NovelToon NovelToon
RATU UNTUK KELUARGA CHARTER

RATU UNTUK KELUARGA CHARTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Sophia lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota London. Hidupnya tak pernah berlebih, namun penuh kehangatan dari kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, datang tawaran yang tampak seperti sebuah pertolongan—keluarga kaya raya, Mr. Rich Charter, menjanjikan masa depan dan kestabilan finansial bagi keluarganya. Namun di balik kebaikan itu, tersimpan jebakan yang tak terduga.

Tanpa sepengetahuan Sophia, orang tuanya diminta menandatangani sebuah dokumen yang mereka kira hanyalah kontrak kerja sama. Padahal, di balik lembaran kertas itu tersembunyi perjanjian gelap. Yakni, pernikahan antara Sophia dan putra tunggal keluarga Charter.

Hari ketika Sophia menandatangani kertas tersebut, hidup Sophia berubah selamanya. Ia bukan lagi gadis bebas yang bermimpi menjadi pelukis. Ia kini terikat pada seorang pria dingin dan penuh misteri, Bill Erthan Charter—pewaris tunggal yang menganggap pernikahan itu hanya permainan kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI PERNIKAHAN

SATU MINGGU KEMUDIAN…

Hari itu datang lebih cepat daripada yang diharapkan siapa pun. Matahari menggantung tinggi, cahayanya memantul pada kaca-kaca besar gedung pernikahan keluarga Charter—sebuah bangunan megah bergaya neoklasik yang hanya dibuka untuk acara keluarga dan tamu-tamu berkelas tertentu. Pilar-pilar marmer putih menjulang, dihiasi ukiran emas yang memantulkan kilau lembut setiap kali angin menerbangkan bayangan.

Di halaman depan, deretan mobil mewah berlapis hitam metalik terparkir rapi. Para tamu yang hadir bukanlah orang sembarangan—kebanyakan berasal dari kalangan bangsawan modern, keluarga pebisnis besar, diplomat, dan para tokoh penting yang namanya menghiasi berita ekonomi setiap minggu. Percakapan mereka pun berbaur antara kesopanan dan intrik, tawa kecil yang ditahan, dan tatapan penasaran mengenai pernikahan yang kabarnya lebih banyak politis daripada romantis.

Dan di tengah kerumunan itu, Grace berdiri di salah satu sudut ruangan balkon atas. Ia sengaja datang tanpa undangan dari Edward, menyamar dengan gaun hitam sederhana dan topi veil tipis. Tidak ada yang mengenalinya, namun matanya tidak pernah lepas dari panggung utama. Tatapannya tajam, penuh rasa yang sulit didefinisikan—antara penasaran, marah, dan mungkin… sedikit tersakiti.

Ketika pintu besar di sisi kanan aula dibuka, seluruh ruangan perlahan terdiam. Membuat suara musik yang mengalun lembut semakin tajam terdengar, seakan menemani prosesi haru dan romantis.

Sophia berdiri di sana.

Gaun pernikahannya bukan sekadar indah—gaun itu tampak seperti perpaduan antara keanggunan klasik dan kelembutan yang hanya dimiliki wanita yang tidak pernah ia bayangkan akan berada di panggung sebesar itu.

Gaun itu berwarna ivory lembut, menyapu lantai dengan lapisan tulle yang tersusun bertingkat, ringan seperti kabut dini hari. Motif bordir bunga-bunga kecil menjalar dari pinggang hingga ke dada, dijahit dengan benang perak yang hanya terlihat ketika cahaya menyentuhnya pada sudut tertentu. Lehernya berbentuk off-shoulder, sehingga memperlihatkan tulang bahu Sophia yang ramping dan elegan.

Sementara, rambutnya disanggul anggun, dihiasi sisir perak dengan hiasan mutiara kecil. Tidak ada perhiasan berlebihan—hanya sepasang anting berlian mungil yang membuat wajahnya semakin halus, semakin lembut.

Namun yang paling mencuri perhatian bukan gaunnya.

Melainkan tatapannya.

Ada ketenangan yang ditanggung, ada gugup yang ditahan, ada keputusan yang sudah matang. Sophia kemudian berjalan perlahan, tidak gemetar, tidak gugup—seolah ia telah menerima seluruh konsekuensi dari hari yang ia hadiri sebagai pengantin, tapi bukan sebagai wanita yang datang untuk ‘mencintai’.

Dan di ujung altar, Bill berdiri menunggu. Ia tampak memukau dengan setelan tuksedo hitam charcoal yang berpotongan sempurna. Bahunya lebar, tubuhnya tegap, dan rambut hitamnya disisir rapi dengan beberapa helai tetap jatuh di dahi—membuatnya terlihat sedikit lebih muda, namun tetap memancarkan wibawa seorang pria yang terbiasa memimpin.

Dasi kupu-kupunya terbuat dari satin gelap, dipasangkan dengan rompi halus berwarna abu keperakan. Cincin keluarga Charter melingkar di jarinya—simbol garis keturunan yang tidak pernah bisa ia lepaskan.

Semakin dekat Sophia melangkah ke arahnya, Bill semakin jelas memandang gadis itu, daN untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, pikirannya tersentak—tanpa ia sadari, tanpa ia kehendaki.

Lebih cantik...

