NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pelarian Menuju Ketenangan

​.. Sesuai janji semalam, hari ini kantor Wijaya Tower harus berjalan tanpa sang ratu. Aku menjemput Clarissa pagi-pagi sekali, tapi penampilannya benar-benar membuatku pangling. Tidak ada blazer kaku, tidak ada sepatu hak tinggi. Dia hanya memakai kaos putih polos, celana jeans, dan sepatu kets. Rambutnya dikuncir kuda, membuatnya terlihat sepuluh tahun lebih muda.

​.. "Wah, Mbak Bos kalau penampilannya begini, orang pasti ngiranya Mbak Bos itu adik saya yang lagi mau daftar kuliah," godaku sambil membukakan pintu mobil. Clarissa hanya mencebikkan bibirnya, tapi matanya berbinar senang. "Sudah, jangan banyak bicara. Cepat jalan, sebelum sekretaris saya menelepon dan menanyakan jadwal rapat yang sudah saya batalkan itu!"

​.. Aku melajukan mobil keluar dari kemacetan Jakarta yang menyesakkan. Tujuan kami adalah sebuah danau tersembunyi di daerah pinggiran yang jarang dikunjungi orang. Sepanjang perjalanan, kami membuka kaca mobil lebar-lebar, membiarkan angin segar menerpa wajah. Clarissa tampak sangat menikmati setiap detiknya, sesekali dia ikut bernyanyi saat radio memutar lagu pop kesukaannya.

​.. "Genta, kamu tahu tidak? Ini pertama kalinya saya pergi tanpa membawa laptop atau memikirkan harga saham dalam lima tahun terakhir," ucap Clarissa sambil menyandarkan kepalanya di jendela mobil. Aku menoleh sejenak dan tersenyum. "Nah, itu dia masalahnya, Mbak Bos. Hidup itu bukan cuma soal angka di layar monitor, tapi soal berapa banyak oksigen segar yang bisa Mbak Bos hirup tanpa rasa beban di dada."

​.. Begitu sampai di tepian danau, pemandangannya benar-benar luar biasa. Air danau yang tenang memantulkan warna langit yang biru cerah, dikelilingi pepohonan hijau yang rimbun. Aku mengeluarkan tikar kecil dan beberapa camilan yang sempat kubeli di jalan tadi—tentu saja termasuk kerupuk upil dan kacang rebus favoritku.

​.. Kami duduk bersila di pinggir danau, menikmati kesunyian yang sangat mahal harganya di Jakarta. Clarissa tampak sangat rileks, dia bahkan melepas sepatunya dan membiarkan kakinya menyentuh rumput yang masih sedikit basah. "Terima kasih ya, Genta. Tempat ini sangat indah. Kamu benar, saya butuh ini untuk menata kembali hati saya yang sempat hancur karena pengkhianatan Doni."

​.. "Sama-sama, Mbak Bos. Di dunia ini, pengkhianatan itu memang menyakitkan, tapi jangan sampai itu menutup mata kita dari kebaikan-kebaikan kecil yang ada di sekitar kita. Lihat danau ini, meskipun permukaannya tenang, di bawahnya tetap ada kehidupan yang terus berjalan. Sama seperti Mbak Bos, harus tetap kuat demi orang-orang yang masih tulus mendukung Mbak Bos," kataku sambil mengupas kacang rebus untuknya.

​.. Clarissa menatapku lama, tatapannya begitu lembut hingga membuatku salah tingkah. "Genta... kamu selalu punya cara untuk melihat sisi terang dari setiap masalah. Kadang saya berpikir, siapa sebenarnya yang bodyguard di sini? Saya yang melindungi masa depan perusahaan, atau kamu yang melindungi jiwa saya agar tetap waras?"

​.. Aku tertawa kecil, menyembunyikan rasa baper yang mulai membuncah. "Waduh, kalau soal jiwa itu urusan berat, Mbak. Saya mah cuma bodyguard yang tugasnya mastikan Mbak Bos nggak kepeleset pas jalan di rumput begini. Tapi kalau Mbak Bos merasa lebih tenang, berarti tugas saya sukses besar hari ini!"

​.. Sore itu dihabiskan dengan obrolan yang semakin dalam. Kami tidak lagi bicara soal kontrak atau musuh, melainkan soal mimpi-mimpi sederhana yang belum tercapai. Clarissa mengaku ingin sekali belajar memasak makanan kampung, sementara aku mengaku ingin sekali melihat Clarissa selalu tersenyum seperti saat ini. Di bawah pohon rindang itu, jarak antara seorang CEO dan bodyguard-nya seolah menghilang, digantikan oleh dua jiwa yang saling menemukan kenyamanan di tengah kerasnya dunia.

​.. Matahari perlahan mulai turun ke ufuk barat, menciptakan semburat warna oranye dan ungu yang memantul indah di permukaan danau yang tenang. Aku dan Clarissa masih duduk bersila, menikmati sisa-sisa kacang rebus dan kerupuk upil yang tadi kubeli. Suasana hening, hanya ada suara jangkrik dan gesekan daun ditiup angin sore, sebuah kemewahan yang tidak akan pernah kami temukan di tengah bisingnya klakson Jakarta.

