Li Fengran tidak pernah menyangka jika setelah mati, dirinya akan pergi ke dunia lain dan menjadi peserta kompetisi pemilihan ratu. Untuk melarikan diri, dia mencoba yang terbaik untuk gagal, namun perbuatannya justru menarik perhatian Raja dan Ratu Donghao dan membuatnya terlempar ke sisi Raja Donghao.
Hidup sebagai pendamping di sisi Raja, Li Fengran berhadapan dengan tiga siluman rubah yang terus mengganggunya dan menghadapi konflik istana serta Empat Wilayah.
Akankah Li Fengran mampu bertahan di istana dan membuang niatnya untuk melarikan diri? Akankah ia mengabaikan kasih sayang Raja dan memilih mengamankan dirinya sendiri?
*Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TCQ 20: Sejarah Empat Wilayah
“Ibu Suri?” tanya Li Fengran tidak yakin.
Seingatnya, tidak ada Ibu Suri dalam komik asli tersebut. Mengapa tiba-tiba datang seorang Ibu Suri?
Li Fengran juga tidak pernah melihat atau mendengar tentangnya sejak dia tinggal di sini. Ia tidak tahu jika Nangong Zirui masih mempunyai ibu dan Donghao memiliki seorang Ibu Suri.
“Jangan bicarakan itu sekarang. Aku akan memanggilmu jika aku membutuhkanmu.”
Tahu akan situasinya, Li Fengran kemudian keluar dari Istana Qihua dan kembali ke Istana Changsun. Hal pertama yang ia lakukan adalah memanggil Xiang Wan dan memintanya memberitahu perihal Ibu Suri yang dimaksud Nangong Zirui.
Xiang Wan yang baru saja selesai merapikan istana merasa heran, namun tetap menceritakannya dengan antusias.
“Ibu Suri adalah ibu kandung Yang Mulia Raja. Dia dulunya adalah Selir Mu, selir yang paling disukai mendiang raja. Setelah mendiang raja memahkotai Yang Mulia sebagai pewarisnya, konflik perebutan kekuasaan terjadi. Saudara-saudara seayah Yang Mulia berusaha mencuri takhta dan pengadilan cukup kacau saat itu.”
“Dongchuan, Nanchuan, Beichuan, dan Zichuan kemudian sepakat menenangkan pengadilan dan menstabilkan kekuasaan. Walau Empat Wilayah selalu memperebutkan kekuasaan, tetapi mereka patuh pada keputusan Raja. Di balik keberhasilan itu, Selir Mu mengerahkan banyak usaha untuk meyakinkan keempat tuan besar.”
Sejarah itu adalah sebuah catatan kelam di masa lalu, yang menjadi titik hitam di hati Nangong Zirui. Tidak mudah baginya untuk duduk di kursinya saat ini.
Dia berbakat dan menonjol sejak kecil dan disukai ayahnya. Pada saat pengadilan kacau akibat penunjukkannya sebagai pewaris, empat penguasa wilayah atas usaha ibu Nangong Zirui meletakkan ketegangan sesaat dan menyokong Nangong Zirui.
“Setelah Yang Mulia naik takhta, Selir Mu menjadi Ibu Suri. Tapi, bahaya tidak berhenti sampai di situ. Empat tuan besar seakan melupakan perjanjian dengan SeIbu Suri dan mulai memperkuat pengaruhnya lagi. Ibu Suri marah, tapi dia tidak bisa bepergian seperti usia muda.”
“Tunggu dulu!” Li Fengran menyela. “Perjanjian apa yang sebenarnya dibuat Ibu Suri dengan empat tuan besar?”
“Nona, Empat Wilayah sebelumnya hanyalah negara bagian yang berada di bawah otoritas kerajaan. Itu seperti sebuah provinsi, namun lebih besar. Demi menyokong takhta, Ibu Suri bersepakat dengan empat tuan besar. Sebagai gantinya, Ibu Suri sepakat memberikan otoritas khusus kepada Empat Wilayah untuk pengelolaan pemerintahan.”
“Siapa sangka setelah beberapa tahun, selain Dongchuan, wilayah Nanchuan, Beichuan dan Zichuan meluaskan pengaruh dan kekuasaan dan hampir menyetarai pengadilan. Karena itulah, sekarang situasinya menjadi agak khusus.”
Li Fengran berusaha mencerna. Dongchuan, Nanchuan, Beichuan, dan Zichuan adalah empat negara bagian yang tunduk di bawah kekuasaan pengadilan Kerajaan Donghao.
Untuk menstabilkan situasi, para penguasanya setuju mendukung Nangong Zirui, namun mereka meraup lebih banyak keuntungan setelah Nangong Zirui naik takhta.
