Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.
Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.
Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Morning war.
Sarah terbangun dari tidurnya saat dia merasakan sesuatu yang lembut dan lembab mengenai pipinya. Gadis itu membuka mata dan mendapati wajah pria yang semalaman ini memeluknya kini sudah berada di hadapannya sambil menciumi pipinya.
"Morning, Sar ... Nyenyak tidurnya?"
"M ... nyenyak, makasih. Kamu baru bangun?" Sarah tersenyum kecil. Matanya masih terasa berat.
"Sudah sejak jam enam tadi."
"Hah? Kenapa nggak bangunin aku?" Sarah bersiap untuk bangun karena di kepalanya sudah terlintas bahwa dia akan terlambat ke kantor, tapi Demian cepat-cepat menahan pundaknya.
"Nggak apa-apa. Aku rindu melihatmu tidur."
Rindu. Kata rindu pertama yang keluar dari bibir Demian untuk Sarah. Percaya tidak percaya perasaan Sarah melambung tinggi mendengarnya. Seluruh darahnya seperti naik ke atas kepala. Sensasi yang sama setiap kali mereka bersentuhan dan bercumbu kembali ia rasakan.
"Hm ..." Sarah memejamkan matanya lagi. Sejenak kejadian tadi malam terlintas lagi di benaknya. Pertengkaran kedua orangtuanya yang sebenarnya sudah sering ia dengar, namun tadi malam terasa sangat menyakitkan karena fakta yang tidak sengaja dilontarkan ibunya. Kepala Sarah mendadak jadi pusing lagi. Mood-nya pun kembali rusak.
"Mikirin apa? Masih pagi loh ..."
Sarah menatap kedua mata Demian. Pria yang entah bagaimana bisa datang di saat dia benar-benar butuh sandaran untuk menangis tadi malam. Demian seakan tahu dia sedang dalam masa kritis dan butuh pertolongan.
"Kamu kok bisa ke sini tadi malam? Ada perlu apa?" tanyanya pelan. Berharap Demian tidak tersinggung lagi dengan pilihan kata-katanya.
"Aku kangen kamu. Apalagi kemarin sore pulang kantor nggak pamit dulu."
Sarah berdecak kecil, "Habisnya kesel sama kamu. Malas aja bawaannya."
"Sampai sekarang masih kesal?"
Sarah mengangguk, "sampai kamu jujur kenapa menghindar dari aku."
"Kan kemarin udah nebak. Ya bener karena itu."
"Jealous sama Grasian?" tebak Sarah mengulangi.
"M ..."
Sejenak hening. Sarah menarik napasnya pelan, "Maafin aku ya?" katanya akhirnya.
"Untuk?"
"Ninggalin kamu sendiri ..."
"Kau menyesal karena aku jadi sakit karena kau pergi?"
Sarah mengangguk.
"Kau mau tau yang sebenarnya ingin ku dengar, Sar?"
"Apa?"
"Aku mengira kau menyesal sudah meninggalkan suamimu demi laki-laki lain ..."
Jantung Sarah berdenyut sakit mendengarnya. Bukan kali ini saja nada bicara Demian seakan serius tentang ikatan pernikahan mereka. Sudah berkali-kali dan awalnya itu membuat Sarah tidak nyaman karena baginya pernikahan mereka tidak serius. Dia juga waktu itu masih berhubungan dengan Grasian.
Tapi kenapa sekarang seperti ada yang meremas jantungnya mendengar nada kecewa dari Demian? Kalimat itu seperti mengandung kebenaran yang sudah menampar Sarah secara kasat mata.
Pelupuk mata gadis itu penuh lagi oleh kilatan kristal yang sesaat kemudian meluncur melewati batang hidungnya. Membuat Demian tersentak kaget.
"M ... maaf kalau kata-kataku salah, Sar ..." katanya terbata-bata. Dia tidak mengira Sarah akan menangis. Karena yang dia tahu gadis itu sangat cuek padanya dan tidak mungkin baperan.
"Enggak kok. Aku memang salah. Aku nggak akan ninggalin kamu lagi demi apa pun dan demi siapa pun."
Demian tidak langsung bereaksi. Kalimat Sarah masih belum memuaskan hatinya. Gadis itu belum berani mengerucutkan 'siapa pun'-nya itu menjadi 'Grasian'. Demian tahu dia belum bisa melupakan pria itu.
Demian mengulurkan tangannya untuk menghapus jejak air di wajah mulus Sarah, "jangan menjanjikan apa pun padaku, Sar. Karena kau akan dalam masalah jika mengingkarinya ..." katanya pelan. Matanya masih menikmati tatapan sayu Sarah.
