Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.
Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.
Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.
Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.
Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: RAPAT SENJA
Ting.
Bunyi lift berhenti menggema pelan. Pintu logam perlahan terbuka, memperlihatkan lorong pendek yang berujung pada sebuah pintu besar. Di tengah daun pintu itu terukir pola pedang berlapis emas, tajam, simetris, dan penuh simbol kekuasaan.
Dion melangkah lebih dulu. Tangannya mendorong pintu itu tanpa ragu.
Krek.
Pintu terbuka lebar. Barra ikut masuk di belakangnya, napasnya sedikit tertahan.
“Selamat datang.”
Suara Mordain menyambut mereka, tenang dan licik, dengan senyum tipis yang tak pernah menyentuh matanya.
Ruangan di hadapan mereka luas, jauh lebih mewah dari dugaan. Sebuah meja panjang membentang di tengah, dikelilingi kursi-kursi berat berlapis kulit gelap. Di atasnya, lampu kristal besar menggantung, memantulkan cahaya dingin yang berkilau ke seluruh sudut ruangan.
Kursi-kursi itu hampir seluruhnya terisi.
Saat Dion dan Barra melangkah masuk, percakapan terhenti. Sepasang mata, lalu puluhan, beralih ke arah mereka. Tatapan-tatapan tajam, menilai, penuh tekanan, seperti kawanan pemangsa yang baru saja mencium aroma asing.
“Dion…” bisik Barra gemetar, merapat ke sampingnya. “Bukankah tempat ini berbahaya?”
“Sepertinya begitu,” jawab Dion pelan. “Tapi justru itu yang menarik. Orang-orang di sini terlihat kuat.”
Barra hanya bisa menelan ludah dan menghela napas. Jawaban itu sama sekali tidak menenangkannya.
“Bagus,” kata Mordain sambil bertepuk tangan ringan. “Kau benar-benar datang.”
Ia memberi isyarat ke arah meja. “Kemari. Biar aku kenalkan kau pada yang lain.”
Dion mengangguk tipis.
Di dalam benaknya, ia memanggil sistem. 'Ukur kekuatan Mordain.'
Hologram emas muncul sesaat, hanya terlihat olehnya.
[Nama: Mordain Mahardika]
[Kekuatan: 150]
[Kecepatan: 200]
[Pertahanan: 120]
[Stamina: 100]
'Kecepatannya dua ratus…' pikir Dion.
'Orang ini spesialis dengan kecepatan, dan bukan tipe petarung frontal.'
Ia menutup layar itu tanpa perubahan ekspresi.
Dion melangkah mengikuti Mordain menuju meja panjang. Barra tetap berada di belakangnya, nyaris menempel. Di ruangan ini, ia tahu benar posisinya, lemah, rentan, dan tak punya pilihan selain berlindung di balik punggung Dion.
Sementara itu, dari kursi-kursi di sekitar meja, para perwakilan terkuat dari tiap kelas menatap Dion dengan minat yang semakin dalam.
Rapat Senja akhirnya dimulai. Dan satu hal sudah jelas, kehadiran Dion telah mengganggu keseimbangan lama yang selama ini mereka jaga.
.....
“Ehkhem! Dengarkan semua!”
Mordain berdehem pelan, lalu suaranya meninggi, memantul di dinding ruangan yang luas.
Percakapan-percakapan kecil langsung mereda. Lampu kristal di atas meja panjang memantulkan cahaya dingin ke wajah-wajah yang duduk mengelilinginya.
“Kita kedatangan perwakilan dari kelas lain.”
Dion mengangkat alisnya sedikit. 'Kapan aku bilang jadi perwakilan kelas?' pikirnya, namun wajahnya tetap datar.
“Seperti yang kalian semua tahu,” lanjut Mordain sambil tersenyum lebar, “dialah Dion. Orang yang berhasil mengalahkan Darma, si beruang dari Kelas Matematika, dengan satu pukulan.”
Ia menggerakkan tangannya, menunjuk Dion dengan gestur teatrikal.
'Berlebihan sekali,' gumam Dion dalam hati. 'Walaupun… ya, itu memang terjadi.'
Ruangan yang sempat hening mulai dipenuhi suara.
“Jadi orang tampan ini yang menjatuhkan Darma?” ujar salah satu perwakilan sambil bersandar santai di kursinya.
“Apa-apaan, satu pukulan?” sahut yang lain dengan nada tak percaya. “Kau yakin itu bukan rumor?”
“Kelihatannya benar,” jawab suara ketiga. “Lihat tubuhnya. Video itu juga tersebar di mana-mana.”
Tatapan-tatapan semakin tajam, bukan lagi sekadar penasaran, melainkan menilai, mengukur apakah Dion pantas duduk sejajar dengan mereka.
“Bagus,” kata Mordain, suaranya kembali tenang. “Kalau begitu, aku rasa tak perlu basa-basi lagi. Aku akan memperkenalkan kalian satu per satu.”
Ia melangkah setengah langkah, lalu menunjuk ke sisi kanan meja.
“Yang ini, Raka Reynald. Perwakilan dari Kelas Sosial dan Sejarah.”
Seorang pria tampan dengan rambut panjang dan hidung mancung menatap Dion sekilas, sorot matanya tenang namun tajam, seperti seseorang yang terbiasa membaca situasi.
“Di sebelahnya,” lanjut Mordain, “Kevin Halim. Perwakilan dari Kelas Teknologi dan Komputer.”
Kevin duduk tegap, posturnya solid, rahangnya mengeras saat mata mereka bertemu.
“Yang ini perwakilan dari Kelas Seni dan Kreatif,” kata Mordain sambil menunjuk pria berambut pirang panjang yang menutupi sebagian wajahnya. “Nathan Santoso.”
Nathan hanya menyeringai tipis. Anting panjang di kedua telinganya bergoyang pelan.
“Di sana,” Mordain mengalihkan arah tangannya, “Gilang Anderson. Perwakilan dari Kelas Bisnis dan Kejuruan.”
Gilang tampak rapi dalam jas abu-abu, sarung tangan hitam menutupi tangannya, ekspresinya dingin dan terukur.
“Dan itu,” lanjut Mordain, menunjuk pria berambut perak, “Zayn Hakim. Perwakilan dari Kelas Bahasa Asing.”
Zayn mengangguk singkat, matanya tajam namun penuh ketenangan aneh.
“Terakhir,” Mordain tersenyum lebih lebar, “kalian semua sudah mengenalnya. Alex Sergio. Perwakilan dari Kelas Bahasa dan Sastra.”
Alex menyilangkan tangan, menatap Dion tanpa senyum, tatapan yang masih menyimpan sisa takut dan ketegangan.
Dion menghafal semuanya dalam diam. Satu per satu wajah, postur, dan aura mereka. Kuat, tidak diragukan lagi. Namun baginya, mereka hanyalah potongan-potongan teka-teki yang sedang ia susun.
Berbeda dengan Barra.
Pemuda berkacamata itu berdiri kaku di belakang Dion, tangannya gemetar saat membenarkan bingkai kacamatanya. Setiap perwakilan membawa dua anak buah yang berdiri tegap di belakang kursi mereka, sementara ia sendirian, tak punya apa-apa selain keberanian kecil untuk tetap berada di sisi Dion.
Di ruangan itu, ketegangan menggantung tebal. Rapat Senja baru saja benar-benar dimulai.