Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 011
Tak Boleh Ada yang Menyentuhmu
Kiara menatap pesan Rayhan sampai layar ponselnya meredup sendiri.
Maaf. Di mimpi itu, aku membuatmu takut lagi.
Kata `lagi` lebih mengganggunya daripada seluruh mimpi itu.
Ia ingin bertanya apa maksudnya. Ingin bertanya kenapa Rayhan juga tahu. Ingin mengetik panjang dan memaksa pria itu menjelaskan semua hal yang terasa tidak masuk akal sejak malam pertama mereka bertemu.
Namun jarinya hanya menulis satu kalimat.
Kiara: Itu cuma mimpi, kan?
Balasan Rayhan lama sekali datang.
Koko Rayhan: Untukmu, tidurlah dulu.
Bukan jawaban.
Justru karena itu, Kiara tidak bisa tidur lagi sampai langit Jakarta mulai memutih.
Pagi itu, ia turun dengan mata sedikit bengkak. Lina melihatnya dari meja makan, hendak mengatakan sesuatu, tetapi ponsel Hendra yang terus berdering membuat suasana rumah kacau. Sejak pernyataan Rayhan di gala, beberapa rekan bisnis keluarga Tanuwijaya mendadak menghubungi Hendra. Nada mereka sopan, tapi semuanya menanyakan hal yang sama.
Apakah hubungan keluarga Tanuwijaya dengan Kiara baik-baik saja?
Pertanyaan itu membuat Hendra tidak bisa lagi memarahinya terang-terangan.
Kiara mengambil roti panggang tanpa bicara.
Wenny duduk di seberang meja, wajahnya tampak kurang tidur.
"Kiara," panggilnya pelan. "Soal semalam, aku harap kamu tidak salah paham. Papa cuma khawatir."
Kiara memandangnya.
"Khawatir karena aku disentuh orang asing, atau karena Rayhan melihatnya?"
Sendok di tangan Wenny berhenti.
Lina menegang. "Kiara, jangan mulai pagi-pagi."
Kiara meletakkan roti yang belum sempat digigit.
"Aku juga tidak mau mulai apa-apa, Ma."
Sebelum suasana memburuk, seorang pembantu masuk dengan wajah gugup.
"Nona Kiara, ada mobil menunggu di depan."
Tidak perlu disebut siapa.
Jantung Kiara langsung berdetak lebih cepat.
Di depan gerbang, Rayhan berdiri dengan kemeja putih dan jas hitam di lengan. Tangannya membawa paper bag dari restoran Tionghoa terkenal. Di belakangnya, Adi berbicara dengan petugas keamanan rumah seolah sedang mengurus pengalihan kepemilikan gedung.
Kiara berhenti di depan pintu.
"Kamu datang lagi."
Rayhan menatap matanya yang sedikit bengkak. Ekspresinya melembut.
"Kamu tidak tidur."
"Kamu juga tidak menjawab pertanyaanku."
"Aku bawa bubur."
Kiara hampir tertawa karena marah. "Itu bukan jawaban juga."
"Makan dulu."
Begitu datar. Begitu alami. Seolah pertanyaan tentang mimpi lintas dimensi bisa disisihkan oleh semangkuk bubur hangat.
Kiara menerima paper bag itu karena aroma jahe dan ayamnya benar-benar membuat perutnya sadar bahwa ia belum makan.
"Aku tidak akan lupa."
Rayhan menatapnya.
"Mimpi itu," lanjut Kiara pelan. "Aku tidak akan pura-pura tidak terjadi."
Untuk sesaat, wajah Rayhan menjadi sangat diam.
"Aku tahu."
"Kamu akan menjelaskan?"
"Tidak di depan rumah ini."
Jawaban itu membuat Kiara menoleh ke belakang. Dari balik tirai ruang keluarga, Wenny jelas sedang memperhatikan. Begitu tertangkap, tirai itu bergerak cepat.
Kiara menghela napas.
