NovelToon NovelToon
Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sablah

aku berdiri kaku di atas pelaminan, masih mengenakan jas pengantin yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya. tamu-tamu mulai berbisik, musik pernikahan yang semula mengiringi momen bahagia kini terdengar hampa bahkan justru menyakitkan. semua mata tertuju padaku, seolah menegaskan 'pengantin pria yang ditinggalkan di hari paling sakral dalam hidupnya'

'calon istriku,,,,, kabur' batinku seraya menelan kenyataan pahit ini dalam-dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sablah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

paket perusak hubungan

Tepat pukul 10 malam, Rama dan Alda akhirnya tiba di kota mereka. udara malam terasa sejuk, tapi tidak cukup untuk mengusir kelelahan yang menggelayuti tubuh mereka. tanpa banyak bicara, Rama segera memesan kendaraan untuk mengantar mereka pulang.

ketika mobil datang, Rama membuka pintu untuk Alda, ia masuk tanpa berkata apa-apa. Rama mengikuti dan duduk di sampingnya. sopir memberi salam dan memastikan tujuan mereka sebelum mulai melajukan kendaraan melewati jalanan kota yang sudah mulai lengang.

di dalam mobil, suasana terasa sangat hening. hanya suara kendaraan yang sesekali melintas dan dentingan pelan dari GPS sopir yang terdengar. Alda menatap keluar jendela, matanya menyorotkan perasaan yang sulit ditebak. ia kelihatan lelah, tapi bukan hanya karena perjalanan panjang mereka. ada sesuatu yang mengganggunya, sesuatu yang membuatnya memilih diam sepanjang perjalanan.

di sisi lain, Rama menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, lalu memejamkan mata. tapi ia tidak tidur. pikirannya terlalu penuh dengan hal-hal yang harus ia hadapi.

tentang Gani, tentang masalah pekerjaan, tentang masalah Alda, dan tentang Naila...

Naila.

Rama menghela napas pelan, tidak ingin membuat suasana semakin berat. ia melirik Alda sekilas, tapi gadis itu tetap memandangi jalanan di luar tanpa ekspresi. entah apa yang ada di pikirannya.

sampai di rumah, lampu teras sudah menyala terang. Rama sedikit terkejut saat melihat kedua orang tuanya sudah berdiri di depan pintu, seolah sedang menunggu kedatangannya. ia memang sempat memberi kabar bahwa ia akan pulang malam ini, tapi ia tidak menyangka mereka akan benar-benar menunggunya.

begitu mobil berhenti, Rama keluar lebih dulu, diikuti Alda yang masih terlihat canggung. Ibu Rama yang pertama kali menghampiri, wajahnya tampak lega.

"kamu sudah pulang, nak,?" ucap Ibunya dengan suara hangat.

"iya, Bu," jawab Rama singkat, suaranya sedikit berat karena kelelahan.

Alda yang berdiri di samping Rama hanya menundukkan kepala sopan tanpa berkata apa-apa.

setelah beberapa detik keheningan, Ayahnya akhirnya angkat bicara, suaranya tenang tapi tegas. "sudah malam. kalian istirahat saja. besok masih ada hari untuk bicara."

Rama mengerutkan kening. biasanya Ayahnya tidak seperti ini. namun, ia juga terlalu lelah untuk bertanya lebih lanjut.

"baik, Yah," jawabnya akhirnya. ia menoleh ke Alda. "ayo, Da. kita istirahat dikamar"

tanpa protes, Alda mengikuti langkah Rama masuk ke dalam rumah, meninggalkan kedua orang tua Rama yang masih berdiri di depan pintu.

begitu masuk ke kamar, Rama langsung melepas jaketnya dan menghela napas panjang. pikirannya masih berputar, mencoba mencari tahu ada apa dengan Ayah dan Ibunya malam ini, satu masalah yang kembali datang memenuhi pikiran Rama.

sampai di kamar, Rama langsung melepas jaketnya dan meletakkan di kursi dekat meja sofa. ia menoleh ke Alda yang masih berdiri di samping ranjang.

"kamu bersih-bersih di sini saja, Da. aku akan mandi di luar," katanya singkat.

Alda hanya mengangguk tanpa banyak bicara. ia juga merasa lelah setelah perjalanan panjang tadi.

Rama mengambil kaos dan celana pendek santai dari lemarinya, lalu berjalan keluar kamar menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur. disepanjang jalan menuju dapur, rumah terasa sangat sepi, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan. tak menghiraukan dengan itu, Rama bergegas menuntaskan tujuan nya.

***

setelah beberapa menit berlalu, Rama akhirnya keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk. namun, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat seseorang tengah duduk di meja makan, meneguk segelas air.

