"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Cerita 15 Tahun
Mereka tidak kembali tidur malam itu.
Setelah angin balkon membuat jari Wenny semakin dingin, REYN membawanya masuk ke kamar. Ia mengambil sepasang kaus kaki bersih dari laci dan berjongkok di depan Wenny tanpa banyak bicara.
Wenny refleks menarik kaki. "Aku bisa sendiri."
REYN mendongak. Matanya masih merah, tetapi suaranya sudah sedikit lebih stabil. "Tadi kamu lari tanpa sandal ke kamarku. Biarkan aku melakukan satu hal yang masuk akal."
Kalimat itu terlalu serius untuk sebuah kaus kaki.
Wenny akhirnya membiarkannya.
REYN memakaikan kaus kaki itu dengan hati-hati, seolah telapak kaki Wenny adalah bukti bahwa ia benar-benar datang. Setelah itu, ia duduk di lantai di depannya, bersandar pada sisi ranjang. Wenny turun dari ranjang dan duduk di sebelahnya, selimut tipis menutupi bahu mereka berdua.
Lampu meja masih menyala.
Gelang persahabatan di pergelangan kiri REYN terlihat jelas.
"Kamu tidak harus cerita semuanya sekarang," kata Wenny.
REYN menatap gelang itu. "Kalau tidak sekarang, aku takut akan menemukan alasan untuk diam lagi."
Wenny menggenggam tangannya.
Ia tidak berkata apa-apa.
Itu cukup untuk membuat REYN mulai.
Ia bercerita tentang Qiu Mei dengan suara yang sangat pelan. Tentang seorang perempuan yang pernah terlalu banyak dilukai orang lain, lalu pergi sebelum sempat benar-benar menjadi tempat pulang bagi anaknya. Ia tidak merinci. Wenny tidak memaksa. Ada luka yang tidak perlu dibuka dengan pisau hanya untuk membuktikan bahwa luka itu nyata.
Lalu ia menyebut Hendra.
Nama itu membuat jemari REYN mengeras di tangan Wenny.
"Dia yang memberiku nama lama itu," katanya. "Katanya hidupku membawa sial. Katanya aku hanya beban. Kalau aku menangis, dia bilang nama itu cocok untukku."
Wenny merasakan tenggorokannya panas.
Ia ingin marah. Ingin bertanya bagaimana orang dewasa bisa memberi anak kecil nama sekejam itu. Ingin mencari Hendra saat itu juga dan menuntut semua tahun yang hilang. Tetapi REYN sedang berbicara, dan yang paling ia butuhkan malam ini bukan kemarahan Wenny yang meledak, melainkan tangan yang tetap memegangnya.
Maka Wenny hanya menggenggamnya lebih erat.
"Aku benci nama itu," lanjut REYN. "Tapi waktu kecil, aku tidak tahu apakah aku boleh membencinya. Semua orang memanggilku begitu. Jadi kupikir mungkin memang itu aku."
Wenny menggeleng cepat. Air matanya jatuh lagi.
"Bukan."
REYN menoleh padanya.
"Aku tahu sekarang," katanya. "Karena kamu pernah bilang begitu."
Kamar menjadi sangat sunyi.
REYN bercerita tentang hari di lokasi sinetron. Tentang nasi dingin, sambal, mi yang menggumpal, dan kotak bekal kuning yang tiba-tiba didorong ke depannya oleh anak perempuan berkepang dua. Ia mengingat bau nasi hangat. Ia mengingat stiker matahari. Ia mengingat bagaimana Wenny tersenyum dengan dua lesung pipi dan membuat dunia yang selalu abu-abu tiba-tiba punya warna.
Ketika ia sampai pada bagian Wenny sesak napas, suaranya hilang.
Wenny menunggu.
REYN menunduk, mencengkeram lututnya dengan tangan bebas. "Aku pikir aku membunuhmu."
"Rahmat..."
"Aku tahu sekarang itu alergi. Aku tahu itu bukan salah anak kecil yang tidak mengerti makanan. Tapi saat itu, aku melihatmu pucat, semua orang panik, dan Hendra menatapku seolah semua memang salahku. Aku membawa kotak bekalmu sampai ke rumah sakit. Aku bahkan tidak berani masuk."
Wenny melepaskan tangannya sebentar, lalu memeluk lengan REYN dengan dua tangan.
"Kamu masuk," katanya. "Kamu datang."
"Karena kamu memanggilku."
"Aku senang kamu datang."
REYN menatapnya, seperti kalimat sesederhana itu pun butuh waktu untuk dipercaya.