“Demi mempertahankan sebuah kursi, Ibu Suri rela mengambil resiko memecah negara. Apakah Yang Mulia mengetahuinya?” tanya Li Fengran.
“Yang Mulia tahu, tapi saat itu tidak berdaya. Setelah perlahan menjadi kuat, Yang Mulia kemudian menekan kekuatan Beichuan, Nanchuan, dan Zichuan sedikit demi sedikit. Pernikahan dan pemilihan ratu ini, adalah satu dari banyak langkah yang diatur Yang Mulia Raja. Beruntungnya Yang Mulia Ratu tahu dan bekerja sama membantunya.”
Walau Xiang Wan bodoh, tapi otaknya masih dapat digunakan untuk mengorek informasi dan sejarah di Kerajaan Donghao. Usianya lebih muda dari Li Fengran, namun dia memiliki pengetahuan yang lebih.
Itu karena Li Fengran adalah orang baru dan tidak mewarisi ingatan tubuh ini sebelumnya. Kisah fiktif dari sebuah komik, pada akhirnya menjadi sebuah kenyataan yang mulai mengganggu pikirannya.
“Tapi, mengapa Ibu Suri tidak terlihat sebelumnya?” tanya Li Fengran penasaran.
“Orang di sini bilang, Ibu Suri terlalu lelah memikirkan situasi istana dan pergi ke kuil untuk berdoa selama beberapa bulan. Mungkin, dia akan kembali dalam waktu dekat.”
“Apakah kita masih dapat hidup jika dia kembali?”
“Mengapa tidak? Bukankah kita tidak melakukan kesalahan?”
“Entahlah, aku hanya tahu perasaanku tidak enak tentang ini.”
Keberadaan Ibu Suri ini di luar prediksi Li Fengran. Berdasarkan cerita Xiang Wan, Li Fengran samar-samar dapat memahami seperti apa sifat Ibu Suri ini.
Dia melakukan segala cara untuk putranya. Jika tahu putranya mengangkat seorang Pemangku Pedang tanpa berdiskusi dengannya, Ibu Suri pasti marah besar.
Kematian Ling Sui pasti memicu keinginan orang-orang yang ingin meraup keuntungan. Calon ratu penerus, Shen Lihua dari Zichuan, adalah kandidat terpilih yang latar belakangnya sangat bagus.
Zichuan secara bertahap menjadi wilayah negara bagian nomor satu di antara empat wilayah lain. Jika mereka mendukungnya dan mempromosikannya sesegera mungkin, mereka akan dapat imbalan.
Menteri istana mungkin masih dapat diatas oleh Nangong Zirui, tetapi jika berhadapan dengan ibunya, itu belum tentu. Li Fengran dapat melihat keraguan dan rasa waswas pada wajah Nangong Zirui tadi. Itu artinya, Ibu Suri ini bukan orang yang mudah dihadapi.
Tiba-tiba, Li Fengran merasa dirinya akan segera mati lagi.
***
Keesokan harinya, kasim bawahan Wang Bi datang ke Istana Changsun di pagi buta untuk menyampaikan pesan.
Raja berpesan bahwa Pemangku Pedang harus segera pergi ke Istana Qihua dan mendampingi raja, karena pengadilan istana akan diadakan pukul tujuh pagi. Walau masih berduka, pemerintahan harus tetap berjalan.
Li Fengran masih bergelung di bawah selimutnya. Sepanjang malam tadi, dia tidak bisa tidur memikirkan Ibu Suri. Hatinya merasa khawatir.
Jika Nangong Zirui kesulitan menghadapinya, bagaimana dengan dia? Li Fengran tidak banyak tahu tentang dunia ini, dia takut menyinggung orang itu.
“Nona, ayo bangun! Jika kamu terus tidur, para pelayan itu akan menceburkanmu ke dalam bak mandi lagi!”
Xiang Wan menggoyangkan tubuh majikannya beberapa kali. Mendengar kata ‘bak mandi’, Li Fengran bernostalgia pada musim dingin hari itu. Dia terperanjat dan segera bergegas.
Dengan identitasnya saat ini, sangat normal baginya memasuki aula pengadilan. Pemangku Pedang adalah penamping raja, penasihat, kaki tangan dan pengwal pribadinya.
Statusnya menyetarai menteri dan merupakan pejabat wanita paling tinggi. Namun, Li Fengran tidak berharap itu akan sangat menyusahkannya.
“Kain putih masih menggantung, tanah pemakaman Ling Sui masih basah. Kalian benar-benar panutan!”
Sepanjang jalan menuju aula pengadilan, Li Fengran tidak berhenti menggerutu di belakang punggung Nangong Zirui. Raja di depannya memiliki tubuh jangkung dan kekar, kakinya panjang hingga langkahnya lebar.
