Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.
Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.
“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:
mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Satu tahun berlalu sejak semua kejadian itu mengguncang hidup Pramana dan Aaliyah. Waktu berjalan pelan, tapi jejak luka yang pernah tertinggal perlahan memudar, digantikan oleh ritme kehidupan baru yang jauh lebih tenang dan teratur.
Di sebuah sudut perkantoran elit Sudirman, Jakarta. Pramana melangkah keluar dari gedung tinggi berlogo salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia. Kemeja putihnya sudah sedikit kusut, tapi wajahnya tampak jauh lebih segar dan berisi dibanding setahun lalu.
Ia merasa lega selama satu tahun ini lepas dari teman - teman club pelanginya. Sudah tidak ada yang meneror nya untuk datang ke acara privat party. Dan yang paling penting tidak ada rayuan Ethan yang menyuruh terus datang ke acara itu.
Ya. Sebelum kepindahannya Ethan sempat terus menerus menghubungi Pramana hanya untuk Pramna datang ke pesat yang selalu digelar club pelangi meraka.
Tidak ada lagi lingkar hitam parah di bawah mata. Tidak ada lagi sorot kosong yang menghantui. Tidak ada lagi bayang-bayang dari kehidupan London yang begitu melekat.
Setahun tinggal kembali di Indonesia benar-benar mengubahnya. Di tambah dukungan kedua orangtuanya membuat Pramana merasa lebih baik lagi.
Pramana menarik napas panjang, memandangi langit Jakarta yang mulai memerah menjelang senja.
“Alhamdulillah… satu hari lagi terlewati.” gumamnya lirih.
Dulu, setiap kali ia pulang kerja di London, yang tersisa hanya hampa dan perasaan bersalah yang menghantui. Tapi sekarang—meskipun hidupnya harus dimulai dari nol, jiwanya jauh lebih tenang.
Ia menjalani hari dengan ibadah yang teratur, menjaga lingkungannya, dan menjauh dari masa lalu yang hampir menyeretnya kejurang hitam.
Pulang ke Indonesia bukan keputusan yang mudah. Ia meninggalkan jabatan bagus, gaji besar, dan hidup yang stabil.
Tapi meninggalkan semua itu justru menyelamatkan dirinya, dari para teman - teman club nya itu.
Jika ia tetap tinggal di sana, ia tahu ia akan kembali ditarik oleh lingkaran lamanya. Lingkaran yang sudah menyeretnya jauh dari tuhan.
Sekarang Pramana memilih bekerja dari nol kembali. Pengalamannya memang bagus dan tokcer. Tapi ia lebih memilih belajar dari awal sebagai staf pengelola keuangan, bukan posisi tinggi seperti dulu. Tapi ia menerimanya dengan lapang.
Yang penting, ia benar-benar berubah. Benar-benar membersihkan diri. Benar-benar menjalani tobat yang ia pinta pada Tuhan.
Setiap pagi Pramana berangkat kerja menaik TransJakarta atau KRL. Ia sengaja menaiki transportasi umum, ketimbang kendaraan pribadi. Ia malas kalo membawa kendaraan pribadi terjebak macat di jalan. Kalo naik kendaraan umum kan, semisalnya macet dirinya masih bisa bersantai. Tapi ada minus nya kalo naik kendaraan umum, dirinya harus berdesakan - desakan dengan para pejuang rupiah yang lainnya.
Pramana juga mulai rajin datang ke kajian setiap akhir pekan. Ia datang ke kajian yang di dalamnya khusus para pria saja tidak di campur dengan wanita. Untuk menghidari yang namanya perselingkuhan.
Dan setiap malam…
Pramana masih mengingat wanita itu.
Aaliyah....
Rasa bersalah dirinya dengan wanita itu tidak akan pernah hilang di dalam dirinya. Pramana akan selalu mengingatnya sampai kapan pun.
“Semoga kamu bahagia, di mana pun kamu berada,” bisiknya setiap kali selesai salat.
-----------
Di tempat lain…
Sebuah gedung kantor berdesain minimalis elegan berdiri di kawasan kemang. Di dinding kacanya terpampang logo:
A&A INTERIOR & DESIGN, perusahan interior yang baru loncing beberapa bulan belakangan.
Di dalamnya, suasana sibuk namun hangat memenuhi ruangan. Karyawan hilir mudik membawa papan moodboard, sampel marmer, dan katalog furnitur.
Di tengah ruangan, seorang wanita berambut cokelat gelap terikat rapi sedang memeriksa gambar desain pada tablet. Tatapannya fokus, tangannya lincah, auranya tenang tapi tegas.
Itu Aaliyah.
Dalam satu tahun ini, ia berkembang luar biasa.
Tidak hanya sebagai ibu, tapi juga sebagai wanita yang kembali menemukan kekuatannya.
Setelah melahirkan di Turki, ia, Mommy Amira, Opa Rasyid, dan Anane Zainab kembali ke Indonesia. Mereka menetap di mansion Opa Rasyid yang berada di Pondok Indah, sementara Aaliyah memilih membuka kantor desain interior sendiri tak jauh dari mansion sang Opa.
Setiap sudut ruangannya menunjukkan identitasnya—warna hangat, pola elegan, dan sentuhan modern khas negara Eropa yang ia bawa dari perjalanan hidupnya.
“Nona Aal, moodboard untuk klien apartemen Kuningan sudah siap!” seru salah satu stafnya.
“Letakkan di meja saya. Sebentar lagi saya cek,” jawab Aaliyah lembut, tapi profesional.
