"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."
Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.
Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.
Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.
Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.
Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan Sempurna
Siang itu, matahari bersinar terlalu terang. Burung-burung berkicau terlalu riang. Dan ruang duduk utama Vane Manor dipenuhi oleh tawa yang terlalu renyah.
Vittoria Russo datang berkunjung.
Kali ini dia datang sendirian, tanpa Ciarán yang sedang sibuk di kantor memulihkan harga saham. Dia datang dengan dalih "mendekatkan diri" dengan calon keluarga barunya.
Dia duduk di sofa krem bersama Eleanor, meminum teh chamomile dengan keanggunan yang membuatku ingin muntah. Dia mengenakan sundress putih bermotif bunga biru cornflower dari koleksi terbaru Dior, topi lebar yang diletakkan sopan di sampingnya, dan senyum yang bisa melelehkan es di kutub.
Aku dan Lily duduk di sofa seberang. Kami dipanggil turun karena Vittoria "ingin sekali bertemu sepupu-sepupu Ciarán".
"Oh, Bibi Eleanor, taman mawarmu luar biasa," puji Vittoria, suaranya seperti lonceng perak. "Ibuku pasti akan iri jika melihatnya."
Eleanor tersipu, terlihat sangat menyukai calon menantunya ini. "Kau terlalu memuji, sayang. Tapi kau harus lihat orchid house kami nanti."
Vittoria mengangguk antusias, lalu matanya beralih pada kami.
Mata itu berwarna cokelat madu, hangat, dan ramah. Tidak ada jijik seperti tatapan Isabella. Tidak ada penghinaan seperti tatapan Lucas.
Dan itulah yang membuatnya menakutkan.
Dia menatap kami dengan... kasihan. Rasa kasihan yang dibungkus dengan niat baik yang suci.
"Elara, Lily," sapa Vittoria lembut. Dia memberi isyarat pada pelayannya yang membawa beberapa kantong belanjaan bermerek mewah. "Aku tidak bisa datang dengan tangan kosong. Aku melihat beberapa barang di butik langgananku dan langsung teringat kalian."
Pelayan itu meletakkan kantong-kantong itu di meja kopi.
"Untuk Lily," kata Vittoria, menyerahkan sebuah kotak pipih berwarna merah muda.
Lily, yang matanya sudah berbinar sejak Vittoria masuk, menerimanya dengan tangan gemetar. Dia membuka kotaknya.
Sebuah syal sutra Hermès dengan motif kupu-kupu yang ceria.
"Wah..." Mulut Lily membentuk huruf O sempurna. "Ini... ini indah sekali! Terima kasih, Kak Vittoria!"
Lily langsung melilitkan kain mahal itu ke lehernya, mengelusnya seperti benda keramat. Dia tersenyum lebar pada Vittoria, senyum pemujaan yang tulus.
"Sama-sama, manis." Vittoria tersenyum, lalu beralih padaku. "Dan untukmu, Elara."
Dia menyodorkan sebuah kantong hitam elegan.
Aku menatap kantong itu. Aku tidak bergerak.
"Elara," tegur Eleanor pelan, ada nada peringatan di suaranya.
Dengan berat hati, aku mengulurkan tangan dan mengambil kantong itu. Di dalamnya, ada sebuah buku.
Bukan buku sembarangan. Itu adalah edisi hardcover terbatas dari novel klasik 'Pride and Prejudice', sampulnya terbuat dari kulit asli dengan ukiran emas. Dan di bawahnya, ada sebuah bros perak berbentuk bulu angsa yang elegan.
"Aku dengar kau suka membaca di perpustakaan," kata Vittoria. "Dan bros itu... kupikir akan cocok dengan gaun navy yang kau pakai tempo hari. Sederhana, tapi berkelas."
Aku menatap barang-barang itu.
Buku tentang harga diri dan prasangka. Bros perak untuk menghias baju "perang"-ku.
Apakah dia sedang mengejekku?
Tidak. Wajahnya tulus. Dia benar-benar berpikir dia sedang berbuat baik. Dia adalah putri raja yang sedang turun ke desa kumuh, membagikan koin emas kepada pengemis agar mereka bisa membeli sepatu.
Bagi Lily, ini hadiah. Bagi Eleanor, ini kemurahan hati.
Tapi bagiku? Ini adalah sedekah.
Ini adalah cara Vittoria berkata: "Lihat, aku punya segalanya. Aku punya uang, aku punya Ciarán, dan aku bahkan punya kebaikan hati untuk memikirkan makhluk kecil sepertimu."
Kebaikan hatinya menelanjangiku. Itu membuatku merasa lebih miskin daripada hinaan Isabella. Hinaan Isabella bisa kulawan dengan amarah. Tapi kebaikan Vittoria? Itu membuatku merasa berhutang. Itu membuatku merasa kecil.
"Terima kasih," kataku. Suaraku datar, tanpa emosi.
"Coba pakai brosnya, Elara!" suruh Eleanor.
