Dilamar di hari pernikahan temannya, disaksikan ribuan pasang mata. Anggun merasa dia adalah orang yang paling bahagia di dunia ini kala itu. Namun sayangnya, siapa yang menyangka kalau rumah tangga mereka akan terancam oleh kedatangan orang ketika pilihan dari keluarga kandung yang tidak suka dengan kehadiran Anggun sebagai menantu keluarga mereka.
Akankah Anggun bisa tetap bertahan setelah badai besar itu datang? Bagaimana sikap Dion sang suami saat dihadapkan dengan kedatangan orang ketiga yang orang tua kandungnya pilihkan? Ikuti kisah mereka di sini yah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part *20
"Tunggu! Ini kamarku, bukan? Ini ... di rumah? Dengan siapa aku pulang ke rumah? Aku tidak mungkin pulang ke rumah bersama laki-laki lain, kan? Dari mana mereka tahu alamat aku?"
"Tidak! Tidak! Tidak."
"Aku tidak mungkin melakukan hal gila dengan orang lain. Tuhan .... "
Terlihat sekali kalau Anggun sedang sangat panik. Dia begitu kesal dengan dirinya sendiri sekarang. Dia sampai memukul-mukul kepalanya karena rasa kesal itu.
Namun, tiba-tiba Anggun melihat sesuatu. Ada jam tangan yang tergeletak di atas nakas sebelah sana. Nakas yang agak jauh dari tempat dia berada.
Jam tangan yang masih Anggun kenal dengan baik siapa pemiliknya. Siapa lagi yang punya jam itu kalau bukan Dion suaminya. Jam dengan edisi terbatas. Yang diberikan mama angkat Dion saat laki-laki berulang tahun.
Anggun langsung berusaha menggambil jam tersebut untuk memastikan kalau itu memang jam suaminya. Dia lihat jam itu dengan teliti. Benar saja, ada nama Dion di belakang jam tangan tersebut. Dion Prayoga.
"Ka--kak Dion? Ja--jadi ... aku pulang ke rumah ini bersama dengannya? Tidak mungkin. Bagaimana bisa aku dan dia bersama? Ini ... agh! Salahnya di mana coba?"
Walaupun merasa sangat marah dengan apa yang sudah terjadi. Tapi Anggun sudah bisa merasakan sedikit rasa lega akibat yang berhubungan dengannya bukan laki-laki lain seperti yang dia pikirkan sebelumnya.
"Ini sungguh tidak adil. Kau mendatangi aku saat kamu butuh saja. Aku ini bukan perempuan bayaran mu, kak."
Anggun masih menggerutu dalam kamar tersebut dengan posisi yang masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Sementara bi Ina sudah siap dengan sarapan yang dia masak untuk Anggun. Saat dia mendengar suara Anggun, dia langsung bergegas ke kamar untuk mengatakan soal sarapan yang sudah siap dia buat.
"Non Anggun! Apa non sudah bangun? Sarapannya sudah siap sekarang. Ayo sarapan dulu."
"Bibi."
"Iya, non. Ini bibi. Ayo sarapan!"
Anggun tidak langsung menjawab. Dia memikirkan sesuatu sampai akhirnya dia memilih untuk menyuruh bi Ina menunggu dirinya di meja makan.
"Tunggu aku di meja makan saja, bik. Aku belum mandi sekarang."
"Baiklah, non. Bibi tunggu ya. Jangan lama-lama."
"Iya, bik."
Kurang dari dua puluh menit kemudian, akhirnya Anggun siap membersihkan diri juga. Dia masih merasa kesal dengan semua yang terjadi, tubuhnya juga masih terasa cukup tidak nyaman akibat hal yang terjadi tadi malam.
"Non Anggun terlihat sangat segar pagi ini. Auranya sedikit berbeda deh, non."
"Apaan sih, bik. Aku tidak merasa seperti itu. Malahan, saat ini aku malah merasa sebaliknya."
"Mm ... siapa yang bawa aku pulang ke rumah tadi malam, bik? Apa bibi tahu?"
"Itu ... non Anggun benar-benar tidak sadar dengan apa yang terjadi tadi malam, non?"
"Apa maksud bibi?"
"Tidak ada maksud. Bibi hanya tahu kalau non mabuk, dan tuan muda membawa non pulang. Itu saja."
'Dan bibi buka kamar non, ternyata non masih tidur dengan suasana kamar yang berantakan. Apa lagi coba yang kalian lakukan di kamar, non-non.'
"Dari mana dia bisa tahu di mana aku berada, bik? Kenapa juga dia bisa datang ke klab malam itu? Apa ada yang menghubungi dia, bik?"
'Kalau bibi katakan tentang GPS yang tuan muda sembunyikan di ponsel non Anggun, non pasti akan membuang alat itu karena marah pada tuan muda. Ah, tidak bisa. Maafkan bibi yang harus pura-pura tidak tahu, non. Ini demi kebaikan non Anggun juga."
