"Seandainya Tuhan memberiku kesempatan untuk bisa melihat, aku ingin melihat wajahmu walau itu hanya satu hari saja," ucap Safira.
Demir yang dari kecil hidup tanpa cinta, membuatnya menjadi sosok yang dingin dan tidak percaya akan adanya cinta, tapi kehadiran seorang wanita bernama Safira bisa membuat Demir merasakan cinta yang selama ini dia rindukan.
Akankah Demir bisa menemukan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai Hidup Baru
🌻
🌻
🌻
🌻
🌻
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, Safira saat ini sudah pulang dari rumah sakit dan menjalani hari-harinya dengan suka cita.
Hubungan Bara dan Safira pun semakin dekat, Bara membiayai sekolah Safira karena waktu di Indonesia, Safira terpaksa harus berhenti sekolah.
Setelah Safira mendapatkan ijazah SMAnya, Safira pun melanjutkan kuliah karena Safira ingin bisa membahagiakan Mamanya.
Awalnya Safira disuruh kuliah kedokteran oleh Bara tapi Safira menolaknya karena Safira tidak mau sampai merepotkan Bara terus, apalagi biaya kuliah kedokteran itu sangat mahal.
Tok..tok..tok..
"Mas, waktunya sarapan!" teriak Safira.
"Iya, sebentar lagi aku turun."
Safira pun kembali menuruni anak tangga dan menunggu Bara turun, dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Bara pun turun juga.
"Ayo Den, sarapan dulu," seru Mama Ros.
"Wow, makanannya kelihatan enak-enak banget."
"Aku yang masak loh, Mas."
"Iyakah?"
Safira menganggukan kepalanya...
"Sepertinya pagi ini aku akan makan banyak ini," seru Bara.
"Habiskan saja Mas, tidak apa-apa."
Ketiganya pun langsung menyantap sarapannya.
"Fira, nanti malam aku mau ngajak kamu jalan, apa kamu bisa?" tanya Bara.
"Bisa dong Mas, apa sih yang gak bisa untuk Mas," goda Safira.
"Astaga, sudah mulai pandai ngegombal sekarang," seru Bara.
Safira terkekeh, begitu pun dengan Mama Ros yang tersenyum melihat kelakuan anak dan juga anak majikannya itu.
Setelah sarapan, Bara dan Safira pun berangkat bersama. Bara memang selalu mengantarkan Safira ke kampus terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah sakit.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Bara pun sampai di depan kampus Safira.
"Terima kasih Mas, sudah mau mengantarkan aku."
"Sama-sama," sahut Bara dengan mengusap kepala Safira.
Safira mulai merasa nyaman berada di dekat Bara, karena Safira merasa punya orang yang menyayanginya selain Mamanya. Tapi anehnya, perasaan yang Safira rasakan bukan perasaan sayang dan cinta antara seorang wanita kepada seorang pria, melainkan rasa sayang adik kepada Kakaknya.
"Nanti siang sepertinya aku tidak bisa menjemputmu, karena nanti siang aku ada jadwal operasi, tidak apa-apa kan kamu pulang sendirian?"
"Iya Mas, Fira bisa pulang sendiri kok."
"Ya sudah, jangan lupa nanti malam dan nanti akan ada orang yang mengantarkan baju ke rumah. Baju itu harus kamu pakai untuk nanti malam."
Safira mengacungkan jempolnya. "Siap Bos."
"Ya sudah, aku pergi dulu."
"Hati-hati Mas."
Setelah mobil Bara pergi, Safira tampak terdiam. Dia tahu apa yang akan Bara katakan nanti malam, dan Safira tidak tahu harus menjawab apa kalau sampai Bara menyatakan cintanya.
***
Malam pun tiba....
Saat ini Mama Ros sedang mendandani Safira..
"Kamu sekali, sayang."
"Terima kasih, Ma."
Mama Ros tahu kalau saat ink sedang ada yang dipikirkan oleh Safira, Mama Ros pun duduk di hadapan Safira dan menatap wajah anaknya itu.
"Ada apa? Sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Mama Ros.
"Ma, bagaimana kalau malam ini Mas Bara nembak Fira? Apa yang harus Fira katakan? Fira hanya menganggap Mas Bara seperti Kakak Fira sendiri gak lebih," sahut Fira dengan menundukan kepalanya.
"Apa kamu masih memikirkan Nak Demir?"
Safira mengangkat wajahnya dan menatap lekat wajah Mamanya itu, kemudian Safira menganggukan kepalanya.
