NovelToon NovelToon
Istri Pengganti

Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Pengantin Pengganti / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purpledee

Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.

Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.

Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.

Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20. Detik terakhir

Pintu mansion perlahan terbuka. Noa masuk, menyimpan tasnya dengan hati riang yang belum hilang sepenuhnya setelah pembicaraan hangat dengan Louis tadi. Namun langkahnya terhenti.

Rumah itu terlalu hening, tidak seperti biasanya. Tidak ada suara. Tidak ada Riana yang biasanya duduk di ruang tengah sambil membaca. Bahkan para staf pun tidak terlihat.

Perasaan cemas mulai mencengram dadanya,

“Matilda?” panggilnya pelan. Tidak ada sahutan. Noa menelusuri lorong-lorong luas mansion itu, semakin jauh semakin terasa dingin dan sunyi. Lampu-lampu tampak redup. Hanya suara langkah kakinya sendiri memantul di dinding marmer. Suasana ini menakutkan baginya.

Tiba-tiba, Tap! Sebuah tangan menyentuh pundaknya. Noa terperanjat kaget, jantungnya hampir meloncat. Ia menoleh cepat. “M-Matilda, kau mengejutkanku!” Matilda berdiri di belakangnya dengan wajah yang sedih, matanya sembab, dan hidungnya memerah seperti baru saja menangis. Noa memicingkan matanya, napasnya tercekat.

“Matilda, ada apa? Di mana Riana?” Matilda mengusap pipinya perlahan, menahan air mata yang kembali menggenang. “Hari ini Nona Riana tidak akan pulang lagi.”

Noa seketika membeku. “Apa maksudmu?” Matilda menunduk, suaranya lirih, dan bergetar.

“Nona Riana sedang kritis. Dan aku aku mendapat telepon dari tuan Landerik. Dia bilang hidup nona Riana kemungkinan, tidak lagi bisa tertolong.” Dunia Noa seakan berhenti berputar.

“Tidak, tidak mungkin, tadi pagi dia baik-baik saja.” bisiknya, langkahnya goyah. Setetes air mata jatuh tanpa ia sadari.

“Matilda ayo antar aku. Sekarang.” Matilda segera mengangguk dan menuntun Noa keluar.

...♡...

Perjalanan ke Rumah Sakit, Di dalam mobil, Noa menggenggam ujung roknya dengan kuat, jemarinya bergetar. “Pak lebih cepat. Tolong bawa kami secepat mungkin,” pintanya. Suaranya terdengar hampir pecah.

Supir mengangguk dan menekan pedal gas lebih dalam. Seluruh perjalanan, Noa memeluk dirinya sendiri, dadanya terasa sesak. Kenangan kecil bersama Riana percakapan, tatapan lembut, kecanggungan yang perlahan berubah menjadi kehangatan berputar di kepalanya. Riana yang selalu menutupi rasa sakitnya. Riana yang memaksa tersenyum di tengah kelemahan tubuhnya. Riana yang selalu bilang bahwa Noa tidak perlu khawatir.

“Jangan pergi…” suara Noa bergetar tanpa sadar. Matilda yang duduk di sampingnya memegang tangan Noa, mencoba menguatkan.

...♡...

Rumah Sakit

Setelah mobil berhenti, Noa langsung turun dan berlari ke lobi, napasnya terengah, rambutnya berantakan. “Ruangan Nona Riana, lantai tiga,” ujar Matilda cepat di belakang. Noa menekan lift berkali-kali seperti itu bisa membuatnya tiba lebih cepat, lalu ketika pintu terbuka ia langsung masuk dan menatap angka yang bergerak.

Setiba di lantai tiga, ia keluar dengan langkah gontai namun cepat. Dan dari jauh, Di sepanjang lorong putih itu, Ia melihat seorang lelaki duduk di kursi panjang, membungkuk, kedua sikunya bertumpu pada lutut, telapak tangan memegangi kepala.

Landerik.

Bahunya bergetar pelan. Tidak ada senyuman dingin yang terulas. Tidak ada sikap angkuh. Tidak ada kontrol diri. Yang ada hanya seorang laki-laki yang sedang hancur. Noa memperlambat langkahnya. Dadanya terasa hancur.

“Landerik,” panggilnya sangat pelan, hampir tidak terdengar. Namun pria itu mendongak. Matanya merah, wajahnya kacau, rambutnya berantakan. Noa berhenti beberapa langkah darinya, kaki seakan tak sanggup melangkah lebih dekat lagi. Ia menatap Landerik dengan rasa takut akan kebenaran yang mungkin akan keluar dari bibir pria itu.

“Landerik,” suara Noa pecah, “tolong bilang, Riana baik-baik saja.” Landerik menatapnya lama. Lalu ia menggeleng pelan. Satu gerakan kecil itu menghantam hati Noa seperti palu. Landerik menunduk kembali, kedua tangannya menutup wajah. Noa berdiri kaku di depannya, seolah tanah di bawah kakinya menghilang.

“Landerik…” suaranya parau, “biarkan aku menemui Riana, aku mohon.”

Landerik mengangguk perlahan tanpa berkata apa pun. Ia berdiri, bahunya goyah seperti menahan beban yang terlalu berat. Tanpa menunggu, ia memutar tubuh dan berjalan mendahului Noa menuju kamar Riana. Noa mengikuti dengan langkah lemah, hampir tidak sadar bagaimana kakinya bergerak.

Pintu kamar terbuka.