Bahkan jauh lebih cantik daripada gambaran mana pun yang pernah ia lihat, mengalahkan bayangan Grace jika menjadi pengantinnya.

Bill kemudian mengerjapkan mata—sekali, dua kali—seolah kesadarannya kembali menghantam dinding realita yang selama ini ia bangun rapat-rapat.

Tidak. Batin Bill memaksa pandangannya mengeras. Siapa dia?

Dalam hatinya, suara itu menggema kasar, membanting semua rasa yang sempat menyelinap masuk tanpa izin.

Dia hanya… Sophia. Hanya gadis biasa. Jangan bodoh, Bill.

Ia menarik napas, rahangnya mengencang seolah ingin menindas sesuatu yang mulai tumbuh di dalam dadanya. Itu tipuan. Hanya karena dia pakai gaun itu, rambutnya disanggul, atau karena semua orang menatapnya… bukan berarti dia berbeda.

Bill mengalihkan pandangannya ke arah lantai marmer sebentar, lalu kembali menatap Sophia, kali ini dengan upaya keras untuk mengembalikan kejernihan logika.

Namun semakin ia memaksa untuk tidak melihat, semakin jelas bayangan Sophia di hadapannya. Jangan terpancing, Bill. Jangan tertipu tampilan. Dia tetap gadis miskin dan rendah. Tapi...

Ada sesuatu dalam dirinya yang memanas pelan—bukan hasrat, bukan kekaguman kosong—melainkan keterkejutan.

Kejutan bahwa perempuan yang selama ini ia anggap hanya bagian dari strategi keluarga, bagian dari tanggung jawab, bagian dari perjanjian, ternyata memiliki pesona yang tidak bisa ia abaikan.

Bill menatap Sophia sekali lagi.

Bukan hanya cantik. Sophia tampak pantas berdiri di panggung besar itu. Pantas memikul perhatian semua orang. Pantas… berada di sisi Bill.

Sial…!

Bill kembali cepat mengalihkan pandangan sesaat, seolah itu akan membantu, namun ketika ia menatap Sophia lagi, pesona itu justru semakin kuat.

“Baiklah… saat ini kita memasuki momen yang paling sakral dalam pernikahan kalian.

Sudah siapkah kedua mempelai untuk mengucapkan janji?” Jelas sang pendeta yang berdiri tegak di hadapan kedua mempelai, wajahnya teduh diterangi cahaya lilin yang bergetar lembut. Jemaat hening, udara seakan menahan napas. Suaranya kemudian mengalun, mantap namun penuh kehangatan.

Sophia dan Bill saling berpandangan—tegang, gugup, namun ada keyakinan yang berdenyut di balik mata mereka.

Sophia menelan saliva. Apakah janji yang kau ucapkan sekarang ini akan mengalahkan pernyataan yang telah kau buat?

Jakun Bill bergoyang naik turun. Lihat saja, cepat atau lambat... kau akan menyerah!

“Bill, apakah engkau bersedia menerima Sophia sebagai istrimu, satu-satunya pasangan hidup yang dipercaya Tuhan padamu? Apakah engkau berjanji untuk mengasihi, menghormati, menjaga, dan setia kepadanya dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan—sepanjang hidupmu?” Ungkap pendeta itu menatap Bill hangat.

Hening sesaat. Bill menghela udara dan dihembuskannya kasar. "Aku bersedia.

Dan aku berjanji mengasihinya seumur hidupku.” Ucapnya berat.

“Sophia, apakah engkau bersedia menerima Bill sebagai suamimu, mendampinginya dalam segala musim hidup, menguatkannya, menghormatinya, dan tetap setia kepadanya—dalam tawa maupun air mata—hingga maut memisahkan?" Lanjut pria berjas itu memalingkan wajahnya dari Bill, menatap Sophia lurus.

Dengan napas yang ia tahan, ia menatap Bill seolah hanya ada mereka berdua. "Aku bersedia… dan aku berjanji tetap setia kepadanya seumur hidupku.”

Pendeta tersenyum kecil, penuh restu.

“Dengan janji yang telah kalian ucapkan di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya, pernikahan ini telah diteguhkan. Tuhan sendiri menjadi saksi atas kasih kalian.”

Bill kemudian mengambil cincin dengan tangan yang sedikit gemetar. Untuk sesaat, dunia seperti berhenti—bahkan musik lembut pun terasa jauh. Lalu, ia menyelipkan cincin ke jari manis Sophia. Sentuhan kecil itu membuat Sophia menahan napas, dinginnya logam seolah membawa janji yang lebih berat dari kata-kata. Begitu pun dengan Sophia. Ia meraih cincin pasangan. Tangannya halus, namun jelas terlihat getaran kecil saat ia menyentuh jemari Bill.

Barisan tamu mulai berbisik pelan, sebagian tersenyum, sebagian lainnya—terutama tamu kalangan bangsawan dan keluarga besar Edward—mengangguk puas melihat prosesi berjalan mulus. Dan di sudut belakang, tersembunyi di antara kerumunan…

Grace masih diam. Gaun hitam sederhana, wajah tertutup veil tipis.

Ia menunduk, namun matanya menatap lurus ke arah Bill dan Sophia. "Sophia, semoga kau tak lupa dengan niatku padamu!" Gumamnya kecil dengan penuh keyakinan.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!