NovelToon NovelToon
Cintaku Bersemi Di Desa

Cintaku Bersemi Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Susanti 31

Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.

Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.

"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.

"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."

"Matamu, Mbak!"

Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.

Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta yang salah

Rasanya Ikram enggang untuk memejamkan mata meski sudah larut malam. Dia ingin waktu berhenti agar tiga hari itu tidak menemukan ujungnya. Berkali-kali dia menghela napas panjang, menatap hamparan sawah dari balkon rumahnya.

Rumah panggung yang di desain menjadi dua lantai. Tentu seluruh kayu yang digunakan oleh orang tuanya adalah kayu premium. Sehingga terlihat sangat kokoh. Berada paling pinggir dan cukup tinggi, akan tetapi angin tidak mampu menggoyahkannya.

Seluruh pinggiran rumah dibentuk seperti balkon sehingga leluasa menikmati angin atau pemandangan dari mana saja. Setiap sudut akan ada tanaman yang ibunya rawat.

"Saya selalu penasaran setiap kali melihatmu di sini berdiri."

"Bajumu terlalu tipis Jani." Melepas jaket di tubuhnya dan memakaikan pada Rinjani yang tiba-tiba menghampiri.

Ikhram kira Rinjani sudah tidur mengingat telah larut malam.

"Dan sekarang saya tahu alasannya." Rinjani tersenyum. "Sangat indah."

Bohong jika Rinjani tidak memperhatikan Ikhram diam-diam. Sebelum mereka menikah, dia sering kali penasaran Ikhram itu seperti apa, kenapa warga selalu memperhatikannya.

Setiap malam dia selalu melihat Ikhram di balkon rumah. Berdiri cukup lama dengan ponsel di tangan atau pun sekedar duduk di temani secangkir kopi dan laptop.

"Jangan berdiri terus." Ikhram menarik Rinjani untuk duduk di kursi. Bukan duduk biasa, melainkan mendekapnya, memeluknya dengan alasan udara sangat dingin.

"Mendalami peran banget," bisik Ikhram tepat di telingan Rinjani.

Setelah Rinjani setuju memberinya waktu tiga hari. Dia kira akan berjuang sendiri, senang sendiri. Ternyata Rinjani melakukannya dengan baik, bersikap selayaknya istri yang menerima cinta suaminya. Seolah perpisahan tidak ada dalam rencana keduanya.

"Bukan mendalami peran, tapi sama sepertimu ... saya ingin menciptakan momen bahagia bersamamu," batin Rinjani, menikmati pelukan hangat di tengah dinginnya malam.

....

Semakin dekat waktu perpisahan itu, hati Ikhram seolah tidak rela jika Rinjaninya pergi. Malam ini, adalah malam terakhir di mana dia tidur dengan Rinjani.

"Bisa beri saya tambahan waktu lagi? Atau bisakah kamu berubah pikiran?" bisik Ikhram padahal jelas orang yang dia ajak bicara sudah tidur.

Tangan Ikhram bergerak, menyentuh pipi, bibir, alis, hidung ... semuanya. Ikhram mengabsen setiap inci wajah Rinjani dengan tatapan yang mulai mengabur. Ia enggang memejamkan mata, karena besok, mungkin dia tidak akan menemukan Rinjaninya lagi.

Dulu, dia bisa membantu Rinjani mendapatkan hati pria lain. Tapi sekarang, ia sulit melakukannya.

"Apakah cinta dimatamu juga sandiwara tiga hari kita? Apakah bahagiamu bersama saya juga kepura-puraan? Sesulit itukah menjalin hubungan jarak jauh dengan saya? Padahal saya bisa menjamin hati saya hanya milikmu."

Suara Ikhram semakin parau. "Cinta saya nggak sedangkal yang kamu kira Rinjani Mahardika."

"Dingin."

Gumaman itu, dan gerakan intens Rinjani yang kian merapatkan tubuhnya di satu selimut yang sama membuat Ikhram buru-buru menghapus air matanya. Di tengah derai air mata ia sempat tersenyum karena Rinjani memeluknya.

Dan sampai matahari terbit Ikhram enggang menutup kelopak matanya. Terus mengamati wajah pulas Rinjani. Senyuman penyambut pagi dia perlihatkan.

