NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Gala Dinner

Dewan Kesenian Jakarta mengadakan gala dinner di ballroom Raffles.

Sejak sore, Wijaya Mansion sudah lebih sibuk daripada biasanya. Stylist datang, gaun formal disetrika uap, sepatu disiapkan, dan Pak Hadi memastikan daftar alergen ke pihak hotel dua kali. Senja berdiri di depan cermin kamar, merasa dirinya seperti penari yang sedang menunggu musik dimulai, hanya saja panggung malam ini bukan lantai kayu.

Gaun yang dipilihnya berwarna biru gelap, potongannya sederhana dengan bagian leher tertutup dan punggung tidak terlalu terbuka. Elegan, kata stylist. Aman, kata Serena jika melihatnya nanti. Tetapi bagi Senja, gaun itu membuatnya bisa bernapas.

Rayhan masuk ke kamar saat stylist sedang memasang anting kecil di telinga Senja.

Stylist langsung menunduk. "Pak Wijaya."

Rayhan hanya mengangguk. Tatapannya jatuh pada Senja melalui cermin.

Untuk beberapa detik, dia tidak bicara.

Senja menunggu komentar. Terlalu sederhana? Terlalu pucat? Tidak sesuai dress code?

"Sepatunya terlalu tinggi," kata Rayhan akhirnya.

Stylist panik. "Kami bisa ganti, Pak."

Senja menghela napas kecil. "Rayhan."

"Kamu akan berdiri lama."

"Aku penari."

"Penari juga punya pergelangan kaki."

Stylist memegang sepasang sepatu cadangan yang haknya sedikit lebih rendah. Senja menatapnya, lalu menatap Rayhan melalui cermin.

"Kalau aku memakai ini, bukan karena kamu menyuruh," katanya.

"Tentu. Karena kamu punya akal sehat."

Senja hampir tersenyum.

Dia mengganti sepatu.

Namun sepuluh menit sebelum mereka berangkat, ponsel Rayhan berbunyi. Wajahnya berubah saat membaca pesan.

"Aku harus menerima call dari London."

Senja berhenti di foyer. "Sekarang?"

"Aku menyusul. Kamu berangkat dulu dengan Pak Hadi. Aku tidak akan lama."

Ada sesuatu yang jatuh pelan di perut Senja.

Dia tahu pekerjaan Rayhan penting. Dia tahu menjadi istri konglomerat berarti memahami panggilan bisnis yang datang tanpa menunggu suasana hati. Tetapi gala dinner ini berbeda. Ini dunia tari. Dunia yang seharusnya menjadi tempat dia lebih kuat. Justru karena itu, dia takut jika masuk sendirian.

Rayhan melihat perubahan wajahnya.

"Aku datang," katanya.

Dua kata.

Tidak manis, tetapi tegas.

Senja mengangguk. "Baik."

Di mobil, Pak Hadi berusaha menenangkan tanpa terdengar menghibur. "Tuan muda jarang terlambat kalau sudah berkata akan datang."

"Aku tahu."

Tetapi jarak dari Menteng ke Raffles malam itu terasa panjang.

Ballroom sudah ramai ketika Senja tiba. Lampu kristal memantulkan cahaya ke meja bundar, rangkaian anggrek putih dan ungu memenuhi sudut ruangan, dan musik gesek ringan mengalun di latar. Para tamu mengenakan gaun malam, jas, dan senyum yang terlatih.

Di sini, orang tidak hanya datang untuk seni. Mereka datang untuk dilihat mendukung seni.

Pak Hadi berhenti di luar ballroom. "Saya menunggu di lobby samping, Nyonya."

Senja mengangguk. "Kalau Rayhan datang..."

"Saya akan mengantar beliau ke meja."

Senja masuk sendirian.

Beberapa orang langsung menoleh. Ada yang mengenalinya dari charity luncheon. Ada yang mengenal cincin di jarinya. Ada yang tidak mengenalnya sama sekali tetapi mengenali nama Wijaya pada kartu tempat duduk.

Bisikan pertama datang dari dekat meja registrasi.

"Itu istrinya Rayhan?"

"Yang dari Liem itu?"

"Katanya anak angkat."

"Pantas acaranya kecil sekali waktu menikah."

Senja berjalan melewati mereka tanpa memperlambat langkah. Hak sepatunya lebih rendah seperti saran Rayhan, tetapi tetap cukup tinggi untuk membuat setiap langkah terdengar jelas di lantai marmer. Dia memusatkan perhatian pada napasnya, bukan pada kata-kata yang menempel di punggung.

