NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 - Ujian Nyata

Langit pagi di Akademi Arvandor tampak lebih kelabu dari biasanya, dengan awan tipis yang menggantung rendah seolah menahan cahaya matahari agar tidak sepenuhnya turun ke halaman utama. Udara terasa lebih dingin dan padat, menciptakan suasana yang berbeda dari hari-hari latihan biasa yang masih menyisakan sedikit kelonggaran. Para murid Kelas Elite sudah berkumpul sejak awal, berdiri dalam barisan rapi dengan ekspresi yang menunjukkan keseriusan yang sama.

Tidak ada percakapan ringan atau candaan seperti sebelumnya. Beberapa hanya saling melirik sekilas, sementara yang lain memilih diam sambil menunggu instruksi. Tekanan yang tidak terlihat mulai terasa bahkan sebelum ujian dimulai, seolah semua orang memahami bahwa hari ini akan menjadi penentu.

Instruktur utama berdiri di depan dengan sikap yang lebih tegas dari biasanya, ditemani beberapa pengawas yang posisinya tersebar di sisi lapangan. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, karena aura yang mereka bawa cukup untuk membuat suasana menjadi kaku. Tidak ada ruang untuk menganggap ini sebagai latihan biasa.

“Kalian telah melewati tahap dasar. Sekarang kita akan melihat bagaimana kalian bertahan dalam situasi nyata.”

Suaranya tidak keras, tetapi cukup dalam untuk menekan perhatian semua orang. Beberapa murid langsung menegakkan tubuh, memperbaiki posisi tanpa sadar.

“Ujian kali ini adalah simulasi berburu dan bertahan hidup di wilayah luar akademi. Kalian akan dibagi dalam tim dan ditugaskan mengumpulkan inti energi dari makhluk yang ada di dalam area simulasi.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya benar-benar dipahami.

“Namun ingat, ini bukan hanya tentang berburu. Ini tentang kerja sama. Tim dengan koordinasi buruk akan gagal, meskipun individunya kuat.”

Kalimat itu tidak panjang, tetapi maknanya jelas. Beberapa murid yang sebelumnya percaya diri mulai menunjukkan sedikit perubahan pada ekspresi mereka, terutama mereka yang terbiasa bergerak sendiri.

Alverion Dastan berdiri di barisan tengah, mendengarkan tanpa menunjukkan reaksi berlebihan. Bagian tentang kerja sama langsung menarik perhatiannya, bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia tahu itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan dalam waktu singkat.

Kepercayaan tidak muncul begitu saja.

Apalagi di tempat seperti ini, di mana setiap orang membawa tujuan dan kepentingannya sendiri.

Nama-nama mulai dipanggil satu per satu untuk pembagian tim. Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi lebih hidup, meskipun tidak sampai gaduh. Setiap kombinasi yang disebutkan langsung dinilai oleh yang mendengar, mencoba menebak peluang keberhasilan atau kegagalannya.

Ketika giliran Alverion tiba, ia memperhatikan dengan lebih fokus.

“Alverion Dastan, Lysera Virel, Varian Zevran, dan Caelis Rhydor.”

Beberapa murid di sekitar langsung saling melirik. Kombinasi itu tidak bisa dianggap biasa, karena setiap nama di dalamnya memiliki reputasi masing-masing. Bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga tentang cara mereka bertindak.

Varian Zevran melangkah maju dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Sikapnya terlihat lebih terkendali dibanding sebelumnya, tetapi ada sesuatu dalam caranya menatap yang masih menunjukkan kecenderungan lama.

“Menarik.”

Lysera Virel berdiri tidak jauh dari Alverion, ekspresinya tetap datar seperti biasa. Ia hanya melirik sekilas ke arah Varian sebelum kembali fokus ke depan, seolah tidak tertarik memperpanjang interaksi yang tidak perlu.

Caelis Rhydor maju terakhir dengan langkah yang tenang. Rambut pirangnya tersisir rapi, dan wajahnya tidak menunjukkan emosi yang mudah dibaca. Ia dikenal sebagai murid yang jarang terlibat konflik, tetapi selalu berada di posisi atas dalam setiap evaluasi.

Tim yang kuat di atas kertas.

Namun belum tentu stabil di lapangan.

Instruktur melanjutkan penjelasan tanpa memberi waktu lebih untuk mereka menyesuaikan diri.

“Kalian akan masuk ke area hutan Arvandor bagian luar. Batas waktu enam jam. Jika tim kehilangan lebih dari dua anggota, maka dianggap gagal.”

Kalimat itu cukup untuk memperjelas bahwa risiko dalam ujian ini bukan sesuatu yang bisa diabaikan. Meskipun disebut simulasi, dampaknya tetap nyata bagi mereka yang tidak siap.

Gerbang menuju area hutan dibuka perlahan, memperlihatkan jalur masuk yang dipenuhi pepohonan rapat. Satu per satu tim mulai bergerak masuk sesuai urutan, menjaga jarak agar tidak saling mengganggu.

