AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 DI KONTRAKAN KOTA AKU MASIH DIASINGKAN
Aku pikir pindah ke kontrakan cat hijau di pinggir Jombang kota akan mengakhiri pengasinganku.
Ternyata salah.
Di Desa Wonorejo aku diasingkan karena hamil duluan dan tinggal di rumah bocor angker Mbah Wiryo. Di kontrakan kota aku diasingkan lagi, tapi dengan cara yang beda.
Kontrakan petak 400 ribu sebulan itu memang tidak bocor. Lantai semen, atap genteng, listrik 900 watt. Tidak ada angin gunung masuk dari bilik bolong. Tidak ada suara tet... tet... tet... air jatuh ke panci.
Tapi jam 6 pagi hari pertama di kontrakan, aku sudah diusir lagi.
Bukan diusir sama yang punya kontrakan, tapi diusir sama ibu-ibu kontrakan sebelah.
Aku lagi jemur baju Salsa di depan pintu, perutku 4 bulan 3 minggu sudah makin berat kalau jongkok. Salsa main tanah di selokan kecil depan kontrakan.
Ibu-ibu berkerudung pink yang tinggal di kontrakan nomor 2, yang kemarin sore senyum waktu kami datang pakai gerobak sapi, pagi ini berdiri di depan jemuranku sambil tutup hidung.
"Mbak, ini anaknya Mbak ya? Kok manggilnya Ibu terus? Anak kandung atau anak pungut?"
Aku kaget, Salsa langsung peluk kaki ku.
"Anak titipan, Bu. Anak tetangga di desa."
Ibu itu lihat perutku yang buncit jelas di balik daster biru.
"Hamil berapa bulan, Mbak? Suaminya mana? Kok dari kemarin yang nganterin bapak-bapak tua pakai gerobak sapi, bukan suaminya? Jangan-jangan hamil duluan lagi kayak di sinetron-sinetron itu?"
Kata hamil duluan itu lagi. Aku pikir cuma di Wonorejo yang pakai kata itu. Ternyata di kota juga ada.
Arga yang baru pulang beli bubur ayam di warung depan, dengar omongan itu, langsung taruh bubur dan berdiri di depan aku.
"Bu, saya suaminya, Bu. Saya Arga. Kami baru pindah kemarin dari Wonorejo. Istri saya hamil 4 bulan 3 minggu, butuh istirahat. Maaf kalau berisik."
Ibu itu lihat Arga pakai kaos oblong hitam dan peci hitam, lalu lihat aku tidak pakai cincin karena cincin nikah siri belum dibeli, cuma ada kertas HVS tipis stempel masjid di dalam koper hitam.
"Oh suaminya? Kok tidak tinggal di sini? Kemarin malam saya lihat suaminya tidur di luar pakai tikar?"
Aku dan Arga saling pandang. Syarat kedua yang aku buat: tidak boleh tidur bareng sampai anak lahir, tidur pisah kasur. Di kontrakan 1 kamar ini Arga tidur di lantai pakai tikar pandan, aku dan Salsa di kasur tipis. Dari luar kelihatan seperti suami tidur di luar karena diusir istri hamil.
"Bu, kontrakan kami kecil, Bu. Jadi tidur pisah," kata Arga pelan.
Ibu itu angguk-angguk tapi mukanya tidak percaya, lalu pergi sambil bisik-bisik ke ibu kontrakan nomor 3.
Jam 9 pagi, saat aku lagi masak air di kompor minyak, bukan tungku kayu, ada ketukan di pintu triplek kontrakan.
Tok... tok... tok...
Aku buka, ternyata Pak Lurah kontrakan. Bapak-bapak umur 50 pakai kemeja batik.
"Mbak Kirana ya? Saya dapat laporan dari warga kontrakan, katanya Mbak belum nikah KUA tapi sudah hamil 4 bulan? Di sini aturan kontrakan harus ada buku nikah, Mbak. Kalau tidak ada, tidak boleh tinggal di sini. Takut jadi contoh buruk buat kontrakan lain."
Aku lemas. Di Wonorejo aku diusir Mbah Sarti karena hamil duluan. Di kota aku diusir Pak Lurah kontrakan karena tidak punya buku nikah KUA, cuma punya kertas HVS tipis nikah siri.
Aku kasih lihat foto USG anak perempuan 16 weeks 2 days yang ditempel di dinding semen.
"Pak, saya sudah nikah siri, Pak. Secara agama sah. Suami saya Arga. Ini foto USG anak saya perempuan, Pak."
Pak Lurah lihat foto USG itu, lalu lihat Salsa yang peluk boneka kain sobek.
