Gimana ya rasanya punya empat kakak yang bad boy? Ditambah satu sahabat dari kecil yang sama bad boy nya?
Itu yang Clarissa rasakan. Awalnya gadis itu merasa senang, karena ia merasa terlindungi dengan adanya cowok-cowok itu. Tapi lama kelamaan ia merasa terkekang karena sifat protektif kakak dan sahabatnya itu. Apalagi saat Clarissa jatuh hati kepada seorang laki-laki yang awalnya adalah musuh bebuyutannya.
Akankah Clarissa diijinkan untuk merasakan manisnya jatuh cinta di masa putih abu-abu ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kdk_pingetania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu
Gue berjalan menuju toilet, nggak mungkin banget gue ketemu kakak-kakak gue dalam keadaan begini, yang ada malah tambah ribet lagi.
Gue menatap cermin yang berada di depan gue. Kondisi gue ternyaga udah acak-acakan. Muka gue sedikig terlihat pucat, mata gue sembab dan bibir gue kering. Apa sebegitunya banget ya dampak Darrel di kehidupan gue? Tapikan gue cuma ngelakuin apa yang disuruh kakak gue.
"Arghh!!!” teriak gue sambil mengacak rambut kesal. Gimana ga kesel coba? Gue udah percaya sama dia, udah mau maafin dia. Coba dia bisa sabar lagi sedikit aja, pasti hubungan kita bakal kembali normal. Tapi dia malah marah sama gue. Walaupun di satu sisi emang ini kesalahan gue. Gue dengan bodohnya mainin perasaan dia. Tapi kalau dia emang sesuka itu sama gue, dia pasti ga bakalan emosi sampe segininha. Keraguan pun mulai muncul dipikiran gue.
Keraguan yang selama ini gue kubur dalam-dalam, dan gue tutup dengan keceriaan palsu ini. Apa dia cuma mainin gue? Apa dia cuma nyakitin gue kayak orang itu? Orang yang gue percaya sebagai sahabat dan dia buat gue sehancur-hancurnya. Gue nggak mau mengingat masa lalu itu, tapi pikiran gue tertuju pada memori kelam yang sudah gue tutup rapat-rapat.
Flashback On
Gue berjalan di koridor yang ramai seperti biasa.
Kelas 8.2
Gue membaca tulisan yang tertera pada kelas baru gue. Ya, sekarang gue sudah kelas 8 SMP. Gue berjalan santai menuju tempat yang biasa gue duduki. Gue melihat seseorang laki-laki masuk kekelas gue.
Namanya Bams, dia adalah sahabat gue dari pertama kali gue menginjakkan kaki di SMP milik keluarga gue sendiri, ya iyalah menginjakkan kaki, masa menginjakkan kepala?
"Woy!" Tiba-tiba ada orang dari samping memegang bahu gue, lalu duduk di sebelah gue.
"Apaan sih Din? Lo tu ganggu gue.” Gue memukul tangan Udin yang megang bahu gue.
"Sombong lo! Oh iya, itu si Bams kok ga pernah main sama kita lagi ya?" tanya Udin yang sedang memperhatikan Bams dari kejauhan.
"Main apaan? Main petak umpet? Atau kotak pos?" ejek gue.
"Ah lo mah gitu, maksud gue, sejak dia famous dia ninggalin kita, apa dia cuma manfaatin kita aja?" tuduh Udin yang langsung gue beri jitakkan di keningnya.
"Lo kalau ngomong mah gitu!"
"Apaan dah.” Udin yang terlihat kesal pun pergi meninggalkan gue. Ya gue bodo amat lah, kalau tu anak ngambek paling sejam juga baek lagi. Gue berjalan mendekati Bams yang sedang bercakap-cakap dengan teman lelakinya.
"Hai!" Gue melambaikkan tangan.
"Gue ke kantin dulu ya!" Seketika itu Bams langsung pergi meninggalkan gue.
Gue ngerasa dia menghindar dari gue. Tapi kenapa? Apa semua yang dibilang Udin itu benar? Nggak! Pasti dia cuma laper aja, makanya dia ke kantin, gue gak boleh mikir yang aneh-aneh tentang dia.
Gue pergi menuju kantin. Dengan mudah gue menemukan Bams yang sedang menyedot jus alpukadnya. Gue menghampirinya, tetapi belum sampai gue di tempatnya duduk, gue mendengar pembicaraannya dengan seseorang.
"Gimana hubungan lo sama Sasa?" tanya orang itu.
"Hmm ... gitu deh! Setelah gue tenar gue buang aja dia kayak sampah," ujar Bams santai. Apakah gue hanya jadi mainannya saja?
"Lo tu emang paling bisa!"
"Ya abis gimana? Dianya aja yang bloon banget, hari gini mana ada orang setia? Bahkan sahabat sekali pun.” Mereka berdua pun tertawa. Sedangkan gue?Gue udah nangis sesegukan.
Demi apapun gue udah nganggep Bams itu sebagai temen deket gue. Gue udah hampir nyeritain semua hal ke dia. Tapi kenapa dia malah kayak gitu? Deketin gue cuma mau terkenal? Apa dia ga mikirin perasaan gue?
Gue berlari entah kemana. Gue cuma pengen lari dari kenyataan yang ga bisa gue terima ini.
Bruk.
Gue terjatuh karena menabrak seseorang.
"Lo kenapa?" tanya Udin. Gue langsung memeluknya dan terisak.
"Bams, dia ... dia manfaatin kita,"
"Gue udah curiga sama dia dari dulu," kata Udin.
"Gue benci dia!"
Udin membopong tubuh gue menuju UKS.
"Gue telpon kakak lo ya!" Udin menelpon kakak gue, sedangkan gue masih terisak.
"Lo kenapa dek?" tanya Kak Marchelle. Gue cuma nangis sesegukan. Gue masih nyesek karena Bams sejahat itu sama gue. Udin pun akhirnya angkat suara. Dia nyeritain semuanya.
"Kurang ajar si Bams itu!" Kak Bryon terlihat sangat marah.
"Lo gak usah khawatir, kita gak bakal buat hal ini terulang kembali," kata Kak Marchelle.
Sejak kejadian itu gue selama berbulan-bulan punya trauma sama setiap orang yang ngedeketin gue. Bayang-bayang Bams selalu ada ngebuat gue makin takut buat dideketin orang asing. Gue takut kalau gue cuma dimanfaatin atau dimainin kayak yang Bams lakuin. Bahkan gue bisa nangis seharian kalau ada orang yang berusaha ngedeketin gue. Makanya sejak saat itu kakak-kakak gue jadi protektif sama gue.
Flashback Off
Gue menangis mengingat kejadian itu. Kejadian yang sangat menyakitkan. Apakah kejadian itu akan terulang kembali? Apa gue harus disakiti lagi dan lagi? Disakiti oleh sahabat saja rasanya sudah sangat sakit, apalagi dengan orang yang kita sukai?
Gue menghapus air mata di pipi gue, lalu membilas wajah gue dengan air. Gue keluar dari kamar mandi yang telah menjadi saksi kesedihan gue.