Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Perhatian Diam-diam
Saat Rayhan kembali ke Jakarta, rumor drunk driving Serena sudah berputar di separuh lingkaran sosial mereka.
Senja mengetahui kabar itu bukan karena Serena menghubunginya, melainkan karena Papa Liem menelepon sejak pagi. Saat itu dia baru selesai minum ramuan Tante Lian, rasa pahitnya masih tertinggal di pangkal lidah.
"Kamu dengar soal Serena?" tanya Papa Liem.
Senja berdiri di dekat jendela kamar. "Pak Hadi semalam memberi tahu ada kabar."
"Itu cuma salah paham. Dia tidak mabuk. Rem mobilnya bermasalah."
Senja menutup mata sebentar.
Papa Liem selalu punya alasan sebelum orang lain punya pertanyaan.
"Syukurlah kalau tidak ada yang terluka," katanya.
"Ada motor yang jatuh, tapi tidak parah. Masalahnya, orang-orang mulai bicara. Kamu harus minta Rayhan membantu menutup berita ini."
Senja membuka mata. "Pa, aku tidak bisa meminta hal seperti itu."
"Dia suamimu."
"Justru karena dia suamiku, aku tidak bisa menyeretnya untuk menutup kesalahan Serena."
Di seberang, suara Papa Liem langsung mengeras. "Jaga bicaramu. Serena kakakmu."
Kakak.
Senja menggenggam tirai. "Serena bukan kakakku."
Kalimat itu keluar pelan, tetapi cukup membuat Papa Liem terdiam.
Untuk beberapa detik, Senja sendiri terkejut. Dia belum pernah mengucapkan itu dengan jelas.
"Kamu mulai lupa diri," kata Papa Liem dingin.
"Aku hanya tidak ingin berbohong."
Telepon diputus.
Senja menatap layar ponsel yang gelap. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena takut saja, tapi karena ada sesuatu yang aneh di baliknya. Sesuatu seperti napas pertama setelah terlalu lama menunduk.
Dia turun ke ruang makan dengan perasaan campur aduk.
Rayhan sudah duduk di sana.
Senja berhenti di ambang pintu.
Pria itu mengenakan kemeja abu-abu gelap, koper kecil masih berada di dekat foyer. Sepertinya dia langsung pulang dari bandara. Rambutnya sedikit lebih berantakan dari biasa, tetapi wajahnya tetap dingin.
"Kamu sudah pulang," kata Senja.
"Jelas."
Jawaban itu membuat rasa canggung kembali.
Pak Hadi menarik kursi untuk Senja. "Tuan muda baru tiba dua puluh menit lalu."
Rayhan menatap mangkuk di depan Senja. "Sudah makan?"
"Belum. Baru mau."
"Ramuan Tante Lian diminum setelah makan, bukan sebelum."
Senja berkedip. "Kamu tahu?"
"Pak Hadi melapor."
Tentu saja.
Senja duduk. "Tadi Papa Liem menelepon. Aku jadi lupa makan dulu."
Rayhan meletakkan sendok. "Soal Serena?"
"Iya."
"Dia minta apa?"
Senja menatap bubur di depannya. "Memintaku bicara padamu."
"Untuk menutup berita?"
Senja mengangguk kecil.
"Kamu jawab apa?"
Dia ragu. Setelah beberapa hari bersama Rayhan, Senja tahu pria itu tidak suka urusan yang berbelit. Jadi dia memilih jujur.
"Aku bilang aku tidak bisa menyeretmu untuk menutup kesalahan Serena."
Rayhan menatapnya beberapa detik.
"Bagus."
Satu kata itu membuat Senja mengangkat wajah.
Rayhan melanjutkan makan seolah tidak mengatakan sesuatu yang aneh.
"Kamu tidak marah?" tanyanya.
"Kenapa aku harus marah karena kamu tidak membuatku membereskan masalah orang lain?"
"Papa Liem mungkin akan marah."
"Itu masalah Papa Liem."
Jawaban itu begitu sederhana sampai Senja hampir iri. Di dunia Rayhan, masalah bisa dipisah dengan garis tegas. Di dunia Senja, semua garis selalu ditarik melingkar di lehernya.
"Tapi kalau berita itu membesar, nama Liem akan terseret," katanya.
"Dan?"
Senja terdiam.
Rayhan menatapnya. "Keluarga Liem menyerahkanmu ke pernikahan ini untuk keuntungan mereka. Itu tidak berarti kamu harus menjadi pemadam kebakaran setiap kali Serena menyalakan api."
