Linggar Angkasa adalah seorang pria yang sudah memiliki istri, menjalin cinta terlarang dengan seorang wanita yang tidak lain adalah karyawannya sendiri, istrinya seorang model majalah yang sering berada di luar kota.
Tania... wanita berusia 25 tahun yang menjabat sebagai sekretaris perusahaan retail,, atas dasar cinta, dia rela menjadi simpanan dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
3 tahun menjalin asmara tanpa kepastian kemana arah hubungan akan berlabuh, tiada hari tanpa desahan, kepuasan dan... cinta bertepuk sebelah tangan.
Jalinan cinta terlarang keduanya membuahkan hasil... tanpa ikatan... tanpa tuntutan... yang ada hanya sebuah kesadaran dari kesalahan...
Apakah Tania dan Linggar akan tetap bertahan? ataukah Tania mundur dan memutuskan hidup tanpa perlindungan...
Selamat membaca ya guys... semoga terhibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi ars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
" Saya masih berbaik hati pada anda nyonya, anda di larang keras mendekati pak Linggar." tegas Angga.
" Aku istrinya Angga!! Ku ingatkan kalau kau lupa!! Jangan melangkah melebihi derajatmu!! " sarkas Maya.
" Biarkan dia di sini Angga, kamu keluarlah." suara Linggar akhirnya keluar.
" Tapi Pak..." Angga tidak melanjutkan ucapannya ketika satu tangan Linggar terangkat.
Angga sedikit menundukkan kepala lalu berbalik meninggalkan ruangan Linggar. Sedangkan maya langsung mendekati Linggar, tetapi dengan tegas Pria yang sudah kecewa itu menghardiknya.
" Tetaplah pada batasanmu Maya." Tidak ada kalimat sayang... Tidak ada tatapan penuh memuja, hanyaaa kilatan kebencian... yang di coba untuk di pendam.
" Tapi kenapa sayang?? Apa salahku... Aku lelah seyelah perjalanan jauh, kontrak ku sudah selesai, aku sudah siap memiliki anak darimu." Maya membela diri dan seolah olah dia manusia bersih.
" Benarkah kau sudah siap memiliki anak??, bukankah bagimu anak hanya akan merepotkan??." sarkas Linggar.
" Tidak. Aku membutuhkan anak yang akan jadi pelengkap manisnya rumah tangga kita." maya meyakinkan Linggar. Membuat Linggar semakin... Muak.
Linggar melempar foto foto yang dia dapat dari Angga, lalu mengirimkan vidio adegan panasnya bersama pria di diskotik dan vidio terbaru bersama produsernya, sesaat setelah dia sampai di kota Paris, sebelum dia tertangkap oleh istri sang produser.
Maya memungut semua foto yang berterbangan di lantai, dia terkejut bukan main, tidak lama beberapa notifikasi masuk ke ponselnya.
" Aaah beb ini sangat nikmat, iya di situ... Teruskan sayang... Oh aaah oh... Masukkan beb, masukkan semua aaaah" suara Maya terdengar jelas saat dia memutar vidio yang di kirim Linggar.
Maya segera mematikan HP, tubuhnya gemetar hebat.
" Tidak... Tidak mas... Semua yang ada di sini adalah jebakan, aku tidak pernah menghianatimu. Percayalah padaku mas." Maya mencoba merayu Linggar.
" kau kira aku bodoh Maya, aku memang mencintaimu tetapi aku tidak tuki atau buta. Aku mengenal jelas suaramu dan setiap lekuk tubuhmu!!" Linggar susah tisak bisa menahan amarah.
" Keluarlah Maya, hadiri sidang perceraian kita, jangan mempersulit keadaan. Sebab akupun tidak pernah mempersulitmu." Lanjut linggar.
" Jangan pula menuntut harta, sebab selama pernikahan kita, kita tidak memiliki harta apapaun, aku hanya bekerja di perusahaan papa, tetapi hasilnya telah ku berikan padamu semua, selama kamu menjadi istriku." tekan Linggar.
"Tidak Linggar, jangan lakukan ini padaku... Aku benar benar mencintaimu. Tolong maafkan aku..." Maya bersimpuh di hadapan Linggar.
Linggar tidak peduli, dia berdiri menghadap jendela, hatinya terlanjur sakit oleh perbuatan istrinya.
" Rumah dan mobil menjadi hak mu, hari ini juga aku akan keluar dari rumah. Sertifikat dan surat mobil, aku letakkan di meja riasmu." ucap Linggar dengan tetap menghadap kaca jendela.
Maya berdiri, lalu mendekati Linggar. Dia memeluk suaminya dengan sangat erat sambil menangis sesegukan.
Jujur.... Maya tidak ingin berpisah dari Linggar, bukan hanya karena uang saja, tetapi... Hatinya mulai tersentuh oleh pria tampan bernama Linggar.
Sayang sekali... Saat hati maya mulai tertaut... Lain halnya dengan Linggar yang sudah mulai tertutup dan membatu... Oleh rasa sakit dan... Kecewa.
Linggar membalik badan lalu kedua tangannya menyentuh bahu istrinya, Maya menatap mata Linggar yang terlihat penuh dengan.... Luka.
Maya menggelengkan kepala seolah berkata jangan... Jangan berkata apapun Linggar... Tetapi lidahnya kelu... Dia hanya mampu menatap suaminya dan menggelengkan kepala.
" Maya mahardika binti Suherman, aku Linggar Angkasa menjatuhkan talak 3 kepadamu, mulai detik ini haram bagiku menyentuhmu!!" ucap talak tersebut sangat lantang dan tanpa keraguan.
Linggar melepaskan pegangan tangannya dan membuang pandangan terhadap mantan istrinya.
