Pangeran Gautier de Valois.
Ia mengenakan seragam Duke-nya, seragam berwarna biru tua dengan hiasan perak yang berkilauan. Postur tubuhnya tegak sempurna, memancarkan aura bahaya dan otoritas yang membuat ruangan terasa kecil. Matanya—abu-abu sekeras baja—menatap Amélie tanpa ekspresi, seolah-olah sedang menilai kuda pacu yang tak berguna.
"Pernikahan. Kau, Amélie LeBlanc, akan menikah dengan Pangeran Gautier de Valois dalam waktu satu bulan."
"Apa? Ini gila! Saya tidak akan—"
"Ini bukan permintaan, Countess,"
"Ini adalah dekrit dari Tahta. Aku butuh pewaris dan Raja membutuhkan stabilitas politik yang diberikan oleh aliansi dengan Countess yang memiliki koneksi luas. Keluargamu, melalui Éloi, menawarkan penyelesaian utang kuno ini. Pernikahan, dengan segera. Aku tidak tertarik padamu, atau pada intrik keluargamu. Anggap ini transaksi dan aku tidak menerima penolakan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iseeyou911, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 (Taktik di Aula Dansa Kerajaan)
Pagi itu, suasana di dalam ruangan yang terletak pada salah satu Sayap Mansion Duke dingin dan tegang. Gautier tidak berbicara dengan Amélie. Dia sibuk dengan Henri, yang dipanggilnya dengan segera dan yang kini harus menyeimbangkan loyalitasnya antara perintah profesional dan aliansi rahasianya dengan Amélie.
Gautier, yang telah membaca salinan Dokumen Duchy, terkejut oleh implikasi sejarahnya. Ia tahu sekarang bahwa Amélie benar tentang Tambang Lorraine dan niat Éloi. Kehormatan Valois, yang sangat ia junjung tinggi, telah dicoreng oleh pengkhianatan Éloi.
Namun, rasa cemburu Gautier tetap membara.
"Kau akan menemaniku ke Balet Kerajaan malam ini," perintah Gautier, saat Amélie sedang sarapan. "Kau akan mengenakan gaun yang paling mencolok dan kau akan tetap di sisiku. Jangan berbicara dengan Kapten Montaigne atau Kapten lainnya. Jika kau melanggar perintah ini, aku akan mempublikasikan pertemuan rahasiamu dengan Henri."
Amélie, meskipun marah dengan pelanggaran kontrak dan cemburu yang tidak berdasar itu, melihat peluang dalam perintah Gautier.
"Saya akan menuruti Anda, Pangeran," jawab Amélie. "Tetapi saya harus diberi izin untuk membawa salinan dokumen itu. Kita akan menggunakannya untuk memancing Éloi, seperti rencana semula."
Gautier berpikir sejenak. "Baiklah. Tapi aku yang akan menahannya. Kau hanya perlu menjadi umpan yang indah dan berbakti."
"Saya tahu peran saya," balas Amélie.
...*****...
Malam Hari
Aula Dansa Kerajaan Prancis.
Amélie tampil sempurna. Ia mengenakan gaun sutra gading yang dibuat khusus untuk pernikahan, dengan berlian Valois menghiasi rambutnya. Ia terlihat memesona, tetapi matanya terlihat dingin.
Gautier, yang mengenakan seragam kebesaran Duke, tidak melepaskan Amélie. Ia memegang pinggangnya dengan erat, sentuhan yang kini bersifat posesif dan mengikat, bukan lagi formalitas yang dingin.
Mereka menjadi pusat perhatian, terutama setelah desas-desus kematian Gautier.
"Yang Mulia! Kami sangat bersyukur Anda kembali!" sapa Éloi, wajahnya pucat karena kekalahan yang ia alami. Ia tidak menyangka Gautier akan kembali hidup-hidup.
"Tentu saja, Paman," jawab Gautier, dengan senyumnya yang dingin. "Valois tidak mudah mati. Aku hanya terpaksa mengambil rute yang lebih 'menantang'. Apakah kau merindukanku?"
Éloi tertawa tegang. "Tentu saja, Yang Mulia. Tapi aku sedang mengurus properti Nyonya Amélie. Hanya untuk memastikan—"
"Istriku mengurus propertinya sendiri," potong Gautier, menarik Amélie lebih dekat. "Ia adalah Duchess yang sangat kompeten. Aku tidak butuh bantuanmu."
Amélie kemudian menjalankan bagiannya. Saat Gautier berbincang dengan Raja yang lemah, Amélie sengaja menjatuhkan saputangannya di dekat Éloi.
Éloi membungkuk untuk mengambilnya. Saat itu, Amélie berbicara dengan suara rendah yang hanya bisa didengar Éloi.
"Paman, Tambang Lorraine akan segera diambil alih. Saya rasa, Anda ingin melihat ini sebelum itu terjadi. Ini adalah janji Duchy yang di buat oleh LeBlanc dan Valois."
Amélie menunjuk dada Gautier, memberi isyarat jika dia tahu dimana Gautier menyimpan salinan dokumen itu.
Wajah Éloi berubah menjadi panik. Ia tahu apa artinya itu. Jika dokumen asli yang ditandatangani oleh Pangeran sebelumnya itu bocor, ia tidak hanya akan kehilangan tambang, ia akan kehilangan kepalanya karena melanggar Janji Dinasti.
Éloi mulai mencari cara untuk mendekati Gautier.
...*****...
Saat Balet dimulai, Amélie dan Gautier berdansa vals. Gautier memegang Amélie sangat erat. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik di telinga Amélie, bukan tentang plot Éloi, tetapi tentang perasaannya.
