Sejak ribuan tahun lalu, dunia telah diatur oleh sang Dewi Takdir. Namun sang Dewi harus mengorbankan kehidupannya yang pada saat itu tengah terjadi perang di alam dewa, antara kubu dewa dewi dengan kubu iblis.
Namun, pengorbanannya itu tidak bertahan lama, sang Dewi harus melakukan reinkarnasi untuk kembali menyeimbangkan dunia.
Akankah sang Dewi Takdir mampu kembali menyatukan takdir yang telah dijaganya beribu tahun yang lalu?
ikuti kisahnya dalam bab berikut ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Malam setelah menyelesaikan misi rahasia itu, Ling Xi berdiri di Aula Naga Emas sekali lagi. Kali ini, selain melaporkan tentang kejadian semalam, juga ia ingin menyampaikan tekadnya.
"Ayah, semalam kami melakukan misi rahasia, kejadiannya di Desa Sunhe. Kami bertarung dengan iblis tingkat menengah. Tapi beruntungnya, kami bisa menyelamatkan sandera tanpa kekurangan apapun," jelas Ling Xi.
"Syukurlah... Lalu bagaimana sekarang dengan Desa Sunhe?" tanya kaisar.
"Ketika kami sampai di Desa Sunhe, para warga desa sana tengah melakukan ronda malam. Banyak yang berjaga di sana. Ketika kami membawa pulang 2 orang sandera, mereka langsung tersenyum bahagia. Dan itu membuat Xi'er bahagia," jelas Ling Xi sambil tersenyum.
"Baiklah, setelah ini, kita akan menambah pasukan untuk berjaga di desa-desa selain diperbatasan," tegas kaisar.
"Baik, ayah."
Setelah itu, Ling Xi pun terlihat gelisah, ia menautkan jari tangannya, seolah ia ingin berbicara sesuatu.
Kaisar yang melihatnya pun mengernyitkan dahinya.
"Ada apa, Xi'er? Apa ada lagi yang ingin kau katakan?"
Ling Xi pun menghela napas panjang, lalu berlutut dengan satu lutut. "Ayahanda, Xi'er mohon izin untuk berpetualang keluar kekaisaran."
Aula pun langsung sunyi ketika mendengar ucapannya.
"Bukannya ayah tidak mengizinkan, tapi ayah khawatir dengan keselamatanmu. Ayah mengizinkan kau untuk melakukan misi rahasia itu pun, ayah terpaksa mengizinkan."
"Xi'er mohon izin ayah, Xi'er tidak pergi sendiri, ada Lian, Bai Hu dan Paman Yun yang akan menemani Xi'er," jelas Ling Xi.
"Apa tujuanmu untuk melakukan petualangan itu?"
"Mencari Phoenix Api, Phoenix Es dan juga Naga Putih," jawab Ling Xi mantap. "Mereka adalah hewan suci penyeimbang langit dan bumi. Jika Raja Iblis benar-benar bangkit, kekuatan kekaisaran saja tidak akan cukup."
Beberapa menteri yang hadir tampak terkejut. Ada yang menganggapnya mustahil, dan ada yang menganggapnya gila.
Namun Kaisar Qin Lun pun tidak langsung mengizinkan. Ia bertanya lagi apa alasan putrinya untuk melakukan petualangan yang berbahaya ini.
"Xi'er, apa alasanmu untuk melakukan petualangan ini?"
Ling Xi mengangkat kepalanya. Lalu secara perlahan, ia mengeluarkan sedikit kekuatan Ranah Ilahi Takdirnya agar sang ayah bisa mengizinkan.
Semua orang yang berada di dalam aula, merasakan sesak. Mereka pun segera menyadari apa yang baru saja terjadi.
"Xi'er, tarik kekuatanmu kembali."
Ling Xi pun langsung menarik kembali kekuatannya.
"Ranah Ilahi Takdir telah menunjukkan mereka. Dan kontrak jiwaku dengan Bai Hu baru sebagian potensi. Dan untuk memenuhi potensinya, aku harus mencari mereka, ayah."
Kaisar terdiam lama.
Akhirnya, ia menghela napas berat.
