Hai semua! selamat datang di karya keLima uma_bhie.
mohon perhatiannya, agar tidak melakukan bom like di lapak, Uma_bhie.
Lolly white. harus mengalami sebuah peristiwa memilukan, di saat dirinya harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan kedua adiknya dan pengobatan sang ibu yang sedang koma.
sebagai anak pertama, Lolly menjadi tulang punggung keluarga.
meskipun jiwanya rapuh, namun Lolly terus berjuang keras.
namun perjuangannya, harus di nodai sebuah peristiwa memilukan, yang membuatnya kehilangan sebuah kehormatan sebagai seorang wanita.
Hidupnya hancur seketika, dan berulang kali ia mencoba mengakhiri hidupnya.
Tapi, saat memandangi kedua adiknya, Lolly mencoba bangkit kembali dari keterpurukannya dan traumanya.
Di saat dirinya mulai bangkit kembali, dari depresi dan traumanya. ia harus, menerima kenyataan. kalau dirinya sedang mengandung benih dari seorang pria yang telah menghancurkan hidupnya.
akankah, Lolly menerima kenyataan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma_bhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Suara derap langkah kaki tergesa-gesa, terdengar di setiap koridor rumah sakit terbesar di kota Los Angeles.
Sepasang suami-istri yang berusia setengah abad itu, melangkah dengan raut wajah marah dan kecewa.
Di belakang mereka di ikuti langkah tertatih seorang wanita lanjut usia, yang dituntun oleh seorang pelayan. Wajah wanita lansia itu terlihat sedih pun kecewa.
Wajah wanita setengah abad itu semakin suram saat, melihat sosok tinggi menjulang di depan ruang ICU rumah sakit.
Segera saja ia mengambil langka panjang, untuk mendekati sosok pria tampan itu yang, wajahnya sudah penuh luka memar.
"Okusan!" Sela sang suami, ketika melihat sang istri mendahuluinya.
Wanita yang masih terlihat aura kecantikan dan ketegasan dalam dirinya itu, tidak menghiraukan teguran sang suami. Ia kini mengepalkan kedua buku-buku jarinya sehingga kuku-kuku jarinya tampak memutih.
Wanita tegas itu menyentakkan kasar pundak lebar pria muda itu dan dengan wajah brigasnya ia, melayangkan beberapa pukulan kuat di rahang tegas sang pria muda.
"Pecundang sialan! Bugh, bugh, bugh."
Dengan sekuat tenaga, wanita tegas itu, memberikan pelajaran telak untuk sang putra satu-satunya.
Sangat terlihat kemarahan dan kekecewaan di raut wajah tegas mommy dari lima anak kembar itu. Salah satunya, pria muda yang ia berikan pukulan kuat.
Deru nafas berat terlihat menyesak di dada wanita setengah abad tersebut, mata indahnya terlihat berembun yang menatap lekat dan nyalang kepada putranya yang kini terhempas di kursi.
Dengan tatapan kecewa dan sakit hati, nyonya Kim layangkan kepada Lion putra satu-satunya itu.
Ia kini meremas sekuat mungkin dadanya yang terasa nyeri, dan air mata wanita setengah abad itu sudah membasahi kedua sudut pipinya yang masih terlihat segar.
"Mommy, sangat kecewa kepadamu, nak. Mommy kecewa," gumam mom Kim dengan suara gemetar yang — menahan rasa emosi.
"Mom," lirih Lion tanpa bersuara, yang hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tidak berani, melihat wajah sedih sang mommy. Ia pun pasti akan merasakan kesedihan.
"Mommy, kecewa. Mungkin semua ini kesalahan, mommy, yang sudah gagal menjadi seorang mommy yang baik untuk kalian," Seloroh Kim, dengan nada sendu.
Wajahnya sudah di penuhi air mata dan suara serak bercampur isakan kecewa. Sang suami, hanya bisa merangkul pundak istrinya dan memberikan kecupan sayang.
Daddy Arthur pun sama kecewanya dengan sang istri saat, mengetahui perilaku buruk putra kebanggaannya itu.
Arthur kini menatap kecewa kepada Lion, saat bertemu pandang dengan sang daddy.
"Mungkin, ini kesalahan daddy. Karena terlalu memanjakanmu. Salah daddy yang gagal mendidik kalian. Daddy … adalah, seorang daddy yang buruk." Arthur pun mengeluarkan kekecewaannya sambil menatap wajah Lion.
"Mom. Dad." Lirih Lion kembali.
Tatapan Lion kini beralih kepada sang granny yang terus mengusap air matanya, granny hanya terdiam dan terus membuang pandangannya. Lion merasa granny Gabriela menjauhinya dan enggan menatap wajahnya.
"Granny!" Serunya lirih.
"Kami, kecewa, son." Timpal Arthur kembali.
Sedangkan Kim kini mendekati kedua adik Lolly di ujung sana, yang saling berpelukan dan saling menguatkan.
Sakura sendiri lebih memilih menjauh dari saudara kembarnya, emosinya tidak akan tertahankan apabila berada dekat dengan Lion.
"Maaf!" Ucap Kim penuh penyesalan.
"Maaf, atas kesalahan putraku," lanjut Kim yang kini menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Mom!" Sentak Lion tidak suka. Ketika sang mommy merendahkan dirinya di depan kedua adik Lolly.
"DIAM! Gertak Kim dengan mata tajamnya.
"Diamlah. Biarkan, mommy menanggung semua kesalahan yang kau lakukan," tutur Kim dengan suara serak.
"No, mom!" Geram Lion yang tidak kuasa melihat sang mommy yang menundukkan tubuhnya di depan kedua adik Lolly, yang hanya terdiam dan terus terisak.
Arthur hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan segala gejolaknya, ia pun tidak, tega melihat kerapuhan istrinya, atas perilaku buruk sang putra.
Granny pun hanya bisa menangis dalam diam, granny duduk di kursi tunggu dengan memunggungi sang cucu kesayangannya.
"Hentikan, mom. Jangan berbuat seperti itu. Mommy tidak pantas bersujud di kaki mereka." Geram Lion yang kini berada di dekat sang mommy. Berusaha meraih tubuh mommynya dan membawanya berdiri.
Namun dengan kasar, mommy Kim mendorong tubuh tegak Lion, dan memberikan tatapan yang sulit diartikan.
"Berarti, mommy pantas mati, atas perbuatanmu. Dan menanggung segala dosanya." Tekan Kim dengan wajah tegas.
"Mom!"
"Okusan!"
Seru Lion dan sang daddy, saat mendengar ucapan kecewa mommy Kim.
"Bangunlah, nyonya," pinta Luzi yang berjongkok dari meriah kedua pundak gemetar Kim.
"Benar, yang dikatakan tuan muda, kalau anda tidak, pantas bersujud di kaki kami. Karena kami hanyalah, seorang rendahan miskin." Imbuh Luzi yang meneteskan air mata kesedihannya.