Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah Keheningan
Keheningan yang menyelimuti Akademi Arclight terasa lebih berat daripada ledakan mana pun sebelumnya. Tidak ada suara benturan sihir, tidak ada teriakan, hanya angin yang berhembus pelan melewati reruntuhan halaman yang hancur. Debu masih melayang di udara, perlahan turun seperti abu setelah kebakaran besar.
Ren berdiri di tengah halaman dengan tubuh yang hampir tidak bisa lagi menopangnya. Kakinya bergetar halus, napasnya tidak teratur, dan pandangannya mulai kabur di ujung. Energi gelap yang tadi mengelilinginya kini hampir sepenuhnya menghilang, meninggalkan hanya sisa-sisa kecil yang berkedip seperti bara yang hampir padam.
Namun ia masih berdiri.
Di langit, Kael melayang beberapa meter di atas tanah. Tubuhnya sedikit condong, jubahnya tidak lagi bergerak dengan angin seperti sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertarung, wajahnya tidak menunjukkan senyum.
Ia menatap Ren dalam diam.
Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Lalu Kael menghela napas panjang.
“Jadi… kamu benar-benar berhasil,” katanya pelan.
Suaranya tidak lagi dipenuhi kegembiraan seperti sebelumnya. Kali ini, ada nada berbeda. Lebih tenang. Lebih dalam.
Ren tidak menjawab. Ia bahkan tidak yakin apakah ia masih punya tenaga untuk berbicara.
Di belakangnya, Mira langsung berlari mendekat begitu tekanan energi di udara mulai menghilang.
“REN!”
Ia hampir terpeleset karena tanah yang retak, tetapi berhasil sampai dan menangkap tubuh Ren sebelum ia jatuh.
“Kamu gila… benar-benar gila…” katanya dengan napas terengah, tetapi jelas lega.
Ren mencoba tersenyum kecil.
“Masih hidup…”
Aria juga berlari mendekat, langsung mengaktifkan sihir penyembuhan.
“Jangan bergerak… tubuhmu dalam kondisi buruk,” katanya panik sambil menyalurkan energi hijau ke tubuh Ren.
Lilia berjalan mendekat dengan langkah tenang, meskipun matanya menunjukkan kelegaan yang sama.
“Kamu berhasil menahan serangan itu,” katanya pelan. “Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh siswa biasa.”
Nyra berdiri tidak jauh dari mereka, menyilangkan tangan sambil tersenyum kecil.
“Tidak buruk, Valen,” katanya santai. “Aku mulai mengerti kenapa mereka begitu menginginkanmu.”
Selene datang terakhir. Ia tidak langsung berbicara. Matanya hanya menatap Ren beberapa detik, seolah memastikan sesuatu.
Lalu ia berkata pelan.
“Kamu melampaui ekspektasiku.”
Ren menatapnya sekilas.
“Terima kasih… kurasa.”
Namun perhatian mereka semua kembali tertuju ke langit.
Kael masih di sana.
Dan meskipun ia tidak lagi menyerang… auranya masih terasa berbahaya.
Gareth dan para instruktur lain perlahan mendekat, tetap waspada. Beberapa dari mereka sudah terluka, tetapi masih berdiri.
Gareth menatap Kael dengan tajam.
“Cukup sudah.”
Kael melirik ke arahnya sebentar.
Kemudian kembali menatap Ren.
Beberapa detik berlalu.
Lalu tiba-tiba—
Kael tertawa kecil.
Bukan tawa gila seperti sebelumnya.
Lebih seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang memuaskan.
“Menarik…” katanya pelan. “Sangat menarik.”
Ia mengangkat tangannya sedikit.
Para anggota Ordo Umbra yang masih bertarung langsung berhenti.
Semua mata tertuju padanya.
“Cukup,” lanjutnya singkat.
Beberapa instruktur langsung bersiap, mengira ini adalah tipuan.
Namun Kael tidak menyerang.
