NovelToon NovelToon
Reality Bender

Reality Bender

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:274
Nilai: 5
Nama Author: Rendy_Tbr

Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan

"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LEMBAH SERIBU RACUN

Langkah kaki Fang Han terasa semakin berat saat ia memasuki wilayah yang dikenal sebagai Lembah Seribu Racun. Udara di sini tidak lagi bening, melainkan berwarna ungu pucat dengan aroma logam yang karat. Setiap napas yang ia hirup terasa seperti pasir panas yang menggores tenggorokannya.

Di tengah jalan setapak yang diapit tebing curam, Fang Han melihat seorang pria tua duduk di atas sebuah batu besar. Pria itu tidak memakai baju kebesaran pendekar, hanya jubah compang-camping berwarna abu-abu yang seolah menyatu dengan debu jalanan. Ia sedang asyik memancing di sebuah kolam lumpur yang mendidih.

"Anak muda, kau membawa bau kematian yang sangat kental di punggungmu," ucap pria tua itu tanpa menoleh. Suaranya serak, namun bergetar dengan kekuatan yang membuat jantung Fang Han berdegup tidak teratur.

Fang Han berhenti, tangannya mengepal di samping tubuh. Ia merasakan aura yang sangat asing dari pria ini—sebuah aura yang tidak menekan, namun terasa seperti jurang yang tak berdasar.

"Aku hanya seorang pengelana yang mencari obat untuk keluargaku, Tetua," jawab Fang Han dengan nada hormat yang dipaksakan.

Pria tua itu terkekeh, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan batu nisan.

"Obat? Kau mencari Bunga Hati Langit dengan kondisi wadah energi yang retak seperti itu? Kau tidak akan sampai ke kaki gunung, apalagi puncaknya. Energi Nirwana Sunya di dalam dirimu sedang memakan jiwamu sendiri, tahukah kau?"

Fang Han tertegun. Ini adalah pertama kalinya seseorang menyebut nama kekuatannya dengan begitu akurat.

"Siapa kau? Bagaimana kau tahu tentang kekuatan ini?" tanya Fang Han, kali ini dengan nada waspada yang tajam.

Pria tua itu perlahan berdiri. Ia memutar tubuhnya, memperlihatkan wajah yang penuh dengan bekas luka bakar yang membentuk pola aneh, menyerupai simbol kehampaan.

"Namaku tidak penting. Tapi ribuan tahun lalu, orang-orang memanggilku Si Penelan Cahaya. Aku adalah satu-satunya orang yang selamat dari kutukan kehampaan yang kau miliki sekarang. Teknik kehampaan itu Reality Bender, yaitu kekuatan yang mampu membelokkan kenyataan. Kau pikir kau sedang menguasai kekuatan itu? Tidak, Kekuatan itu sedang menunggumu untuk menjadi kosong sepenuhnya, agar ia bisa mengambil alih tubuhmu."

Sebelum Fang Han bisa membalas, sebuah getaran aneh merambat di udara. Langit yang ungu mendadak menjadi hening—sebuah keheningan yang menyakitkan telinga. Dari atas tebing, meluncur jatuh seorang pria dengan pakaian hitam ketat yang menutupi seluruh wajahnya kecuali matanya yang berwarna kuning terang.

Pria itu membawa sepasang belati pendek yang tidak memiliki bilah logam, melainkan bilah yang terbuat dari kristal transparan yang terus bergetar.

"Fang Han... kepala seharga sepuluh ribu keping emas," ucap pria bermata kuning itu. Suaranya tidak keluar dari mulut, melainkan bergema langsung di dalam tengkorak Fang Han.

"Namaku adalah Zhen Yin, sang Pembantai Suara. Dan hari ini, aku akan mengambil nyawamu sebelum kau sempat berkedip."

Zhen Yin bergerak. Ia tidak berlari, ia seolah-olah "berteleportasi" melalui gelombang suara. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan wajah Fang Han. Belati kristalnya bergetar dengan frekuensi tinggi yang sanggup menghancurkan molekul udara.

Sret!

Fang Han mencoba menghindar, namun gelombang suara dari belati itu merobek jubahnya dan melukai bahunya tanpa ada sentuhan fisik. Rasa sakitnya luar biasa, seolah saraf-sarafnya ditarik keluar secara paksa.

"Kau tidak bisa menghindar dari suara, bocah!" teriak Zhen Yin. Ia menyerang dengan rentetan tikaman udara yang menciptakan ledakan-ledakan kecil di sekitar Fang Han.

Fang Han terjatuh ke tanah, telinganya mulai mengeluarkan darah. Kekuatan Zhen Yin sangat unik; ia memanipulasi getaran untuk menghancurkan musuhnya dari dalam.

Pria tua misterius itu tetap berdiri di atas batunya, menonton dengan tangan bersedekap.

"Lihat itu, Fang Han! Kau mencoba menggunakan kehampaanmu untuk memukulnya? Sia-sia! Suara adalah getaran, dan kehampaanmu saat ini hanyalah lubang yang tidak memiliki dasar. Kau tidak bisa menangkap angin dengan jaring yang bolong!" teriak Si Penelan Cahaya.

"Lalu apa yang harus kulakukan?!" seru Fang Han sambil menahan hantaman gelombang suara yang membuat tulang rusuknya retak.

