Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Deru mesin motor Arka yang biasanya terdengar gagah di jalanan aspal Jakarta, kini terdengar seperti rintihan yang dipaksakan saat mereka memasuki jalanan berbatu di lereng pegunungan. Cahaya lampu depan motor hanya mampu menembus pekatnya kabut sejauh dua meter. Di sisi kiri dan kanan mereka, hutan jati tampak seperti barisan raksasa diam yang sedang menghakimi setiap langkah manusia yang berani mengusik ketenangan mereka.
Nirmala mengeratkan pelukannya pada tas ransel yang ia taruh di tengah, di antara dirinya dan punggung Arka. Dinginnya udara pegunungan mulai menembus jaket tebalnya, namun bukan itu yang membuatnya menggigil. Ada sesuatu yang aneh dengan udara di sini. Rasanya berat, seolah-olah setiap oksigen yang ia hirup membawa beban sejarah yang belum selesai.
"Nir, kau masih di sana?" Suara Arka terdengar melalui intercom di dalam helm, sedikit terdistorsi oleh gangguan statis yang tiba-tiba muncul.
"Ya, Arka. Aku hanya... aku merasa jalan ini tidak pernah berakhir," jawab Nirmala dengan suara bergetar.
"Jangan melamun. Fokus pada napasmu. Di tempat seperti ini, pikiranmu bisa menjadi musuh terbesarmu," Arka memperingatkan.
Nirmala mencoba mengikuti saran Arka, namun pikirannya justru terseret ke masa lalu. Itulah kutukan dari perjalanan ini: setiap kali ia melihat kegelapan di luar sana, otaknya secara otomatis memutar fragmen memori yang selama ini terkunci rapat.
[Kilasan Memori - Jakarta, 2015]
Nirmala kecil berusia sepuluh tahun sedang duduk di meja makan apartemen mereka yang mewah. Ayahnya, seorang pria dengan senyum tenang namun mata yang selalu waspada, sedang menyesap kopi hitam. Ibunya sedang sibuk mengelap jendela kaca besar yang menghadap ke arah gedung-gedung pencakar langit.
"Ayah, kenapa kita tidak punya foto kakek dan nenek di rumah?" tanya Nirmala sambil membolak-balik album foto yang hanya berisi dokumentasi mereka setelah pindah ke Jakarta.
Ayahnya terhenti sejenak. Gelas kopinya beradu dengan meja kaca, menciptakan denting yang tajam. Ibunya berhenti mengelap jendela. Suasana yang tadinya hangat tiba-tiba membeku.
"Keluarga kita memulai segalanya dari nol di sini, Nirmala," jawab Ayah dengan nada datar, tanpa menoleh. "Masa lalu itu seperti akar yang busuk. Jika kau terus menggali ke bawah, kau hanya akan menemukan cacing dan bau tanah. Lebih baik kau lihat ke atas, ke lampu-lampu kota ini. Di sini tidak ada kegelapan yang perlu kau takuti."
Nirmala ingat bagaimana ibunya kemudian mendekatinya, mengusap rambutnya dengan tangan yang terasa sedingin es. "Ingat ini, Nir. Jika suatu saat kau merasa mendengar namamu dipanggil dari arah hutan atau tempat yang gelap, jangan pernah menoleh. Di kota ini, suaranya tidak akan bisa mencapaimu. Tapi di luar sana... mereka punya cara untuk menarikmu kembali."
[Kembali ke Realita]
Motor Arka tiba-tiba berguncang hebat saat menghantam lubang yang cukup dalam. Nirmala tersentak kembali ke kenyataan. Mereka kini berada di sebuah jembatan kayu tua yang melintasi sungai berarus deras di bawahnya. Suara air yang menghantam bebatuan terdengar seperti bisikan ribuan orang yang sedang berdebat.
Arka tiba-tiba mengerem mendadak tepat di ujung jembatan.
"Ada apa, Arka?"
Arka tidak menjawab. Ia melepas helmnya, membiarkan rambutnya yang sedikit gondrong berantakan terkena angin malam. Matanya terpejam rapat, tangannya menggenggam erat bandul obsidian di lehernya. Batu hitam itu kini tidak lagi gelap; ada pendar kemerahan yang tipis keluar dari sela-sela jari Arka.