"Nanti saja," tolakku halus, memasukkan kembali barang itu ke dalam kantong. "Sayang kalau rusak."
Senyum Vittoria tidak goyah sedikit pun. Dia tidak tersinggung. Dia justru menatapku dengan pengertian yang menyebalkan.
"Tentu saja," katanya lembut. "Simpanlah untuk acara spesial."
Aku meremas pegangan kantong itu.
Dia sempurna. Dia cantik. Dia kaya. Dia baik.
Dia adalah cahaya matahari yang terang benderang.
Dan di hadapannya, aku hanyalah bayangan hitam yang kotor, memeluk lutut di sudut ruangan, memegang sedekah yang dia lemparkan dengan senyum malaikat.
Setelah acara bagi-bagi hadiah yang menyiksa itu, Vittoria dan Eleanor pindah ke teras samping untuk melihat koleksi anggrek. Aku memilih mundur ke balik pilar batu, mengawasi dari kejauhan seperti hantu yang mengintai kehidupan orang hidup.
Seorang pelayan muda yang gugup datang membawa nampan berisi es teh lemon. Mungkin karena terpesona melihat kecantikan Vittoria, atau mungkin karena tersandung karpet, nampan di tangannya miring.
Gelas-gelas beradu. Sedikit cairan tumpah, memercik ke lantai marmer dekat kaki Vittoria.
Pelayan itu memucat seketika. "Maaf! Maafkan saya, Nona! Saya ceroboh!"
Jika itu Isabella, pelayan itu pasti sudah dimaki habis-habisan dan mungkin dipecat di tempat. Jika itu Julian, dia akan ditatap dengan jijik.
Tapi Vittoria?
Dia bahkan tidak mundur. Dia tersenyum menenangkan, lalu membungkuk sedikit. Gerakan yang tidak perlu dilakukan oleh wanita sekelas dia, untuk membantu pelayan itu menyeimbangkan nampannya.
"Tidak apa-apa," kata Vittoria lembut. "Lantainya memang licin. Jangan khawatir, itu hanya air gula. Semut pun butuh minum, kan?"
Pelayan itu mendongak, matanya penuh rasa syukur dan kekaguman. Eleanor tertawa kecil melihat lelucon itu. Bahkan Isabella, yang baru saja bergabung, tidak mencibir. Isabella justru tersenyum, senyum tulus yang langka dan merangkul lengan Vittoria.
"Kau terlalu baik, Vi," kata Isabella. "Kalau aku, aku sudah menyuruhnya menjilat lantai itu."
"Bella, jangan kejam," tegur Vittoria main-main, mencubit pipi Isabella.
Dan Isabella... dia tertawa.
Adik Ciarán yang seperti ular berbisa itu tertawa renyah, terlihat seperti gadis normal di samping Vittoria.
Aku mencengkeram tirai jendela tempatku bersembunyi.
Mereka semua mencintainya.
Pelayan mencintainya. Eleanor memujanya. Isabella menghormatinya. Dan Ciarán... Ciarán menghargainya.
Rasa benci yang gelap dan pekat merambat di dadaku, mencekik paru-paruku.
Aku membencinya.
Tapi aku membencinya bukan karena dia jahat. Jika dia jahat, aku bisa melawannya. Jika dia sombong seperti Isabella, aku bisa menjatuhkannya. Jika dia licik seperti Lucas, aku bisa memanipulasinya.
Tidak. Aku membencinya karena dia baik.
Aku membencinya karena dia adalah segala hal yang tidak bisa kucapai. Dia bersih, luar dan dalam. Dia tidak punya trauma yang membuatnya terbangun menjerit di malam hari. Dia tidak perlu mencuri roti untuk merasa aman. Dia tidak perlu melukai dirinya sendiri untuk mendapatkan perhatian.
Kebaikan Vittoria adalah cermin paling kejam yang pernah ada.
Saat aku berdiri di dekatnya, aku tidak hanya merasa miskin. Aku merasa busuk.
Cahayanya yang terang benderang membuat bayang-bayang di dalam diriku terlihat semakin hitam, semakin nyata, dan semakin mengerikan. Dia adalah bukti nyata bahwa di dunia ini ada wanita yang pantas dicintai dengan cara yang sehat.
Dan itu berarti, aku adalah wanita yang hanya pantas dicintai dengan cara yang sakit.
"Kau tidak akan pernah menjadi dia, Elara," bisikku pada diriku sendiri, kuku jariku menancap di kain tirai beludru. "Kau terbuat dari lumpur dan dendam. Dia terbuat dari emas dan sinar matahari."
Jika Ciarán harus memilih antara matahari dan lumpur, siapa yang akan dia pilih?
Logika mengatakan dia akan memilih matahari. Siapa pun akan memilih matahari.
Tapi aku tidak akan membiarkan logika menang. Jika aku tidak bisa menjadi matahari, maka aku akan menarik Ciarán ke dalam lumpur bersamaku. Aku akan memastikan matanya terbiasa dengan kegelapan, sampai cahaya Vittoria menyakitkan baginya.