"Nikah siri tidak diakui di sini, Nduk. Harus KUA. Kalau tidak, minggu depan harus keluar. Atau bawa surat dari RT Wonorejo kalau memang sudah nikah."
Surat dari RT Wonorejo? Pak RT Pak Slamet yang bilang di mata desa aku masih dianggap belum nikah?
Aku nangis di dalam kontrakan setelah Pak Lurah pergi. Salsa ikut nangis karena lihat aku nangis.
Arga yang lihat aku nangis, ambil foto USG dari dinding, dan ambil baju bayi biru 35 ribu pemberian Rendo dari dalam koper hitam.
"Kir, jangan nangis. Kita akan urus KUA. Bapak sudah telepon Pak Modin yang nikahin siri kita 6 hari lalu, katanya bisa urus KUA cepat karena kamu hamil sudah 4 bulan 3 minggu, kasihan janin. Tapi wali harus Mbah Sarti, bukan wali hakim. Mbah Sarti harus datang ke KUA Jombang."
Mbah Sarti datang ke KUA Jombang? Mbah yang bilang mau bakar rumah bocor kalau aku nikah tanpa izin dia?
Sore jam 4, Arga pergi ke Wartel buat telepon Pak Karim di Wonorejo, minta tolong bujuk Mbah Sarti datang ke kota buat jadi wali KUA.
Aku di kontrakan sendirian sama Salsa, masak nasi pakai kompor minyak, telur dadar 1 butir dibagi dua, karena uang 2 juta tabungan karet Pak Karim harus hemat buat 3 bulan kontrakan dan buat lahiran di rumah sakit besar biar tidak pendarahan seperti Mira ibu kandung Salsa.
Malam jam 8, hujan turun deras lagi, seperti di rumah bocor. Tapi genteng tidak bocor. Kami makan bertiga di dalam kontrakan, tidak pisah pintu bambu lagi. Salsa makan lahap, bilang "enak, Ibu, telur."
Jam 9 malam Salsa sudah tidur di kasur tipis. Aku dan Arga duduk di lantai semen, lihat foto USG anak perempuan di dinding.
"Kir, besok Pak Karim akan bawa Mbah Sarti ke sini naik angkot. Mbah Sarti mau jadi wali KUA asal kamu minta maaf dulu karena nikah siri tanpa izin Mbah," kata Arga.
Aku angguk. Demi buku nikah KUA biar tidak diusir lagi dari kontrakan, demi anak perempuanku di perut yang butuh akte lahir, aku akan minta maaf sama Mbah Sarti.
"Mas, kalau Mbah Sarti sudah mau jadi wali KUA, apakah di mata desa dan di mata kontrakan aku sudah tidak dianggap perawan hamil duluan lagi? Apakah pengasinganku selesai, Mas?"
Arga genggam tanganku, tangan kasar kebun karet yang sekarang jadi kuli bangunan di kota.
"Belum selesai, Kir. Pengasinganmu baru selesai kalau anak perempuan kita lahir selamat, punya akte, dan Salsa yang ternyata anak kandung Mas ini sudah punya akte juga sebagai anak Mas. Baru kamu tidak diasingkan lagi. Baru kamu jadi Ibu seutuhnya, bukan Ibu Tiri yang diasingkan."
Kata Ibu Tiri itu. Aku baru sadar, selama 3 bulan aku rawat Salsa, aku adalah Ibu Tiri yang diasingkan karena hamil duluan.
Malam itu aku tidur di kasur tipis sama Salsa, Arga di lantai tikar pandan jarak 1 meter, masih jaga syarat.
Di luar kontrakan cat hijau, ibu-ibu kontrakan sebelah masih bisik-bisik.
Di dalam kontrakan, foto USG anak perempuan masih ditempel di dinding semen, baju bayi biru 35 ribu dari Rendo masih di koper hitam, dan koper hitam lain isi kertas nikah siri HVS tipis yang tidak diakui Pak Lurah kontrakan.
Belum nikah KUA, masih istri siri, masih diasingkan tapi sekarang diasingkan di kontrakan kota 400 ribu sebulan.
Hamil 4 bulan 3 minggu, bawa Salsa anak kandung suami siri, dan bawa anak perempuan di perut.
Dan besok Mbah Sarti akan datang naik angkot dari Wonorejo ke kota, untuk pertama kalinya setelah 4 bulan mengusir aku.
Apakah Mbah Sarti akan maafkan aku dan mau jadi wali KUA?
Aku tidak tahu. Yang aku tahu, malam ini aku tidur tanpa panci di bawah bocoran, tapi dengan surat ancaman usir dari Pak Lurah kontrakan di bawah bantal.
Itu cukup buat malam ini.
---