Huang Xuan dengan kekuatannya mengguncang dunia memimpin pemberontakan kepada Dewa. Disaat menuju kemenangannya, hal aneh terjadi hingga membuatnya kalah yang kemudian terjatuh kembali ke alam manusia. Disaat kejatuhannya, alam manusia telah memiliki peradaban maju yang ditandai dengan berdirinya dinasti Xia yang merupakan mandat dari alam Dewa untuk manusia. Setiap pemimpinnya memiliki garis darah Dewa membuatnya menjadi penguasa sejati alam manusia. Huang Xuan yang membenci para Dewa memulai perjalanannya dengan menggulingkan Dinasti Xia sebelum dirinya kembali memberontak ke alam Dewa.
"Dengan pedang sebagai pena dan darah sebagai tinta, aku Huang Xuan menulis sejarah dengan cara berdarah-darah. Tidak takut kepada Dewa, Setan dan Iblis karena aku lah penguasa sesungguhnya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yogasurendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Klan Tang
Langit suram salju terhenti kemudian tertarik mengarah kepadanya menunjukkan dengan jelas lingkaran kristal bunga salju yang ada di belakangnya. Rambut tergerai berkibar pelan mengenakan mahkota Kaisar dengan wibawa luar biasanya menekan menggunakan energi spiritualnya hingga membuat seluruh hewan yang ada di daratan Beiyue menundukkan kepalanya hormat. Telapak tangannya mengadah membawa bunga es yang memancarkan kilauan cahaya kebiruan.
"Ini...!!!"ucap Jendral Besar Tang Weiran terkejut tatkala avatar Adipati Beiyue memiliki aura begitu mulia.
"Kau memang memilih garis darah Xuanwu akan tetapi di hadapanku, kau tak lebih dari seorang manusia biasa,"ucap Adipati Beiyue melepaskan bunga es yang ada di telapak tangannya ke langit yang seketika membesar menekan Jendral Besar Tang Weiran dan seluruh pasukannya tanpa terkecuali.
"Segel!"
Jendral Besar Tang Weiran dan pasukannya seketika tak bisa merasakan energi qi langit dan bumi yang telah disegel dibatasi oleh bunga es yang ada di atas mereka membentang menutupi keseluruhan dimana mereka berada.
"Aku terputus oleh qi langit dan bumi oleh tekanan ini," batin Jendral Besar Tang Weiran.
Ia begitu murka menyalakan api yang ada di hatinya melawan tekanan menggunakan kekuatan fisiknya. Api menyala menyelimuti seluruh tubuhnya dengan teriakan menggema mendorong bunga es menggunakan kedua tangannya mencoba menghancurkannya melepaskan pasukannya dari kekangan energi tersebut.
"Aku memberikan kesempatan satu kali untukmu, pergi atau kalian semua mati," ucap Adipati Beiyue memberikan ultimatum terakhirnya.
"Kau tak memiliki kualifikasi untuk mengancamku!" balas Jendral Besar Tang Weiran murka mengepalkan tangannya meninju segel bunga es hingga hancur berkeping-keping membebaskan pasukannya dari kekangan segel.
Adipati Beiyue mengangkat jari telunjuknya membuat seluruh salju yang ada di daratan Beiyue terangkat berubah menjadi energi berwarna biru menjadikan daratan Beiyue kehilangan salju yang selama ini ada. Energi besar berada dalam jari telunjuknya dalam sekali hembusan nafas nya ia menembakkan ke arah Jendral Besar Tang Weiran yang seketika membekukannya dan pasukannya menjadikannya kristal mengembalikannya daratan Beiyue menjadi es kembali.
"Di Beiyue aku lah penguasanya dan kau orang-orang Xia tak memiliki kemampuan apapun,"ucap Adipati Beiyue.
Sepasang mata muncul di langit yang kemudian Luo Qingyin muncul memandang rendah semua orang yang ada di sana. Tatapannya fokus tertuju pada Jendral Besar Tang Weiran memandangnya dengan penuh hinaan serta dendam mendalam. inti pupil matanya memiliki pola hexagram berwarna emas dengan lingkaran tengah berupa jaring-jaring tipis serta lingkaran luar berupa dao kuno yang bergerak setiap kali dirinya berkedip.
"Aku menginginkan nyawamu," ucap Luo Qingyin dingin.
"Hmph! Apa kualifikasimu menginginkan nyawaku. Kau hanyalah bocah kecil dihadapanku," balas Jendral Besar Tang Weiran tertawa geli.
"Takdir mu telah terikat denganku dan tak akan pernah bisa lepas"
"Aku memiliki darah dewa memiliki kemampuan menentukan takdir ku sendiri. Kau tak berhak melakukannya sekalipun Permaisuri Shen telah merencanakan pembalasan dendam dengan mengikat takdirku!" balas Jendral Besar Tang Weira murka.
"Kau memang keras kepala tak mengetahui bahwa hidup mu berada dalam genggaman tanganku," ucap Luo Qingyin menutup mata nya sejenak seketika langit berubah menjadi galaksi luas dengan dirinya seakan memegang alam manusia berada dalam genggaman telapak tangannya. Pupil mata miliknya begitu mengerikan mengandung tekanan kuno yang tak biasa.
