Sepucuk surat mengundang Syaheera untuk kembali ke kota kelahirannya. Dalam perjalanan ke kota tersebut, dia bertemu Gulzar Xavier, pria baik hati yang menolongnya dari pria mesum di kereta.
Kedatangan Syaheera disambut baik oleh ayahnya dan keluarga barunya. Namun, siapa sangka, ternyata sang ayah berniat menjodohkan dirinya dengan Kivandra Alistair, Tuan Muda lumpuh dari keluarga Alistair.
Cinta Syaheera pada ayahnya membuat gadis ini tak ingin membuatnya kecewa. Namun, pada malam pertemuannya dengan Kivandra, takdir kembali mempertemukan dirinya dengan Xavier, dan sejak itu benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.
Xavier yang hangat, atau Kivandra yang dingin, akan kepada siapa Syaheera menjatuhkan pilihan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Be___Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syaheera part 19
...🥀Ternyata Kita Cinta🥀...
..._Mungkinkah kita bertemu di waktu yang salah? Atau justru tidak seharusnya kita berjumpa?_...
.........
Masih dalam masa pengembang setelah beralih kepemilikan, area camping tetap ramai pengunjung.
Tempat yang dipilih Joel cukup nyaman bagi Syaheera dan yang lainnya. Tepat di depan mereka terdapat area api unggun, dan tak jauh dari mereka ada taman dengan banyak bunga-bunga indah dan pohon rindang tertata rapi.
"Eh, pohon ini kamu yang tanam?"
Menikmati udara segar sembari berjalan berdampingan, atensi Syaheera tersita pada sebuah pohon dengan papan nama di bawahnya.
"Oh, ternyata di sini. Sudah lama sekali, aku hampir tidak menemukannya," ucap Xavier. Dia menarik lengan Syaheera agar mendekat pada pohon itu.
"Waahh, jadi benar pohon ini milikmu?"
"Iya. Tempat ini milik teman Ayahku. Dulu waktu awal pembangunan, teman Ayah mengajak banyak temannya kemari untuk menanam pohon. Aku dan Ibuku yang menanam pohon ini." Ada rasa bangga ketika Xavier memandang pohon di depannya. Dia tidak pernah merawatnya, tapi pohon itu tumbuh besar dan rindang.
Sementara Heera, dia menatap haru Xavier. "Aku bangga padamu."
"Hem?" Pria ini menatap penuh tanya.
"Kau adalah salah satu penyumbang udara bersih di dunia. Kau hebat." Dua jempol terangkat tepat di hadapan Xavier.
Mengusap tengkuknya seraya menunjukkan wajah, ia salah tingkah.
"Xavier, kau hebat," ucap Syaheera lagi. Dia mengejar pandangan pria itu hingga tubuhnya sedikit membungkuk.
"Terima kasih," sahut Xavier. Senyuman hangat juga tatapan lembutnya, sungguh membuat hati sang gadis seperti dipenuhi kupu-kupu.
Mengulurkan tangan kemudian disambut Syaheera, Vier menggenggam erat jemari kecil itu. "Apa kau tidak merasa dingin?"
"Lumayan. Tapi aku suka udara sejuk ini."
Xavier memasukkan tangan kecil itu ke dalam saku jaketnya, "Sekarang bagaimana?"
"Hangat." Ada rona merah muda di kedua pipi Syaheera, ingin rasanya Xavier mencubit pipinya.
Saling melempar senyuman sambil terus melangkah, interaksi mereka begitu manis. Runa, Joel dan Oza hanya bisa menjadi penonton beberapa langkah di belakang mereka.
Petang di tempat camping semakin menarik pengunjung. Beberapa tenda baru terlihat mengisi area-area kosong.
Di lapangan basket ...
"Besok 'kan libur, bagaimana kalau kita mendirikan tenda?"
Kiv melempar bola basket ke arah Ettan. "Orang yang kalah tidak berhak mengajukan pendapat."
Menerima bola yang dilempar keras itu, tubuh Ettan sedikit terhuyung. "Dasar sombong. Aku hanya sedang santai, tidak ingin sedikit lebih berusaha."
"Cih! Pecundang memang tidak menerima kekalahan. Sudahlah! Cepat ambil tasmu, kita pulang."
"Langit akan tertawa melihat kita pulang cepat. Minimal, setelah mandi kita singgah ke klub dulu." Ettan bicara sambil men-dribble bola.
Kiv yang nakal menendang bola itu hingga terlempar jauh, dia tertawa melihat Ettan yang kesal.
"Kau! Cepat ambil bolanya!"
Alih-alih dirinya, Kiv meminta Alvin dan Millo yang mengambil bola itu.
Menggelengkan kepala, Ettan menatap Kiv seolah sahabatnya ini seorang penjahat. "Tuan Muda durjana. Kau sangat tidak berpri kepegawaian."
Mengabaikan sejenak ocehan Ettan seraya duduk di kursi yang berada di tepi lapangan basket, Kiv melepaskan kacamata hitam itu dan menyugar rambutnya. "Lama-lama kau seperti perempuan, banyak bicara."
"Hei! Ayolah," protes Ettan. Dia hanya sekadar bicara.
"Tuan!"
Alvin datang berlari kecil dengan membawa bola basket, disusul Millo dengan ponsel yang menyala di tangannya.
"Tuan ..."
Sebelah alis Kiv terangkat naik, dia tidak suka keraguan di wajah Millo.