"Masalah apa? Kau akan menceraikan aku?"
"Kau pengen banget cerai? Istri macam apa kau ini?" dengus Demian kesal. Ekspresinya langsung berubah dan membalikkan tubuhnya membelakangi Sarah.
"Eh bukan itu maksudnya ..." Sarah ingin menjilat ludah, tapi Demian sepertinya sudah ngambek. Sarah tersenyum usil.
Dia pun maju untuk menyusupkan tangannya ke dalam selimut dan memeluk pinggang Demian, lalu menempelkan tubuhnya di punggung hangat pria itu. Sontak Demian terkejut, ingin berbalik tapi dia membiarkannya dulu.
"Gimana tadi tidur sambil meluk aku ... sayang?" Sarah sengaja menjeda kalimatnya saat akan mengucapkan kata terakhir itu agar Demian benar-benar mendengarnya dengan jelas.
Benar saja, Demian langsung berbalik dengan ekspresi kaget di wajahnya.
"Kau panggil aku apa tadi?"
"Apa?"
"Katakan lagi Sarah!"
"Apaan? Aku nggak bilang apa-apa," Sarah menggoda dengan menghindari tatapan Demian dan membuang pandang ke sembarang arah.
"Bilang lagi, Sar. Aku pengen dengar," Demian sudah memeluk pinggangnya dengan agresif. Matanya sudah penuh dengan binar cinta yang meluap-luap.
"Bilang apa sih, Sayaaangggg?" Sarah mencubit pipi Demian pelan.
"Again."
"Demian sayang?"
"Aahhhh ... my heart, help!" Demian menyentuh dada kirinya sambil bertingkah seakan-akan dia sudah ditikam oleh panah asmara Sarah. Sarah cekikikan menahan tawanya. Kenapa dia sendiri juga bahagia mengucapkan kata-kata keramat itu? Rasanya seperti tepat sasaran saja.
"Kau lebay, Sayang. Awas asmamu kambuh loh!"
Demian menarik Sarah dalam pelukannya dalam-dalam, "I miss you, Sayang ..." ungkapnya akhirnya. Setelah semua hasrat menahan diri untuk tidak menelepon dan mengangkat telepon, atau untuk tidak mengirimi pesan dan membalas pesan, lalu mengabaikan seharian, akhirnya dia bisa mengungkapkannya secara langsung.
"Kangen tapi telepon sama chat ku selama kutinggal, diabaikan terus. Udah bela-belain susul ke Surabaya pun masih dicuekin juga. Kangen apanya?" protes Sarah. Tapi dia membalas pelukan Demian itu dengan cara yang sama.
"Aku marah. Kau benar-benar pergi demi Grasian."
"Maaf. Will never again, honey ..."
"Aku sudah bilang jangan berjanji. Aku akan lebih sakit jika kau mengingkarinya ..."
"Listen Demian sayang ..." Sarah membuat sedikit jarak antara mereka. Dia menatap mata Demian dengan intens, seakan ingin menunjukkan keseriusannya. "Aku menghampiri Grasian karena dia tidak punya siapa pun disampingnya. Kemarin aku sendirian di ruang tunggu. Keluarganya, Desty, tidak ada di sana. Meski pun dia mengira aku datang karena aku kekasihnya, tapi aku hanya datang sebagai temannya, Dem. Kau percaya aku?"
Ini seperti mimpi bagi Demian. Apakah Sarah benar-benar sudah tidak punya perasaan lagi terhadap Grasian? Apakah dia sedang menunjukkan lampu hijau untuknya? Kenapa Demian sangat bahagia sekarang?
"Sekarang aku hanya akan mengikuti arahanmu kapan aku harus memutuskan hubungan kami. Sejauh apa kau butuh aku bertahan di sisinya untuk investigasi itu?"
Demian masih bengong. Ini terlalu mendadak. Sarah sungguh tidak tertebak.
"Kau juga harus menjelaskan kenapa harus berpura-pura masih pacaran dengan Mba Amber? Childish sekali tau..."
"K ... kau tau dari mana?"
"Mba Amber yang bilang. Kalau enggak, aku mana mau nyusul ke Surabaya hanya untuk menjaga kekasih orang lain."
Demian tersenyum malu. Sejenak merasa bodoh dengan sandiwaranya dan Amber.
"Kau berbicara terlalu banyak sampai aku bingung harus menjawab dari mana dulu. Bagaimana kalau kau kasih jatahku dulu? Dua hari ini bibirku kering, nggak dibasahin."
