Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.
Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.
Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.
Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Mobil suv berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi, sinar matahari telah condong ke arah barat yang menandakan bahwa hari sudah mulai sore. Mobil itu menyalip beberapa kendaraan yang berlalu lalang, hingga memperlambat mobilnya begitu melihat mobil BMW putih di depannya.
Di dalam mobil, tiga orang pria yang mengenakan topeng tampak mengamati plat mobil di depannya dengan seksama.
"Kau yakin itu mobilnya?" Tanya salah satu pria tersebut.
"Ya, dari plat mobilnya benar."
"Baiklah. Kalian bersiap, di tikungan depan yang sepi kita sergap mereka."
Kedua rekan pria yang sedang mengemudi itu mengangguk tanda setuju, mobil terus melaju hingga tiba di sebuah tikungan yang sepi. Mobil itu menyalip mobil BMW putih tersebut dengan gerakan cepat yang membuat ban mobilnya berbunyi saat bergesekan dengan aspal yang keras.
Sementara itu di dalam mobil, Aurora menginjak rem mobilnya secara mendadak saat melihat mobil suv hitam menyalipnya dan hampir bergesekan dengan mobilnya.
"Sial," gumam Aurora.
Di kursi penumpang, Riven dan Arjuna sedang terlelap sambil memegang mobil-mobilan yang di belikan oleh Aurora tadi di mall.
Mobil SUV hitam itu berhenti melintang di depan BMW putih milik Aurora, menutup akses jalan sepenuhnya. Debu tipis mengepul dari aspal ketika kedua kendaraan berhenti mendadak.
Aurora menggenggam setir erat. Tatapannya tajam, cepat menilai situasi. Jalanan sepi. Tidak ada kendaraan lain. Tidak ada pejalan kaki.
Berbahaya.
Pintu SUV terbuka hampir bersamaan. Tiga pria bertopeng turun dengan langkah mantap. Salah satu dari mereka mengangkat senjata api, sementara dua lainnya membawa tongkat besi dan pisau lipat. Aura ancaman langsung menekan udara di sekitar.
Aurora melirik ke kursi belakang. Riven dan Arjuna masih tertidur, napas mereka teratur, sama sekali tidak menyadari bahaya yang mengintai.
"Ck, mengapa sulit sekali hidup normal." Ujarnya lirih.
Salah satu pria melangkah maju, menghantam kap mobil BMW dengan gagang pistol.
Duk!
"Keluar," perintahnya keras. "Sekarang."
Aurora tidak bergerak.
Pria itu menyeringai di balik topeng. "Aku tidak suka mengulang perintah." Dia mengangkat pistolnya lebih tinggi, moncongnya diarahkan tepat ke kaca depan. "Keluar dari mobil atau kau mati di dalam sana."
Jantung Aurora berdetak stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang sedang diancam, dia sudah sering mengalami situasi seperti ini di kehidupannya yang dulu.
Tangannya bergerak pelan, mematikan mesin mobil. Tidak ada kepanikan di wajahnya, hanya ketenangan dingin yang membuat salah satu pria itu mengernyit heran.
Pintu pengemudi terbuka. Aurora turun perlahan, lalu menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati, seakan takut membangunkan kedua anaknya. Dia berdiri tegak di depan mobil, tubuhnya sedikit menghalangi pandangan ke arah kursi belakang.
"Apa yang kalian inginkan?" tanyanya datar.
Pria bertopeng dengan pistol tertawa pendek. "Jangan sok polos. Kau tahu kenapa kami ada di sini."
Aurora memiringkan kepala sedikit. "Kalau kalian ingin uang, aku bisa--"
"Bukan uang," potong pria itu cepat. "Kami menginginkan kau sendiri."
Dua pria lain bergerak menyebar, salah satunya mencoba mengintip ke dalam mobil. Aurora melangkah satu langkah ke samping, posisinya tetap menghalangi pandangan mereka.
"Di dalam ada anak-anak," ucapnya dingin. "Menarik mereka ke urusan ini bukan ide yang cerdas."
Pria dengan pisau mendengus. "Itu bukan urusan kami, baik kau atau anak-anakmu akan aku habisi sampai tuntas dan bermandikan darah segar haha."
"Kalau begitu," suara Aurora merendah, tajam seperti bilah pisau, "lebih baik kalian pergi sekarang, sebelum ucapanmu kembali pada dirimu sendiri."
Keheningan singkat tercipta, lalu tawa meledak dari pria bersenjata.
"Kau dengar itu?" katanya pada rekan-rekannya. "Dia mengancam kita."
