**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Suasana pesta di Kediaman Utama Dirgantara semakin hangat seiring malam yang kian larut. Alunan musik klasik dari petikan harpa memenuhi aula besar, berbaur dengan suara denting gelas dan obrolan formal para konglomerat.
Namun, di sudut aula yang agak temaram, dua pasang mata menatap ke arah meja utama dengan kilat kebencian yang mendalam. Mereka adalah Rendy dan ibunya, Tante Melinda. Setelah dipermalukan secara terbuka oleh Tuan Besar Abraham, harga diri mereka benar-benar hancur.
"Ibu, kita tidak bisa membiarkan jalang miskin itu merangkak naik begitu saja," bisik Rendy, sepupu Devan yang selama ini berambisi merebut posisi CEO. Tangannya mengepal erat di dalam saku celananya. "Kalau anak di kandungannya lahir, Kakek pasti akan memberikan seluruh sisa saham utama Dirgantara Group kepada Devan!"
Tante Melinda tersenyum kecut, matanya melirik sebuah botol pipet kecil berpipa kaca yang tersembunyi di dalam tas jinjingnya. "Ibu tahu, Rendy. Karena itu, Ibu sudah menyiapkan 'hadiah khusus' untuk merayakan kehamilannya. Cairan pencahar rahim dosis tinggi buatan pasar gelap. Cukup dua tetes, dan dalam satu jam, pewaris masa depan itu akan lenyap menjadi genangan darah."
Rendy terkesiap, namun sedetik kemudian seringai licik muncul di wajahnya. "Bagaimana cara Ibu memasukkannya? Devan dan Kakek tidak pernah melepaskan pandangan dari wanita itu."
"Kakekmu baru saja memanggil Devan ke ruang kerja privatnya untuk menandatangani dokumen penting. Ini kesempatan kita. Pergilah dan alihkan perhatian Sofia serta para pelayan," perintah Melinda dengan nada mendesak. "Cepat!"
---
Di meja utama, Devan baru saja berdiri setelah mendapat bisikan dari Yudha. Pria itu menoleh ke arah Alya, menatapnya dengan pandangan yang melembut.
"Alya, Kakek memanggilku ke ruang kerja atas sebentar. Hanya sepuluh menit. Kamu tunggu di sini bersama Ibu, ya?" ucap Devan sembari mengusap kepala Alya dengan sayang.
Alya tersenyum hangat dan mengangguk. "Iya, Devan. Pergilah, aku aman di sini bersama Nyonya Sofia."
"Panggil Ibu saja, Sayang. Jangan terlalu formal," sahut Sofia dengan senyum keibuan yang tulus. "Devan, pergilah. Ibu akan menjaga menantu dan cucu Ibu dengan baik."
Setelah Devan melangkah pergi bersama Kakek Abraham, Rendy segera menjalankan rencananya. Ia berjalan mendekati Sofia dengan wajah yang dibuat-buat panik.
"Bibi Sofia! Astaga, gawat! Di luar, koleksi tanaman anggrek langka milik Bibi yang baru dikirim dari Belanda tidak sengaja tersenggol oleh salah satu tamu hingga potnya pecah!" seru Rendy dengan nada dramatis.
Sofia langsung terperanjat dari kursinya. "Apa?! Anggrek Wulan Belanda-ku?! Astaga, bagaimana bisa?! Alya, Ibu ke depan sebentar ya, Sayang. Pelayan, tolong jaga Nyonya Muda dengan ketat!"
"Iya, Ibu. Silakan diurus dulu," jawab Alya.
Dengan kepergian Sofia, perhatian para pelayan teralihkan untuk membantu membersihkan kekacauan di luar. Celah kecil itu langsung dimanfaatkan oleh Tante Melinda. Ia memberi kode kepada seorang pelayan baru yang sudah ia ancam sebelumnya untuk membawakan nampan berisi minuman baru untuk Alya.
Di atas nampan perak itu, sebuah cangkir kristal berisi jus delima segar—minum kesukaan ibu hamil—tampak berkilau. Di dalamnya, dua tetes cairan tak berwarna dan tak berbau telah menyatu sempurna dengan kepekatan warna merah jus.
"Nyonya Muda," ucap pelayan itu dengan tangan yang sedikit gemetar, menyodorkan cangkir kristal ke atas meja di depan Alya. "Ini jus delima segar pesanan Nyonya Sofia untuk Anda sebelum beliau ke luar tadi."
Alya menatap cangkir itu, tangannya baru saja terangkat hendak mengambilnya. "Oh, terima kasih—"
*DEG!*
Belum sempat jemari Alya menyentuh gagang cangkir, sebuah sentakan hangat yang sangat pekat dan mendadak mendidih meledak dari dalam rahimnya. Rasa hangat itu berubah menjadi alarm bahaya spiritual yang bergetar hebat di seluruh saraf tubuhnya.