​.. "Genta, kamu tahu tidak? Dulu saya pikir kebahagiaan itu adalah saat saya berhasil menutup kontrak triliunan rupiah atau saat nama saya masuk di majalah bisnis," ucap Clarissa pelan sambil menatap riak air kecil di depannya. "Tapi sore ini, cuma duduk di sini, makan kacang rebus bareng kamu... rasanya jauh lebih melegakan daripada semua kesuksesan itu."

​.. Aku menoleh ke arahnya, melihat profil wajahnya yang tenang tertimpa cahaya senja. "Waduh Mbak Bos, itu namanya 'kebahagiaan sederhana'. Orang Sidoarjo bilang, yang penting hati ayem, perut wareg, itu sudah lebih dari cukup. Uang triliunan kalau hatinya nggak tenang ya cuma jadi angka mati di buku tabungan saja," jawabku santai yang membuat Clarissa tersenyum tulus.

​.. Tiba-tiba, Clarissa menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku sempat tersentak kaget, badanku mendadak kaku seperti semen yang baru kering. "Genta... tetaplah jadi orang yang jujur seperti ini ya. Jangan berubah hanya karena dunia ini penuh dengan tipu daya. Saya butuh seseorang yang bisa mengingatkan saya kalau saya ini juga manusia biasa yang boleh merasa capek."

​.. Aku menarik napas panjang, mencoba mengendalikan debar jantungku yang sudah kayak suara kendang koplo. "Iya, Mbak Bos. Saya janji. Selama Mbak Bos masih butuh bodyguard sengklek kayak saya, saya nggak akan ke mana-mana. Saya bakal jadi orang pertama yang ngetawain Mbak Bos kalau Mbak Bos mulai kaku lagi, dan jadi orang terakhir yang ninggalin Mbak Bos kalau dunia lagi jahat-jahatnya."

​.. Kami terdiam cukup lama dalam posisi itu, membiarkan waktu seolah berhenti sejenak. Sore itu, di pinggir danau yang sunyi, jarak antara seorang CEO Wijaya Tower dan seorang bodyguard asal pasar Sidoarjo benar-benar hilang. Kami bukan lagi atasan dan bawahan, melainkan dua jiwa yang saling menemukan tempat untuk bersandar. Saat kami berjalan kembali ke mobil, aku tahu satu hal: Jakarta mungkin akan tetap keras besok pagi, tapi selama kami bersama, tidak ada tantangan yang tidak bisa kami hadapi.

​.. Perjalanan pulang dari danau itu terasa jauh lebih singkat karena hati kami berdua sedang dalam keadaan yang sangat ringan. Di dalam mobil, Clarissa sudah tertidur pulas dengan kepala yang sesekali miring ke arah pundakku. Aku tersenyum melihat wajah tidurnya yang begitu damai, sangat kontras dengan wajah tegasnya saat memimpin rapat di lantai 50 Wijaya Tower.

​.. "Tidur yang nyenyak, Mbak Bos. Besok kita bakal balik lagi ke 'hutan beton' yang penuh singa dan serigala. Tapi tenang saja, singa Sidoarjo ini sudah siap pasang badan buat Mbak Bos," bisikku pelan sambil memutar radio dengan volume paling rendah agar tidak membangunkannya.

​.. Namun, ketenangan itu mendadak terusik saat ponselku bergetar hebat di saku celana. Ada sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Begitu kubuka, isinya membuat rahangku mengeras seketika. Sebuah foto mobil kami yang sedang terparkir di pinggir danau tadi, dikirim tepat semenit yang lalu. "Kalian pikir bisa lari? Permainan baru saja dimulai, Genta."

​.. Aku langsung mematikan layar ponsel dan menoleh ke kaca spion tengah. Tidak ada mobil yang mencurigakan di belakang, tapi aku tahu ini bukan gertakan sambal biasa. Orang ini tahu keberadaan kami bahkan di tempat terpencil sekalipun. Ada mata-mata yang jauh lebih profesional daripada Doni yang sedang mengawasi kami sekarang.

​.. Aku menatap Clarissa yang masih terlelap. Rasa takut sempat menyelinap di hatiku, bukan takut untuk nyawaku sendiri, tapi takut jika aku gagal melindungi senyum yang baru saja kembali di wajahnya itu. Aku menginjak pedal gas lebih dalam, memacu mobil membelah kegelapan malam menuju Jakarta.

​.. "Siapapun kamu, kamu sudah melakukan kesalahan besar dengan mengganggu hari tenang kami. Jangan harap bisa lolos dari cengkeraman Genta Arjuna," batinku dengan penuh amarah. Malam yang tadinya romantis dan tenang, kini berubah menjadi awal dari badai yang lebih besar. Babak baru perjuanganku sebagai bodyguard bukan lagi soal menjaga kantor, tapi soal perang terbuka melawan bayangan yang tidak terlihat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!