Ia hanya memandang Ren sekali lagi.
“Kita akan bertemu lagi.”
Matanya bersinar samar.
“Dan saat itu…”
senyum tipis kembali muncul.
“…aku berharap kamu sudah siap untuk menjawab semuanya.”
Ren mengerutkan kening sedikit, tetapi tidak sempat bertanya.
Karena detik berikutnya—
Kabut hitam muncul di sekeliling Kael.
Satu per satu anggota Ordo Umbra juga mulai diselimuti kabut yang sama.
Gareth langsung berteriak.
“JANGAN BIARKAN MEREKA PERGI!”
Beberapa instruktur mencoba menyerang, tetapi sudah terlambat.
Kabut itu menelan mereka.
Dalam sekejap—
Semua anggota Ordo Umbra menghilang.
Keheningan kembali turun di halaman akademi.
Namun kali ini berbeda.
Bukan keheningan sebelum badai…
melainkan keheningan setelah perang.
Para siswa perlahan mulai keluar dari tempat persembunyian mereka. Banyak yang masih terlihat ketakutan, beberapa terluka, tetapi sebagian besar selamat.
Para instruktur langsung bergerak, membantu yang terluka dan memeriksa kerusakan di sekitar akademi.
Bangunan utama masih berdiri, meskipun beberapa bagian rusak.
Gerbang hancur.
Halaman porak poranda.
Namun akademi masih bertahan.
Mira masih memegang Ren, yang kini akhirnya
tidak bisa lagi berdiri tegak.
“Baiklah… sekarang kamu boleh pingsan,” katanya setengah bercanda.
Ren tersenyum lemah.
“Itu… rencananya…”
Dan akhirnya, tubuhnya menyerah.
Kesadarannya perlahan memudar.
Hal terakhir yang ia lihat adalah langit yang mulai kembali cerah.
Dan wajah teman-temannya di sekelilingnya.
Lalu semuanya gelap.
Beberapa waktu kemudian…
Ren membuka matanya perlahan.
Langit-langit putih terlihat di atasnya.
Ia mengedip beberapa kali.
Tubuhnya terasa sangat berat, tetapi tidak sakit seperti sebelumnya.
Ia mencoba bergerak sedikit—
“Jangan.”
Suara lembut terdengar dari sampingnya.
Ren menoleh.
Aria duduk di kursi di dekat tempat tidurnya, tersenyum lega.
“Kamu akhirnya bangun.”
Ren menghela napas kecil.
“Berapa lama?”
Aria berpikir sebentar.
“Hampir dua hari.”
Ren mengangkat alis sedikit.
“Selama itu?”
Aria mengangguk.
“Kamu menggunakan terlalu banyak energi.”
Pintu ruangan terbuka.
Mira langsung masuk dengan wajah cerah.
“AKHIRNYA!”
Ia berjalan cepat ke arah tempat tidur.
“Kami hampir mengira kamu akan tidur seminggu.”
Ren tersenyum kecil.
“Maaf membuatmu khawatir.”
Mira menyilangkan tangan.
“Kamu seharusnya.”
Beberapa detik kemudian, Lilia, Nyra, dan Selene juga masuk ke ruangan.
Nyra menyeringai.
“Lihat siapa yang akhirnya bangun.”
Lilia mengangguk kecil.
“Kondisimu sudah stabil sekarang.”
Selene berdiri di dekat pintu, menatap Ren dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Kamu berubah,” katanya pelan.
Ren menatapnya.
“Ya…”
Ia melihat tangannya sendiri.
Energi itu masih ada.
Namun sekarang terasa berbeda.
Lebih tenang.
Lebih… terkendali.
Ren menghela napas panjang.
“Aku rasa… ini baru awal.”
Selene sedikit tersenyum.
“Benar.”
Di luar jendela, matahari bersinar terang di atas Akademi Arclight.
Namun semua orang di ruangan itu tahu satu hal.
Pertarungan kemarin…
bukanlah akhir.
Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.