Ketika giliran mereka tiba, Alverion melangkah tanpa ragu. Begitu melewati batas gerbang, suasana langsung berubah. Tanah terasa lebih lembap, udara lebih dingin, dan suara alam seperti lebih jelas terdengar di telinga.

Beberapa langkah setelah masuk lebih dalam, Varian menghentikan langkahnya lebih dulu. Ia menoleh ke arah yang lain dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa ia sudah mengambil keputusan.

“Kita tidak bisa berjalan tanpa arah. Aku akan memimpin.”

Nada suaranya tidak memberi ruang untuk diskusi panjang. Ia berbicara seolah keputusan itu sudah jelas sejak awal.

Lysera langsung menatapnya tanpa menyembunyikan ketidaksetujuan.

“Berdasarkan apa?”

Varian menyeringai tipis, tidak terlihat terganggu oleh pertanyaan itu.

“Pengalaman.”

Caelis tidak mengatakan apa pun, tetapi juga tidak menunjukkan tanda mendukung. Ia hanya berdiri dengan sikap netral, memperhatikan dinamika yang mulai terbentuk.

Alverion tetap diam beberapa detik, mengamati situasi sebelum akhirnya memilih untuk berbicara.

“Kita butuh informasi dulu. Pola pergerakan makhluk di sini tidak acak, dan kalau kita asal bergerak, kita hanya membuang waktu.”

Varian meliriknya dengan tatapan yang tidak sepenuhnya ramah.

“Kamu yakin tahu?”

Alverion tidak menunjukkan reaksi terhadap nada itu. Ia tetap menjawab dengan tenang, menjaga agar pembicaraan tidak berubah menjadi konflik langsung.

“Lebih baik daripada bergerak tanpa rencana.”

Beberapa detik berlalu tanpa ada yang langsung menambahkan. Ketegangan mulai terasa, tetapi belum cukup untuk memicu benturan terbuka.

Akhirnya, Lysera menarik napas pelan sebelum berbicara.

“Kita bergerak ke arah barat. Ada jejak yang tadi terlihat mengarah ke sana, dan itu satu-satunya petunjuk yang kita punya sekarang.”

Varian tidak langsung menolak. Ia hanya mendecakkan lidah pelan, jelas tidak sepenuhnya setuju, tetapi juga tidak punya alasan kuat untuk membantah.

“Baik. Tapi jangan memperlambat.”

Mereka mulai bergerak dengan formasi yang tidak sepenuhnya terkoordinasi, tetapi masih cukup untuk menjaga jarak aman. Alverion memilih posisi sedikit di belakang, cukup untuk mengamati ketiga rekannya tanpa menarik perhatian.

Beberapa menit berjalan, suara dari semak-semak mulai terdengar. Gerakan cepat muncul di antara bayangan pepohonan, diikuti kemunculan makhluk pertama.

Seekor binatang bertaring dengan tubuh ramping dan gerakan yang lincah. Mata makhluk itu langsung mengunci ke arah mereka, menunjukkan bahwa pertemuan ini tidak bisa dihindari.

Varian bergerak lebih dulu tanpa ragu. Serangannya langsung dan penuh tenaga, mencoba menjatuhkan target dalam satu rangkaian. Ia memang kuat, dan serangannya mengenai dengan cukup bersih.

Namun makhluk itu tidak langsung jatuh. Ia bergerak cepat, menghindari serangan lanjutan dan mencoba menyerang balik dengan arah yang tidak terduga.

Lysera masuk dari sisi lain dengan timing yang lebih terukur. Serangannya tidak sebesar Varian, tetapi lebih terarah, memotong jalur gerak makhluk itu.

Caelis tetap di belakang untuk beberapa detik sebelum akhirnya bergerak. Satu langkah maju, satu serangan presisi, dan makhluk itu langsung kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya jatuh.

Kerja sama terjadi.

Namun tidak terasa alami.

“Lambat.”

Komentar Varian datang tanpa ditahan. Ia menatap hasil di depannya seolah itu belum cukup.

Lysera menoleh dengan tatapan tajam.

“Kalau kamu tidak menyerang tanpa berpikir, mungkin lebih cepat.”

Varian tersenyum tipis, tidak terlihat tersinggung.

“Setidaknya aku tidak menunggu terlalu lama.”

Ia melirik Caelis, mencoba memancing reaksi. Namun Caelis tidak merespons, hanya mengambil inti energi dari makhluk itu dan menyimpannya tanpa komentar.

Alverion memperhatikan tanpa ikut campur. Pola masalah mulai terlihat sejak awal, dan itu bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan satu atau dua keputusan.

Mereka melanjutkan perjalanan, menghadapi beberapa makhluk lain dengan hasil yang kurang lebih sama. Setiap pertarungan berhasil dimenangkan, tetapi selalu ada ketidaksesuaian dalam ritme mereka.

