Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan untuk kembali
Adrian terdiam sesaat. Ia melihat Arini dengan seorang laki-laki yang tampak tak asing baginya. Dan keduanya bergandengan tangan. Sangat erat, bahkan ia baru melihat Arini menggandeng tangan pria lain selain dirinya setelah beberapa tahun ini.
"Adrian? Buat apa anda kesini?" tanya Gio dengan suara dingin, tatapan tajamnya seolah mengintimidasi pria itu.
Adrian mengangkat wajahnya, tersadar dari lamunannya. Ia berjalan mendekat, lalu melihat Arini yang berasal di belakang laki-laki itu.
"Saya datang kemari untuk berbicara dengan Arini," ucap Adrian.
Gio tersenyum sinis, "Sepertinya tidak ada yang perlu kamu sampaikan lagi dengan Arini. Semua sudah cukup jelas, bukan begitu Arini?"
Arini mengangguk pelan. Namun Adrian tak menghiraukan ucapan laki-laki itu. Ia menarik Arini mendekat, lalu melepaskan tangannya dari genggaman tangan Gio.
"Maaf, tapi saya tidak berbicara dengan anda. Saya ingin berbicara dengan istri saya," kata Adrian.
Arini menatap tajam pria itu. Ia melirik tangan Adrian yang kini sudah mengenggam tangannya erat. Ia ingin melepaskan tangannya dari genggaman Adrian, namun tenaga pria itu jauh lebih besar darinya.
"Lepaskan aku, Adrian!" ucap Arini tegas.
Adrian menoleh kearah Arini, tatapannya berubah menjadi lembut. "Arini, please. Saya benar-benar ingin bicara sama kamu, saya bisa jelaskan semuanya!"
"Saya bisa beri kamu bukti, semua yang ada di berita itu palsu!"
"PALSU APANYA?!" Arini setengah berteriak dengan amarah yang meledak.
Mata wanita itu berkaca-kaca. Ia terisak, "Aku jelas-jelas melihat kamu berciuman dengan wanita lain!"
"Di rumah kita! Sekali lagi di rumah kita!"
"Apa semua itu cukup jelas untuk kamu dengar, Adrian?!"
Arini menghempaskan tangan Adrian kasar, Ia menatap tajam wajah pria itu. Tatapan yang tidak pernah ia berikan pada Adrian selama ini. Raut kebencian tak bisa ia sembunyikan, Arini benar-benar sudah muak dengan ucapan manis dari pria dihadapannya.
"Aku sudah tahu semuanya. Jauh sebelum yang kamu kira,"
"Adrian, silahkan kamu pergi dari sini. Tidak ada yang perlu dibicarakan, dan tidak ada yang perlu diperbaiki,"
"Semua sudah selesai."
Ucapan Arini menghantam dada Adrian dengan keras. Kata-kata yang ia lontarkan dari mulutnya sudah menghancurkan pertahanan Adrian. Laki-laki itu tak bisa berkata-kata, ia hanya terdiam.
"Arini.. " lirih Adrian, ia mendekat dan menarik kedua tangan Arini. Berusaha untuk menyakinkan wanita itu.
Namun Arini kembali menghempaskan tangan Adrian. Ia menatap pria itu dengan tatapan kebencian. "Keluar dari tempat ini, Adrian! KELUAR!"
"I HATE YOU, ADRIAN!"
Kesabaran Arini mulai menipis. Emosinya meledak seperti api. Ia mulai memukul pria itu dan mendorongnya untuk menuju pintu agar dia keluar dari kediaman ini.
Gio lantas mendekat dan menarik Arini, ia memeluk wanita itu dengan erat. Berusaha untuk menenangkannya.
"Tenang, Arini!"
"Arini, tolong jangan kehilangan kendali!" ucap Gio.
"Lepasin aku, Gio! Aku harus mengusir pria itu dari rumah ini!" timpal Arini.
Sementara itu Adrian, ia masih berdiri di depan pintu. Ia terdiam dan menatap Arini yang kini tengah dalam pelukan laki-laki lain dihadapannya. Tangannya mengepal sempurna, amarahnya tertahan.
Gio menatap tajam dirinya, seolah memberi isyarat agar dirinya menjauh dari Arini. Adrian tak bisa melakukan hal apapun, bahkan jika ia mendekat yang akan dia dapatkan hanya kata-kata kebencian dari wanita itu dan penolakan.
"Jadi, kamu sudah membenci saya, Arini?" lirih Adrian pelan, namun masih bisa terdekat oleh wanita itu.
"Ya, aku benci kamu, Adrian! Aku benci melihat wajahmu disini, pergi dari sini s*alan!"
Dengan langkah berat, Adrian berbalik dan perlahan berjalan keluar dari kediaman itu. Air matanya tertahan, ia tak kuasa menahan kesedihan saat kata-kata Arini sebelumnya kembali terngiang dalam kepalanya.