"Cepat perlihatkan!" hardik Alvin.
"Ada apa?" tanya Ettan. Dia tidak sabar menunggu jawaban, maka, ponsel yang menyala di tangan Millo dia sambar.
"Xavier ..."
Sebuah nama yang beberapa tahun belakangan membuat emosi melonjak naik, Kiv langsung mengambil ponsel itu dan ...
"Siapa perempuan itu? Cantik sekali."
Ponsel yang tidak berdosa, beberapa detik kemudian dia terlempar keras ke tanah. Akh! Untung saja mendaratnya di tanah, setidaknya kemungkinan rusak parah itu sangat tipis. Millo lekas mengambil ponselnya, dia tidak ingin Kiv melampiaskan emosinya pada benar itu lagi.
"Hari ini urusanku dengannya akan dimulai lagi."
"Tuan!" Alvin terbirit menyusul langka cepat Kiv, begitu juga dengan Millo dan Ettan.
Ettan yang penasaran menanyakan siapa perempuan yang sedang bersama Xavier, dan betapa terkejutnya setelah tahu siapa Syaheera bagi Kiv.
"Xavier gila! Kau selamat beberapa tahun lalu! Sekarang aku tidak tahu kau akan jadi apa!" erang Ettan cemas.
Suara kepalan tangan Kiv terdengar menakutkan, tiga pria yang bersamanya tidak berani bersuara.
Tatapan nyalang seperti sebilah pedang, tengah tertuju pada Xavier dan Syaheera yang berusaha menaikkan layang-layang di tengah lapangan.
Bukan hanya Xavier dan Syaheera, ada banyak pengunjung yang bermain layangan, namun, di mata Kiv hanya ada mereka berdua di sana. Andai saja saat ini dia memiliki bom di tangan, dia akan melempar bom itu detik ini juga.
Rahangnya bergetar melihat tawa ceria Syaheera. "Dia tidak pernah tertawa lepas seperti itu padaku!"
Ettan menahan napas. Dia sangat ingin melarikan Xavier sejauh mungkin.
"Xavier," geram Kiv. Syaheera berlari membawa layangan dan Xavier mengejarnya. Kedua mata Kiv berkilat ketika tangan rival cintanya itu menyentuh pinggang Syaheera. Suara tawa calon istrinya terdengar hingga ke telinga Kiv. Indah namun menusuk, Kiv tidak suka!
"Tu ... Tuan."
"Kenapa tidak langsung kau ..." Kiv mulai menyalahkan Alvin, yang tidak langsung menghajar Xavier sejak melihatnya bersama Syaheera.
Sebelum Alvin menjawab, Kiv hendak mendatangi dua insan jatuh cinta di lapangan sana.
Ettan lekas menahan, "Kiv, jangan gegabah. Kau meninggalkan kursi rodamu!"
Kursi roda! Ya! Kiv melupakan hal penting itu.
"Tarik napas, tahan emosimu. Kita pikirkan cara menghadapi mereka dengan tenang," bujuk Ettan.
Kiv menuruti saran Ettan. Dia duduk pada kursi yang terbuat dari batang pohon. Alvin mengipasi Kiv dengan tangannya, begitu juga dengan Millo.
"Kalian pikir aku ikan bakar!"
Ups! Mereka salah lagi.
Ettan meminta pengawal dan asisten Kiv untuk menjauh dengan isyarat. Sepertinya dia masih bisa menenangkan sahabatnya.
Di sudut lain tempat itu. Luke mengisi waktu santai dengan melukis bunga yang indah.
Senyum yang sama indah dan mengembang seperti bunga itu. Goresan demi goresan dia tuangkan dengan penuh perasaan, menciptakan sebuah lukisan yang menarik beberapa pengunjung.
"Berapa tarif untuk satu lukisan?"
Luke terkejut, sepasang kekasih mengira dirinya menjajakan jasa melukis.
"Maaf. Aku tidak berjualan."
Sepasang kekasih itu merasa tidak enak. Mereka langsung meminta maaf. Mereka mengatakan lukisan Luke sangat bagus, mereka menduga Luke bersekolah di bidang seni.
"Tidak. Aku mahasiswa jurusan bisnis."
Sekali lagi pasangan kekasih itu meminta maaf. Dasar Luke si baik hati, pada akhirnya dia menawarkan diri untuk melukis mereka.
Sebuah hasil yang sangat memuaskan, pasangan itu sangat berterima kasih dan memuji karya Luke habis-habisan.
Senyum kepuasan mereka menjadi kebanggaan dalam hati Luke. Sembari menatap kepergian pasanan itu, Luke bergumam. "Andai saja aku benar-benar mahasiswa jurusan seni."
Tarikan napas yang berat, juga tatapan hampa seorang Luke, membuat Oza yang menyaksikan kejadian itu merasa iba. Bukan sekali dua kali dia menjadi saksi terciptanya lukisan indah yang dibuat Luke. Juga bukan sekali dua kali dia mendengar keinginan Luke berkecimpung di dunia seni. Namun apa daya, Luke terlahir dalam keluarga pebisnis yang mempersiapkan dirinya sejak dini, untuk menjadi pemimpin handal dalam bisnis keluarganya.
"Oza, tolong kemasi semua ini. Dan seperti biasa, simpan semua ini sebagai barang-barang milikmu."
"Siap, Tuan," sahut Oza patuh.
...To be continued ......
Mana Xavier sama Syaheera juga belum tentu berhasil kabur..