ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Saat kebingungan dan kekacauan masih melanda seluruh rumah, mata Adam tanpa sengaja tertuju pada pintu kamar di ujung lorong yang sedikit terbuka. Di balik celah pintu itu, terlihat sosok Adelia yang berdiri diam. Gadis itu baru saja terbangun karena mendengar keributan, dan kini berdiri terpaku mendengarkan semua yang terjadi dengan wajah penuh ketakutan.
Melihat wajah Adelia yang persis sama persis dengan Adelin, sebuah ide yang sekaligus menjadi jalan pintas kejam melintas di benak Adam. Matanya yang tadinya tampak kosong kini berubah tajam dan penuh tekad nekat. Ia segera berjalan cepat menghampiri pintu kamar itu, diikuti oleh Belinda yang mulai mengerti ke mana arah pikiran suaminya.
Adelia tersentak mundur saat melihat orang tuanya mendekat dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia memeluk dirinya sendiri erat-erat, merasakan ada bahaya besar yang sedang mendekat.
"Kamu harus menggantikan kakakmu," kata Adam dengan suara berat dan dingin, tanpa basa-basi sedikit pun.
Mata Adelia membelalak lebar tak percaya. Ia menggeleng kuat-kuat sambil mundur semakin jauh ke dalam kamar. "Apa? Tidak mungkin, Pa! Aku tidak bisa! Aku bukan Kak Adelin! Aku tidak tahu caranya bersikap seperti dia, tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Gyantara, apalagi di depan ribuan orang!"
"Kamu harus bisa!" potong Belinda dengan nada keras, lalu tangannya mencengkeram bahu Adelia erat hingga terasa sakit. "Wajah kalian sama persis! Dengan riasan tebal dan gaun pengantin itu, tidak ada satu pun orang yang akan membedakan kalian! Kamu hanya perlu berdiri di sana, tersenyum, dan mengikuti apa yang dikatakan orang lain! Hanya sampai upacara selesai saja!"
"Tapi ini adalah kebohongan yang sangat besar!" seru Adelia sambil menangis. "Aku akan menipu Gyantara, menipu semua orang yang hadir! Itu tidak benar! Nanti kalau ketahuan, semuanya akan hancur lebih parah lagi!"
"Ini bukan soal benar atau salah!" bentak Adam dengan amarah yang meluap. "Ini soal menyelamatkan nyawa keluarga kita! Kalau kamu menolak, kita semua akan jatuh miskin besok! Kamu mau melihat kami tidur di jalan? Kamu mau melihat ribuan orang kehilangan pekerjaan karena keegoisanmu? Selama ini kami sudah memberimu makan, memberi tempat tinggal, tidak pernah menyusahkanmu dengan urusan dunia luar! Sekarang saatnya kamu berkorban untuk kami!"
"Tapi aku tidak pernah meminta diperlakukan seperti bayangan!" balas Adelia lirih, air matanya mengalir deras membasahi pipi. "Selama ini aku diam saja, aku tidak menuntut apa pun. Tapi kenapa saat ada bahaya, kamulah yang selalu menyuruhku menggantikan Kak Adelin? Kenapa aku selalu jadi pilihan terakhir saat kakakku berbuat salah?"
Pertengkaran itu membuat Julian dan Tama yang baru saja datang berlari masuk ke kamar Adelia. Melihat sahabat mereka dipojokkan dan dipaksa melakukan hal yang tidak ia inginkan, mereka segera melangkah maju melindungi Adelia di belakang tubuh mereka.
"Paman, Bibi, kalian tidak bisa memaksanya begitu!" kata Julian dengan suara tegas namun sopan. "Ini menyangkut seluruh hidup Adelia. Ini menyangkut janji suci pernikahan. Kalian tidak bisa menjadikan dia alat penyelamat begitu saja tanpa memikirkan perasaannya."
"Ini urusan keluarga kami!" tolak Belinda kasar, matanya menatap tajam pada kedua pemuda itu. "Kalian bukan siapa-siapa di sini. Kalau tidak mau membantu, lebih baik kalian minggir saja! Kami akan membawanya sendiri ke kamar rias!"
Adam segera memberi isyarat pada pelayan yang berdiri di luar pintu. Dua orang pelayan segera mendekat, dan dengan ragu namun terpaksa, mereka menuntun Adelia yang menangis tersedu-sedu menuju kamar rias khusus. Adelia tidak berdaya melawan. Ia melihat sekeliling rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman baginya, namun di sini ia justru diperlakukan seperti benda yang bisa dipakai dan disuruh sesuka hati. Ia melihat wajah orang tuanya yang penuh keputusasaan, melihat Julian dan Tama yang hanya bisa menatap sedih karena tidak punya hak untuk melarang lebih jauh lagi.
Di dalam hati kecilnya, ia tahu bahwa menolak saat ini sama saja dengan mengusir dirinya sendiri selamanya dari rumah ini. Dengan langkah kaki yang berat dan hati yang hancur berkeping-keping, akhirnya Adelia duduk di kursi rias. Ia membiarkan tangan orang lain menyentuh wajahnya, mengubah penampilannya, menyamarkan setiap ciri khas dirinya hingga tak ada bedanya dengan Adelin. Saat menatap cermin, gadis di sana terlihat cantik dan sempurna, tapi matanya kosong dan penuh kepedihan yang tak terlukiskan.