Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Hak Cemburu
Ayu tidak segera menjawab.
Raka masih membelakanginya, seolah tali kandang ayam itu adalah satu-satunya hal yang menyelamatkannya dari percakapan. Angin mengangkat kepala, melihat mereka berdua, lalu kembali menutup mata. Bahkan anjing itu tampak lebih tenang daripada dua manusia di samping kandang.
"Kak Raka," kata Ayu akhirnya.
"Maaf."
Kata itu keluar cepat.
Terlalu cepat.
"Saya tidak seharusnya bilang begitu," lanjut Raka. "Mbak Ayu bebas berteman dengan siapa pun. Saya tidak punya hak untuk merasa..."
"Cemburu?"
Raka terdiam.
Ayu melangkah sedikit mendekat, tapi tetap menjaga jarak. "Kak Raka yang bilang."
"Saya tahu." Ia akhirnya menoleh. Wajahnya tidak merah seperti saat Bayu menggoda, tapi lebih pucat. Lebih jujur. "Itu sebabnya saya minta maaf."
"Kenapa minta maaf karena jujur?"
Pertanyaan itu membuat Raka kehilangan jawaban.
Ayu menggenggam ujung selendangnya. Jantungnya berdetak tidak nyaman, tapi ia memaksa dirinya tidak kabur seperti malam Bayu bertanya. "Ayu tidak marah."
Raka menatapnya.
"Tapi Ayu juga tidak tahu harus menjawab apa sekarang."
"Tidak apa-apa."
"Kak Raka."
Ia berhenti.
"Jangan pakai kalimat itu lagi kalau sebenarnya tidak begitu."
Raka menunduk. "Iya."
Percakapan itu tidak menyelesaikan apa pun. Tapi ada yang berubah. Setelah kata cemburu terucap, mereka tidak bisa lagi kembali sepenuhnya ke tempat lama. Bahkan diam di antara mereka punya bentuk baru.
Malam itu, Raka tidak belajar terlalu lama. Ayu melihat lampu ruang belajar padam sebelum pukul sepuluh. Ia sendiri duduk di kamar dengan ponsel di tangan, membuka pesan Fajar yang berisi kontak pemasok kemasan.
`Ini kontaknya, Yu. Saya sudah bilang kamu mungkin akan menghubungi langsung. Semoga membantu.`
Tidak ada ajakan kopi.
Tidak ada kalimat yang membuatnya harus menolak lagi.
Ayu membalas, `Terima kasih, Fajar. Ini sangat membantu.`
Balasan Fajar hanya stiker jempol dan kalimat singkat: `Sukses terus untuk restorannya.`
Ayu merasa lega.
Keesokan paginya, ia menghubungi pemasok itu. Harga memang lebih bagus daripada yang selama ini ia pakai. Minimal pesanan besar, tapi cocok untuk baralek dan nasi kotak. Ia mencatat semuanya di buku usaha, lalu menunjukkan kepada Nenek.
"Kontak dari Fajar?" tanya Nenek.
"Iya. Untuk usaha, Nek."
Nenek mengangguk. "Fajar memang anak baik."
Ayu sudah siap menjawab, tetapi Raka masuk ke dapur membawa gelas kosong tepat saat nama itu disebut. Gerakannya tidak berhenti, tapi Ayu melihat jari-jarinya menegang di pegangan gelas.
Nenek juga melihat.
Tentu saja.
"Nak Raka, nanti sore kamu ikut Ayu ke gudang kemasan di Bukittinggi?" tanya Nenek tiba-tiba.
Ayu menoleh cepat. "Nek?"
"Kalau beli contoh kemasan, harus ada yang bantu angkat. Datuk lututnya sakit. Nenek tidak mungkin."
Raka menatap Ayu. "Kalau Mbak Ayu butuh, saya bisa ikut."
Ayu ingin berkata tidak perlu. Namun jika ia pergi sendiri ke Bukittinggi dengan alasan kontak dari Fajar, rumah ini mungkin akan terasa lebih rumit lagi.
"Boleh," katanya akhirnya. "Tapi Kak Raka ada jadwal belajar."
"Saya bisa tukar malam."
Nenek tersenyum puas. "Bagus. Pergi berdua. Beli kemasan, bukan perasaan."
Ayu hampir tersedak.
Raka memejamkan mata sebentar.
Perjalanan ke Bukittinggi sore itu terasa canggung pada awalnya. Ayu menyetir, Raka duduk di samping dengan daftar harga di tangan. Mereka berbicara soal ukuran kotak, bahan tahan minyak, jumlah minimal pesanan. Topik aman. Terlalu aman.
