bahwa peran kita belum selesai. Kita bukan hanya pelindung Lunaria. Suatu hari nanti, kita mungkin akan dipanggil untuk melakukan perjalanan jauh lebih besar lagi. Menjelajahi dimensi-dimensi lain, membantu dunia-dunia yang sedang kesusahan."
Kael tersenyum, tidak terlihat kaget sama sekali.
"Aku tahu," jawab Kael. "Aku juga merasakannya. Dunia ini terlalu luas untuk hanya kita tinggali di satu tempat saja."
"Jadi... kau mau?" tanya Elara ragu. "Kau mau meninggalkan kenyamanan ini dan pergi berpetualang bersamaku?"
Kael tertawa kecil, lalu menatap mata istrinya dalam-dalam.
"Elara, selama kau ada di sisiku... di mana pun tempat itu, itulah rumahku. Ke mana pun kau pergi, aku akan ikut. Bahkan jika kau meminta aku pergi ke neraka sekalipun, aku akan melangkah maju dengan senyum di wajahku."
Elara tersenyum lebar, hatinya terasa sangat hangat. "Kau memang suamiku yang terbaik."
"Dan kau istriku satu-satunya."
Mereka kembali terdiam, menikmati angin malam dan kebersamaan mereka. Masa depan mungkin masih panjang, penuh misteri dan petualangan baru yang menanti. Namun mereka tidak takut.
Karena mereka tahu, selama mereka bersama, memegang tangan satu sama lain, tidak ada rintangan yang terlalu tinggi, dan tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.
Kisah cinta mereka yang terkunci itu kini telah terbuka, dan halaman-halaman baru yang lebih menakjubkan siap untuk ditulis.
(TAMAT BAGIAN PERTAMA)
(Bersambung ke Bab Baru: Petualangan Dunia Lain...)