Di dunia kultivasi yang mengandalkan kekuatan jiwa bawaan sebagai penguat teknik beladiri, Vincent sering diremehkan karena hanya memiliki soul tumbuhan, hal itu membuatnya dipandang sebelah mata dan sering dianiaya oleh sesama murid sekte tempatnya tinggal.
Dan potensi kekuatannya mulai terlihat setelah dilatih oleh ratu Lily, seorang ras elf yang tidak sengaja ia temui ketika dalam keadaan terluka parah. Beliau adalah seorang kultivator domain celestial yang terlempar ke domain fana setelah dikeroyok oleh empat kaisar penguasa dunia tersebut.
Ratu Lily yang nota benenya memiliki soul yang sama dengan Vincent dan sudah ahli dalam penguasaannya, tertarik untuk mengajari Vincent mengembangkan potensi soul tumbuhan tipe langka yaitu soul pohon adam yang merupakan rajanya tumbuhan.
Akankah dengan kekuatan Jiwa kayu yang dilatih dibawah bimbingan ratu Lily ia dapat berdiri di puncak dunia kultivasi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vheindie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Muda Yang Arogan
"Terimakasih tuan muda Vincent!" Seru empat pengawal berterimakasih setelah disembuhkan olehnya.
"Apakah kau seorang alkemis juga?" tanya Shuyin. Ia kembali takjub dengan keahlian pemuda yang telah menolong mereka.
"Mungkin," jawabnya singkat.
'Kalau dipikir-pikir, bukan tanpa alasan saat dirinya menjelaskan kegunaan pil penguat tubuh. Jika benar dia seorang alkemis, ia adalah talenta yang cukup langka di kerajaan Serena.' Shui menatap penuh kekaguman.
"Sudahlah jangan banyak pertanyaan. Bukankah kalian dikejar waktu?"
"Ah anda benar! Ayo kita masuk ke gerbong," Shui menawarkan diri. Kali ini ia memanggil Vincent saudara.
Vincent kemudian mengikuti dua saudari masuk ke gerbong kereta kencana dan ternyata cukup banyak barang bawaan yang bagi orang biasa mungkin terlihat sangat berharga, tapi baginya barang-barang tersebut masih terlalu sederhana dibandingkan yang dia simpan di gelang semesta.
Sepanjang jalan Shui terus mencuri pandang ke arah Vincent yang tengah melihat keluar jendela dan ketika tak sengaja kedua mata mereka beradu tatap, Shui gelagapan dan mengalihkan pandangan ke arah lain dengan panik. Kedua perempuan muda itu memperlakukan Vincent bak ras langka yang terancam punah, dimana selalu mengawasinya disetiap kesempatan.
Delapan hari perjalanan akhirnya mereka tiba di gerbang kota Lin Fei. Shui tersenyum ketika melihat rombongan keluarga mereka telah menunggu kedatangan. "Lihat!! Itu tuan muda Yu Shan, para tetua dan saudari lainnya."
"Baiklah. Karena kalian sudah selamat sampai tujuan, kita akan berpisah di sini dan jangan lupa bayarannya." Vincent turun dari gerbong kereta dengan tatapan yang mengekorinya.
"Siapa pemuda kumel yang turun dari gerbong? Berani sekali dia duduk satu gerbong dengan dua bunga indah keluarga Yu," ucap salah satu pengawal keluarga tersebut.
"Lihatlah... Bukankah dia adalah tuan muda dari distrik Apung? Tuan muda Zendaya yang dalam dua minggu terakhir terlihat akrab dengan tuan muda Yu Shan."
"Malang sekali nasib anak itu, katanya dia itu orangnya sangat pemarah."
"Saudari Shui siapa dia?" Tanya Zendaya menatap galak ke arah Vincent.
"Huh... Siapa kau?" Shui balik bertanya dengan nada ketus.
"Oh... Maaf, perkenalkan nama saya Zendaya tuan muda dari distrik Apung wilayah bagian selatan kota Lin Fei. Aku dan tuan muda Yu Shan telah menjalin persahabatan," jawab Zendaya dengan senyum menjijikan.
Yu Shan menghampiri rombongan Shuyin dan kembali menanyakan hal serupa pada mereka.
Tidak seperti perlakuannya pada Zendaya yang ketus, mereka langsung memberi hormat padanya. "Salam hormat tuan muda Yu. Dia adalah saudara Vincent, orang yang telah menyelamatkan kami."
"Huh? Serius?" Yu Shan menatap ragu. Apalagi melihat kultivasinya yang hanya berada ditingkat body strength sedangkan kedua saudari juniornya ditahap spirit.
"Jadi dia yang akan membayarku?" Vincent mengabaikan tatapan ragu tuan mudanya Shui dan Shuyin tersebut.
"Bayaran?" Zendaya melotot melangkah maju.
"Berani sekali kau memeras saudara Yu Shan. Bosan hidup kah? Kau harus tau-"
"Iya iya... Kau adalah tuan muda dari distrik Apung bernama Zalabria dan telah menjalin hubungan persaudaraan dengan tuan muda Yu Shan," sela Vincent yang malah membuat Zendaya tersulut emosi karena penyebutan namanya yang salah.
"Vangsat! Lancang sekali kau mengolok-ngolok namaku. Cari mati kau!" teriak Zendaya langsung mendaratkan tinju berenergi pada Vincent.
