Kehilangan orang yang dicinta untuk selama- lamanya membuat separuh jiwa terbang entah kemana. Rasanya dunia runtuh, hidup menjadi kosong. Wanita itu benar- benar merasa kehilangan kekasihnya.
"Aku sudah memaafkanmu, jangan mengikutiku lagi!" (Azalea Tanisha Anandhi)
"Bukan maaf yang aku inginkan, aku hanya ingin kita menikah!" (Aksa Arion Sanjaya)
Karena rasa bersalah terus saja menyelimuti, Presdir itu berusaha menggantikan kekasihnya. Tapi, mampukah wanita itu mengikhlaskan kekasihnya yang telah tiada dan membukakan pintu hatinya untuk sang Presdir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shintapuji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rela Melepas
Cinta yang terbalas memanglah suatu kebahagiaan sendiri, tapi bagaimana dengan cinta yang pupus dan tak terbalaskan sama sekali? Rasanya sungguh menyesakkan, tapi jika terus bertahan akan semakin membuat hati hancur lebur dan bersiap menjadi debu.
Mencintai selama bertahun- tahun tapi tak pernah terbalaskan sedikit pun. Menghabiskan waktu bersama, bercanda, tertawa, ternyata tak mampu membuat lelaki itu jatuh hati kepadanya.
'Mengangap sebagai adik'. Kalimat sederhana mampu mengacak- acak suasana hati. Ah, Tania baru ingat jikalau dulu Aksa memang terpaksa berpacaran dengannya. Ia sadar, cinta tak bisa dipaksakan. Baiklah, wanita itu akan membiarkan Aksa pergi meski cintanya untuk lelaki itu tetap akan melekat.
"Siapa wanita yang lebih layak bersanding denganmu?"
Pertanyaan yang jawabannya sangat mudah namun lidahnya terasa kelu untuk menjawab. Ia akan semakin membuat wanita di depannya itu sakit hati, tapi Tania juga akan mengetahuinya sendiri meskipun tak mendengarnya dari Aksa.
"Nggak kerasa ya, selama bertahun- tahun ini aku berpacaran dengan jodoh orang." Tania menekankan kata di akhir kalimatnya.
"Maafkan aku. Aku yakin kamu nanti bakalan dapat pengganti yang lebih cocok denganmu, bukan lelaki brengsek yang bisanya menyakiti hati wanita." Aksa menunduk, perasaan bersalah masih bersemayam.
Tania tersenyum getir, ia mengusap air matanya. "Aku akan segera pulang, terima kasih atas waktu selama ini. Aku bahagia bersamamu," ucap wanita itu sebelum melangkah meninggalkan ruangan Aksa.
Devano mendekati Aksa dan menepuk punggungnya bermaksud memberikan kekuatan untuk teman yang telah merambah menjadi saudaranya itu.
*****
Tania melangkahkan kakinya seperti zombie yang tak bernyawa. Ia tak menghiraukan orang-orang yang berpapasan dengannya.
"Hey, Tania!" seru Clara menepuk pundak Tania dari belakang. Wanita itu berhenti melangkah, namun tak menoleh ke belakang.
"Kenapa kamu nangis?" tanya Clara panik ketika mengetahui air mata sahabatnya itu menetes. Ia mengusapnya namun malah menetes semakin deras. Tania berhambur ke pelukan Clara.
"Dia nggak cinta aku kak huuu....huuu....huuuu...."
Clara mengerti. Wanita itu pasti tengah berduka karena cintanya berakhir dengan pengkhianatan Aksa menikah dengan wanita lain. Hatinya ikut teriris melihat Tania seperti ini.
"Sabar, kadang cinta memang seperti ini. Ada yang terbalas dan ada yang tak terbalaskan. Ada yang tersakiti dan ada yang menyakiti. Kita nikmati saja, Tuhan pasti akan memberikan pengganti yang lebih baik dari Aksa. Aku yakin..." tutur Clara.
Tania mengangguk, "Semoga ya, kak. Insyaallah, aku rela melepasnya."
"Ehm, aku ke ruangan Aksa dulu ya, mau ngasih ini." Clara menunjukkan beberapa dokumen yang ia bawa tadi.
*****
Clara langsung menuju ke ruangan Aksa, dilihatnya Aksa juga tengah bersedih. Sebagai seorang sahabat layaknya Devano, Clara pun ikut sedih melihatnya. Ia menghampiri Aksa dan mengusap punggungnya.
"Nggak perlu sedih..." lirih Clara.
"Kamu melepasnya tapi kamu sendiri yang sedih? Apa kamu memiliki perasaan dengannya?" tanya Devano menatap lekat wajah sendu Aksa.
Aksa menggeleng, "nggak ada sama sekali. Aku hanya merasa gagal saja menjadi lelaki karena telah menyakiti hati wanita."
"Pikirkan baik-baik pilihanmu, ini bukan hanya sementara tapi untuk seumur hidup. Tania atau Aza," ucap Clara memberikan Aksa sebuah pilihan.
"Aza! Entah kenapa aku yakin kalau dia terbaik untukku." Jawaban Aksa membuat Clara senang karena ia sendiri juga yakin Aza adalah gadis yang baik dan cocok untuk Aksa. Tapi, di sisi lain, wanita itu juga sedih memikirkan Tania.
"Ini udah terlambat loh janjian sama fotografernya, buruan samperin Aza. Aku nggak ikut ya, Sa. Mau pacaran..." ucap Devano yang langsung merangkul Clara.
