Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Mei Li masih memegang satu kuntum melati ketika Amy menerima panggilan dari Karl.
Layar ponsel Amy menyala dengan kode aman. Wajahnya yang semula tenang langsung berubah menjadi fokus kerja. Ia menyalakan pengeras suara setelah Mei Li memberi isyarat.
"Nona," suara Karl terdengar dari seberang, datar dan cepat. "Kami menemukan pintu masuk berikutnya. Stella Tan."
Nama itu menghapus sisa senyum di wajah Mei Li.
Melati putih diletakkan kembali ke kotak kayu.
"Bicara."
"Stella mengelola yayasan seni bernama Lentera Muda. Di atas kertas, yayasan itu memberi beasiswa untuk anak-anak pelukis muda. Kenyataannya, sebagian dana sponsor dialihkan ke perusahaan vendor milik temannya. Lukisan yang dijual di beberapa lelang amal juga dinaikkan nilainya dengan pembeli palsu."
Amy membuka laptop, menerima file yang dikirim Karl. "Berapa banyak?"
"Cukup untuk membuat sponsor besar menarik diri dan polisi masuk. Tapi itu belum semua."
Bella yang sedang berdiri di dekat jendela menoleh. "Ada lagi?"
"Ada kontrak endorsement palsu, pemerasan terhadap seniman muda, dan satu video dari apartemen pribadi. Bukan untuk publik umum. Tapi cukup untuk menghancurkan reputasi sosialnya kalau dipakai dengan tepat."
Mei Li tidak menyentuh laptop itu.
"Kita tidak menyebar video pribadi."
"Dipahami, Nona," jawab Karl cepat. "Saya sudah menandainya sebagai bukti tekanan, bukan materi rilis."
Amy melirik Mei Li, jelas menyetujui keputusan itu. Menghancurkan orang bukan berarti menjadi seperti mereka. Ada garis yang tidak perlu dilanggar untuk menang.
"Apa yang paling bersih untuk dibuka?" tanya Mei Li.
"Aliran dana yayasan," kata Karl. "Dokumennya rapi. Ada tanda tangan Stella sendiri."
Mei Li menatap melati putih di meja. Lembut, kecil, tidak bersalah. Lalu ia menatap angka-angka di layar yang menunjukkan uang beasiswa anak-anak berubah menjadi tas, liburan, dan pesta pribadi.
"Siapkan paket untuk sponsor. Jangan unggah ke publik dulu."
Amy mencatat. "Target?"
"Buat mereka menarik karpet dari bawah kaki Stella di depan orang banyak."
***
Di sebuah butik privat di Senayan, Stella Tan sedang mencoba gaun hitam yang harganya cukup untuk membayar biaya kuliah beberapa mahasiswa seni.
"Aku ingin yang ini dipakai untuk konferensi yayasan besok," katanya sambil berputar di depan cermin.
Asisten pribadinya, Livia, mengangguk cepat. "Bagus sekali, Mbak Stella. Sangat elegan."
Stella tersenyum puas. Setelah kematian Jasmine, keluarga Tan menjadi terlalu suram. Semua orang bicara soal pemakaman, polisi, media. Stella tidak suka suasana duka yang membuat orang lupa bahwa ia juga punya panggung sendiri.
Konferensi Lentera Muda besok akan menjadi kesempatan sempurna.
Ia akan bicara tentang kepedulian. Tentang generasi muda. Tentang seni sebagai penyembuh. Media akan memotret wajahnya yang sedih tetapi kuat. Sponsor akan memuji ketegaran keluarga Tan setelah tragedi.
Dan publik akan ingat bahwa keluarga Tan bukan hanya skandal.
"Pastikan media lifestyle duduk di baris depan," kata Stella. "Aku tidak mau wartawan kriminal berkeliaran."
"Baik, Mbak."
Ponsel Stella berdering. Felix Tan.
Ia mengangkat dengan malas. "Papa."
"Jangan membuat acara besok terlalu besar."
Stella mengerutkan kening. "Kenapa? Justru kita perlu mengalihkan berita buruk."
"Situasi belum aman."
"Karena Lim Mei Li?" Stella tertawa pendek. "Papa, aku bukan Jasmine. Aku tidak akan melakukan hal bodoh."
Di seberang, Felix terdiam sejenak. "Jangan meremehkannya."
"Aku tidak meremehkan. Aku hanya tahu dia belum punya urusan denganku."
"Semua orang bermarga Tan punya urusan dengannya sekarang."
Stella menatap bayangannya di cermin. Gaun hitam itu membingkai tubuhnya dengan sempurna. Ia terlihat mahal, anggun, dan tidak tersentuh. Persis seperti yang ia inginkan.
"Kalau dia datang," katanya, "aku akan menyambutnya dengan kamera."
Felix menghela napas kasar. "Stella."
"Papa, tenang. Orang seperti Lim Mei Li kuat di ruang gelap. Di depan kamera, dia harus mengikuti aturan."
Ia memutus panggilan sebelum Felix menjawab.
Livia menatapnya ragu. "Mbak yakin konferensinya tidak ditunda?"
Stella berbalik, senyumnya tajam. "Besok semua orang akan melihat siapa perempuan Tan yang masih bisa berdiri."
***
Malam itu, paket pertama tiba di meja direktur sebuah bank swasta yang menjadi sponsor utama Lentera Muda.
Paket kedua masuk ke surel kepala CSR perusahaan telekomunikasi.
Paket ketiga dikirim ke seorang kolektor seni yang selama ini diam-diam membeli karya hasil manipulasi Stella.
Tidak ada ancaman di dalamnya. Hanya dokumen, bukti transfer, nama vendor, tanggal, dan satu pertanyaan singkat:
Apakah institusi Anda ingin berdiri di samping ini saat konferensi pers besok?
Reaksi pertama datang sebelas menit kemudian.
Sponsor utama meminta pembicaraan darurat.
Reaksi kedua datang dalam bentuk panggilan panik dari manajer PR Lentera Muda kepada Stella, tetapi ponsel Stella sedang tidak aktif karena ia masih menikmati facial malam sebelum acara.
Reaksi ketiga datang dari kolektor seni yang langsung menghapus tiga unggahan lama bersama Stella.
Di ruang kerja Menteng Regency, Amy membaca semua notifikasi dengan tenang.
"Mereka bergerak cepat."
"Orang kaya paling cepat ketika reputasinya sendiri terancam," kata Mei Li.
Bella meletakkan tablet lain di meja. "Stella belum tahu."
"Biarkan dia tidur."
Amy menatap jadwal konferensi. "Besok jam sepuluh pagi. Lokasi Hotel Dharmawangsa."
Mei Li membuka kipas batiknya, lalu menutupnya lagi.
"Kirim satu kursi untukku."
"Atas nama?"
Mei Li menatap daftar sponsor yang mulai menarik diri satu per satu.
"Atas nama orang yang akan duduk di baris depan saat panggungnya runtuh."