Tubuh maya lunglai lemas tanpa daya, air mata mengalir berjatuhan, lututnya seolah kosong tanpa tulang.
" Talak tiga??" gumam Maya sambil terisak.
" Pergilah dari sini may." usir Linggar.
Tidak ingin terpengaruh oleh tangisan Maya, Linggar menghubungi Angga.
Angga masuk dengan membawa tim keamanan, dia sendiri sudah muak dengan mantan istri sahabatnya.
" Jangan menyentuhku, aku masih mampu berjalan sendiri."ucap Maya saat Angga meminta security untuk membawanya keluar.
Maya meninggalkan gedung Angkasa dengan lemas, tatapan dan cibiran dia dapatkan sebagai sanksi sosial.
" Ternyata dia model murahan, kasihan pak Linggar" bisik bisik sebagian karyawan yang bertemu dengannya.
Maya memberhentikan taxi dan masuk dengan membawa kopernya. Kenangan bersama Linggar menari di kepalanya. Menyesal?? Tentu, terpuruk?? Jelas, dia kehilangan karir dan suami dalam wakti yang bersamaan. Tetapi... Maya bukan wanita lemah yang terpuruk oleh keadaan.
" Tujuan kemana bu?" Tanya supit taxi off line.
" ke jalan melati sukma no 135" jawab Maya.
Setelah sampai di rumahnya, maya turun dan langsung membuka gerbang. Tidak seperti tadi saat dia datang, rumah itu sepi tanpa penghuni, tanpa penjagaan.
Pintu terbuka saat Maya hendak melepas sepatu, mereka saling tatap dalam diam, hingga akhirnya maya masuk kedalam tanpa berucap sepatah katapun.
Tidak ada suara security yang bermain catur, tidak ada asisten rumah tangga yang bercanda sambil bekerja. Semua... Sepi.
Tatapan Maya tertuju pada tas kecil milik pembantunya... Tidak ada suara apapun, hanya senyuman miris yang dia perlihatkan.
Langkahnya tidak berlanjut ke kamar, melainkan ke taman belakang yang langsung terhubung dengan kolam renang. Dari sana terlihat mobil hadiah ulang tahunnya terparkir.
Di sebelah mobil ada motor yang dia beli saat belum menjadi istri seorang Linggar, motor yang dia pakai mengikuti berbagai audisi.
Maya duduk bersimpuh... Sendirian.
" Bu Maya... Maafkan saya, saya... Pamit hari ini ini." ucap kepala asisten yang berusia sekitar 55 tahun..
" Jadi... Bi Asih juga akan meninggalkanku??" gumam Maya tetapi masih bisa di dengar oleh asisten tersebut.
Asisten rumah tangga yang bernama Bi Asih terdiam, sesungguhnya dia sendiri bingung mau kemana, dia tidak memiliki suami ataupun anak. Suaminya meninggal tanpa memberikannya keturunan. Dia di kampung hidup sendiri karena dia tidak memiliki saudara, dia anak tunggal, dan saudara dari orang tuanya sudah meninggal semua.
Beberapa hari lalu Linggar memberhentikan semua pekerja di rumah itu, termasuk dirinya. Semua mendapatkan pesangon yang tidak sedikit. Tetapi... Apalah guna uang jika hidup dalam kesepian dan kesendirian?? Pikir Bi Asih.
Sekarang Bi Asih di tempatkan di situasi yang dilema.
" Pergilah Bi... jika bibi di sini, saya juga tidak sanggup membayar... " ucap maya sambil tertawa... Miris.
" Saya bukan artis lagi Bi, saya juga tidak bergelimang harta. Bibi boleh pergi..." lanjut maya dengan berlinang air mata.
Jika bisa waktu di putar, dia akan memilih menjadi istri yang patuh. Dia terlalu berambisi menjadi bintang dengan menghalalkan segala cara, hingga akhirnya cara itu telah... Membunuhnya.
" Jika diperbolehkan... Ijinkan bibi tetap bersama nyonya, bibi di kampung juga tidak punya siapa siapa" jawab Bi Asih bersamaan dengan angin bertiup lembut... Seolah paham dengan penyesalan Maya.
" Benarkah Bi... Tetapi... Saya tidak bisa menggaji bibi, saya belum memiliki pekerjaan." jawab Maya.
" Tidak usah di gaji nyonya, saya cukup di beri tempat tinggal." jawab Bi Asih.
Maya berdiri, lalu memeluk Bi Asih...
"Ternyata Tuhan tidak membenciku, Tuhan masih menyisakan satu manusia baik untuk menemaniku. "
Bi Asih menuntun Maya dan membawanya ke kamar, rumah itu lumayan besar... Bahkan terlalu besar untuk mereka berdua. Maya bertekat mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya. entah jalan seperti apa nanti kedepan yang akan dia hadapi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selamat membaca ya guys... Semoga bisa menjadi penghibur hari harimu. Mohon maaf jika ada typo..
Suport kalian adalah semangatku... Jangan.lupa tinggalkan jejak yaaa
dlu saat dia ada.... km bilang dia hnya pemuasmu .. tk lbih....
krna km berulang kali mngatakn tak menginginkn ank dri rahim tania.... bhkn klo smpe tania hamil... km dgn enteng mgatakn untuk digugurkn...🙄🙄
eeee istri yg di bela"in.... taunya mndua😂😂😂😂
yg hncur km ato tania.....
tania saat ini sedih dan trluka.... tpi kelak saat anknya lahir.... dia punya pngobat luka....
sdangkn kamu linggar..... bhagia nggk ... tpi kecewa... trnyata perempuan yg km prioritaskn... km cintai ugal"an... nyatanya sm berhiantnya sprtimu di belakangmu....