Di dalam kepalanya, suara Baby El bergaung dengan nada yang sangat melengking, penuh dengan kemarahan berskala penuh yang sanggup meruntuhkan langit-langit aula. Janin ajaib itu benar-benar murka!
> *[IBU! JANGAN SENTUH! CANGKIR ITU BERACUN!]*
> *[Kurang ajar! Wanita tua keriput itu benar-benar sudah bosan hidup! Dia berani memasukkan racun kimia perusak plasenta ke dalam minumanku?! Dia ingin membunuhku sebelum aku sempat melihat dunia bisnismu, Ayah?!]*
Alya tersentak, tangannya langsung ditarik kembali ke haribaan. Wajahnya seketika memucat, matanya menatap tajam ke arah cangkir kristal merah di depannya. "El... kamu serius? Jus ini beracun?" batin Alya dengan jantung yang berdegup kencang.
> *[Seratus persen akurat, Ibu! Spektrometer spiritualku mendeteksi zat aborsi dosis tinggi di dalamnya. Jika kau meminumnya setetes saja, aku harus mengeluarkan energi besar untuk menetralkannya. Tapi tidak apa-apa, Ibu... tikus tua itu sedang memperhatikan kita dari balik pilar sana dengan senyuman menjijikkan.]*
> *[Mari kita beri dia pertunjukan sulap gratis. Ibu, ambil cangkir itu sekarang. Jangan diminum, cukup pegang dan tatap Tante Melinda!]*
Alya menarik napas dalam-dalam. Keberaniannya bangkit seketika demi melindungi buah hatinya. Ia meraih gagang cangkir kristal tersebut, mengangkatnya sedikit, lalu memalingkan wajahnya langsung ke arah pilar tempat Tante Melinda sedang mengintip.
Melinda yang melihat Alya memegang cangkir itu langsung melebarkan senyum kemenangan di wajahnya. *'Minum, jalang kecil! Minum dan rasakan bayimu hancur!'* batin Melinda bersorak.
Namun, senyuman Melinda mendadak membeku ketika mata jernih Alya mengunci pandangannya secara tepat dari kejauhan. Alya tidak meminum jus itu. Ia justru tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tampak sangat dingin dan penuh misteri.
> *[Kunci koordinat spiritual selesai! Transfer kutukan balik... aktif!]*
> *[Rasakan ini, Tante Tua yang jahat! Apa pun yang kau siapkan untuk menghancurkan rahim Ibuku... kini akan kuhantamkan langsung untuk menghancurkan seluruh organ dalammu tanpa sisa!]*
*BZZZZT!*
Sebuah denyutan tak kasatmata memancar dari cincin giok di ibu jari Alya, melesat lurus menembus udara aula dan menghantam tepat di ulu hati Tante Melinda.
*Glek!*
Tante Melinda mendadak melebarkan matanya hingga hampir keluar dari rongganya. Gelas sampanye di tangan kirinya langsung jatuh dan hancur berantakan di atas lantai. *PRANK!*
"Ugh... a-akh!" Melinda mencengkeram perutnya sendiri dengan kedua tangan. Wajahnya yang semula penuh riasan tebal langsung berubah warna menjadi abu-abu kebiruan dalam hitungan detik.
Rasa sakit yang luar biasa dahsyat—seperti perutnya sedang disayat oleh belati berkarat dan dibakar oleh api kompor—membuatnya jatuh berlutut di lantai marmer, menjerit histeris.
"Ibu?! Ibu kenapa?!" Rendy yang baru kembali dari luar langsung panik melihat ibunya berguling-guling di lantai dengan mulut yang mulai mengeluarkan busa putih. "Tolong! Panggil ambulans! Ibu saya keracunan!"
Kegaduhan besar seketika pecah di dalam aula pesta. Para tamu berteriak panik dan mundur menjauh.
Pada saat yang sama, langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar dari arah tangga utama. Devan dan Tuan Besar Abraham berlari turun dengan wajah yang dipenuhi ketegangan. Insting Devan langsung membawanya melesat ke arah meja utama, menabrak beberapa kerabat hingga hampir terjatuh, demi mencapai sisi Alya.
"Alya!" Devan langsung merengkuh tubuh Alya ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Napasnya memburu, matanya memeriksa setiap inci tubuh istrinya. "Kamu tidak apa-apa?! Apa yang terjadi?!"
Alya membalas pelukan Devan dengan tenang, kepalanya bersandar di bahu kokoh sang CEO. "Aku tidak apa-apa, Devan. Aku tidak meminum apa pun. Tapi... cangkir ini..." Alya menunjuk ke arah cangkir kristal jus delima yang masih berdiri utuh di meja.
Tuan Besar Abraham berjalan mendekat dengan wajah yang memerah padam menahan amarah yang luar biasa. "Yudha! Bawa tim medis internal dan periksa isi cangkir itu sekarang juga!"
