Sebuah ikatan pernikahan harus berlandas cinta, kasih sayang dan komitmen untuk terus bersama.
Tapi apalah daya ketika pernikahan itu terjadi hanya karena sebuah bentuk pertanggungjawaban dari kesalahan.
Wisnu Tama, seorang pria berusia 27 tahun yang harus menikahi Almira Putri, gadis polos berusia 22 tahun.
Bagaimana cara Wisnu menakhlukkan hati wanita yang sudah menjadi istrinya itu, agar mau memaafkan kesalahan yang tidak dia sengaja dan mau sama-sama mempertahankan ikatan suci berlandas kebencian menjadi sebuah ikatan cinta? Ikuti yuk kisahnya.
Ini novel kedua saya dan merupakan sequel dari novel pertama.
Selamat membaca ^_^
Follow IG @Syalayaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Sudut Pandang Tidak Biasa
Sepanjang perjalanan Wisnu hanya diam, Ihsan mau tak mau juga ikut terdiam. Menanyakan bagaimana rasanya saja Ihsan tidak berani. Sesekali menatap ke arah jendela kaca mengusir canggung, Ihsan mendesah ringan.
“Kau pasti penasaran dengan yang aku bicarakan dengan Delia ya?” ucap Wisnu tanpa menoleh.
Seperti terbaca apa yang ada dibenaknya, Ihsan terperangah dengan anggukan membenarkan.
“Dia … sepertinya ada sangkut pautnya dengan malam itu,” ungkap Ihsan dengan suara ragu-ragu.
“Cari tahu motifnya, bukankah aneh, saat aku tidak mengenalnya tiba-tiba dia seolah mengenalku,” ucap Wisnu sambil menoleh.
“Apa, dia membicarakan malam itu?” tanya Ihsan penuh rasa penasaran.
“Tidak, tapi dia bilang … ingin bekerja sama dengan Hotel kita.”
“Apa? Lalu … Anda memberi lampu hijau?” tanya Ihsan seakan tidak percaya.
“Ikuti saja permainannya, mau masuk jadi apa saja di Hotelku, terserah saja.”
Wisnu memberi seringai kemudian membuang muka menatap jendela kaca mobil sampingnya.
“Atur secepatnya pernikahanku dengan Almira. Kau tahu, dia sudah seperti malaikat pelindungku. Jangan sampai jalan yang sudah ditetapkan Allah terjadi ini malah kita sia-siakan.”
Ihsan mengangguk mengerti. Apa yang terlontar dari Bosnya membuatnya sadar bahwa ada permainan di dalam perusahaannya. Sebuah rencana yang gagal karena kesalahan si bartender atau si pelayan?
Ihsan akan mendalami masalah ini dengan lebih hati-hati lagi.
“Bagaimana kabar dari orang suruhanmu? Apa Ira suka dengan koleksinya?” tanya Wisnu mengalihkan topik.
“Sukaaa sekali, sampai teman-teman saya ingin mengumpati saya,” oceh Ihsan membuat Wisnu terkekeh ringan.
“Kenapa bisa begitu?” sahut Wisnu malah penasaran ingin mendengar lebih banyak.
“Anda menikahi gadis menyebalkan.”
“Benarkah? Aku jadi sabar,” jawab Wisnu semakin membuat Ihsan malah kesal.
“Calon istri anda itu menyuruh koleksi semua dibuka dan dicoba,” celoteh Ihsan dengan wajah bersungut.
“Apa yang salah? Harusnya seperti itu, bukan?” jawab Wisnu membela calon istrinya itu.
“Yang jadi masalah, Almira tidak mau memilih satupun. Dia juga menolak semua barang mereka yang dibawa sesuai pesanan Anda.”
“Biarkan saja, ikuti saja kemauannya,” jawab Wisnu santai.
“Anda tidak kesal?” tanya Ihsan dengan nada tinggi merasa tidak percaya.
“Untuk apa aku kesal, bukankah itu artinya dia tidak matre dan uang tabunganku utuh?” jawab Wisnu santai.
Ihsan menghembus napas pasrah. Kedua orang itu membuat Ihsan merasa sangat pusing. Dengan gelengan kepala pelan dia mengabaikan Wisnu yang tertawa kecil disampingnya.
“Kau harus cari istri seperti Almira. Irit, menolak barang mewah dan suka kesederhanaan,” lontar Wisnu tiba-tiba, Ihsan hanya berdecih menertawai pijiran Bosnya yang kelewat naif.
“Maksud Almira bukan irit, Pak. Hihh …,” keluhnya kesal sendiri.
“Lalu?” tanya Wisnu masih bersikap santai.
“Dia menyatakan perang dengan Anda. Menolak berarti menghina pemberian Anda. Hih! Harusnya anda memberi pelajaran pada gadis seperti dia, bukan malah memuji,” omel Ihsan dengan suara menggebu.