Namun ketika mereka sampai di gudang kemasan, semuanya menjadi lebih praktis. Raka membantu membandingkan harga per unit, memotret sampel, menghitung ongkos kirim, dan menanyakan apakah kotak itu aman untuk makanan bersantan. Ayu melihatnya kembali ke mode teliti yang ia sukai.
Pemilik gudang, seorang bapak paruh baya, bertanya, "Ini suaminya, Bu?"
Ayu dan Raka sama-sama terdiam.
"Bukan," jawab Ayu akhirnya, terlalu cepat.
"Oh, maaf. Saya kira karena cocok sekali cara kerjanya."
Raka menunduk ke sampel kotak.
Ayu pura-pura memeriksa tutup kemasan, tapi telinganya panas.
Di mobil, setelah mereka membeli beberapa contoh, Raka berkata pelan, "Mbak Ayu tidak perlu merasa tidak enak menjawab bukan."
Ayu menatap jalan. "Memang bukan."
"Iya."
"Tapi..." Ia berhenti.
Raka menoleh sedikit.
Ayu menggenggam setir. "Ayu tidak suka kalau jawabanku tadi membuat Kak Raka terlihat seperti orang asing."
Raka diam.
Kalimat itu menggantung di antara mereka, lebih berbahaya daripada semua pertanyaan Bayu.
Jalan Bukittinggi sore itu padat. Motor menyalip dari kiri, angkot berhenti tiba-tiba, dan pedagang jagung bakar mulai menyalakan arang di pinggir jalan. Ayu harus memperlambat mobil. Raka menatap ke luar jendela, tetapi dari pantulan kaca, Ayu bisa melihat wajahnya.
"Saya memang bukan orang asing?" tanyanya pelan.
Ayu hampir menjawab terlalu cepat. Ia menahan diri.
"Bukan."
Satu kata itu membuat Raka menoleh.
"Tapi saya juga bukan..." Ia berhenti, tersenyum tipis tanpa gembira. "Saya tidak tahu saya apa."
Ayu menggenggam setir lebih erat. Di luar, lampu lalu lintas berubah merah, memberi mereka alasan untuk berhenti. Mobil-mobil lain berderet di depan. Suara klakson jauh terdengar, tapi di dalam mobil, semuanya terlalu jelas.
"Kak Raka penting untuk rumah ini," kata Ayu.
Raka menatapnya.
"Untuk Nenek. Untuk Datuk. Untuk restoran." Ayu menelan ludah. "Untuk Ayu juga."
Kalimat terakhir keluar lebih pelan.
Raka tidak langsung bernapas.
Lampu berubah hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson pendek. Ayu tersadar dan kembali menjalankan mobil. Ia tidak berani melihat Raka lagi.
"Terima kasih," kata Raka akhirnya.
"Untuk apa?"
"Karena tidak membuat saya merasa seperti tamu yang waktunya tinggal menunggu selesai."
Ayu ingin berkata bahwa ia sendiri takut waktu itu selesai. Bahwa setiap jadwal ujian, setiap hari menuju SKD, setiap kemungkinan Raka diterima atau gagal, semuanya membuatnya sadar masa tinggal Raka di kamar nomor tiga punya batas yang tidak pernah benar-benar ia pikirkan.
Namun keberaniannya belum sepanjang itu.
Sebelum Raka sempat menjawab, ponsel Ayu berbunyi. Nama Fajar muncul lagi, kali ini dengan pesan baru.
`Yu, besok aku ada urusan di dekat Sungai Tanang. Kalau boleh, aku mampir sebentar untuk ambil invoice kemasan yang tadi kamu pesan. Biar sekalian aku bantu cek ke pemasok.`
Ayu membaca pesan itu, lalu menahan napas.
Raka melihat nama di layar.
"Mbak Ayu mau jawab sekarang?" tanyanya.
"Nanti saja."
"Dia mau mampir."
"Untuk invoice."
"Iya."
Jawaban Raka pendek, tetapi tidak setajam sebelumnya. Justru karena itu Ayu semakin tahu ia sedang menahan diri. Ia meletakkan ponsel menghadap bawah di konsol tengah, seolah dengan begitu nama Fajar tidak lagi berada di antara mereka.
Tentu saja tidak semudah itu.
Tidak.
Ia tidak berkata apa-apa.
Tapi tangan di atas lututnya mengepal pelan.