"Kemarilah, Xi'er," pinta kaisar.
Ling Xi pun berjalan ke arah singgasana.
Sambil memegang pundak Ling Xi, kaisar berucap, "Sebagai kaisar, ayah seharusnya bisa melarangmu. Tapi sebagai ayah, ada rasa kekhawatiran dalam hati, namun juga ada rasa percaya padamu, Xi'er."
Kaisar pun berdiri dan mengambil segel kekaisaran.
"Ayah akan izinkan. Tetapi kau harus membawa izin rahasia kekaisaran. Jika perlu, semua wilayah Qin akan membantumu."
Ling Xi menunduk dalam. "Terima kasih, ayah."
...****************...
Keesokan paginya, mereka pun mulai bersiap untuk berangkat, tanpa ada pengawalan atau apapun, mereka mulai meninggalkan kekaisaran setelah berpamitan dengan Kaisar dan Permaisuri.
Selama diperjalanan, langkah kaki Ling Xi terasa berat, namun jika ia menoleh ke belakang, ia pasti tidak akan kuat untuk pergi.
Bai Hu dan Lian pun memegang tangan Ling Xi, memberikan petuah agar jangan melihat ke belakang.
Mereka pun sampai di luar pintu gerbang kekaisaran. Sekali lagi, mereka menoleh ke belakang dan bergumam, "Semoga petualangan kita berhasil dan kembali ke kekaisaran dengan selamat."
Menghela napas panjang, mereka pun memulai perjalanan pertama.
"Ke arah mana kita akan pergi?" tanya Bai Hu.
"Kita pergi ke arah barat, tepatnya Gunung Yanhuo, tempat Phoenix api terlihat ratusan tahun lalu," jawab Ling Xi.
Langit pagi masih berwarna pucat ketika rombongan kecil itu meninggalkan wilayah Kekaisaran Qin.
Jalan berbatu perlahan berganti tanah merah yang kering, tanda bahwa mereka telah memasuki wilayah jalur barat. Wilayah itu jarang sekali dilewati oleh pedagang, apalagi oleh pasukan militer.
Angin yang berhembus pun terasa panas dan berdebu. Membuat tubuh mereka terasa lengket oleh keringat.
Gunung Yanhuo masih belum terlihat, namun aura panasnya sudah merambat jauh ke wilayah jalur barat.
"Wilayah ini..." Paman Yun menyipitkan matanya, dan tangannya menggenggam pedangnya dengan erat. "Aliran energi api di sini... tidak wajar. Bahkan kita belum mencapai kaki Gunung Yanhuo, tapi energi panasnya sangat mendominasi sekali."
Bai Hu pun mengeluarkan ekornya dan mengibaskannya pelan. "Tempat seperti ini... biasanya tidak hanya dihuni oleh makhluk biasa."
Ling Xi mengangguk membenarkan. Ia bisa merasakan getaran dalam dantiannya. Ranah Ilahi Takdir berdengung pelan, seolah menyadari bahwa tujuan mereka semakin dekat.
Perjalanan hari pertama berjalan dengan tenang, hingga matahari telah berpindah ke arah barat.
Saat mereka melintasi sebuah lembah sempit, udara sekitar terasa jauh lebih panas, bahkan keringat mengucur di pelipis mereka.
Ketika mereka berjalan di atas tanah lembah yang kering, tiba-tiba mereka merasakan ada yang tidak beres dengan tanah yang mereka pijak.
Tanah itu bergetar dari pelan hingga akhirnya muncul retakan di atas tanah.
GRRRR!
"Berhenti!" seru Lian.
Belum sempat mereka bersiap, tanah yang mereka pijak terbelah mengeluarkan semburan panas merah menyala.
Dari belahan itu, bangkit sosok makhluk bertubuh batu dengan urat lava yang menyala.
"Iblis Batu Api," gumam mereka sambil melototkan matanya.
"Iblis tingkat menengah," gumam Paman Yun serius. "Makhluk penjaga wilayah. Sepertinya Gunung Yanhuo sudah merasakan akan kedatangan tamu."
......... to be continued ... ......