"abang?" ucap Rama, sedikit terkejut mendapati Raka di sana.

Raka mengangkat wajahnya dan menatap Rama dengan ekspresi sulit terbaca. ia lalu menunjuk kursi di hadapannya.

"duduk," perintahnya singkat.

Rama sempat ragu, tetapi akhirnya menurut. ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan sang abang.

setelah beberapa saat hening, Raka akhirnya berbicara, "tadi siang, ada paket yang dikirimkan ke rumah ini."

Rama mengernyit. "paket? dari siapa?"

"entahlah," jawab Raka. "tidak ada nama pengirimnya."

Rama semakin merasa ada sesuatu yang tidak beres. "lalu? penerimanya?" tanyanya, meminta penjelasan lebih lanjut.

Raka terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, "tidak dituliskan. namun, saat paket itu datang, Ayahlah yang menerimanya"

"lalu, apa yang terjadi?" Rama masih menunggu kelanjutan dari Raka dengan rasa penasaran nya.

"ketika Ayah merasa curiga dan membuka paket itu… ternyata isinya adalah foto-foto milikmu."

"foto?" Rama mengulang dengan nada bingung.

"foto dirimu dan semua kenanganmu di masa lalu," jelas Raka dengan nada serius. "dengan Naila."

Rama terdiam seketika.

"bahkan di dalamnya terdapat foto-foto prewedding kalian dulu," tambah Raka.

Rama merasakan dadanya sedikit sesak. siapa yang mengirimkan foto-foto itu? apa tujuannya? dan yang lebih membuatnya bingung, mengapa Ayah tidak mengatakan apa pun sebelumnya?

"tapi mengapa ayah tidak membicarakan ini denganku?" tanya Rama dengan suara lebih tenang, namun penuh pertanyaan.

Raka menghela napas sebelum menjawab, "aku juga tidak tahu. namun, dari raut wajahnya tadi, Ayah tampak tidak senang."

Rama mengepalkan tangannya di atas meja. pikirannya berkecamuk, mencoba mencerna informasi yang baru saja disampaikan Raka. foto-foto itu… kenangan dengan Naila… dikirim ke rumahnya tanpa nama pengirim. siapa yang melakukan ini? apa tujuannya?

tanpa pikir panjang, Rama bangkit dari kursinya.

"aku harus bicara dengan Ayah," katanya tegas.

namun, sebelum ia sempat melangkah, raka menahan lengannya.

"kau mau Alda tahu soal ini? kau lupa dirumah ini ada anggota lain?" tanyanya dengan suara rendah namun tajam.

Rama terdiam. ia melirik sekilas ke arah pintu kamar, di mana Alda mungkin sudah tertidur atau masih berusaha melelapkan diri. Raka menghela napas dan melanjutkan,

"mungkin Ayah menyembunyikan ini karena menunggu waktu yang tepat untuk bicara denganmu. saat kau sendirian."

Rama menggretakkan giginya, hatinya ingin sekali menuntut jawaban saat ini juga. namun, Raka benar. jika ia memaksa bertemu Ayah sekarang, ada kemungkinan Alda akan mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia tahu. lagipula, Ayah memang meminta mereka untuk beristirahat tadi.

Rama mengepalkan tangannya lebih erat, lalu duduk kembali.

"jadi, apa yang Ayah katakan setelah melihat isi paket itu?" tanyanya, mencoba menahan emosinya.

Raka menggeleng. "tidak ada ucapan apa-apa. dia hanya terlihat marah… atau mungkin kecewa. aku tidak tahu pasti."

Rama menyandarkan punggungnya ke kursi, mengusap wajahnya dengan kasar.

"sial…" gumamnya.

ia tidak tahu siapa yang mengirimkan foto-foto itu atau apa tujuannya, tapi satu hal yang jelas, ini bukan kebetulan. seseorang ingin mengguncang kehidupannya, dan orang itu tahu persis titik lemahnya.

Raka menatap adiknya dengan sorot mata khawatir. "kau mau aku yang bicara dengan Ayah dulu?"

Rama menggeleng. "tidak. aku sendiri yang akan bicara dengannya… tapi besok."

Raka mengangguk pelan. "baiklah. tapi hati-hati, Ram."

Rama tidak menjawab, hanya menatap kosong ke arah meja. malam ini, pikirannya dipenuhi dengan satu nama, Naila.