Ruang itu dipenuhi suara mesin medis yang berdenyut lirih. Riana terbaring lemah di atas ranjang, kulitnya pucat sekali, bibirnya kering. Selang oksigen menempel di hidungnya, dan dadanya naik turun sangat pelan—hampir tidak terlihat.

Ayah mertua Noa berdiri di samping ranjang, membelai rambut putrinya dengan tangan yang bergetar. Begitu melihat Noa masuk, ia menoleh… matanya penuh air, namun ia tersenyum tipis, seperti menyambut keluarga sendiri.

“Noa… kemarilah.”

Noa mendekat dengan napas tercekat. Ia duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Riana yang dingin, terlalu dingin.

“Riana…” bisiknya, “A-aku datang.”

Mata Riana sempat tertutup. Tapi perlahan, kelopak matanya bergetar, dan ia membuka mata—tipis, lemah, namun ada sedikit cahaya di sana. “Noa…” suara Riana sangat lirih, nyaris tidak terdengar. Noa langsung tersenyum, meski air matanya jatuh deras. “Aku di sini. Maaf aku terlambat…” Riana menggeleng setipis mungkin. “Kau tidak perlu minta maaf…” Ia menarik napas berat, lalu tersenyum lemah. “Bagaimana hari keduamu?”

Noa terisak. “Aku belajar dengan baik. Aku sedang belajar membuat Crème brûlée, dessert kesukaanmu.”

“Bagus, tapi sepertinya aku tidak akan sempat menyicipi Crème brûlée buatanmu.” Riana menatapnya dengan bangga yang tulus. “Aku senang kau... bisa menikmati harimu disini”

Ayah mertua menunduk, menutupi wajahnya yang mulai menangis. Landerik berdiri di kaki ranjang, memegangi sandaran kursi dengan jemari pucat. Ia tidak berkata apa pun, tapi matanya penuh luka.

Riana kembali menatap Noa.

“Noa, aku mohon... aku harap kau bisa hidup bahagia seperti layaknya pasangan bersama Landerik, lahirkanlah anak-anak yang lucu, dengan begitu aku akan pergi dengan tenang.”

“Tidak, jangan bicara seperti itu.” Noa menggenggam tangan Riana lebih erat. “Tolong bertahan,”

Riana tersenyum kecil. “Noa… bolehkah aku… memelukmu?”

Noa langsung menunduk, memeluk tubuh Riana dengan sangat hati-hati agar tidak menyakitinya. Riana, dengan sisa tenaga yang hampir habis, membelai punggung Noa pelan.

“Terima kasih, karena kau mengorbankan kehidupanmu untuk memenuhi keinginanku, Noa.” bisiknya. Noa menahan tangisnya sekuat tenaga, tapi tubuhnya bergetar.

“Aku mohon bertahanlah,” isak Noa Riana tersenyum lega. “Terima kasih, Noa.”

Detik berikutnya, napasnya mulai terputus-putus. Mesin monitor berbunyi lebih cepat. Ayah mertua langsung memanggil dokter dengan panik. Landerik memejam kuat, menahan tangis yang ingin pecah. Dokter datang bergegas, mengecek monitor, mencoba memberikan bantuan.

Namun setelah beberapa detik, Monitor berubah menjadi garis lurus perlahan.

Tiiiiiiiiiiiii———

Semua orang membeku. Noa masih memegang tangan Riana.

Dokter menatap jam tangannya, menahan napas, lalu berkata dengan suara pelan:

“Waktu kematian 19.30.” Ayah mertuanya jatuh berlutut sambil menangis. Landerik terdiam, tubuhnya membeku, namun air mata mengalir tanpa bisa ia hentikan.

Sementara Noa…

Noa menunduk, mencium punggung tangan Riana yang kini benar-benar dingin. “Selamat jalan… Riana, Aku akan menjaga semua yang kau berikan padaku.”

To Be Countinue...

1
Kam1la
hati2 Laderick bisa tergoda Mora
Kam1la
💪💪💪 lanjut , Noa
Kam1la
Tidak... Noa!!🤭
Deii Haqil
ow.. no, Noa..🙈💪💪
Miu Nuha.
rasany nyesek ya, harus menahan diri demi mewujudkan keinginan orla 🤧
Miu Nuha.
paham banget kalo mau nentuin kapan meninggoynya 😩😩😩
Deii Haqil
lanjut lagi..hemhemhem🤭
Kam1la
makin seru nnih ....! semangat up. dan jangan lupa mampir di Terlambat Mencintaiku...😍
Deii Haqil
makin seru😊 lanjut kak💪
Afriyeni
setidaknya kamu punya hak untuk itu saat ini noa. sebab landerik juga tidak punya kuasa untuk menekan mu.
Afriyeni
Riana, noa dan landerik adalah orang orang yg tengah bermain di atas luka masing masing
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): ouh suka bnget kata-kata nya kak😭
total 1 replies
Deii Haqil
keren kak, mantap! semagat nulisnya😁
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
lanjutkan...
Deii Haqil
jangan lupa ngopi. kak. semangat😁
Kam1la
alur yang bikin nyesek..... semangat berkarya Kak !!
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih kak🤗
total 1 replies
Kam1la
semangat 2.....up😍
Deii Haqil
lanjut baca, kasian juga Riana😭
ss
Kak semangat yahh...
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
sedih....
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): wah... makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Miu Nuha.
kekny si ibu gk dpt perlakuan baik dari keluarga Landerik 🤔 ,, jadi nikah gk nih...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!