"Kau terlihat sangat bahagia saat berbicara dengan Kapten Montaigne," bisik Gautier, cengkeramannya mengencang. "Wajahmu tidak pernah secerah itu saat kau berbicara denganku, Amélie."
"Saya berbicara tentang kelangsungan hidup, Pangeran," balas Amélie dingin. "Bukan tentang cinta."
"Aku tidak peduli," desis Gautier, mata abu-abunya membakar. "Malam ini, kau harus terlihat seperti pengantin yang jatuh cinta. Beri mereka tontonan yang layak. Beri aku tatapan yang sama yang kau berikan pada Kapten Montaigne."
Gautier tiba-tiba menarik Amélie lebih dekat, memimpin dansa dengan gerakan yang lebih cepat dan intens, membuat Amélie terengah-engah. Gautier memaksanya untuk menatap matanya dan secara tiba-tiba pria itu menciumnya.
Ciuman ini berbeda dari ciuman pernikahan mereka yang dingin. Ciuman ini penuh dengan amarah yang ditekan, posesif dan pengakuan cemburu yang tiba-tiba. Itu adalah pelanggaran kontrak yang disengaja.
Amélie terkejut, tetapi ia segera menyadari bahwa semua mata tertuju pada mereka. Dia harus memainkan peran itu. Amélie merespons, membiarkan ciuman itu tampak penuh gairah dan kasih sayang.
Ketika ciuman itu berakhir, kerumunan mulai bertepuk tangan. Amélie memaksakan senyum yang lebar.
"Itu melanggar kontrak," bisik Amélie, terengah-engah.
"Ya," jawab Gautier, tersenyum dingin. "Selamat datang di pernikahan yang kubuat, Amélie. Aturan berubah sesuai keperluanku. Kau milikku di depan umum. Dan kau akan menjadi milikku di malam hari, jika kau berani mengkhianatiku lagi."
Ancaman itu jelas Perpisahan mereka bisa berakhir kapan saja dan kejatuhan Amélie tentu saja bisa berlangsung kapan pun tergantung dari sikap Gautier.
...*****...
Saat Gautier dan Amélie kembali ke pinggiran aula, Éloi mendekat dengan tergesa-gesa, membawa dua gelas anggur yang terlihat mahal.
"Yang Mulia, Duchess. Untuk kepulangan Anda!" kata Éloi, wajahnya tegang tetapi ia tersenyum.
Amélie dan Gautier tahu itu adalah jebakan. Anggur. Racun 'Aegrotus' bekerja di minuman yang mahal.
"Terima kasih, Paman," kata Amélie, mengambil kedua gelas itu dengan gerakan cepat. "Saya akan meminumnya. Saya butuh kekuatan untuk menahan gairah suami saya yang baru kembali."
Amélie mengambil kedua gelas itu dan berjalan ke meja terdekat, meletakkan keduanya di sana.
"Saya akan meminumnya setelah tarian vals berikutnya," katanya santai.
Éloi panik. Ia harus memastikan Gautier meminumnya.
"Tidak, Duchess! Ini harus diminum sekarang! Untuk persatuan Valois!" desak Éloi, mencoba meraih salah satu gelas.
Tiba-tiba, Amélie meraih Dompet Sutra kecilnya dan melemparkannya ke lantai tepat di samping salah satu kaki Éloi.
"Oh, Paman! Dompet saya terjatuh. Apakah Anda keberatan?"
Éloi bingung, membungkuk untuk mengambil dompet itu. Saat ia melakukannya, Amélie dengan gerakan cepat menjatuhkan salinan dokumen dinasti yang ia sembunyikan di tangannya, tepat di sebelah gelas anggur.
Éloi melihat kertas kuno itu. Ia mengenalinya—itu adalah dokumen yang seharusnya dihancurkan. Ia meraih kertas itu, memastikan tidak ada yang melihatnya.
"Apa ini?!" desis Éloi, bola matanya bergerak liar.
"Itu adalah kebenaran, Paman," bisik Amélie, wajahnya dingin dan penuh kemenangan. "Itu adalah bukti bahwa Anda adalah pengkhianat. Dan itu akan membuat Anda dihukum mati oleh Tahta karena melanggar Janji Duchy. Anda membunuh Ayah saya untuk ini dan Anda meracuni Raja untuk ini."
Éloi melompat berdiri, wajahnya putih. "Kau—kau tidak punya bukti!"
Saat itulah Gautier melangkah maju, tangannya memegang bahu Amélie.
"Dia punya bukti, Éloi," kata Gautier, suaranya menggelegar di aula yang kini mulai hening. "Kapten Montaigne! Tangkap Comte Éloi de Beaumont! Tuduhannya, Pengkhianatan Tingkat Tinggi dan Pelanggaran Janji Suci Duchy!"
Henri de Montaigne dan beberapa pengawal segera bergerak, mengepung Éloi. Éloi berusaha lari, tetapi ia terjebak.
"Tidak! Aku adalah bangsawan! Ini jebakan!" teriak Éloi, menunjuk ke Amélie. "Dia adalah permaisuri palsu! Dia adalah mata-mata!"
"Duchess Amélie adalah istri saya yang setia," kata Gautier, memeluk Amélie di hadapan semua bangsawan. "Dia menemukan kasus pengkhianatan ini untuk menyelamatkan Duchy Valois. Paman, Anda akan dieksekusi."
Di tengah keributan, Amélie melihat Gautier. Cemburu yang tak terduga telah memaksa Gautier untuk melanggar kontrak dan menemaninya di acara publik, tetapi pelanggaran itu dan posesifnya, telah menempatkan Amélie pada posisi yang tepat untuk menjebak Éloi.
Amélie, dalam pelukan Gautier, tahu pertempuran telah dimenangkan, tetapi perang emosional mereka baru saja dimulai.
...******...