Aurora tidak membalas. Tatapannya beralih cepat, menghitung jarak, arah angin, posisi lawan. Otot-ototnya menegang halus, dia sudah bersiap untuk menyerang.
Pria dengan pistol kembali mengangkat senjatanya, kini diarahkan lurus ke dada Aurora. "Kesempatan terakhir. Jalan sendiri ke mobil kami dan menyerah. Atau kau akan men--"
Bruk!
Sesuatu bergerak dengan cepat.
Aurora menendang kerikil ke arah wajah pria itu, bersamaan dengan tubuhnya yang berputar rendah. Dentuman tembakan memecah udara, peluru menghantam aspal beberapa senti dari kakinya.
Dalam satu tarikan napas, Aurora sudah berada di jarak dekat.
"Brengsek! Serang dia!" Hardik pria bersenjata api tersebut pada rekannya.
Pisau lipat berkilat di bawah cahaya sore ketika salah satu pria menerjang Aurora dari sisi kanan. Gerakannya cepat, terlatih, jelas bukan preman jalanan biasa melainkan mantan anggota organisasi.
Aurora memutar tubuh, menepis pergelangan tangan lawan, lalu menghantam dada pria itu dengan siku. Namun sebelum dia sempat melanjutkan serangan, bunyi letupan kembali memekakkan telinga.
Dor!
Rasa panas meledak di pahanya.
Aurora tersentak, lututnya hampir ambruk ketika peluru menembus sisi luar pahanya. Darah langsung merembes, membasahi celana. Namun dia menggertakkan gigi, menahan erangan yang nyaris lolos dari bibirnya.
"Dia kena!" seru salah satu pria.
"Habisi sekarang!" teriak pria bersenjata api.
Aurora tidak memberi mereka waktu. Dengan sisa momentum, dia menyapu kaki pria berpisau hingga tubuh itu terhempas ke aspal. Pisau terlepas, berputar beberapa kali sebelum berhenti tak jauh dari jari Aurora.
Pria ketiga maju dengan tongkat besi, mengayunkannya ke arah kepala Aurora. Aurora mengangkat lengan, menahan serangan itu. Benturan keras membuat lengannya bergetar, tapi dia membalas dengan tendangan ke perut lawan.
Dugh!
Pria itu terhuyung mundur, namun belum roboh.
Aurora melangkah pincang ke depan. Luka di pahanya berdenyut hebat, pandangannya sedikit menggelap, tetapi matanya tetap fokus. Dia mengambil pisau lipat di tanah dan menggenggamnya erat.
Pria bersenjata api kembali membidik. Aurora menyadarinya dari sudut mata.
Dor!
Aurora menjatuhkan diri ke samping. Peluru menembus udara, menghantam bodi mobil BMW dengan suara nyaring. Dalam posisi setengah berlutut, Aurora melempar pisau itu.
Sret!
Pisau menancap tepat di leher pria bersenjata itu. Pistol terlepas dari tangannya dan jatuh ke aspal bersama dengan tubuhnya yang perlahan kehilangan kesadaran.
"Sialan! Beraninya mereka main-main denganku," bisik Aurora dingin.
Aurora menangkis kembali bilah pisau dari salah satu pria, pisau mereka beradu namun kondisinya tidak seimbang. Luka di pahanya membuat gerakannya melambat sepersekian detik.
Pisau lawan menggores sisi perutnya, dangkal tapi perih. Aurora membalas dengan hantaman kepala ke wajah pria itu.
Dugh!
Hidung pria itu remuk. Aurora langsung memutar pergelangan tangannya, memaksa pisau terlepas, lalu menghantam tenggorokan lawan dengan gagang pisau.
Pria itu terjatuh, tersedak dan tidak lagi bergerak.
Tersisa satu orang.
Pria bertongkat besi menggeram, matanya membelalak melihat dua rekannya tumbang. Dia ragu, mundur setapak.
Aurora berdiri tegak meski darah terus mengalir dari pahanya. Napasnya berat, tetapi sorot matanya dingin dan mematikan.
"Ayo," katanya pelan. "Atau kau juga mau pulang merangkak."
Pria itu menelan ludah, lalu berbalik lari ke SUV hitam. Mesin dinyalakan tergesa, ban berdecit saat mobil itu kabur meninggalkan lokasi.
Aurora tidak mengejar.
Dia segera berbalik ke mobilnya, membuka pintu belakang dengan tangan bergetar. Riven dan Arjuna masih tertidur, tidak terluka sedikit pun.
Aurora menghembuskan napas panjang, dahi ditempelkan ke pintu mobil.
"Syukurlah mereka baik-baik saja," gumamnya lirih, lebih pada dirinya sendiri.