NovelToon NovelToon
Dan Ofid

Dan Ofid

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.

Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.

Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.

Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.

Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#27

Cahaya matahari pagi yang menusuk dari celah ventilasi gudang tua itu terasa seperti ribuan jarum yang menghujam mata Knox. Ia terbangun dengan rasa sakit yang berdenyut di rahang kirinya dan perih yang menyengat di sepanjang tulang rusuknya. Aroma keringat, alkohol sisa semalam, dan bau amis darah kering memenuhi ruangan kecil yang berfungsi sebagai kamar pribadinya di markas The Outcasts.

Knox mengerang, mencoba duduk di sofa kulit yang keras. Tubuhnya terasa remuk. Kemenangan atas Bar-Baros semalam memang manis—ia berhasil membuat pemimpin mereka mencium aspal—tapi harganya tidak murah.

Dengan tangan gemetar, ia meraba meja kayu di samping sofa untuk mencari ponselnya. Begitu layar menyala, jantung Knox seolah berhenti berdetak sesaat.

9:15 PM – Nyx: Knox? Kau belum pulang? Apa kau menginap di asrama kampus untuk proyekmu?

11:45 PM – Nyx: Aku mematikan kompornya. Tidurlah yang nyenyak di sana.

"Oh, shit..." Knox memaki pelan, suaranya parau. Ia menyugar rambut pirangnya yang berantakan dengan frustrasi.

Bisa-bisanya ia melupakan Nyx. Baru dua malam yang lalu mereka berbagi segalanya—jiwa, raga, dan janji-janji manis di bawah selimut. Nyx bahkan masih dalam masa pemulihan setelah "ulah" kasarnya di malam pertama mereka. Bagaimana mungkin ia membiarkan gadis itu menunggu sendirian di apartemen yang dingin sementara ia sibuk meluapkan ego dan amarah di ring tinju?

"Aku benar-benar bajingan," gumamnya.

Tanpa membuang waktu, Knox menekan nomor Nyx. Panggilan pertama... hanya nada sambung yang panjang hingga berakhir ke kotak suara. Knox menelan ludah, rasa cemas mulai merayapi dadanya. Panggilan kedua... di dering keempat, suara itu terdengar.

"Halo?" suara Nyx terdengar datar, sangat tenang, yang justru membuat Knox merinding.

"Halo... Sayang? Maafkan aku, semalam aku benar-benar tidak sempat memberitahumu. Proyek itu... ah, proyekku benar-benar menyita waktu dan belum selesai, Sayang. Jadi aku terpaksa menginap di asrama semalam agar bisa langsung lanjut pagi ini. Kau... kau sudah bangun?" tanya Knox, mencoba terdengar senatural mungkin meski napasnya tertahan.

Hening sejenak di seberang sana. Hanya ada suara deru angin yang aneh.

"Buka pintunya," ucap Nyx singkat.

Knox mengernyitkan dahi, bingung. "Hah? Buka pintu? Pintu markas, Sayang? Aku tidak di sana, aku masih di—"

"Buka pintunya, Knox Lambert Riccardo. Sekarang."

Suara itu tidak berasal dari ponsel. Suara itu terdengar nyata, tepat di balik pintu kayu kamar pribadinya.

Mata Knox membelalak. Ia meloncat dari sofa—mengabaikan rasa sakit di tulang rusuknya—dan menyambar kaos hitamnya untuk menutupi dadanya yang penuh memar. Ia melangkah cepat dan menyentakkan pintu kamar itu terbuka.

BUGH!

Satu pukulan mentah mendarat telak di perut Knox yang sudah lebam. Knox terbungkuk, bukan karena pukulannya terlalu kuat bagi seorang petarung sepertinya, tapi karena ia terkejut dengan kehadiran Nyx yang berdiri di sana dengan mata berkilat marah.

Nyx masuk ke dalam ruangan kecil itu, membanting pintu di belakangnya hingga Zack dan Liam yang sedang minum kopi di luar tersedak.

"Ini yang kau maksud proyek?!" teriak Nyx, menunjuk luka robek di pelipis Knox dan memar biru keunguan di rahang pria itu. "Proyek apa? Proyek jalanan yang membuatmu babak belur seperti pecundang ini, hah?!"

Knox mencoba meraih tangan Nyx, tapi gadis itu menepisnya dengan kasar.