"Jangan mencoba menghapus suaranya! Jadilah bagian dari keheningan itu sendiri! Nirwana Sunya bukan tentang menghancurkan materi, tapi tentang menjadi titik di mana materi tidak lagi memiliki arti! Biarkan suaranya melewati tubuhmu seolah-olah kau adalah ruang hampa yang tak berujung!"

Zhen Yin tertawa gila, matanya berkilat kuning.

"Bicara saja tua bangka! Aku akan menghancurkan organ dalamnya sekarang juga! Jurus Terlarang: Gema Kematian Seribu Jiwa!"

Zhen Yin menyatukan kedua belati kristalnya. Sebuah gelombang suara raksasa berbentuk cakram melesat ke arah Fang Han, menghancurkan batu dan tanah di jalurnya hingga menjadi debu halus.

Fang Han memejamkan matanya. Di tengah rasa sakit yang memuncak, ia mengingat kata-kata si pria tua. Ia berhenti melawan. Ia berhenti mencoba menangkis. Ia melepaskan semua ketegangan di ototnya, membiarkan energi abu-abu di dalam dirinya mengalir bebas, bukan sebagai senjata, melainkan sebagai selubung.

"Aku bukan wadah. Aku adalah ruang. Aku bukan target. Aku adalah ketiadaan," batin Fang Han.

Saat gelombang suara mematikan itu menghantam tubuh Fang Han, keajaiban terjadi. Gelombang itu tidak meledak. Ia seolah-olah "terserap" dan menghilang ke dalam tubuh Fang Han tanpa suara. Fang Han berdiri di sana, dikelilingi oleh aura abu-abu yang kini tidak lagi liar, melainkan tenang dan dalam seperti samudra malam.

Zhen Yin terbelalak. "Tidak mungkin! Ke mana seranganku?! Aku tidak merasakan hantaman!"

Fang Han membuka matanya. Warna abu-abunya kini memenuhi seluruh matanya, tanpa menyisakan bagian putih.

"Suaramu... terlalu bising," ucap Fang Han pelan.

Dengan satu langkah pelan, Fang Han sudah berada di depan Zhen Yin. Ia hanya menyentuh dada pembunuh itu dengan jari telunjuknya. Sebuah sentuhan ringan tanpa tenaga fisik.

Seketika, seluruh warna di tubuh Zhen Yin memudar menjadi abu-abu. Ia mencoba berteriak, namun tidak ada suara yang keluar. Seluruh molekul suaranya, getaran hidupnya, dan jalur energinya telah "dihapus" oleh Fang Han. Zhen Yin jatuh tersungkur, matanya masih terbuka namun ia tidak lagi bisa bergerak atau bersuara seumur hidupnya. Ia menjadi manusia yang hidup dalam keheningan total yang abadi.

Pria tua itu melompat turun dari batu dengan lincah. Ia menatap Fang Han dengan pandangan yang sulit diartikan—antara bangga dan ngeri.

"Kau melakukannya. Kau menemukan kunci pertama untuk menguasai Nirwana Sunya. Tapi ingat, Fang Han, setiap kali kau memasuki kondisi itu, kau menarik dirimu lebih dekat ke ambang kepunahan jiwa."

Fang Han mengatur napasnya, aura abu-abunya perlahan menghilang, meninggalkan tubuhnya yang terasa sangat dingin.

"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau membantuku?" tanya Fang Han sambil menyeka darah di telinganya.

Pria tua itu menatap ke arah Puncak Menangis yang diselimuti petir.

"Karena aku ingin melihat, apakah ada manusia yang bisa menaklukkan kehampaan tanpa menjadi monster. Aku akan mengikutimu dari jauh. Perjalananmu masih jauh, dan Bunga Hati Langit dijaga oleh sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada pembunuh suara tadi."

Fang Han menunduk, menatap tangannya yang gemetar.

"Aku tidak peduli jika aku harus menjadi monster, Tetua. Selama paman bisa hidup kembali, aku bersedia menelan seluruh kegelapan dunia ini."

Si Penelan Cahaya hanya menghela napas panjang.

"Itulah yang dikatakan semua orang sebelum mereka menghilang ke dalam Sunya. Jalanlah terus, anak muda. Lembah Seribu Racun baru saja dimulai, dan aroma darahmu telah mengundang tamu-tamu lain yang lapar."

Fang Han mengangguk. Ia memperbaiki letak tas di pundaknya, menatap ke depan dengan tekad yang semakin mengeras. Ia telah melewati satu rintangan lagi, mendapatkan kunci kekuatan baru, namun luka dalam pamannya terus berdenyut di dalam pikirannya sebagai pengingat akan waktu yang terus berjalan.

Fang Han terus berjalan menembus kabut ungu, diikuti oleh bayangan pria tua misterius yang tampak seperti hantu masa lalu. Perjalanan mencari obat itu kini bukan lagi sekadar misi penyelamatan, melainkan perjalanan transformasi seorang pemuda menjadi sesuatu yang belum pernah dilihat oleh dunia kultivasi sebelumnya.

1
BlueHeaven
Cover novelnya mirip putra pria solo😭
Rendy Tbr: Hihihi.. 😄 Waahhh.. Mantap donk.. 👌
total 1 replies
anggita
visual gambarnya oke👌
Rendy Tbr: Terima kasih ka 👌😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!