Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Chef First
...Selamat membaca semuanya.....
Rumah sederhana di dalam komplek, ukurannya besar tapi tidak sebesar mansion milik Papah Rania. Wanita itu melangkah masuk ke dalam, menelisik ruang tamu yang cukup rapi dan nyaman.
"Nona lebih baik-" belum selesai menawarkan duduk, Rania sudah lebih dulu mendaratkan pantatnya di atas sofa berwarna grey . Boris menggelengkan kepalanya dengan senyuman tipis.
"Ris, aku lapar.."
Rengekan manja Rania sudah sering Boris lihat dan dengar, dia tidak terkejut lagi dengan hal tersebut. Kakinya melangkah ke dapur, membuka kulkas untuk mengambil beberapa potong daging.
Rania mencari keberadaan Boris, saat menemukan pria itu sedang sibuk di dapur mata mereka bertemu.
"Hai chef.." sapa Rania dengan mengulas senyum yang sangat manis.
Kekehan kecil terdengar, Boris memilih fokus kembali dengan masakannya. Rania mendekat dan berdiri di samping Boris mengamati betapa cekatannya cara pria tersebut memasak.
"Ris, kamu serius mau menikah denganku?" dahi Boris mengernyit dan melirik Rania sebentar, lalu mengangguk singkat. "Aku tidak bisa memasak tau! Nanti kalau kamu lapar beli online saja ya," tawa kecil yang menghibur Boris mendengar ungkapan Rania.
"Ide yang bagus" Rania malu sendiri mendengar jawaban darinya.
"Nona, tolong ambilkan piring" Rania celingukan mencari piring, saat melihat piring di sebelah wastafel. Dia ambil satu piring dan dia berikan ke Boris.
"Terima kasih, cantik" pujian yang sangat Rania suka, dia tersipu malu mendengarnya.
Keduanya sudah duduk tenang, dengan satu piring penuh nasi goreng spesial yang terlihat menggiurkan. Mata berbinar seakan air liur ikut mengalir ingin segera meminta makan.
Saat hendak meraih dan memasukan satu suap sendok ke dalam mulutnya. Boris berdehem keras. Rania melirik memandangi Boris yang mengerakan jempolnya ke dirinya.
"chef first" dengusan kesal Rania membanting sendok membuat Boris terkekeh renyah.
Dia meraih sendok tersebut, satu sendok nasi goreng dia sodorkan ke arah Rania, "tidak perlu merajuk seperti itu, aku tidak akan menghabiskannya sendiri. Ayo buka mulut, Nona."
Rania menurut, mengunyah nasi goreng buatan Boris. Keduanya saling memandang, Boris yang menunggu reaksi Rania, wanita itu justru menutup wajahnya karena terlalu malu.
"Bagaimana masakanku, Nona?"
Rania mengangguk cepat, mengacungkan ibu jarinya. Boris terkekeh gemas melihat Rania yang seperti anak kecil.
"Lezat. Kamu calon suami yang sempurna."
"Benarkah?" Rania mengangguk cepat, dia mengambil segelas air minum. Menunggu kunyahannya tertelan habis masuk melewati tenggorokkan, dia memandangi wajah Boris lekat.
"Kenapa memandangku, Nona?" Rania menggelengkan kepala menghembuskan napas menatap wajah Boris dari dahi turun sampai ke dagu.
"Kamu iblis ya, Ris?" pertanyaan yang tidak masuk akal keluar tiba-tiba, membuat Boris yang bingung akan menjawab apa.
"Bukan, Nona."
Rania menggeleng lagi merasa ragu, "tidak mungkin! Manusia tidak mungkin setampan kamu. Kamu bukan manusia."
"Aku manusia."
"Kata orang, iblis memiiki paras yang tampan. Tapi, sifat dan sikapnya-"perkataannya menggantung, Boris menangkap apa yang selanjutnya akan diucapkan Rania.
"Aku manusia biasa, dan aku calon suamimu" justru sekarang Rania mengepalkan tangannya, dengan tiba-tiba memukul pelan meja makan. Boris terlonjak kaget setelahnya terkekeh.
"Cukup Boris! Kamu lulus jadi calon suamiku" Boris tertawa mendengar itu, Rania ikut menangkup wajahnya mengulas senyum sambil memandangi ketampanan Boris di depannya saat ini.
Keduanya saling pandang menikmati sempurnanya manusia ciptaan Pemilik Semesta. Malam itu, Rania tidur di kamar Boris. Sedangkan pria itu memilih di sofa ruang tamu.
Selimut dan bantal menemani malam mereka dengan kenangan kecil yang hangat saat tadi di dapur. Mereka sama-sama tidak bisa langsung tidur malam itu.
Keheningan malam berubah saat ponsel Rania berdering. Nama yang tertera membuatnya masih kesal, tapi tetap saja dia mengangkat panggilan itu.
"Iya, halo."
...Bersambung.....
Terima kasih sudah mampir di ceritaku, jangan lupa like dan komen ya semua.. Malem minggu mau naik kereta ke Karawang ketemu saudara kembar. Abis sakit loh dianya, jadi mau kujenguk sekalian maen. 😭🤣