Kaki Li Fengran pendek, dia tertinggal dan harus berjalan cepat untuk menyusulnya.
Menyadari wanita di belakangnya tertinggal dan menggerutu, Nangong Zirui berhenti melangkah. “Wang Bi, bukankah hari ini terlalu pagi?”
“Yang Mulia, ini sudah siang,” Wang Bi kebingungan.
Jelas-jelas hari sudah siang, bahkan terlambat untuk pergi ke pengadilan. Dia membayangkan wajah para menteri yang biasa ditemuinya berubah kesal dan bicara satu sama lain di dalam aula.
Nangong Zirui berdecak.
“Aku berkata bahwa ini masih terlalu pagi,” ulangnya. Wang Bi akhirnya mengerti setelah sudut mata Nangong Zirui melirik Li Fengran di belakangnya.
“Jika Yang Mulia mengatakan ini masih pagi, maka masih pagi.”
“Kalau begitu, tidak perlu terburu-buru ke pengadilan.”
Nangong Zirui memperpendek langkah kakinya, mengurangi temponya dan berjalan pelan. Barulah Li Fengran dapat mengejarnya dengan santai. Nangong Zirui sempat meliriknya dan melihat raut wajah Li Fengran berangsur-angsur membaik.
Wanita ini temperamennya tidak baik, tapi Nangong Zirui merasa itu cukup lucu. Setidaknya di pagi hari sebelum pertemuan, dia mendapat suasana hati yang baik dari melihat Pemangku Pedangnya.
Tidak lama kemudian, mereka memasuki aula pengadilan yang megah. Para menteri sudah menunggu dengan jubah pejabat negara dan sebuah papan pegangan kecil panjang di tangan. Semuanya berlutut memberi hormat dan mengucapkan salam berisi doa kepada Nangong Zirui.
Keagungan Nangong Zirui terpancar begitu dia memasuki ruangan megah ini. Dalam sekejap, segala temperamen aneh yang dilihat Li Fengran lenyap.
Setelah Nangong Zirui duduk di takhtanya, dia berubah menjadi sosok raja yang ditakuti. Auranya memancar begitu kuat, seolah-olah ada cahaya yang keluar dari tubuhnya. Untuk beberapa saat, Li Fengran terkesima.
Tatapan para menteri itu tertuju pada sosok Li Fengran yang berdiri tak jauh dari Wang Bi. Dekret pengangkatan Pemangku Pedang sudah berlalu dua minggu lalu, dan ini kali pertama mereka melihat Li Fengran memasuki aula pengadilan secara resmi. Sesuai dengan pengaturan, dia memiliki hak istimewa untuk menyaksikan rapat istana.
Situasi baik pada awalnya, namun perlahan memanas setelah beberapa menteri menyinggung soal pengangkatan ratu baru.
Mereka begitu bersemangat mengutarakan pendapat dan menekan Nangong Zirui. Saat Li Fengran melihatnya, Nangong Zirui menatap dingin dan enggan. Pria itu sesekali memijat pelipisnya sambil mendengarkan ocehan para menterinya.
“Kasim Wang, menteri-menteri rajamu pandai sekali bicara. Mengapa mereka tidak menjadi pendongeng saja?” bisik Li Fengran.
“Tuan Pemangku Pedang, menteri adalah pilar negara. Mereka terbiasa berdebat dengan Yang Mulia untuk urusan kenegaraan.”
“Tapi mereka sangat berisik.”
“Kamu harus membiasakan diri.”
Li Fengran masih memperhatikan. Perdebatan memuncak dan emosi Nangong Zirui perlahan tersulut. Seorang menteri yang entah siapa namanya mengatakan topik mengenai keturunan kerajaan dan mengaitkannya dengan masa depan, juga menyinggung soal tanggapan empat tuan wilayah jika upacara pengangkatan ratu baru tidak segera dilaksanakan.
“Kasim Wang, lihat, rajamu mulai marah. Cepat tenangkan dia!” ucap Li Fengran.
“Pada saat ini, kamu bertanggungjawab untuk menenangkannya,” sergah Wang Bi.
Li Fengran tidak mengerti, tapi tubuhnya tiba-tiba didorong ke depan oleh kasim muda tersebut. Seketika, ruangan menjadi hening.
Semua pandangan tertuju padanya, termasuk Nangong Zirui. “Pemangku Pedang, apa kamu punya pendapat?” tanya Nangong Zirui.
Li Fengran menatap semua orang bergantian. Sungguh, dia kesulitan mengatasi situasi canggung semacam ini. Mata orang-orang itu seperti anak panah yang menusuknya bersamaan, membuat tubuhnya menggigil kedinginan tanpa sebab.
Li Fengran melihat arogansi Nangong Zirui mengintimidasinya secara perlahan dan tidak disadari.