Salah terbelalak, "Tadi pas aku tidur bukannya udah nyium-nyiumin aku ya? Nggak pamit loh!"
"Eh, nyadar?" lagi-lagi Demian malu karena ternyata aksinya disadari oleh Sarah.
"Nyadarlah, kenceng banget gitu nyiumnya. Tapi dibiarin aja. Daripada ngambek kalau aku amuk."
"Kalau sekarang, nggak akan ngamuk kan?"
"M ..."
Setelah mendapat lampu hijau dari Sarah, Demian pun menempelkan bibirnya di bibir gadis itu. Hanya menempelkan saja, sebentar. Lalu melepasnya lagi.
"Aku rindu, Sar. Padahal baru sehari doang pisah ..."
Sarah meraih pipi Demian, kini dia yang mengecup bibir suaminya itu sebentar.
"Nanti malam pulang ke apartemenku ya?" Demian mencoba menawarkan tinggal bersama dengan takut-takut.
"Nginap?"
"Bukan. Mulai sekarang tinggal bareng aku, Sar. Be my hundred percent wife, honey," bujuk Demian lemah. Hatinya benar-benar sudah terpaut pada gadis yang sudah dia kenal sejak kecil itu. Dia tidak bisa hidup sehari tanpa Sarah. Bahkan penyakitnya yang sudah lama dia lupakan mendadak kambuh karena rasa sesak yang memenuhi dadanya.
"Kenapa lebih romantis ngajak serumah bareng ketimbang ngajak nikah?" tawa Sarah kecil sudah dengan mata yang berkaca-kaca lagi. Dia sangat sensitif sekarang. Semua perkataan dan perbuatan Demian menyentuh lubuk hatinya dan membuatnya yakin jika dia juga menginginkan hal yang sama.
"Hahahaha ... iya ya? Aku memang payah. Maafkan aku, istriku ..."
Sarah menubruk dada Demian dan memeluknya dengan erat. Kenapa air matanya harus turun sekarang? Apa dia sebahagia itu??
"Baiklah, nanti aku kemas barang-barangku ya, sekalian pamit sama Mama Papa ..."
"Baik sayangku ..."
Setelah berpelukan cukup lama, Demian melepaskan dirinya lagi. Dia menarik dagu Sarah dengan lembut. Menempelkan bibirnya. Tidak ingin bermain kasar, hanya ingin membuat ciuman yang bisa menggetarkan semua sel-sel di tubuhnya dan Sarah.
Sarah menikmati buaian yang tercipta dari dua bibir yang saling bertaut. Tangannya mencengkeram punggung Demian dan menempelkan seluruh tubuhnya di dada bidang pria itu. Sungguh ini memabukkan. Pria itu selalu tau bagaimana caranya membuat Sarah lemas hanya dalam hitungan detik.
Demian seakan tahu keinginan Sarah. Dia berpindah ke atas tubuh gadis itu dan membiarkan Sarah merasakan seluruh berat tubuhnya, juga tonjolan adik kecilnya di bawah sana. Ciumannya yang lembut berubah semakin menuntut dan berhasil membuat Sarah menggeliat dan sesekali melengkungkan punggungnya.
"Demian ..." Sarah bahkan tidak sengaja mendesah memanggil nama pria itu.
"Iya sayang?"
"Geli ..." Sarah memang merasakan geli yang menjalari seluruh tubuhnya, apalagi karena Demian kini sudah beralih menciumi leher dan tulang selangkanya.
"Tapi kau suka?"
"Ssshhh ... suka ..."
Demian tidak sadar kini dia sudah menciumi kulit dada Sarah yang terbuka karena model 'V neck' baju tidurnya. Aroma tubuh Sarah membuat Demian mabuk dan ingin mengecap rasa yang lain. Tangannya tergoda untuk membuka dua kancing baju Sarah yang paling atas. Saat dia berhasil melakukannya, dia terkesiap dengan pemandangan yang ia dapat. Pemandangan yang bisa-bisa menggoyahkan Imannya saat ini.
"Sar, aku mau, boleh?"
"Dem ... aku juga mau. Tapi kita harus ngantor sayang ..."
"Nggak apa-apa, bossnya di sini sayang ..."
Sarah tertawa ditengah kesadarannya yang mulai menghilang. Bibir dan tangan Demian membuatnya terlena sampai kehilangan fokus hingga tak sadar menganggukkan kepalanya, memberi lampu hijau pada pria itu.
*****