Pintu tertutup dengan bunyi pelan, namun bagi Adrian rasanya seperti dentuman keras yang merobohkan seluruh hidupnya. Langkahnya terhenti di halaman. Ia menunduk, napasnya berat, dadanya terasa sesak seolah ada sesuatu yang mencengkeram jantungnya tanpa ampun.
Tangannya gemetar saat ia menyentuh wajahnya sendiri. Hangat. Basah. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
Di dalam rumah, Arini masih terisak dalam pelukan Gio. Tubuhnya bergetar hebat, amarah yang meledak tadi perlahan berubah menjadi kelelahan yang menyakitkan.
“Sudah… sudah,” ucap Gio pelan, tangannya mengusap punggung Arini dengan hati-hati. “Dia sudah pergi.”
Arini menggeleng, air matanya terus mengalir. “Aku benci dia, Gio… aku benci,” ucapnya lirih, namun suaranya bergetar, seolah kebencian itu bercampur dengan luka yang belum sembuh.
Gio terdiam. Ia tahu betul, kebencian Arini bukanlah kebencian yang lahir dari kehampaan. Itu kebencian yang tumbuh dari cinta yang terlalu lama dikhianati.
“Aku melihatnya sendiri…” lanjut Arini, suaranya nyaris tak terdengar.
Gio mempererat pelukannya, menahan semua kata yang ingin ia ucapkan. Ia tahu, ini bukan waktunya menasihati. Arini hanya butuh seseorang yang tetap tinggal.
Sementara itu, di luar, Adrian bersandar pada mobilnya. Manik matanya menatap kosong pada bangunan megah yang ada dihadapannya. Dulu ia datang ke rumah ini dengan kebahagiaan bersama Arini, namun rupanya sekarang rumah itu menjadi saksi bagaimana penolakan Arini terhadap dirinya.
“Semua sudah selesai…”
Kalimat itu kembali terngiang. Adrian memejamkan mata, napasnya tercekat. Ia tahu, penjelasan apa pun kini terdengar seperti kebohongan di telinga Arini. Bahkan kebenaran pun mungkin sudah kehilangan maknanya.
Elang yang duduk di kursi supir hanya menatap Adrian dari kaca, ia ingin bertanya pada pria itu namun sepertinya ini bukan saat yang tepat.
"Kita pulang, Elang," ucap Adrian dengan dingin.
Elang mengangguk, "Baik, Pak!"
Begitu mobil dinyalakan, tak berselang lama mereka pun meninggalkan kediaman itu. Mobil itu melaju cepat menjauh dari sana.
Dan dibalik rumah itu, Arini akhirnya melepaskan diri dari pelukan Gio. Ia melangkah pelan ke arah sofa dan duduk, tubuhnya terasa lemas seperti kehilangan seluruh tenaga.
Gio berdiri tak jauh darinya, ragu untuk mendekat kembali.
“Maaf,” ucap Arini tiba-tiba. Suaranya serak. “Aku sepertinya sudah keterlaluan tadi,”
Gio menggeleng pelan. “Kamu tidak salah.”
Arini tersenyum tipis, pahit. “Aku marah… tapi kenapa rasanya tetap sakit?” Ia menekan dadanya sendiri. “Harusnya aku lega. Harusnya aku merasa menang.”
Gio terdiam. Ia tahu perasaan itu. Luka karena dikhianati tidak pernah sesederhana untuk dilupakan dengan cepat.
“Karena kamu benar-benar mencintainya,” jawab Gio akhirnya, jujur.
“Dan cinta yang dihancurkan tidak langsung berubah jadi kosong.”
Air mata Arini kembali jatuh. Ia menutup wajahnya, napasnya tersengal. “Aku benci diriku sendiri karena masih merasa seperti ini.”
Gio mendekat, lalu duduk di lantai di hadapan Arini. “Tidak ada yang salah dengan perasaanmu. Kamu manusia.”
Arini mengangkat wajahnya. Matanya merah, bengkak. “Aku melihat dia mencium wanita itu, Gio. Tanpa rasa bersalah. Di rumah kami. Aku merasa seperti orang asing di hidupku sendiri.”
Tangannya mengepal. “Dan hari ini dia masih berani datang, seolah aku ini bodoh.”
Gio tersenyum pada wanita itu. Ia menarik kedua tangannya dan menggenggamnya dengan lembut, "Kamu sudah melakukan hal yang benar, Arini,"
Arini tersenyum. Ia merasa melihat sosok lain dari laki-laki ini. Untuk pertama kalinya Ia melihat sahabat lamanya ini berbicara tulus dan lembut pada dirinya, padahal biasanya dia berbicara seperti ingin mengajak perang.
"Kamu berhak bahagia, Arini,"