"Ada 'penjaga' di depan kita," bisik Arka. Suaranya terdengar sangat letih. "Sesuatu yang sangat tua. Dia tidak suka kita membawa bau kota ke sini."
Nirmala memberanikan diri untuk melihat ke depan melalui bahu Arka. Di tengah jalan yang diselimuti kabut, berdiri seorang wanita. Namun, saat Nirmala memicingkan mata, ia menyadari itu bukan sekadar wanita. Sosok itu mengenakan kebaya hijau lumut yang sangat lusuh, bagian bawahnya compang-camping menyerupai serat kayu. Rambutnya putih panjang hingga menyentuh tanah, namun wajahnya... wajah itu seolah-olah terbuat dari lipatan kulit pohon yang sudah kering.
Wanita itu tidak berdiri di atas tanah. Kakinya tampak menyatu dengan akar pohon randu kecil di pinggir jalan.
"Cari... yang... kau... buang..." Suara itu tidak keluar dari mulut sang wanita, melainkan terdengar langsung di dalam kepala Nirmala.
Nirmala merasa dadanya sesak. Memori tentang ibunya yang membakar sebuah kotak kayu kecil di balkon apartemen tiba-tiba muncul. Kotak itu berisi rambut bayi dan segenggam tanah merah.
"Arka, dia bicara padaku!" tangis Nirmala pelan.
Arka segera menyalakan mesin motor dengan kasar. "Jangan dengarkan! Itu bukan suara, itu gema psikis. Dia mencoba memancing ingatanmu keluar untuk dijadikan umpan!"
Arka memacu motornya menembus sosok tersebut. Nirmala memejamkan mata erat-erat, bersiap untuk sebuah benturan. Namun, yang ia rasakan hanyalah sensasi dingin yang luar biasa saat mereka melewati "wanita" itu, seolah-olah mereka baru saja melewati sebuah air terjun es. Bau bunga kantil yang busuk menyeruak masuk ke hidung mereka, membuat Nirmala mual.
Setelah beberapa menit memacu motor dengan kecepatan tinggi di tengah kabut, mereka akhirnya tiba di sebuah gerbang desa. Gerbang itu sangat sederhana, hanya dua tiang kayu besar yang melengkung dan diikat dengan akar-akar pohon yang tampak seperti otot-otot raksasa.
Di atas gerbang itu terukir tulisan yang hampir terkikis usia: SANDIWAYANG.
"Kita sampai," gumam Arka. Ia mematikan mesin motor.
Suasana di dalam desa itu sangat berbeda dengan hutan yang baru saja mereka lewati. Jika di hutan tadi terasa penuh dengan ancaman, di dalam desa ini terasa... kosong. Sangat sepi. Tidak ada suara anjing menggonggong atau suara televisi dari rumah-rumah penduduk. Rumah-rumah di sini masih tradisional, terbuat dari kayu jati tua dengan atap limasan yang rendah.
Lampu-lampu jalan hanya berupa obor minyak yang diletakkan di dalam kotak kaca, memberikan pencahayaan kuning yang meliuk-liuk tertiup angin.
Namun yang paling menonjol adalah apa yang berada di pusat desa. Sebuah pohon Randu Alas yang ukurannya di luar nalar manusia. Pohon itu setinggi gedung sepuluh lantai di Jakarta, dengan akar-akar yang menyembul ke permukaan tanah seperti ular-ular raksasa yang sedang tidur. Daun-daunnya yang rimbun menutupi sebagian besar langit desa, membuat bintang-bintang tidak terlihat sama sekali.
Dan tepat di bawah naungan akar-akar raksasa itu, berdiri sebuah rumah kayu yang paling besar di antara rumah lainnya. Pintu depannya sedikit terbuka, menampakkan kegelapan di dalamnya.
"Itu rumahnya," bisik Nirmala. "Rumah yang ada di foto Ayah."
Saat mereka melangkah mendekati rumah itu, Arka tiba-tiba berhenti lagi. Ia menatap tanah di bawah kakinya dengan ngeri.
"Nir... lihat," Arka menunjuk ke arah akar pohon randu yang merambat menuju pintu rumah kakeknya.
Liat apa woii itu....