"Fira, ini sudah lama berlalu dan mungkin saja Nak Demir sudah melupakanmu. Mama memang tidak mau memaksakan kehendakmu, tapi coba kamu pikirkan kalau selama ini keluarga Den Bara sudah terlalu baik kepada kita bahkan kamu bisa melihat dan melanjutkan kuliah karena kebaikan Den Bara. Apa kamu mau menyakiti hati yang sudah sangat banyak berjasa kepada kita? Mama yakin, cinta akan tumbuh dengan sendirinya belajarlah mencintainya walaupun itu terasa sulit."
Tin..tin...
Suara klakson mobil Bara sudah terdengar membuat Safira dan Mamanya menghentikan obrolannya. Bara memang tidak pulang terlebih dahulu, dia punya baju ganti di rumah sakit jadi dia langsung siap-siap dari rumah sakit.
"Den Bara sudah datang tuh, sana pergi jangan sampai membuat Den Bara menunggu."
"Kalau begitu Fira pergi dulu ya, Ma."
"Iya sayang."
Safira pun akhirnya menuruni anak tangga, perasaannya sungguh tidak menentu. Pintu rumah Bara terbuka, membuat Bara yang sedang mengotak-ngatik ponselnya langsung mengangkat kepalanya.
Bara tampak melongo melihat penampilan Safira yang sangat cantik malam ini.
"Ayo Mas, kita berangkat sekarang."
"Ah iya."
Bara pun membukakan pintu mobil untuk Safira, setelah itu dia pun masuk dan duduk di balik kemudi. Bara mulai melajukan mobilnyabke sebuah restoran yang sudah dia booking sebelumnya.
"Malam ini kamu cantik sekali, Fira."
"Terima kasih, Mas."
Tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka, Safira memilih memalingkan wajahnya ke luar jendela sedangkan Bara terus saja mencuri-curi pandang kepada Safira.
Beberapa saat kemudian, mobil Bara pun sampai di sebuah restoran mewah dan terkenal di Belanda itu, tempatnya sangat romantis. Bara mengulurkan tangannya ke arah Safira, dan tentu saja Safira pun membalas uluran tangan Bara.
Mereka masuk ke dalam restoran itu dengan bergandengan tangan, dan Bara membawa ke sebuah meja yang sudah terisi penuh makanan dan minuman juga.
"Kita makan dulu, setelah makan nanti aku ingin bicara sesuatu sama kamu," seru Bara.
Deg...
Jantung Safira terasa berdetak tak karuan, sungguh Safira bingung entah apa yang harus dia jawab nanti kalau seandainya Bara memang benar-benar mengungkapkan cinta kepadanya.
Safira begitu tidak bersemangat, hingga akhirnya Safira hanya makan sedikit.
"Kok kamu makannya sedikit?"
"Sudah kenyang Mas."
Makan malam romantis itu pun selesai, Bara menarik napasnya kemudian menghembuskannya secara perlahan.
Perlahan Bara menggenggam kedua tangan Safira membuat Safira tersentak kaget.
"Fira, awalnya aku memang tidak punya perasaan apa-apa sama kamu, tapi dengan seiringnya waktu dan kita selalu bersama, rasa cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Malam ini aku ingin mengungkapkan isi hatiku, dan niatku untuk menikahimu. Fira, maukah kamu menikah denganku dan menjadi pasangan hidupku?" seru Bara.
Safira tampak menelan salivanya dengan susah payah, benar saja hal yang paling Safira takuti akhirnya terjadi dan Safira sungguh bingung harus menjawab apa.
"Fira, kok malah melamun? Bagaimana, apa kamu mau menikah denganku?"
"Mas, aku kan baru saja masuk kuliah dan aku juga ingin fokus kuliah dulu, aku belum bisa menikah untuk saat ini, aku takut tidak akan bisa membagi waktu antara kuliah dan urusan rumah tangga," sahut Safira gugup.
"Tapi kamu mau kan, menerimaku menjadi kekasihmu. Aku akan menunggu kamu sampai kamu lulus kuliah, setidaknya untuk saat ini kamu mau menerima cintaku."
Safira terdiam, dia tampak berpikir kalau dia menolak cinta Bara, dia akan menjadi wanita paling jahat di dunia ini karena sudah tidak tahu berterima kasih. Tapi kalau dia menerima cinta Bara, dia telah mengkhianati Demir karena saat ini status dia masih menjadi pacarnya Demir dan belum putus.
"Maafkan aku Demir, maaf semoga kamu tidak membenciku," batin Safira.
Safira pun akhirnya menganggukan kepalanya dengan senyuman yang terlihat dipaksakan, berbeda dengan Bara yang tampak sangat bahagia.
"Terima kasih Fira, terima kasih. Aku akan setia menunggumu Fira sampai kamu lulus kuliah nanti," seru Bara dengan mencium tangan Safira.
"Iya Mas."
Safira pun memaksakan senyumannya, walaupun dalam hatinya ada perasaan bersalah kepada Demir.