Varian terlalu agresif, Lysera mencoba mengimbangi sambil menjaga struktur, Caelis memilih efisiensi tanpa banyak komunikasi, dan Alverion berada di tengah, menyesuaikan agar semuanya tidak runtuh.

Namun ketegangan tidak berkurang.

Justru perlahan menumpuk.

Hingga mereka memasuki area yang lebih dalam, di mana suasana berubah tanpa perlu penjelasan. Suara alam berkurang, dan tekanan yang tidak terlihat mulai terasa lebih jelas.

Alverion menghentikan langkahnya.

“Ada sesuatu di depan.”

Varian mengangkat alis, menoleh sedikit ke arahnya.

“Kamu bisa merasakannya?”

Alverion tidak langsung menjawab, tetapi tatapannya sudah cukup untuk menunjukkan keyakinan. Energi di depan berbeda dari sebelumnya, lebih besar dan tidak stabil.

Tanpa menunggu, Varian melangkah maju.

“Kita tidak punya waktu untuk ragu.”

Lysera langsung bereaksi, mencoba menahan.

“Berhenti. Kita belum tahu apa yang—”

Suara itu terputus ketika makhluk besar muncul dari balik pepohonan. Tubuhnya jauh lebih besar dari yang mereka hadapi sebelumnya, dengan lapisan kulit tebal dan aura agresif yang langsung terasa.

Situasi berubah dalam hitungan detik.

Varian menyerang tanpa menahan diri. Serangannya mengenai, tetapi tidak cukup untuk memberikan dampak berarti. Makhluk itu bereaksi dengan cepat, membalas dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

Lysera bergerak, mencoba mengalihkan perhatian agar Varian tidak menjadi target utama. Caelis masuk dari sisi lain, mencari celah untuk serangan yang lebih efektif.

Namun koordinasi mereka tidak sempurna.

Serangan makhluk itu hampir mengenai Lysera. Varian terlambat mundur dari posisi berbahaya. Setiap gerakan terasa tidak sinkron.

Alverion melihat semuanya dengan jelas. Ia melangkah maju, menahan dorongan untuk menggunakan kekuatan penuh yang bisa menyelesaikan situasi lebih cepat.

Ia masih harus menjaga batas.

“Tarik diri!”

Varian tidak merespons.

Ia terus menyerang, seolah yakin bahwa tekanan lebih besar akan menghasilkan hasil yang lebih cepat.

Kesalahan.

Makhluk itu berbalik dan menyerangnya langsung. Alverion bergerak cepat, menarik Varian sebelum serangan mengenai, dan benturan terjadi saat mereka jatuh ke tanah.

Debu terangkat, menutup pandangan sesaat.

Varian bangkit dengan ekspresi kesal.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Menyelamatkanmu.”

Jawaban Alverion tetap tenang, tetapi cukup untuk memicu reaksi.

“Kalau kamu tidak ikut campur—”

“Kalau kamu berpikir sebelum bergerak, kita tidak akan seperti ini.”

Kalimat itu memotong dengan tepat. Varian menatapnya lebih tajam dari sebelumnya, tidak lagi sekadar meremehkan, tetapi jelas menunjukkan kemarahan.

Namun situasi tidak memberi waktu untuk memperpanjang konflik.

Makhluk itu menyerang lagi.

Mereka terpaksa bergerak bersama, tetapi kali ini koordinasi semakin buruk. Setiap orang bertindak berdasarkan insting masing-masing, tanpa ritme yang jelas.

Alverion berusaha menjaga keseimbangan, menutup celah yang muncul satu per satu. Namun ia sadar bahwa ini bukan lagi soal kekuatan individu.

Ini tentang tim yang mulai retak.

Akhirnya, dengan usaha yang tidak sedikit, mereka berhasil menjatuhkan makhluk itu. Tubuh besar itu runtuh, dan suara benturannya mengakhiri pertarungan yang terasa lebih panjang dari seharusnya.

Namun tidak ada rasa lega yang jelas.

Napas mereka berat, posisi mereka tidak teratur, dan jarak di antara mereka terasa lebih jauh dari sebelumnya.

Varian berdiri sambil membersihkan debu dari pakaiannya. Tatapannya langsung tertuju pada Alverion, tidak berusaha menyembunyikan ketidakpuasan.

“Kamu terlalu banyak ikut campur.”

Alverion tidak menghindari tatapan itu.

“Kamu terlalu sedikit berpikir.”

Lysera menutup matanya sejenak, jelas mencoba menahan kelelahan yang bukan hanya fisik. Caelis tetap diam, tetapi sorot matanya menunjukkan perubahan yang halus, tidak lagi sepenuhnya netral terhadap situasi.

Mereka berhasil bertahan sejauh ini.

Namun sebagai tim, sesuatu mulai runtuh.

Dan itu lebih berbahaya daripada makhluk apa pun yang mereka hadapi di dalam hutan ini.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!