Semua perubahan pada dirinya sangat terlihat:
Ia kembali seperti Aaliyah yang dulu lagi, yang selalu ceria, tegas dan penuh wibawa. Tidak ada lagi Aaliyah yang mudah tertekan, penuh ketakutan, dan pikirannya selalu kacau.
Terapi yang ia jalani stabil.
Keluarga terus mendukungnya.
Dan yang terpenting…
bayinya—buah hatinya—memberikan alasan terbesar untuk terus hidup.
---------
Sore itu, setelah semua staf pulang, Aaliyah masih tinggal di kantornya, menyelesaikan revisi desain.
Suasana kantor sudah sepi, hanya lampu meja yang menyala lembut.
Ia menghela napas sebentar, meremas pelan bahu yang pegal.
“Aku berhasil sampai sejauh ini…” gumamnya pelan. Dengan senyum bangga melihat desain yang baru ia buat.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Mommy Love Calling…
Aaliyah tersenyum tipis dan mengangkatnya.
“Halo, Mom?”
[Aal, kamu pulang jam berapa? Baby El sudah nyariin kamu dari tadi. Dia ngambek kalau belum lihat wajah Mommy nya]
Suara Mommy terdengar hangat dan manja seperti biasa.
Aaliyah terkekeh kecil.
“Ya ampun, Mommy… Aku selesai lima belas menit lagi. Tolong bilang ke El Mommy sebentar lagi pulang.”
[Iya, sayang. Jangan pulang terlalu malam, ya. Hati - hati membawa mobilnya nanti.]
“Iya, Mom. Love you.”
Setelah telepon ditutup, Aaliyah kembali menatap layar laptop…
Satu tahun ini ia benar-benar fokus membangun hidup. Dan menata hidupnya kembali, setelah badai yang ia lewati.
Aaliyah sudah tidak pernah berfikir tentang masa lalunya lagi. Yang terpenting sekarang bagaimana ia bisa menjadi Ibu dan Ayah yang baik untuk putra semata wayangnya.
" Semangat Aal... Kamu harus kuat demi putra kecil mu yang menggemaskan itu. " Ucap Aaliyah menyemangati dirinya di tengah rasa lelahnya.
---
Di sudut lain Jakarta—tepat malam itu—Pramana sedang berada di mushola dekat rumahnya. Ia baru selesai salat Isya ketika ponsel di sakunya bergetar.
Pesan dari nomor Sam terpampang di layar ponselnya..
Sahabatnya satu ini memang selalu ada di samping Pramana. Dikala senang mau pun susah, Sam selalu ada di belakangnya.
Sam memang sahabat ter-the best... Padahal pria itu tahu kalo sang sahabat memiliki kelain pada Pramana. Tapi ia tak pernah meninggalkan Pramana. Ia malah selalu mengingatkannya atas perbuatan yang di ambil Pramana dulu. Pas tahu Pramana bertobat dan ingat dengan tuhan, membuat Sam merasa senang di buatnya.
[ Bro. Apa kabar ? Kau sehat - sehat kan disana ? ]
" Alhamdulillah aku baik, Sam. Tumben menghubungi ku, ada apa ? "
[ Aku minggu depan mau berlibur ke Indonesia, nanti kamu jemput aku di bandara ya. ] Balas Sam dengan emot ketawa di belakang tulisan.
Pramana mendengus sebentar lalu membalas pesan sang sahabat dengan perasaan senang.
"Hmm....jangan lupa kalo datang kesini bawakan aku oleh - oleh yang banyak. "
[ Kau tenang aja, Bro. Aku akan membawakan banyak oleh - oleh untuk mu serta keluarga mu yang lain. ]
Sahabatnya ini memang paling pengertian. Padahal ia hanya bercanda saja untuk di bawakan oleh - oleh pada Sam. Tapi kalo temennya itu yang memberikannya apa boleh buat, Pramana akan dengan senang hati menerima nya.
" Aku tunggu kedatangan mu secepatnya, Bro.."
---
Sementara itu, di Mansion…
Aaliyah duduk di samping ranjang kecil, menatap sang putra yang sudah tidur pulas di atas ranjang kecilnya. Pipinya chubby, napasnya teratur, tangannya mengepal kecil.
“Baby El…” bisiknya sambil menyentuh lembut rambut putranya. " Maaf ya Mommy pulangnya telat. Sampai kamu ketiduran nungguin Mommy pulang.. "
Ia elus dengan lembut rambut kecoklatan milik sang putra. Ia juga menatap lekat paras tampan sang putra.
Eldran Zaiden Jhonson, nama bocah kecil yang menggemaskan itu. Aaliyah lah yang memberikan nama itu sendiri pada sang putra.
“Terima kasih sudah hadir dalam hidup Mommy. Kamu penyembuh Mommy, nak.”
Terkadang setiap menatap wajah sang putra. Aaliyah mengingat pria itu lagi. Ketika menatap bola mata kehitaman milik El yang sama persis dengan ayah Kandungnya, Pramana.
Untung saja hanya bola mata mereka yang sama. Sisanya pahatan wajah si kecil mirip dengan Aaliyah. Lebih tepatnya mirip dengan wajah mendiang sang ayah, Edward Jhonson.
Di dalam hati kecil Aaliyah, tersimpan rasa takut yang dalam. Bagaimana jika kelak putranya, seperti ayah kandungnya, memiliki orientasi seksual yang berbeda saat ia tumbuh dewasa?
" Itu tidak akan pernah terjadi. Putra ku tak akan seperti pria itu.." gumam Aaliyah sambil menggelengkan kepalanya.
Bersambung....