******

keesokan harinya.

pagi itu, aroma masakan memenuhi seluruh rumah. Ibu Rama dan alda sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk keluarga. sang Ibu dengan cekatan mengaduk sup di panci, sementara Alda memotong beberapa bahan tambahan di meja. sesekali wanita paruh baya itu tersenyum melihat cara Alda bekerja, merasa senang dengan kehadiran menantunya di rumah.

di meja makan, Ayah dan Raka sudah duduk, berbincang santai sembari menunggu makanan tersaji. percakapan mereka terdengar ringan, membahas hal-hal sehari-hari yang terjadi di rumah.

setelah beberapa saat, Ibu Rama menoleh ke arah ruang tengah dan bertanya, "suami mu dimana, nak? kenapa belum muncul dan bergabung?"

Alda yang masih sibuk di meja dapur menjawab, "tadi mas Rama masih tidur, Bu. mungkin mas Rama kelelahan."

wanita itu menghela napas pelan lalu tersenyum lembut. "harusnya kamu juga demikian, nak. tidurlah dulu. kamu pasti juga capek."

Alda menggeleng kecil. "yang bekerja itu mas Rama, Bu, bukan Alda. jadi mas Rama pasti lebih kelelahan."

Ibu Rama hanya tersenyum mendengar jawaban itu, merasa iba tetapi juga bangga melihat perhatian Alda pada suaminya.

tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah kamar. Rama akhirnya keluar, terlihat aura segar setelah mandi. rambutnya masih lembap, beberapa helai jatuh berantakan di dahinya. aroma sabun menyegarkan samar-samar tercium dari tubuhnya, meskipun ia tidak memakai parfum.

hari ini, Rama mengenakan kaus lengan pendek warna putih yang sedikit longgar, dipadukan dengan celana panjang chino berwarna krem. kausnya sederhana, tetapi potongannya rapi, membuatnya tetap terlihat keren meskipun dalam pakaian santai. kakinya hanya beralaskan sandal rumah berbahan kain, menambah kesan santai pagi itu.

saat melihat Rama keluar, Alda melirik sekilas sebelum kembali fokus pada masakannya. sementara itu, sang Ibu menyambut putranya dengan senyum hangat.

"akhirnya bangun juga, nak. sudah lebih baik?" tanyanya lembut.

Rama menguap kecil sebelum menjawab, "lumayan, Bu."

ia lalu berjalan mendekat dan duduk di meja makan, bersiap menikmati sarapan bersama keluarga. namun, di dalam kepalanya, ia masih mengingat apa yang harus ia bicarakan dengan Ayah nanti.

semua anggota keluarga akhirnya duduk bersama di meja makan. hidangan yang disiapkan Ibu dan Alda tersaji hangat di atas meja. suasana pagi itu terasa lebih hangat dibanding malam sebelumnya.

Ibu menyendokkan sup ke dalam mangkuk suaminya seraya menatap Rama dan Alda sebelum akhirnya membuka obrolan, "Rama, Alda, kalian masih dalam masa cuti, kan?"

Rama yang sedang meraih gelas air hanya mengangguk. "iya, Bu. masih beberapa hari lagi."

Ibu tersenyum lega. "bagus, kalau begitu nanti atau besok sempatkanlah berkunjung ke mertua mu, nak. sejak menikah kalian belum kesana, bukan?"

Alda menoleh ke arah Rama sekilas, lalu ikut mengangguk. "iya, Bu"

Ayah, yang sejak tadi hanya makan dalam diam, akhirnya ikut menimpali. "bukan cuma mertua, Ram. kau juga harus mulai membujuk hati kakek Alda. kau tahu sendiri dia jelas belum sepenuhnya menyetujui pernikahan ini."

Rama meletakkan sendoknya sejenak, menghela napas perlahan sebelum menjawab, "iya, Yah. Rama mengerti, secepatnya Rama akan coba bicara dengan kakek Alda."

sang Ibu tersenyum melihat keseriusan putra nya. "bagus jika begitu. kalian harus menjaga hubungan baik dengan keluarga besar. jangan biarkan masalah terus berlarut."

di sela-sela makan, suasana tetap terasa nyaman. Raka sesekali ikut berbicara, meskipun lebih banyak mendengarkan. tapi, meski obrolan berjalan santai, di benak Rama, pikirannya masih dipenuhi pertanyaan tentang paket misterius kemarin. ia melirik sekilas ke arah Ayahnya, mencoba membaca ekspresi pria itu.

namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Ayah tiba-tiba bertanya, "Rama, setelah makan, Ayah ingin bicara denganmu sebentar."

Rama sedikit kaget, tapi ia langsung mengangguk. "baik, Yah."

Alda menoleh ke Rama dengan tatapan bertanya, tapi Rama hanya memberikan senyuman tipis, seolah menenangkan. ia tahu, percakapan setelah ini tidak akan ringan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!