Ini adalah kisah antara Andrean Pratama putra dan Angel Luiana Crystalia.
kisah romance yang dipadukan dengan perwujudan impian Andrean yang selama ini ia inginkan,
bagaimana kelanjutan kisahnya apakah impian Andrean dan apakah akan ada benis benih cinta yang lahir dari keduanya?
Mari simak ceritanya, dan gas baca, jangan lupa like dan vote ya biar tambah semangat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumah pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 – Cahaya di Tengah Hujan
Bogor, Musim Hujan Tiga Tahun Setelah Angel Pergi.
Hujan turun sejak pagi. Langit kelabu, udara dingin, tapi di rumah kecil Andrean, ada kehangatan yang nggak bisa dikalahin sama cuaca apa pun.
Di ruang tamu, Kayla lagi bantuin Reyhan belajar. Anelia duduk di lantai, mainin boneka kayu buatan Andrean. Di sudut ruang kerja, Andrean sibuk sama laptopnya, nyusun outline buat novel barunya. Tapi pikirannya melayang ke seorang anak kecil yang lagi duduk di teras belakang, ngelihatin hujan turun sambil mangku buku gambar.
Lian.
Anak laki-laki berusia empat tahun itu duduk diam. Di tangan kecilnya, ada krayon warna biru. Dia nggak banyak ngomong, tapi matanya... matanya selalu penuh cerita. Sejak Angel nitipin Lian ke Andrean, hidup mereka berubah. Kayla sempat butuh waktu buat nerima, tapi sekarang, Lian udah kayak bagian dari keluarga mereka sendiri.
"Lian, masuk yuk. Dingin di luar," kata Andrean sambil jalan pelan ke arah teras.
Lian noleh, senyum tipis. "Oke Pa."
Mereka duduk bareng di situ, ngelihatin hujan bareng. Kayla dateng bawa dua cangkir cokelat hangat. Satu buat Andrean, satu lagi buat Lian—dengan marshmallow yang meleleh di atasnya, favorit Lian.
"Jangan keluar lama-lama. Ntar sakit," tegur Kayla lembut sambil meluk bahu Andrean sebentar, lalu balik lagi ke dalam rumah.
Andrean ngeliat Lian. "Mama Angel pernah cerita, kamu suka hujan, ya?"
Lian angguk pelan. "Mama bilang... kalau hujan, dia selalu denger suara aku nyanyi dari langit."
Andrean ngelus rambut Lian. Ada perasaan aneh di dadanya. "Kamu kangen Mama Angel?"
Lian diem. Tapi matanya ngeliat jauh ke langit. "Iya... tapi di sini nggak apa-apa. Ada Papa, ada Mama Kayla, ada Kak Reyhan, ada Kak Anel."
Andrean nahan napas. Ada rasa lega, tapi juga perih. Dia tahu, Lian anak kuat. Dan dia janji nggak bakal ninggalin anak ini.
Malam Hari.
Andrean duduk di ranjang, ngetik sesuatu di laptopnya. Kayla nyandar di bahunya, sambil bacain draft yang Andrean tulis.
"Akhirnya lo tulis kisah kita juga," kata Kayla pelan.
Andrean senyum tipis. "Nggak cuma kita, Kay. Tentang Lian juga. Tentang gimana kita semua jadi satu keluarga."
Kayla melirik suaminya. "Lo udah siap? Buka semua ini ke orang lain?"
Andrean nutup laptop. Dia peluk Kayla erat. "Gue udah nggak takut. Kita udah lewatin banyak hal. Dan gue pengen orang tau, rumah itu bukan cuma tembok dan atap. Rumah itu... orang-orang kayak lo, anak-anak, Lian."
Kayla senyum. "Gue bangga sama lo, Dre."
Beberapa Hari Kemudian.
Mereka sekeluarga jalan-jalan ke taman kota. Lian lari-larian bareng Reyhan dan Anelia. Ketawa mereka ngegema di udara pagi yang cerah, setelah seminggu hujan terus.
Andrean merhatiin mereka dari bangku taman. Kayla duduk di sampingnya, kepala bersandar di pundaknya.
"Dia udah kayak anak sendiri, ya," gumam Kayla.
Andrean angguk. "Iya. Dia anak kita sekarang."
Kayla ngegenggam tangan Andrean. "Makasih, udah bikin rumah ini utuh lagi."
Andrean cium kening Kayla. "Gue yang makasih, lo mau jalan bareng gue terus."
Di depan mereka, Lian noleh, senyum lebar sambil lambaikan tangan. "Papa! Mama! Cepetan sini!"
Andrean berdiri, narik tangan Kayla. "Ayo, Ma. Anak-anak udah nunggu."
Dan di hari itu, buat pertama kalinya setelah sekian lama, Andrean ngerasa lengkap. Mereka nggak cuma keluarga kecil biasa. Mereka adalah rumah buat satu sama lain.
BERSAMBUNG...