“Kau ini, pikiranmu terlalu jauh. Bilang saja kau iri aku dapat calon istri masih perawan, sederhana dan cantik. Tidak suka barang bermerk dan tentu saja punya keluarga yang sangat harmonis,” sahut Wisnu memasang senyuman ke arah Ihsan.
Ihsan hanya bisa menghela napasnya tidak mau menanggapi lagi bos kaku dan naif itu.
“Ihsan … Ihsan, kau ini terlalu berpikiran buruk.”
Ihsan masih diam acuh tidak mau menyahut. Bosnya ini sangat aneh baginya. Selalu mendapatkan sudut pandang yang tidak bisa dibaca dengan nalar orang biasa.
Wisnu segera memejamkan matanya kembali larut dalam pikirannya, mengabaikan decakan kesal dari Ihsan karena sikap yang kelewat santai.
Hingga mobil memasuki gerbang yang segera terbuka karena dilengkapi sensor ketika mobil yang sudah terintegrasi mendekati maka akan otomatis terbuka dan juga terkunci saat mobil sudah berada di radius menjauhi sensor.
Memutari taman depan rumah milik Wisnu, Ihsan sengaja memberhentikan di halaman depan agar Wisnu turun dan bisa langsung masuk rumah.
Tanpa diberitahu Wisnu sudah bangkit dari sandaran punggungnya, membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil perlahan.
Rasa kebas, hanya itu yang terasa. Dia sadar bahwa uang adalah segalanya. Ilmu pengetahuan juga hal yang harus dihargai tinggi. Sebuah hal menyakitkan di pikirannya ternyata tidak dia rasakan. Hingga timbul niatan untuk mengecek hasil keahlian Juna di tubuhnya.
“Bentuknya jadi seperti apa, ya?” ucap Wisnu membuat Ihsan tersenyum sendiri.
“Mau dicek?” lontar Ihsan hingga sukses mendapatkan pukulan di lengannya.
“Kau ini sok sekali ya, badanmu pasti menandakan ukuranmu,” ejek Wisnu melangkah dengan menertawai Assiten andalannya yang terpojok tidak bisa menjawab.
“Astaga, Anda meremehkan saya, ya?” protesnya berjalan cepat mengikuti langkah Wisnu yang memasuki kamar. "Bisa-bisanya."
“Pulanglah, aku ngantuk. Besok berikan semua laporanmu padaku. Sorenya temani aku menemui kakakku,” ucap Wisnu merebahkan tubuhnya ke kasur. Menyalakan pendingin ruangan dan tv.
Ihsan meletakkan obat di nakas dan mengangguk mengerti. Dengan memandang penuh rasa kasihan dirinya membalik badan dan melangkah menuju pintu keluar.
“San,” panggil Wisnu membuat Ihsan menoleh segera saat handle pintu sudah dia raih.
“Iya, Pak Wisnu,” jawab Ihsan mendadak perasaannya sendu.
“Terimakasih ya, kau tidak hanya menjadi Assistenku saja, tapi sudah seperti saudaraku sendiri,” lontar Wisnu membuat Ihsan tercekat dengan mata berkaca-kaca menatap Bosnya.
“Tidak, Pak. Anda memungut saya dari jalanan ketika rasa putus asa sudah melanda saya. Saya merasa tersanjung dengan ucapan Anda,” jawab Ihsan beradu tatap dengan Wisnu yang menyunggingkan senyuman untuknya.
“Saat pernikahanku kelak terlaksana tolong jadilah saksinya ya? Aku mendapat pesan dari Ira soal prosesi sederhana dan merahasiakan ini semua. Aku butuh dukunganmu untuk menjadikan saksinya agar pernikahanku tidak seperti sebuah status semu belaka.”
“Apa! Merahasiakan?” Ihsan memandang Wisnu dengan tatapan terkejut sekaligus heran. Sikap wanita itu membuatnya sangat heran.
Dengan deru napas kemarahan Ihsan membuang muka dengan bersungut penuh kekesalan. Bagaimana mungkin Wisnu bisa bersikap santai seperti ini. Merubah jalan hidup demi wanita yang jelas tidak mengharapkannya. Tiba-tiba Ihsan menjadi sangat kesal dan kesal dalam hatinya.
“Saya akan bersikap sesuai kemauan saya terhadap calon istri anda setelah kenyataan ini saya dengar, tidak hanya ketus tapi dia sudah bersikap sangat keterlaluan menurut saya,” tegas Ihsan dengan suara kemarahan melanda. Wisnu hanya menanggapi dengan senyuman santai.
“Tenanglah, aku yang mengalaminya, kenapa kau yang marah?”
“Tentu saja saya marah,” sosor Ihsan kembali ditanggapi Wisnu dengan tawa kecil.
“Pulanglah, kau pasti lelah.”
“Baik, Pak. Jangan lupa minum obatnya sebelum pengaruh obat biusnya hilang dan Anda merasa tersiksa karenanya,” pesan Ihsan segera diberi anggukan kepala.