Ia lalu bercerita tentang gelang. Tentang bagaimana benda kecil itu menjadi hal pertama yang ia miliki bukan karena disuruh, bukan karena bekerja, bukan karena ia harus membayar balik. Wenny mendengarkan sambil menyentuh simpul pudar itu berkali-kali.
Setelah mereka terpisah, REYN melihat Wenny di televisi.
Tahun 2012.
Wenny kecil berdiri di panggung penghargaan, mengangkat piala, dan berkata kepada kamera bahwa ia ingin bertemu di puncak.
"Aku masih ingat persis," kata REYN. "Kamu tersenyum terlalu lebar sampai mikrofon hampir menutup wajahmu. Semua orang tertawa. Tapi aku tidak."
"Kenapa?"
"Karena aku merasa kamu sedang bicara padaku."
Wenny menutup mata.
REYN tertawa kecil, malu dan getir sekaligus. "Bodoh, ya?"
"Tidak."
"Aku menjadikan kalimat itu alasan untuk hidup lebih lama."
Wenny membuka mata.
Kali ini, tangisnya jatuh tanpa suara.
REYN menceritakan 2014, saat Steven Lim menemukan suaranya dan menawarkan jalan keluar lewat Polar Star Entertainment. Ia masih empat belas tahun. Kontrak itu panjang, keras, dan pembagiannya tidak adil. Sembilan puluh untuk perusahaan, sepuluh untuk dirinya. Tetapi bagi anak yang tidak punya jalan lain, angka sepuluh pun terlihat seperti pintu.
"Aku tidak tahu harus negosiasi," katanya. "Aku hanya tahu kalau aku tetap di sana, aku tidak akan punya masa depan."
Wenny mendengar tanpa menyela.
Enam tahun berikutnya adalah Korea, ruang latihan, suara pelatih yang keras, kaki yang lecet, tubuh yang tumbuh terlalu cepat dalam disiplin yang tidak memberi ruang untuk sakit. Jay ada di sana, menjadi satu-satunya teman yang cukup tahu kapan harus bercanda dan kapan harus diam. Setiap malam, REYN menyimpan gelang itu di pergelangan kiri dan mengulang satu kalimat.
Bertemu di puncak.
"Lalu kamu debut," kata Wenny pelan.
REYN mengangguk. "Dengan `Lesung Pipi`."
"Surat untukku."
"Surat yang tidak berani kukirim."
Wenny menatapnya.
REYN menghela napas. "Aku takut kalau kamu tidak ingat. Aku juga takut kalau kamu ingat. Aneh, kan?"
"Tidak."
"Kalau kamu tidak ingat, berarti aku satu-satunya yang hidup di masa lalu. Kalau kamu ingat, aku takut kamu hanya akan melihatku sebagai anak yang perlu diselamatkan."
Itu luka yang sama.
Luka yang selalu membuat REYN mundur tepat saat Wenny ingin mendekat.
Wenny mengangkat tangan dan menyentuh pipinya. "Dengar aku."
REYN menoleh.
"Aku menangis karena kamu terluka. Aku marah karena ada orang yang membuatmu berpikir namamu adalah kutukan. Aku sedih karena kita kehilangan lima belas tahun." Suara Wenny bergetar, tetapi matanya tidak berpaling. "Tapi itu bukan kasihan."
REYN tidak berkedip.
"Aku tidak datang malam ini untuk menyelamatkan anak kecil di sudut set," lanjut Wenny. "Aku datang karena aku menemukan orang yang selama ini membuatku merasa pulang, bahkan sebelum aku tahu siapa dia."
REYN menggenggam ujung selimut.
Wenny menarik napas.
"Bukan kasihan," katanya, menekan setiap kata supaya tidak ada celah untuk salah paham. "Aku benar-benar menyukaimu. REYN atau Rahmat, kamu yang utuh."
Selama beberapa detik, REYN hanya menatapnya.
Lalu sesuatu di wajahnya berubah.
Bukan senyum panggung.
Bukan senyum kecil yang biasa ia pakai untuk menyembunyikan luka.
Senyum itu muncul pelan, tidak percaya, rapuh, lalu semakin nyata. Seolah otot wajahnya baru belajar bahwa bahagia tidak harus langsung dicurigai.
Di luar jendela, warna langit mulai memudar dari hitam ke biru pucat.
Cahaya pertama menyentuh sisi wajah REYN.
Wenny melihatnya tersenyum tanpa pertahanan untuk pertama kalinya.