Bertemu dengan cinta pertama di ajang reuni sekolah, menumbuhkan kembali cinta lama yang memang belum terkubur sepenuhnya.
Wirra yang masih berstatus sebagai seorang suami, nyatanya tidak bisa melupakan pesona seorang Meyta setelah bertemu kembali dengan wanita itu.
Bagaimana akhir kisah Wirra dan Meyta? Sudikah Meyta menjadi yang kedua dari seorang Wirra? Atau, wanita itu akan meminta Wirra untuk meninggalkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20 - Negosiasi
Meyta benar-benar merasa kecewa terhadap Wirra. Baru beberapa jam saja menjadi istri pria itu, Meyta sudah merasa Wirra sudah berbuat tak adil padanya.
Harusnya, di hari pernikahan mereka, Wirra terus berada di sisinya. Bukankah setiap pasangan pengantin baru biasanya seperti itu?
Namun, pada nyatanya, pria itu malah menghabiskan waktu bersama Anna— istri pertamanya.
Ditambah dengan sang mertua yang tak menyukai dirinya. Bukankah sudah seharusnya dia menyelesaikan hal yang baru saja dimulai sebelum semuanya berjalan terlalu jauh?
Menghabiskan seumur hidup dengan terus merasa tak adil, bukankah itu terlalu lama?
Meyta menatap tajam, tepat pada netra kecoklatan milik Wirra.
“Oke, kalau begitu aku akan ke depan dan membatalkan acara malam nanti. Sekalian ke pengadilan agama dan menyelesaikan semuanya!” ketus Meyta.
Meyta mau mengakhiri hubungan yang baru dimulai beberapa jam lalu itu.
Meyta kembali berbalik badan dan hendak meninggalkan Wirra di kamar pengantin yang bernuansa peach itu. Amarah lebih menguasai hati wanita itu dibandingkan hasrat dan rasa cintanya pada Wirra.
Namun, saat Meyta hampir menyentuh handle pintu kamar dan keluar dari ruangan itu, Wirra menahannya. Pria itu menarik lengan Meyta hingga wanita itu terjerembab ke dalam pelukan Wirra.
“Keras kepala kamu tidak berkurang sedikitpun, Mey. Kenapa kamu begitu keras kepala?”
Meyta tak mau membahasnya. Bahkan, wanita itu membuang wajah dan tak mau menatap Wirra.
“Sebenarnya aku suka sekali melihat kamu cemburu seperti ini. Tapi aku takut kalau melihat kamu marah,” ucap Wirra lembut. Pria itu bahkan membelai rambut Meyta.
“Baiklah sayang. Aku akan mengatakan pada Anna kalau aku akan bersama kamu selama tiga Minggu,” ucap Wirra. Setelah acara resepsi sederhana itu, Wirra akan meminta pengertian kepada Anna. Karena meminta pengertian kepada Anna jauh lebih mudah dibandingkan membujuk Meyta. Wanita itu memang keras kepala sejak dulu. Dan sejak dulu, Wirra memang tidak bisa menolak keinginan Meyta. Dia terlalu memuja wanita itu.
“Senyum dong,” bujuk Wirra. “Masa pengantin baru sudah cemberut seperti ini. Kita menikah belum sampai 4 jam loh, Sayang.”
“Baru beberapa jam menikah saja, kamu sudah membuatku sakit hati, Wir. Bagaimana nanti?!” ketus Meyta.
Wirra memeluk wanita itu lebih erat. “Aku minta maaf ya. Ke depannya aku akan lebih berusaha untuk tidak menyakiti hati kamu,” ucapnya.
“Kamu jangan pernah berbicara soal perpisahan, Sayang. Aku tidak akan melepaskan kamu lagi. Tidak akan pernah. Aku ingin kamu terus mendampingi aku hingga kita tua nanti, sampai maut memisahkan.”
Walau rasa amarah, kesal dan cemburu masih bersarang di diri Meyta, tapi karena Wirra akan tinggal bersamanya selama 3 Minggu, wanita itu pun memaafkan sang suami.
Wirra terus berada di sisi Meyta, setelahnya. Pria itu terus berusaha membalikkan suasana hati Meyta. Dan berkat itu, acara resepsi pernikahan mereka pun berjalan lancar. Walau tidak ada satupun keluarga Wirra yang hadir, acara resepsi itu berjalan dengan baik dan penuh kegembiraan. Senyuman terus terpancar di wajah Meyta. Begitu juga dengan Mutiara.
Melihat senyum sumringah sang ibu kandung, gadis kecil itu merasa lebih bahagia. Sudah lama dia tak melihat ibunya begitu sumringah. Gadis yang kini duduk di antara ibu kandung dan ayang sambungnya itu, kini menggandeng kedua memeluk erat lengan sang ibu.