Yudha yang baru datang langsung mengambil cangkir tersebut dengan sarung tangan khusus, meneteskan sejenis cairan indikator kimia ke dalamnya. Dalam hitungan detik, jus merah itu berubah warna menjadi hitam legam dan mengeluarkan bau menyengat.
"Lapor Tuan Besar, Tuan Muda..." suara Yudha terdengar bergetar rendah karena kemarahan. "Jus ini mengandung racun pencahar rahim dosis tinggi tingkat militer. Jika Nyonya Muda meminumnya... akibatnya akan sangat fatal bagi janin."
*BRAAAK!*
Tuan Besar Abraham memukul meja makan dengan tongkat naganya hingga kayu jati tebal itu retak. "SIAPA?! Siapa berani melakukan hal sekeji ini di rumahku?!" raung sang kaisar tua dengan mata elang yang memancarkan aura membunuh.
Di lantai seberang, Tante Melinda masih mengerang kesakitan, tubuhnya kejang-kejang dengan busa yang semakin banyak keluar dari mulutnya.
"Rendy..." bisik Devan, suaranya terdengar sangat rendah, tenang, namun memiliki tekanan yang sanggup membuat jantung siapa pun berhenti berdetak. Ia melangkah maju, melepaskan pelukannya dari Alya sejenak untuk menatap Rendy yang sedang gemetar memeluk ibunya. "Jelaskan padaku, mengapa ibumu mendadak mengalami gejala keracunan yang sama persis dengan efek zat yang ada di dalam cangkir ini?"
Rendy menggeleng kepala dengan wajah pucat pasi. "T-tidak... Devan, aku tidak tahu! Kami tidak melakukan apa-apa! Ibu mendadak sakit!"
"Bohong!" seru salah seorang pelayan baru yang tadi mengantar minuman, tiba-tiba berlutut di depan Abraham seraya menangis ketakutan. "Tuan Besar, ampun! Tante Melinda yang memaksa saya! Beliau mengancam akan memecat seluruh keluarga saya jika saya tidak mengantarkan jus beracun itu kepada Nyonya Muda!"
Mendengar pengakuan itu, seluruh aula seketika senyap bagaikan kuburan.
Tuan Besar Abraham menatap Melinda dan Rendy dengan pandangan kejijikan yang mutlak. "Melinda... Rendy... kalian berdua benar-benar sampah keluarga! Mulai detik ini, hapus nama mereka dari silsilah keluarga Dirgantara! Sita seluruh aset, rumah, dan saham yang mereka pegang atas nama perusahaan!"
"Dan Yudha..." Devan menambahkan, suaranya sedingin es kutub utara. "Biarkan wanita itu menahan rasa sakitnya sampai sistem sarafnya rusak total. Setelah itu, serahkan mereka ke sel tahanan bawah tanah kepolisian atas kasus percobaan pembunuhan berencana terhadap pewaris sah Dirgantara Group. Jangan biarkan mereka melihat matahari lagi seumur hidup."
"Baik, Tuan Muda! Segera dilaksanakan!" jawab Yudha dengan tegas. Beberapa pengawal langsung menyeret Melinda yang sudah setengah sadar dan Rendy yang terus menangis histeris keluar dari aula pesta.
Setelah kekacauan mereda, Devan kembali berjalan ke arah Alya. Ia tidak mempedulikan pandangan puluhan kerabat lainnya. Pria itu langsung berlutut di depan Alya, meraih kedua tangan istrinya yang mungil dan mengecupnya berkali-kali dengan penuh rasa bersyukur yang teramat sangat.
"Maafkan aku, Alya... aku meninggalkanmu sendirian lagi," bisik Devan, matanya menatap Alya dengan lekat, memancarkan rasa protektif yang kini telah berubah menjadi cinta yang mendalam.
Alya tersenyum manis, mengelus rahang tegas Devan dengan lembut. "Aku tidak sendirian, Devan. Aku memiliki pelindung kecil yang sangat hebat di dalam sini. Dia... selalu menjagaku."
> *[Hmph! Tentu saja, Ayah! Selama aku ada di sini, tidak akan ada satu pun racun atau senjata yang bisa menyentuh Ibuku. Tapi... energi spiritualku terkuras lagi karena membalikkan kutukan tadi. Ayah Siaga Super Premium... malam ini kau harus memeluk Ibu lebih erat lagi di penthouse untuk mengisi ulang energiku, oke?]*
Mendengar bisikan Baby El yang kembali sombong namun menggemaskan, Devan diam-diam mengulas senyuman tipis yang sangat menawan di balik jemari Alya. Ia berdiri, lalu dengan gerakan yang sangat sigap dan protektif, mengangkat tubuh mungil Alya ke dalam gendongan *princess style*-nya, membawa sang Nyonya Muda keluar dari aula pesta menuju helikopter pribadi untuk kembali ke rumah aman mereka di atas awan.