"Kebiasaan! Kirim alamatnya, aku berangkat sekarang!"
"Siap Pak Presdir! Hati- hati di jalan..."
*****
Aksa langsung menuju ke ruangan Aza, ia membuat karyawan lain ketakutan karena tak biasanya Presdir itu datang ke ruangan divisi keuangan.
Aksa mencolek bahu Aza dengan jarinya, tapi wanita itu hanya menepis dan tetap tertuju dengan grafik- grafik laporan keuangan perusahaan. "Diem dulu, Sar. Mentang- mentang kerjaanmu udah selesai gangguin aku gitu, ishhh..."
"Tinggalkan pekerjaanmu biar karyawan lain yang menggantikan. Jangan membuatku menunggu lama, Za."
Aza sontak menoleh karena mengenali suaranya. Bukan Sarah, tapi ternyata Aksa, "ngapain? Jangan ganggu deh, lihat tuh kerjaan masih numpuk."
Aksa menggendong paksa Aza, wanita itu memberontak dan berteriak tapi tak dihiraukan. Karyawan lain menatap aneh kepada mereka, ada hubungan apakah sebenarnya antara Aza dan Presdir mereka?
"Turunin!"
"Emang mau aku turunin kok." Aksa menurunkan tubuh Aza ketika sudah memasuki lift. Aza melipat tangannya di dada, merasa kesal karena kelakuan Aksa ini pasti akan membuat dirinya menjadi bahan omongan karyawan.
"Mau kemana?" tanya Aza ketika Aksa memasangkan seatbelt seperti biasa.
Aksa tak menjawab, ia langsung mengemudikan mobilnya karena benar- benar sudah terlewat setengah jam dari jam yang telah dijanjikan.
Lampu merah menyala, Aksa menggenggam tangan Aza yang matanya terpejam. "Jangan takut, ada aku..."
Aza tersenyum, ia mencoba membuka matanya dan menatap jalanan serta lampu yang masih berwarna merah. Genggaman tangan Aksa tak terlepas sampai mobil memasuki halaman parkir studio foto.
"Kamu mau foto aja pake ngajak aku segala!"
Aksa terkekeh, "kalau nggak ngajak kamu bukan foto prewedding dong namanya."
"Loh, kita mau..." ucapan Aza terhenti karena orang yang diajaknya berbicara sudah turun dan masuk ke studio.
Di sana, terlihat ada Aira, Keno, Mira, dan Maria yang siap menemani foto prewedding Aksa dan Aza. Sengaja tak melakukannya di luar karena waktu sangat singkat jadi tak ada kesempatan untuk mencari tempat lain.
"Loh, Aza mana? Kok malah nggak ikut sih, sayang?" tanya Mira.
Aksa langsung menoleh ke sampingnya, "Lohh Aza dimana?" Aksa malah bertanya, ia pun berlari keluar menuju mobilnya lagi.
"Anak kamu stress!" celetuk Keno.
"Kalau lagi kaya gitu anak kamu, bukan anak aku," jawab Aira.
"Enggak, anakku itu waras nggak kaya cowok tadi," ucap Keno menggelakkan tawa Mira dan Maria.
Di luar, Aksa tak mendapati Aza di dalam mobil. Ia celingukan mencarinya. Dan tiba-tiba ada yang berteriak memanggil namanya serta melambai- lambai ke arahnya.
Aksa menggelengkan kepalanya karena Aza malah duduk menikmati cilok dengan santainya.
"Aku pikir kamu kabur! Tau-taunya malah beli cilok, sini bagi..." Aksa mengambil tusukan cilok dari tangan Aza dan ikut menyantap cilok dengan saus pedas itu.
"Nggak mungkin kabur lah, nggak ada ongkos buat pulang. Kan aku nggak bawa dompet tadi."
"La terus ini ciloknya?"
"Ngutang dulu lah, nunggu kamu nyamperin aku baru bayar. Sini uangnya..." Aza menengadahkan tangannya meminta uang sepuluh ribu untuk membayar cilok.
Aksa menggelengkan kepalanya, Aza sangat menggemaskan rupanya. Ia menyodorkan uang lima puluh ribu ke tangan Aza yang sedari tadi memalaknya.
"Kebanyakan, Sa. Uang pas aja."
"Beli lagi, ciloknya enak. Beliin buat Papa, Mama, sama Oma berlipstick tebal juga."
LUCUNYA KENO GK TEGAS, CMA BSA KESAL KYK ORG BODOH..
TPI SANGAT BAGUS,, KLO JDI BESAN,, NNTI ENAK2 ALFA DEKAT LGI SAMA AIRA, KRN BESANAN JUGA BSA TERJALIN SKANDAL..
KYAK NOVEL SUAMIKU SAHABAT PACARKU, DN SEQUELNYE MY BROTHER, MY BELOVED, MY HUSBAND.. KRYA,OTHOR CINTYA..
DGN PNAMPILAN APA ADANYA, JUSTRU AKN AMAN AZA DRI PANDANGAN LAKI2...
SPRTI APA KMATIAN KITA, ITU HNYLALH SEBAB..
KPN, DIMANA, KRN APA, PSTI SEMUA YG BRNYAWA AKN MATI.. ITU SUNATULLAH.. DN TAKDIR YG TELAH MNJADI KETETAPN ALLAH..