Tangan kanannya muncul ribuan benang merah yang terhubung dengan para prajurit termasuk Jendral Besar Tang Weiran yang memiliki benang merah tebal mengalir energi qi yang berasal dari langit dan bumi. Kini Luo Qingyin sebagai perantara qi langit dan bumi setiap orang yang dikendalikannya melalui benang merah takdir. Gerakan tangan lembut miliknya membuat benang-benang merah setiap orang saling bersenggolan hingga terjalin satu sama lain layaknya benang menjadi kain tenun membentang di langit yang keseluruhan hanya tersisa untaian benang merah tebal milik Jendral Besar Tang Weiran berada di tangan Luo Qingyin.
"Apakah kau masih bisa sombong setelah melihat ini? Aku mampu melihat takdir, mengubah dan menenun nya menjadikannya saling terikat satu sama lain. Kini semua orang termasuk anak mu terikat dengan benang takdir mu. Aku bisa membunuh mu akan tetapi semua yang terikat dengan benang merah mu akan ikut tewas dengan cara apapun karena takdir mereka sama denganmu. Atau kau memilih bunuh diri di hadapan mereka maka aku bisa membebaskan benang takdir yang terikat dengan mu,"ucap Luo Qingyin dengan senyuman tipis disudut bibirnya.
Semua orang bisa melihat dengan jelas bagaimana benang takdir mereka terhubung dan terikat dalam satu benang merah tebal yang menjadikannya kunci dari jaring tenun takdir mereka yang semuanya bersandar kepada jendral Besar Tang Weiran. Ia berada dalam pilihan sulit menoleh ke belakang melihat putra dan putrinya serta prajurit yang setia menemani selama pertempuran.
"Kami rela mati bersama dengan Jendral Besar!" seru salah satu prajurit diikuti oleh lainnya hingga seruan terdengar saling bersahutan.
"Ayah...!!" panggil Tang Zhilan.
Jendral Besar Tang Weiran menoleh ke belakang melihat satu-satunya putri yang dimilikinya membuat nya terdiam kemudian pandangannya beralih kepada para putra yang teramat dibanggakannya. Tak ada pembicaraan kecuali tatapan rumit mereka. Seruan dari para prajurit kian menggema membangkitkan semangat bertarung seakan memantik nyala api yang ada di hati mereka berasalkan kesetiaan mereka kepada sang Jendral.
"Bagaimana?"tanya Luo Qingyin membuat Jendral Besar Tang Weiran menghela nafas panjang mengakui kekalahannya.
"Aku telah kalah semenjak menginjakkan kaki ku di Yinluo. Biarkan mereka bebas dengan menukarkan nyawa ku sendiri,"jawab Jendral Besar Tang Weiran yang langsung mendapatkan pertentangan dari anaknya.
"Tidak! Semua bisa diperjuangkan. Tidak mungkin perjuangan menaklukkan Yinluo berhenti begitu saja di mari. Dia hanya menakut-nakuti ayahanda," ucap Tang Zhilan begitu lantang menentang keputusan ayahandanya.
Jendral Besar Tang Weiran menatap Luo Qingyin di udara memberikan sinyal jawaban keputusan yang telah dibuatnya. Ia berbalik mengangkat tombaknya kemudian ditusukkannya ke perut nya yang seketika membuat darah mengucur deras membasahi tanah es. Suasana begitu hening sesaat sebelum keriuhan dari putra dan putri Jendral Besar Tang Weiran yang berlari hendak mendekati tubuh ayahnya sebelum kekangan membatasi mereka membuatnya tak bisa mendekat.
"Permintaan terakhir ku adalah biarkan keturunan ku serta pasukan ku kembali ke Xia dengan selamat,"ucapnya disaat-saat terakhirnya sebelum kesadarannya pergi meninggalkan tubuhnya. Teriakan keputusasaan terdengar memecah keheningan.
Tang Zhanyue dan Tang Shuyun mengepalkan tangannya menaruh dendam menatap nyalang Luo Qingyin.
"Aku menantang duel denganmu!"teriak Tang Zhanyue lanntang melayangkan tatapan tajam kepada Luo Qingyin.
Luo Qingyin menatap Tang Zhanyue dingin menggerakkan jarinya membunuh setengah dari pasukan yang tersisa dalam sekejab membuat tubuh mereka berjatuhan satu per satu.
"Kau mengkhianati perjanjian!!" teriak Tang Zhilan melesat hendak mengayunkan pedangnya sebelum benang-benang tipis muncul mengekang dirinya mengikatnya di udara.
"Jika kau memaksa untuk bergerak maka tubuhmu akan terpotong oleh benang yang mengikat tubuhmu," balas Luo Qingyin tertawa kecil.
"Ini semua adalah hukuman bagi klan Tang. Biarkan Xia mendapatkan ganjaran dari karma yang telah dilakukannya dengan menumpahkan darah disetiap wilayah yang ditaklukkannya"
Tawa indah menggema di tengah kesunyian. Tang Zhilan begitu marah hingga tubuhnya bergetar membuat kulitnya tergores oleh benang tipis yang melukai kulitnya membuat darah menetes secara perlahan. Tang Zhanyue datang menebas menggunakan tombaknya membawa Tang Zhilan turun, mereka bertiga menatap Luo Qingyin menyimpan dendam tersendiri.
"Pupuk dendam itu hingga aku sendiri datang ke Xia,"ucap Luo Qingyin.
Mereka bertiga berbalik memerintahkan pasukan yang tersisa untuk kembali ke Xia menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kembali.