Kalimat itu keras.
Tetapi untuk pertama kalinya, kekerasan Rayhan tidak diarahkan kepadanya.
Pak Hadi yang berdiri tidak jauh pura-pura sibuk menuangkan teh.
"Aku tidak ingin ada korban yang ditekan," kata Senja pelan.
"Kalau ada korban, polisi yang mengurus."
"Keluarga Liem mungkin..."
"Senja."
Dia berhenti.
"Makan dulu."
Nada itu masih perintah. Namun setelah semua percakapan tadi, perintah itu terasa seperti cara paling kaku yang dimiliki Rayhan untuk menghentikan pikirannya berlari terlalu jauh.
Senja mengambil sendok.
"Berapa banyak kamu makan kemarin?" tanya Rayhan tiba-tiba.
"Apa?"
"Kemarin. Sarapan, makan siang, makan malam."
Senja menatapnya bingung. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Karena kamu hampir pingsan dua hari lalu dan masih suka menjawab 'baik' untuk semua hal."
Dia tidak bisa menyangkal.
"Sarapan sedikit. Siang... roti dari Lara. Malam sup."
"Sedikit seperti apa?"
"Rayhan."
"Jumlah."
Senja menghela napas. "Setengah mangkuk bubur. Setengah roti. Beberapa suap sup."
Wajah Rayhan menjadi lebih dingin.
"Itu bukan makan. Itu mencicipi."
"Aku tidak lapar."
"Tubuhmu tidak peduli kamu lapar atau tidak."
Kalimat itu mengingatkannya pada Tante Lian. Senja ingin tersenyum sedikit, tapi menahan.
"Aku sedang makan sekarang."
"Habiskan."
"Aku akan coba."
"Bukan coba."
Senja menatapnya. "Permintaan?"
Rayhan terdiam.
Pak Hadi menunduk semakin dalam.
Beberapa detik kemudian, Rayhan berkata kaku, "Ya. Permintaan."
Senyum Senja muncul sangat kecil, hampir tidak terlihat. Dia segera menunduk dan menyuap bubur agar Rayhan tidak melihat terlalu jelas.
Namun Rayhan melihatnya.
Setelah sarapan, Rayhan masuk ke ruang kerja. Senja bersiap ke sanggar. Saat dia melewati foyer, Pak Hadi menyerahkan kotak makan kecil.
"Untuk setelah latihan, Nyonya. Bubur kacang hijau tanpa kacang tanah dan roti telur. Sudah sesuai catatan Tante Lian."
Senja menerima kotak itu. "Pak Hadi yang menyiapkan?"
"Dapur yang menyiapkan."
"Atas perintah Rayhan?"
Pak Hadi tersenyum sopan. "Tuan muda hanya bertanya kenapa kotak makan Nyonya belum siap."
Itu berarti iya.
Senja memegang kotak itu lebih erat.
Di ruang kerja, Rayhan berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka, mendengar suara langkah Senja menjauh.
Ponselnya bergetar. Pesan dari asistennya masuk.
Update awal: kendaraan Serena Liem memang keluar dari lounge Senopati pukul 22.18. Ada saksi melihat ia minum. Korban pengendara motor sudah dibawa ke klinik.
Rayhan membaca pesan itu, wajahnya kembali dingin.
Dia mengetik balasan singkat.
Pastikan korban tidak ditekan keluarga Liem. Semua biaya medis dibayar tanpa memakai nama Senja.
Pesan balasan dari asistennya masuk hampir seketika.
Apakah perlu bantu pihak Liem meredam media kecil?
Rayhan menatap kalimat itu dengan mata tanpa suhu.
Tidak. Kalau ada laporan polisi, biarkan berjalan sesuai prosedur. Aku hanya ingin korban aman.
Dia berhenti sebentar, lalu menambahkan satu kalimat.
Dan cari tahu siapa yang menyebarkan foto mobil itu pertama kali.
Serena Liem bukan urusannya. Tetapi setiap kali nama perempuan itu bergerak, bayangannya selalu jatuh ke Senja lebih dulu. Rayhan tidak menyukai pola itu.
Pola seperti itu biasanya berarti seseorang sedang dijadikan tameng hidup.
Setelah pesan terkirim, dia menutup ponsel.
Di luar, mobil yang membawa Senja ke sanggar mulai bergerak.
Rayhan tidak menoleh ke jendela, tetapi dia mendengar suara mobil itu sampai menghilang di ujung halaman.