Wisnu mengambil obat di sampingnya dengan setengah bangkit dan meminumnya agar Ihsan segera pulang. Dia tahu, rasa cemas masih menggelayuti wajah Assisten terbaiknya itu.
“Saya permisi, hubungi saya kalau Anda butuh sesuatu,” pamit Ihsan sebelum menutup pintu kamar.
“Hem,” jawab Wisnu mengangguk dan memberi isyarat tangannya agar Ihsan segera pulang.
Wisnu tersenyum, merasa banyak juga orang asing yang malah tulus menyayangi dirinya. Sesuatu yang aneh baginya, tapi terasa nyata.
Sesaat dirinya teringat dengan masa lalu. Kakaknya, pembunuh orang tuanya. Kenapa sampai sekarang masih bisa menganggapnya kakak?
“Haruskah aku mengabarkan pernikahanku padanya?” gumamnya pada diri sendiri.
Dia raih ponselnya di nakas dan membuat panggilan, merasa sudah tidak bisa menunda waktu pernikahannya Wisnu segera memberi kabar kepada orang-orang penting dihidupnya tentang pernikahannya yang mendadak.
“Kakak Tampanku?” sapa suara wanita yang langsung diberi lengkungan bibir oleh Wisnu. Suara Isna gadis kecil yang selalu menganggapnya kakak tampan.
“Kau sudah tidur? Krisna ada?” tanya Wisnu dengan nada bicara sesantai mungkin.
“Krisna sedang di kamar Saka. Kau tahu, Krisna selalu mencoba sebisa mungkin untuk menyempatkan waktu bersama anaknya.”
“Ayah idola,” puji Wisnu merasa iri sekali dengan sikap Krisna yang berubah jauh menjadi orang tua bijak.
“Kau harus cepat menikah biar bisa pulang disambut anak istrimu.
Lontaran Isna membuatnya seakan mendapat angin segar dengan berita yabg akan dia sampaikan malam ini. Merasa akan mendapatkan dukungan dari Isna.
“Iya, aku akan segera menikah,” sahutnya cepat.
“Omdo,” cibir Isna sambil tertawa.
“Kirimkan hadiahmu, tidak perlu datang. Aku hanya ingin memberitahumu saja,” terang Wisnu dengan suara meyakinkan.
“Benarkah? Gila ya! Kau tidak mengundangku?” Decak suara Isna membuat Wisnu membalas tawa.
“Prosesinya sederhana,” urai Wisnu dengan suara menjelaskan.
“Ehm … begitu ya? Dia gadis beruntung karena bisa menikah denganmu, kau tahu?” lontar Isna membuat Wisnu mengangguk padahal jelas Isna tidak mungkin bisa melihatnya, tapi Wisnu tidak menjawab dengan suaranya.
“Kak Wisnu?” panggil Isna membuat Wisnu segera berdeham agar Isna tahu bahwa dirinya masih mendengarkan.
“Kau harus bahagia. Kalau sampai wanita itu menyakitimu, laporkan padaku, aku akan membalasnya untukmu,” kelakar Isna segera diberi kekehan kecil Wisnu.
“Aku akan bahagia,” jawab Wisnu kemudian meyakinkan dirinya sendiri lebih tepatnya.
Hingga suara berisik jelas mengisyaratkan sesuatu terjadi dari seberang sana. Krisna mengambil alih ponsel dan saling melempar argumen bersama Isna yang terdengar lucu bagi Wisnu. Pertengkaran pasangan yang sudah menikah. Membuatnya malah tertawa mendengarkan dari ujung sambungan telepon.
“Apa aku dan Almira akan mengalami hal ini? Pertengakaran yang lucu juga?” gumamnya sambil menutup sambungan telephon. Tidak mau mendengar hal ekstrim yang akan membuatnya menyesal.
Bukankah aset pusakanya sedang terluka.
Hahaha … mari tertawa bersama.
Saat hari itu tiba, kumohon tataplah mataku. Lihatlah kesungguhanku saat meminangmu. Jangan pernah jadikan momen ini neraka bagimu tapi syurga dimana kebahagiaan sedang kita perjuangkan bersama-sama. Dalam kesendirian aku berpikir bahwa dalam takdir pertemuan yang kita ukir bukanlah sebuah kesialan yang hadir, namun sebuah kesempatan bahwa tidak semua pertemuan yang diiringi tawa akan berakhir bahagia dan tidak semua pertemuan tragis akan berakhir dengan tangis. (Wisnu-Almira)
~ By Syala Yaya
Bersambung …
***
Terimakasih kuucapkan untuk jejak Like, Komentar juga Vote luar biasa dari kalian.
Masuk Ke GCku dong teman semua, kita bisa saling sapa disana yaa.
Baca juga karya para sahabatku, keren juga pastinya
Dari kak Anggen
Kak Shanty
Salam Cinta dariku ~Syala Yaya🌷🌷