Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Hari itu rumah mereka terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah dinding-dindingnya ikut menahan napas. Adam memilih tidak berangkat ke kantor, sesuatu yang jarang ia lakukan. Jas kerjanya tetap tergantung rapi, ponsel kantornya dibiarkan berdering tanpa dijawab.
Baginya, semua urusan bisnis bisa menunggu. Ada satu hal yang harus ia selesaikan hari ini, pernikahannya dengan Kiandra yang berada di ujung tanduk.
Sejak malam, Kiandra nyaris tidak membuka suara. Ia duduk di tepi ranjang, memunggungi Adam, pandangannya kosong menatap jendela yang tertutup tirai tipis. Cahaya matahari masuk samar, jatuh di bahunya yang tampak rapuh namun kaku. Diamnya Kiandra bukanlah diam yang tenang, melainkan diam yang penuh amarah dan luka.
Adam mondar-mandir di dalam kamar, langkahnya semakin cepat seiring pikirannya yang kian kalut. Ia sudah mencoba bicara baik-baik, sudah mencoba menurunkan egonya, namun keheningan Kiandra justru membuat dadanya terasa sesak. Ada rasa bersalah yang menekan, tapi juga ada emosi yang menuntut pembelaan diri.
“Masalah kita tidak akan selesai kalau kamu masih terus diam seperti ini!” sentak Adam akhirnya, suaranya menggema di kamar kedap suara itu.
Kiandra menoleh perlahan. Tatapannya tajam, jauh berbeda dari Kiandra yang dulu selalu menyambut Adam dengan senyum. Amarah yang ia pendam sejak lama akhirnya meledak begitu saja.
“Lalu apa yang ingin kamu jelaskan padaku, hah?” Alasan apa lagi yang akan kamu pakai kali ini?” balasnya, suaranya bergetar menahan emosi.
Adam terdiam sejenak. Ia membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Kata-kata yang sudah ia susun sejak semalam mendadak terasa tidak berarti ketika berhadapan dengan mata Kiandra yang memerah.
“Kau mengkhianatiku selama dua tahun ini,” lanjut Kiandra, suaranya meninggi meski sesekali terputus. “Dua tahun, Adam. Kamu bersenang-senang dengan gundikmu itu, sementara aku di rumah…”
Kalimatnya terhenti. Dadanya naik turun, napasnya berat. Kiandra mendongakkan kepala, berusaha keras menghalau air matanya yang hendak menetes. Ia menolak terlihat lemah di hadapan pria yang telah merobohkan kepercayaannya.
Dua tahun lalu, ingatannya kembali tanpa ampun. Masa-masa paling melelahkan sekaligus paling sakral dalam hidupnya. Ia baru saja melahirkan putra mereka. Malam-malam panjang tanpa tidur, tubuh yang masih lemah, tangis bayi yang harus ia tenangkan seorang diri. Ia menyusui, menggendong, menimang, dan bangun berkali-kali saat fajar belum menyapa. Setiap lelah ia telan dengan keyakinan bahwa ia melakukan semua itu demi putranya.
Sementara itu, di luar sana, Adam menjalani hidup lain. Hidup yang tidak pernah Kiandra bayangkan. Senyum palsu suaminya, perhatian yang bukan dia bagi, dan waktu yang seharusnya milik keluarga mereka justru diberikan pada wanita lain.
“Kamu tahu rasanya apa, Adam?” suara Kiandra kini lebih pelan, namun justru terdengar lebih menyakitkan.
“Aku menunggu kamu pulang dengan tubuh remuk, berharap setidaknya ada pelukan, ada support dari kamu. Tapi yang kudapat hanya alasan, hanya kesibukan, hanya jarak.”
Adam menunduk. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Setiap kata Kiandra seperti palu yang menghantam kesadarannya. Ia ingin menyangkal, ingin berkata bahwa semuanya tidak sesederhana itu, namun fakta tetaplah fakta.
“Aku minta maaf, aku mengaku salah. Selama ini aku memang sudah menghianatimu, aku berselingkuh dengan Nayla" ungkap Adam akhirnya mengakui semuanya.
Kiandra tersenyum miris, sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Kamu pikir luka ini bisa sembuh hanya dengan maaf?" tanya Kiandra.
"Tidak Adam, tidak semudah itu aku memaafkan semua yang sudah kamu lakukan padaku selama ini" lanjutnya.
Keheningan kembali mengisi ruangan. Adam sadar, bahwa semua kesalahan yang dia lakukan selama ini tidak bisa di selesaikan dengan kata maaf. Tapi semua sudah terjadi, dia tidak tahu harus melakukan apa untuk menebus semuanya.
