Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.
Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.
Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.
sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 Kulit Belang di Lengan Bapak
Pagi itu aku terbangun bukan karena ayam berkokok, melainkan suara palu yang berulang, berpadu dengan derit gergaji dari arah belakang rumah.
Suara itu menusuk ke dalam kamar, ritmis, seperti dentuman yang tak bisa diabaikan.
Aku bangkit pelan, melangkah ke jendela. Dari celah tirai, kulihat bapak sedang sibuk di gudang.
Tangannya mantap, memaku papan, merapikan dinding yang sudah lama miring. Sesekali ia berhenti, mengukur dengan mata, lalu kembali bekerja.
Aku menggenggam ujung kain tidurku, dada berdegup. Ingin rasanya menyapa, tapi lidahku kelu.
Bayangan baglog jamur yang dihancurkan masih segar di kepala. Jadi aku hanya berdiri diam, menonton dari jauh, membiarkan suara palu itu menjadi bahasa yang tak bisa kuterjemahkan.
Ketika sarapan. Aku duduk di kursi kayu, menunduk, jemariku sibuk memintal makanan menggunakan garpu.
Ibu duduk di seberang, sesekali menatapku, lalu menunduk lagi, sendoknya bergerak pelan.
Bapak sudah ada di kursi ujung, tubuhnya sudah beraroma matahari dan kayu. Ia makan dengan tenang, tanpa suara, hanya denting sendok yang beradu dengan piring.
Tidak ada percakapan. Hanya suara kecil dari luar, angin yang menyusup lewat celah jendela, ayam berkokok jauh di halaman, dan sesekali suara motor lewat di depan rumah.
Aku mencoba menelan nasi, tapi rasanya hambar. Seakan setiap butir hanya mengingatkan pada jarak yang belum bisa kutembus.
Ibu menunduk lebih lama, sendoknya berhenti di atas mangkuk. Bapak tetap makan, wajahnya datar, tatapannya tidak pernah beranjak dari piring.
Meja makan terasa dingin, bukan karena makanan, melainkan karena kata‑kata yang tidak pernah keluar.
Kami bertiga duduk bersama, tapi seolah terpisah satu sama lain. Aku berharap waktu segera bergulir.
°°°°°
Hingga menjelang siang, aku pergi ke warung untuk membeli gula dan minyak.
Jalan desa lengang, hanya suara burung dan angin yang menemani. Di depan warung, aku bertemu Raka yang baru saja keluar dengan kantong plastik di tangannya.
Ia tersenyum, lalu mendekat. "Mir," katanya sambil menatapku penuh arti, "kamu sudah bilang bapakmu? Kayaknya bapakmu setuju tuh."
Aku tertegun. "Maksudnya?"
Raka mengangguk kecil, suaranya lebih rendah. "Aku lihat, beberapa hari ini pak Sena sering ke bukit. Dia ambil kayu, serbuk gergaji juga. Katanya buat renov gudang. Aku kira… itu buat nanam jamur?"
Aku menelan ludah, mataku melebar. Bayangan suara palu dan gergaji tadi pagi kembali muncul, bersama ingatan tentang bapak yang menampar tanganku.
Aku terdiam di depan warung, kata‑kata Raka bergema di kepala. Bapak sering ke bukit… serbuk gergaji… renov gudang?
Langkahku terasa ringan sekaligus berat. Aku menatap jalan yang menanjak ke arah bukit, jalur yang sering kulewati.
Jalan berbatu dan tangga, seakan memanggilku untuk naik. Tanpa banyak pikir, aku mulai melangkah.
Kantong gula dan minyak kugenggam erat, tapi pikiranku melayang pada suara palu dan gergaji tadi pagi.
Jalan desa perlahan berganti dengan tanah berbatu, lalu tangga curam. Suara burung semakin jelas, dan dari kejauhan.
Di sanalah biasanya Pak Wiryo berada kini. Aku tahu, jika ada yang bisa menjelaskan apa saja yang terjadi di bukit, pasti hanya dia.
Langkahku terus menanjak, setiap derap kaki seperti mengetuk pertanyaan yang belum terjawab.
Di puncak kecil itu, aku melihat Pak Wiryo duduk tenang di atas bangku panjang kayu.
Bangku itu sederhana, tapi kokoh. Aku segera mengenali ukiran kasar di sisi papan. Itu buatan bapak.
Pak Wiryo menoleh, senyumnya hangat. "Mira, kamu datang juga? Duduklah."
Aku melangkah mendekat, duduk di ujung bangku. Jemariku meraba permukaan kayu yang masih menyisakan aroma segar.
"Pak…" suaraku lirih, ragu. "Saya dengar… bapak saya ke bukit. Ambil kayu, serbuk gergaji. Katanya buat renovasi gudang."
Pak Wiryo mengangguk pelan, matanya menatap jauh ke arah rumpun bambu. "Betul. Dia minta izin sama saya. Saya dengar, gudang kamu perlu diperbaiki. Saya lihat sendiri, dia ambil kayu dengan hati‑hati, tidak berlebihan.”
Aku menelan ludah, suara bergetar. "Apa… benar bapak ingin merenovasi gudang untuk menanam jamur?"
Pak Wiryo menarik napas panjang, seolah sedang menimbang kata‑kata. Tatapannya tetap ke arah rumpun bambu, namun suaranya lembut, penuh keyakinan.
"Sepertinya iya, Mir," katanya pelan.
"Saya lihat sendiri, beberapa kali bapakmu membawa serbuk gergaji lumayan banyak sebelum pulang. Biasanya serbuk gergaji dipakai untuk media tanam jamur. Aku tidak mau mendahului niatnya, loh ya."
Aku terdiam, jemariku masih meraba ukiran kasar di bangku. Aroma kayu segar bercampur dengan desir angin, membuat dadaku sesak sekaligus hangat.
"Jadi… bapak sebenarnya sedang menyiapkan gudang untuk jamur?" suaraku hampir tak terdengar, seperti bisikan yang takut pecah.
Pak Wiryo menoleh, menatapku dengan mata yang teduh. "Saya kira begitu. Dia tidak bilang langsung, tapi dari cara dia bekerja, dari bahan yang dia kumpulkan, bisa jadi begitu."
Kata‑kata itu menancap dalam, seperti palu yang menghentak papan.
Bayangan pagi tadi kembali hadir. Suara palu, derit gergaji, wajah bapak yang datar di meja makan.
Aku menunduk, kantong gula dan minyak di pangkuan terasa berat. Ada getar halus di dadaku, antara ragu dan harapan.
Pak Wiryo tersenyum tipis, lalu menepuk bangku di sampingnya. "Kadang orang tua punya cara sendiri untuk menunjukkan niat. Mungkin bapakmu sedang mencoba bicara denganmu lewat gudang itu."
Aku menelan ludah, mata terasa panas. Jalan pulang tiba‑tiba terasa berbeda, seolah setiap langkah nanti akan membawa aku lebih dekat pada suara palu yang dulu hanya terdengar asing.