“Rara bahagia sekali melihat senyuman Mama,” ujar gadis kecil itu.
Mendengar ucapan sang anak, tanpa disadari air mata Meyta pun menetes. Meyta mengecup puncak kepala Mutiara.
“Terima kasih sayang. Mama juga bahagia sekali memiliki anak sebaik kamu,” jawab Meyta.
Wirra yang menyaksikan interaksi antara kedua ibu dan anak itu, melihatnya dengan penuh haru. Pria itu pun turut merasa bahagia karena kini menjadi bagian keluarga dari kedua bidadari itu. Wirra ikut memeluk Meyta dan Mutiara.
Pria itu berjanji akan selalu membahagiakan Meyta dan Mutiara. Dia menyayangi kedua bidadari itu.
“Papa akan selalu berusaha membuat Rara dan Mama bahagia,” ucapnya. Bibir Mutiara semakin mengembang mendengarnya.
Selepas resepsi sederhana tapi meriah itu, Wirra langsung mengajak Meyta untuk menghabiskan masa bulan madu mereka ke sebuah hotel berbintang.
Meyta dan Wirra memang tidak merancang sebuah perjalanan jauh untuk merayakan masa-masa bulan madu itu. Bagi sepasang pengantin baru itu, sebuah kamar hotel yang nyaman, cukup untuk menjadi tempat bagi mereka melampiaskan hasrat menggebu.
Lima malam mereka menginap di sana. Meyta sudah menyiapkan beberapa gaun malam super seksi untuk dipakainya selama berbulan madu.
Seperti malam ini, walau sudah hampir tengah malam, Meyta keluar dari kamar mandi dengan gaun transparan berwarna merah menyala. Kontras sekali dengan kulitnya yang bening.
Dengan rambut tergerai, dan langkah kaki yang lambat, Meyta berjalan menghampiri Wirra yang kini menatapnya tak berkedip dari atas ranjang. Pria itu merasakan ada yang menggeliat dari bagian tubuhnya di bawah sana.
Meyta ... Pesona wanita itu memang begitu luar biasa. Hanya dengan menatap matanya saja, sudah bisa membuatnya tergoda. Walau Meyta tak lebih cantik dari Anna, tapi wanita itu mempunyai daya tarik se*ksu*al yang luar biasa.
Padahal dia sudah dua kali melihat tubuh polos Meyta. Tapi, entah mengapa, melihat Meyta dalam balutan gaun transparan super mini itu, membuat Wirra tercekat.
Dengan susah payah dia menelan ludahnya. Bahkan, Wirra hampir lupa cara bernapas. Celananya yang semakin mengetat di bawah sana, membuktikan bahwa pria itu ingin secepatnya bergumul dengan Meyta.
Namun, tampaknya, Meyta masih ingin bermain-main dengan suami barunya itu.
Wanita itu berjalan sangat lambat dengan senyuman yang menggoda. Meyta tak langsung merebahkan diri, wanita itu terlebih dahulu naik ke pangkuan Wirra dan mengalungkan tangannya pada leher pria itu.
Merasa ada sesuatu yang mengganjal saat dia duduk di pangkuan Wirra, Meyta pun melirik ke bawah.
“Kamu sudah siap ternyata,” lirih wanita itu.
“Sudah ready dari tadi,” jawab Wirra dengan suara berat. Pria itu langsung menghempaskan tubuh Meyta dan membuka lebar-lebar kaki wanita itu.
Wirra tak langsung menenggelamkan wajahnya di bawah sana. Walaupun bagian sensitif wanita itu hanya tertutup sehelai kain kecil, Wirra tak mau langsung melahapnya.
Pria itu mengikuti cara main Meyta. Menatap seluruh bagian tubuh wanita itu lalu mengelusnya. Wirra terus melakukan hal itu hingga Meyta memohon agar Wirra segera memberikan dirinya kepuasan.
“Wir ... Ayoooo,” rengek Meyta.
Wirra pun lantas langsung menenggelamkan wajahnya di bawah sana dan menyantapnya dengan sangat lahap. Berbeda sekali saat dia melakukannya pada Anna. Wirra benar-benar terlihat rakus, kali ini.
Meyta tak dapat menahan tubuhnya untuk tak melenting. Wanita itu juga tak dapat menahan diri untuk tak berteriak melampiaskan rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuhnya.
Wirra pun mulai membuka seluruh pakaian yang mereka kenakan. Dia tak ingin ada sehelai benangpun yang membatasi kulitnya dengan kulit Meyta bertemu.
Setelahnya, Wirra pun memasuki tubuh wanita itu dengan sekali hentakan.
siapa tau meya bisa didepak
ngapain inget dia terus