"Kalau soal itu, bibi gak tahu non. Hanya saja, bibi yang menghubungi tuan muda. Bibi bilang kalau non Anggun tidak ada di rumah sakit. Bibi tidak bisa menghubungi non. Tuan muda langsung meninggalkan rumah sakit untuk menemukan di mana non Anggun berada."
"Apa dia sepeduli itu sama aku, bik? Aku rasa tidak seperti itu kenyataannya. Dia peduli hanya ada maksud saja."
'Non Anggun. Tuan muda sangat peduli pada non. Hanya saja, tidak bisa menunjukkan secara langsung kepeduliannya itu. Kasihan sekali tuan muda.'
"Nah terus itu ... bagaimana dengan selirnya yang sakit akibat membenturkan diri di tembok? Apa masih bisa diselamatkan? Atau jangan-jangan sudah berpindah alam, bi? Makanya dia bisa datang nyari aku tadi malam."
"Itu .... "
"Ah, lupakan saja. Aku sedang tidak ingin membahas dia lagi. Biarkan saja dia mau apa."
"Oh ya, bik. Bagaimana keadaan mama sekarang ya? Apa mama sudah baik-baik saja? Aku ingin ke rumah sakit. Tapi tidak bisa sekarang. Soalnya ... aku .... "
Anggun menggantungkan kalimatnya. Sementara bi Ina yang seakan tahu apa kata-kata selanjutnya yang tidak Anggun ucapkan. Memilih langsung menjawab kata-kata itu tanpa menunggu Anggun selesai berucap.
"Tuan Dion pulang pagi ini kok, non. Jadi, dia gak akan ada di rumah sakit lagi sekarang. Non Anggun tidak akan bertemu tuan muda lagi di rumah sakit nanti. Datang saja, gak papa kok. Nyonya juga dari kemarin nanyain non Anggun."
"Bibi tahu dari mana kalau aku tidak bisa datang ke rumah sakit karena aku tidak ingin bertemu dengan kak Dion? Aku kan gak bilang gak bisa datang karena tidak ingin bertemu dengan kak Dion, bik Ina."
"Tapi, apa benar mama dari kemarin nanyain aku? Ah, ya Tuhan ... aku jadi melupakan mama hanya karena masalah dengan anak angkatnya itu."
"Ya susahlah kalau begitu. Aku langsung ke rumah sakit saja agar bisa jenguk mama. Kasihan mama yang tidak tahu apa-apa malah kena imbasnya."
Anggun berucap cepat sambil bangun dari duduknya. Sarapan yang dia makan masih tersisa setengahnya. Bi Ina yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepala tanpa bisa berucap sepatah pun.
****
"Apa? Anggun datang ke klab tadi malam? Dengan siapa?"
"Sendirian, Dirl. Tapi saat dia mabuk, kakak kamu datang kok buat jemput dia."
"Dia ... mabuk? Yang benar saja kamu kalo bicara, Ded. Mana mungkin Anggun mabuk. Biasanya kan, dia sama seperti istriku. Gak pernah nyentuh minuman keras walau datang ke klab malam."
"Ya ... itulah yang terjadi tadi malam. Aku juga tidak percaya kalau kakak ipar mu itu bisa memesan minuman keras. Saat aku tinggalkan, dia malah langsung meminumnya. Cari masalah buat diri sendiri. Setengah gelas saja sudah buat dia mabuk berat."
Dirly terdiam diujung sana. Panggilan vidio call itu tetap berlangsung. Tapi Dirly terlihat sedang memikirkan sesuatu sampai dia tidak langsung menjawab apa yang Dedy katakan.
"Dirl, sebenarnya bukan itu yang ingin aku katakan. Aku menghubungi kamu untuk bicara soal kakak angkat mu itu."
"Ded, kau sudah tahu kalau perempuan itu istri kak Dion? Maafkan aku yang tidak bisa berterus terang padamu waktu itu. Aku tidak bisa mengatakan padamu kalau kak Dion menikah dengan Anggun. Itu karena .... "
padahal tadi emosiku
sudah mengebuh_gebuh
sangat halal untuk di binasakan...
bakalan aku buat acara syukuran
besar_besaran😤
bangunkan sisi gelap
dan tujukan taring mu
SIALANG....
bangun dan buat perhitungan
BINATAN...
anak yg kau kandun mati sia² karna kegoisan mertua gila mu itu
jangan di biarka lolos begitu saja
PENGECUT🤬🤬🤬
iiihhsss emosi kali...
1- minta pengertian istri mu
2-nikahi si lonton itu
3-berakting sebaik mungking selama beberapa bulang...
4-Lumpuh kan mereka seumur hidup
percayalah gk ada lagi yg berani mengamcam😃
tapi kasian
si anggun yg tersiksa secara fisik dan bating
*SU
SETANG IBLIS 😤😤😤