"Kau baru saja menikmati malam bersamaku kemarin! Malam kedua kita, dan kau memilih berada di arena tinju yang menjijikkan?!" Nyx memarahinya habis-habisan, napasnya memburu karena amarah yang memuncak. "Apa kau ingin meninggalkanku, Knox? Hm? Apa kau pikir kau ini abadi?"

Nyx melangkah maju, memojokkan Knox ke dinding, matanya mulai berkaca-kaca namun tetap terlihat tajam. "Bagaimana kalau kau kenapa-kenapa? Bagaimana kalau semalam terjadi sesuatu yang buruk padamu dan aku tidak tahu? Bagaimana kalau... bagaimana kalau malam itu aku tiba-tiba hamil, dan kau terluka atau mati di tempat sampah tanpa aku tahu?!"

Mendengar kata "hamil", kemarahan yang tadinya membuat Knox merasa bersalah mendadak berubah menjadi rasa hangat yang aneh di hatinya. Ia melihat ketakutan di balik mata Nyx—ketakutan akan kehilangan satu-satunya orang yang ia percayai.

Knox tidak lagi mencoba membela diri. Ia menarik Nyx ke dalam pelukannya dengan paksa, mengunci tubuh mungil gadis itu di dadanya meski Nyx mencoba memberontak.

"Tenang, baby... tenang," bisik Knox, menciumi puncak kepala Nyx berkali-kali. "Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf karena tidak memberitahumu. Aku hanya ingin menyelesaikan urusan harga diri dengan bajingan-bajingan itu agar mereka tidak mengganggumu."

Nyx terisak pelan di dada Knox, tangannya mengepal di atas kaos pria itu. "Jangan bohong lagi padaku, Knox. Jangan buat aku merasa sendirian lagi."

Knox melonggarkan pelukannya sedikit, mengangkat dagu Nyx agar menatapnya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang meski terluka tetap terlihat tampan dan penuh kasih.

"Aku menang, kau tahu? Aku menghancurkan mereka untukmu," ucap Knox bangga. "Dan jangan pikirkan hal gila seperti aku akan mati. Aku akan tetap hidup untuk menjagamu."

Knox kemudian mendekatkan wajahnya, menyeringai nakal saat melihat rona merah di pipi Nyx. "Dan soal baby? Sepertinya itu bukan ide buruk kalau kau benar-benar hamil dalam semalam. Aku akan sangat senang melihat Riccardo kecil ada di dalam perutmu."

CUBIT!

"AWW!" Knox mengaduh saat Nyx mencubit perutnya yang memar dengan sangat keras.

"Dasar mesum! Kau sedang terluka dan masih sempat-sempatnya berpikir begitu!" omel Nyx, meski kini ada sedikit senyuman di sudut bibirnya.

"Sakit, Sayang... itu memar," keluh Knox manja, menarik tangan Nyx untuk mengelus perutnya. "Obati aku, ya? Di apartemen?"

Nyx mendengus, namun ia membiarkan Knox merangkul bahunya. "Ayo pulang. Aku tidak mau kau berada di tempat ini sedetik pun lagi."

Saat mereka melangkah keluar kamar, Zack dan Liam hanya bisa melongo melihat sang pemimpin yang garang semalam kini tunduk di bawah perintah seorang gadis kecil. Knox hanya memberikan tanda jempol pada teman-temannya, seolah berkata: Aku aman, meski tulang rusukku mungkin patah oleh cubitannya.

Malam itu mungkin penuh darah, tapi pagi ini, Knox menyadari satu hal: memiliki seseorang yang memarahimu karena takut kehilanganmu adalah kemenangan yang jauh lebih besar daripada menjatuhkan lawan di ring tinju. Dan bagi Nyx, rencananya untuk memanfaatkan Knox kini semakin kabur oleh rasa takut yang nyata akan kehilangan pria mesum ini.

1
ren_iren
lanjutkan.... 🤗
Ros🍂: okay kak🥰🙏
total 1 replies
ren_iren
dapatttt aja visual yg bening2 🤭😂
Ros🍂: biar halu kita lancar jaya kak 😍🤣🤣
total 1 replies
ren_iren
Nyx Knox....
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂
Ros🍂: Ma'aciww kak 🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!