Kiandra berdiri dengan tubuh sedikit gemetar. Tangannya terangkat mengusap pipinya, menghapus air matanya yang akhirnya tetap jatuh meski sudah ia tahan sekuat tenaga.
Dadanya terasa sesak, seolah semua beban yang ia pikul selama ini menumpuk dan menekan tanpa ampun. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum kembali menatap Adam dengan raut kekecewaan yang dalam.
“Aku lelah Adam, bukan hanya lelah fisik, tapi lelah dengan semua kebohongan yang kamu perbuat selama ini. Lelah berpura-pura baik-baik saja, lelah percaya pada kata-katamu. Aku seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, sementara kamu bebas memainkan peranmu di luar sana"
Setiap kata yang keluar seperti luka. Kiandra tidak berteriak, tidak pula menangis tersedu, justru itulah yang membuat ucapannya terdengar jauh lebih menyakitkan. Adam menatapnya dengan wajah tegang, rahangnya mengeras menahan gejolak perasaan yang bercampur antara rasa bersalah dan penyesalan.
“Lalu bagaimana? Kamu ingin berpisah dariku" tanya Adam akhirnya, suaranya lebih pelan, nyaris bergetar.
Pertanyaan itu seperti percikan api di atas bensin. Kiandra mendongak cepat, matanya menyala penuh emosi. Ia tidak menyangka Adam akan begitu mudah melontarkan kata yang selama ini justru paling ia takuti.
“Kau mau bercerai dariku?” balas Kiandra dengan suara meninggi. “Kau pikir ini hanya tentang aku dan kamu saja?kamu mau putramu merasakan seperti apa yang kita rasakan? Hidup tanpa sosok ayah itu tidak mudah, Adam! Kau tahu itu” Ia melangkah mendekat, menunjuk dada Adam dengan jari yang bergetar.
Napasnya terengah, dadanya naik turun dengan begitu cepat. Nama itu keluar dari bibirnya dengan penuh perasaan. “Aku tidak ingin Zayyan mengalami apa yang kita alami. Aku tidak ingin dia tumbuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terjawab, dengan rasa iri melihat anak lain dipeluk ayahnya” lanjutnya, suaranya melemah namun sarat luka.
Ingatan lama kembali menyeruak tanpa bisa ia cegah. Adam kehilangan ayahnya di usia yang terlalu muda untuk memahami arti kepergian. Sosok pelindung itu pergi, meninggalkan kekosongan yang tak pernah benar-benar terisi.
Sementara Kiandra sendiri tumbuh dalam keluarga yang retak. Orang tuanya berpisah saat ia dan adiknya masih kecil, meninggalkan bekas luka yang sampai sekarang masih terasa, meski waktu telah berlalu.
Dia tahu betul rasanya tumbuh dengan hati yang setengah. Ia tahu betul bagaimana perasaan menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan diri sendiri.
“Aku tidak ingin Zayyan merasakan itu semua, aku rela menahan sakitku sendiri, tapi tidak dengan masa depan anakku.” ucap Kiandra lirih.
Adam terdiam. Matanya meredup, seolah baru benar-benar memahami ketakutan terbesar istrinya. Namun ucapan Kiandra belum selesai.
“Dan satu hal lagi. Aku tidak akan membuat wanita itu merasa menang. Aku tidak akan pergi dengan kepala tertunduk, seolah akulah yang kalah dalam semua ini.” katanya dengan nada dingin
Ia menarik bahunya, berusaha terlihat tegar meski hatinya remuk. “Aku bertahan bukan karena aku tidak terluka, Adam. Aku bertahan karena ada anak kita, dan karena aku masih berjuang dengan diriku sendiri.”
Keheningan kembali menyelimuti kamar itu. Kali ini lebih berat, lebih menyiksa. Adam menyadari bahwa di hadapannya bukan hanya seorang istri yang marah, melainkan seorang perempuan yang sedang berdiri di antara cinta, luka, dan ketakutannya.
"Tinggalkan wanita itu, kita tata ulang kembali rumah tangga kita" ucap Kiandra. "Jika kamu tidak mau, kau selamanya tidak akan pernah melihat anakmu"
Kiandra tidak perduli orang-orang akan mencemoohnya karena tidak mempunyai harga diri, tapi satu yang dia ingat. Semua yang dia lakukan, murni demi anaknya. Dia akan mempertahankan rumah tangganya dengan Adam.