"Sudah bangun atau belum tidur? Kok matanya sayu gitu?" Rinjani mengelus pipi Ikhram.

"Belum tidur." Menggenggam tangan Rinjani di pipinya. "Otak saya harus menyimpan wajahmu sebanyak mungkin. Karena hari ini terakhir saya melihatmu."

"Kalau begitu kamu harus tidur sekarang." Rinjani menyingkap selimut, menepuk lengannya agar dijadikan bantalan oleh Ikhram seperti yang pria itu lakukan semalam padanya. "Saya nggak akan pergi sebelum kamu bangun, percayalah."

"Kamu berjanji?"

"Janji Iklan." Rinjani tersenyum.

Dia mengelus kepala bagian belakang Ikhram yang kini bersembunyi di ceruk lehernya. Terus menepuk seperti menidurkan bayi sampai akhirnya dia merasakan deru napas yang tenang.

Pintu berdecit, ibu mertuanya mengintip hendak bicara tetapi Rinjani meletakkan telunjuknya pada bibir.

"Oke-oke." Bu Tika mengira hubungan putra dan menantunya semakin membaik melihat interaksi mereka beberapa hari belakangan ingin.

Bukan salah bu Tika yang lancang membuka pintu kamar putranya, tapi kesalahan Ikhram yang lupa menutup rapat saat ke kamar mandi tadi.

Rinjani memeriksa ponselnya dan menemukan tiga panggilan tidak terjawab dari Ardian juga satu pesan.

Saya ada di bandara sultan hasanuddin untuk menjemputmu demi keselamatan calon anak kita.

.

.

.

1
sryharty
Aisssss janiiii
sryharty
ya Allah yg sabar ya ka,,padahal ceritanya bagus
jangan end di tengah jalan ya ka,,,

noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
Rohmi Yatun
semangat thor.. ceritanya bagus kok..
lanjut sampe end ya thor🙏
Bucinnya Nunu ☆•,•☆: demi kalian bakal di lanjut kok. Apalagi kalau banyak komen dan like, bisa menghibur baca komen-komen kalian hehehe
total 1 replies
Maria Kibtiyah
akhirnya si jani sadar juga
sryharty
ayo iklan tanyakan dulu Jani hamil berapa Minggu
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
Teh Yen
ikram.pasti datang terlepas dari perkataan Jani kemarin padanya ,,,.kamu Tidka sendiri Jani andai kamuu cerita kegelisahan mu pada ikram suamimu semuanya pasti akan baik baik saja
Teh Yen
Jani kenapaki.jahat.kali.sama Ikram hmmm???
Bucinnya Nunu ☆•,•☆: Cie udah mulai ngerti bahasa makassar😅
total 1 replies
Arsyad Algifari.
ga mau komen karena Jani dan iklan berpisah 😪😪😪
sryharty
pasti datang wong iklan wes kecintaan banget sama jani🤭🤣
sryharty
coba cek darah hamilnya udah berapa Minggu,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,
Maria Kibtiyah
hadehhh ruwet bgt hidup si jani mangkanya jngn dp duluan
Rista Awwalina
brati bukan cinta sejati, ikhlaskan saja.
sryharty
udah ikram biarkan Jani sama keputisannya
Rohmi Yatun
semangat ikram💪👍
Teh Yen
ah gila banget tuh c Ardian ,,Jani engg.berpikir logis kah ,, seandainya itu ank Ardian klu kamu blng ke ikram dia pasti mau tetap bersamamu jani bertanggung jawab d membesarkan ank bersama sama Jani jadi jangan jd bodoh Karena ancaman Adrian dong
Teh Yen
apa benar Jani hamil tp kan Jani d ikram.jg pernah berhubungan apa mungkin itu anknya ikram bukan c Ardian
Arsyad Algifari.
itu pasti bukan anak Ardian .tapi anak Ikhram ..kenapa Jani ga berpikir dulu sih itu udah 4 bln berlalu
Arsyad Algifari.
benda apa sih yang di berikan Ardian ke Jani apa Jani hamil .tapi udah 4 bln berlalu kan dan sete menikah jadi 6 bln berlalu .apa video panas mereka ya . mungkin Ardian memberikan flashdisk
sryharty
semoga itu bukan anak kamu Agus tapi anak iklan,,
Rohmi Yatun
😭😭kasihan banget bang ikram..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!