Yu Shan tidak menghentikan Zendaya. Namun ia memilih menghindar dan memperhatikannya dari dekat, bahkan dia memberi kode pada empat pengawal yang disembuhkan Vincent untuk tidak ikut campur.
BAMM
Semua orang terkejut, energi merah menimbulkan asap tebal saat pukulan mengenai target.
"Apakah pemuda itu tewas dalam satu geraka?"
"Bodoh sekali dia, kenapa tidak berusaha menghindar."
"Mungkin dia terlalu ketakutan hingga tidak mampu melarikan diri."
"Bagaimana tidak gemetar, Tuan muda Zendaya tingkat kultivasinya berada di Spirit tingkat dua. Sedangkan anak itu hanya body strength."
Kicauan sumbang terus keluar dari mulut para penonton. Berbeda dengan Zendaya rasakan sendiri, tinjunya memang tepat sasaran. Namun ia merasa pukulannya menghatam batu karang yang keras. Bahkan tulang lengannya terasa begitu sakit seakan telah remuk.
Asap mulai menipis dan sosok Vincent pun kembali terlihat. Alangkah terkejutnya semua orang melihat pukulan berenergi besar tadi hanya ditahan dengan santai oleh Vincent menggunakan sebelah telapak tangan.
"Oy ganteng... Apa masalahmu denganku? Bukankah kita ini baru pertama kali, kenapa kau begitu berniat membunuhku. Apa kau punya dendam padaku dikehidupanmu sebelumnya? Bukankah tidak sopan jika aku tidak membalas salam olahragamu ini dengan benar." Vincent kemudian dengan cepat mencengkram kuat tangan besar milik Zendaya.
BAMM
Vincent membanting tubuh besarnya begitu keras ke tanah hingga menciptakan retakan. Semua pasang mata menatap tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Dimana seorang kultivator spirit level dua dibanting begitu mudah oleh anak yang baru memasuki tahap body strength level lima dan hampir pingsan.
"Tuan muda apa anda baik-baik saja?" Tanya kedua pengawal menghampiri tuannya.
"Baik-baik dengkul matamu! Cepat goblok! bawa aku ke seorang tabib," bentak Zendaya dengan suara serak.
"Awas saja kau vangsat! Akan aku adukan perbuatanmu ini pada ayahku." Ia masih sempat mengancam meski dalam keadaan terluka dan tengah dipayang oleh dua pengawal sekalipun.
"Apakah orang tuamu tidak akan menertawakan ketidakmampuanmu yang tak bisa mengalahkan kultivator yang berada jauh dibawahmu? Lagipula, memangnya kau diijinkan pergi seenaknya setelah berniat membunuhku?" Aura membunuh keluar dari sorot matanya yang tajam. Bak belati yang menghujam tepat dijantung kedua pengawal Zendaya. Seketika langsung tersungkur tak berdaya, begitu pun dengan tuan muda mereka.
"Mengerikan sekali! Apakah dia itu monster berwujud manusia. Aura membunuhnya begitu mengerikan,"ungkap tetua agung yang menemani Yu Shan.
"Anda benar sekali tetua agung, kita yang jaraknya cukup jauh darinya saja sampai dibuat merinding dengan aura yang dia pancarkan. Seakan ia bisa saja membantai kita semua kapanpun dia mau," timpal tetua berkacamata.
'Untung tadi tidak jadi menyerangnya.Andai saja kulakukan mungkin diriku sudah babak belur seperti yang tengah dialami oleh si bodoh Zendaya,' gumam Yu Shan. Ia bersyukur tindakannya didahului oleh putra penguasa distrik Apung tersebut.
"Shuyin! Shui! Dimana kau bertemu orang seperti dia?"
Shuyin kembali menceritakan kejadian tentang rombongannya dihadang oleh kelompok Zhuxian dan bagaimana kelompok tersebut dibantai dengan mudah oleh Vincent.
"Membunuh tiga kultivator spirit hanya dengan tiga gerakan? Ini terlalu sulit untuk dipercaya." Keluarga Yu seketika tercekat mendengar penuturan Shuyin.
"Shui... Cepat hentikan dia! Aku tidak ingin tuan muda Zendaya terbunuh olehnya, akan sangat merepotkan jika itu terjadi." Tetua agung panik. Mereka tidak ingin terlibat masalah sebelum turnamen beladiri diadakan, apalagi keduanya telah menjalin kesepakatan.
"Saudara Vincent tolong hentikan tindakan anda-" Shui berseru panik.
"Siapa kau memerintah diriku seenaknya?" tatapan Vincent membuat Shui bungkam.
"Tuan Vincent. Jika anda membunuhnya, akan merepotkan keluarga kami-" Shuyin mencoba ikut campur.
"Terus masalahnya denganku?"
Shuyin membeku tidak jadi meneruskan perkataannya.
"Mohon maaf karena menyela tuan," sang kusir yang tadi diam mulai angkat bicara.
"Sepertinya jika anda membunuhnya disini, keluarga Yu akan mendapat masalah-"
"Iya terus hubungannya dengan diriku? Bukankah itu masalah mereka."
"Mohon maaf tuan. jika itu terjadi, bayaran yang mereka janjikan tidak akan dipenuhi. Apalagi ada aturan dilarang membunuh sebelum turnamen digelar," ungkap sang kusir menjelaskan maksud nona Shui dan Shuyin sambil memperlihatkan aturan yang tertera di brosur yang ia copot dari dinding gerbang.