Di dekat pintu ballroom, seorang perempuan paruh baya tersenyum kepadanya dengan sopan yang terlalu tipis.

"Nyonya Wijaya, ya? Rayhan tidak ikut?"

"Menyusul, Tante."

"Ah." Senyum perempuan itu melebar sedikit. "Semoga benar-benar menyusul."

Senja menjawab dengan senyum yang sudah dia latih sejak kecil: cukup sopan untuk tidak disalahkan, cukup kosong agar tidak memperlihatkan luka.

"Nyonya Wijaya?" seorang panitia menyambut. "Meja utama sebelah kanan, bersama Pak Budiman dan beberapa sponsor."

Pak Budiman.

Nama itu membuat Senja sedikit lega. Ketua asosiasi tari itu pernah menonton latihan Ko Jefri dan memberi komentar yang adil. Jika ada satu orang di ruangan ini yang melihatnya sebagai penari, bukan hanya istri Rayhan, mungkin dia.

Namun ketika Senja sampai di meja utama, kursi Rayhan masih kosong.

Kartu namanya berdiri di samping kartu Senja.

Kosong itu terlalu mencolok.

"Senja?" Pak Budiman yang berambut putih berdiri dari kursinya. "Saya hampir tidak mengenalimu. Kamu terlihat anggun malam ini."

Senja tersenyum tulus. "Terima kasih, Pak."

"Ko Jefri belum datang?"

"Masih di jalan, Pak."

Mereka berbincang singkat tentang program tari kontemporer dan rencana pertunjukan donasi. Senja mulai merasa lebih stabil. Kata-kata tentang tari membuat ruangan besar itu mengecil menjadi sesuatu yang dia pahami.

Lalu Serena datang.

Gaunnya silver, rambutnya disanggul tinggi, wajahnya sempurna. Di belakangnya ada dua perempuan dari arisan dan seorang wanita yang sering muncul di majalah sosialita.

"Senja," sapa Serena. "Sendirian?"

Pertanyaan itu cukup pelan untuk terdengar sopan, cukup keras untuk didengar meja sekitar.

Senja mempertahankan senyum. "Rayhan menyusul."

"Tentu." Serena melihat kursi kosong di sampingnya. "Pria sibuk memang sering menyusul."

Salah satu perempuan di belakangnya tertawa kecil.

Pak Budiman mengerutkan kening, tetapi sebelum dia bicara, Serena sudah menoleh kepadanya.

"Pak Budiman, senang bertemu. Saya Serena Liem. Adik Senja."

Adik.

Senja menahan napas.

Serena selalu pandai memilih kata yang membuat kebohongan terdengar seperti hubungan keluarga yang hangat.

"Oh," kata Pak Budiman sopan. "Selamat malam."

Serena menatap Senja lagi. "Keluarga sangat bangga Senja bisa hadir di acara seperti ini. Dulu dia hanya menari di sanggar kecil, sekarang duduk di meja sponsor. Hidup memang lucu, ya?"

Kalimat itu membuat beberapa kepala menoleh.

Senja bisa merasakan panas naik ke wajah, tetapi dia mengingat nasihat Rayhan.

Buat dia terlihat bodoh, bukan kamu terlihat marah.

"Sanggar kecil itu yang membuatku diundang Pak Budiman," jawab Senja pelan. "Jadi aku justru berterima kasih."

Pak Budiman tersenyum. "Benar. Sanggar Tari Jefri punya kualitas yang bagus."

Senyum Serena menegang.

Namun dia belum selesai.

"Tentu, tentu. Bakat tetap bakat." Serena menyentuh sandaran kursi Rayhan yang kosong. "Hanya saja, orang-orang mungkin penasaran. Apakah malam ini Senja hadir sebagai penari, atau sebagai Nyonya Wijaya?"

Pertanyaan itu jatuh seperti pisau yang dibungkus sutra.

Di meja utama, percakapan berhenti.

Senja melihat kursi kosong di sampingnya.

Rayhan belum datang sama sekali malam itu.

Jemarinya bergerak ke pangkuan, mencari sesuatu untuk digenggam, tetapi yang ada hanya kain gaun biru gelap yang dingin dan halus.

Dan untuk malam itu, seluruh ruangan tampak menunggu jawaban yang akan menentukan di mana mereka boleh menempatkannya, atau menyingkirkannya dengan sopan.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!