"Aku ada jadwal workshop akting pagi ini."
"Aku antar."
"Santi sudah pesan mobil."
"Batalkan."
Kiara mengangkat alis. "Koh Rayhan."
Rayhan menunduk sedikit. "Kamu tidak tidur. Kamu punya riwayat jantung lemah. Di luar rumahmu ada tiga wartawan yang menunggu sejak pukul enam. Aku tidak sedang meminta izin untuk membuatmu repot. Aku menawarkan cara paling aman."
Kiara terdiam.
Ia benci karena alasan itu masuk akal.
Akhirnya ia masuk ke mobil Rayhan dengan bubur di pangkuan dan wajah yang berusaha terlihat tidak kalah.
Di perjalanan, Rayhan tidak membahas mimpi. Ia hanya membuka tutup wadah, menyelipkan sendok ke tangan Kiara yang sehat, lalu mengingatkannya minum obat setelah makan. Santi yang menunggu di studio workshop sampai ternganga saat melihat Kiara turun dari Bentley.
"Kak, aku kira Kakak naik mobil online."
"Rencana awalnya begitu," jawab Kiara.
Rayhan turun di sisi lain, lalu langsung membuat para wartawan yang bersembunyi di depan gedung bergerak seperti ikan melihat bayangan.
"Kiara! Apa benar Pak Rayhan menjemput kamu dari rumah?"
"Kalian resmi dekat?"
"Apa keluarga Tanuwijaya mendukung hubungan ini?"
Pertanyaan datang bertubi-tubi. Kiara baru melangkah dua kali ketika seorang paparazzi terlalu agresif maju melewati pembatas kecil. Tangannya terulur, hendak menarik siku Kiara agar ia menoleh ke kamera.
Sebelum jari itu menyentuh kulitnya, Rayhan sudah berada di depan Kiara.
Ia menangkap pergelangan tangan pria itu.
Tidak kasar di mata kamera.
Tidak ada gerakan besar.
Tapi wajah paparazzi itu langsung berubah pucat.
"Jangan," kata Rayhan.
Satu kata yang sama seperti malam sebelumnya.
Kiara berdiri di belakang bahunya, memegang wadah bubur yang belum habis. Dari posisinya, Rayhan tampak seperti dinding hitam yang memisahkannya dari semua suara.
Paparazzi itu gemetar. "Maaf, Pak. Saya cuma..."
"Jangan sentuh dia."
Kali ini kamera benar-benar merekam.
Rayhan melepaskan tangan pria itu, lalu berbalik pada Kiara. Nada suaranya berubah total.
"Masuk. Jangan terlambat."
Kiara menatapnya.
Di depan semua orang, ia gentleman sempurna. Tidak membentak, tidak memukul, tidak membuat keributan yang bisa merusak namanya. Ia bahkan membukakan jalan untuk Kiara dengan sikap tenang yang membuat wartawan tidak punya celah menuduhnya kasar.
Namun saat Kiara masuk ke gedung dan pintu kaca menutup di belakangnya, wajah Rayhan berubah.
Adi mendekat.
"Sudah direkam semua, Bos."
"Paparazzi itu bekerja untuk siapa?"
"Salah satu portal infotainment kecil. Portal yang sama mengunggah foto Nona Kiara dari lokasi syuting kemarin."
"Tutup akses mereka ke semua acara Purnawan Group."
"Baik."
"Akun yang menyebarkan rumor pagi ini?"
"Enam akun utama. Dua sudah hapus unggahan setelah gala. Empat masih bertahan."
Rayhan melihat pintu kaca tempat Kiara menghilang. Di balik kaca buram itu, ia bisa melihat bayangan kecilnya bersama Santi. Kiara sedang memegang bubur dengan satu tangan dan memarahi Santi karena terlalu panik.
Matanya melunak sepersekian detik.
Lalu dingin lagi.
"Empat akun itu tidak perlu bertahan."
Adi mengangguk tanpa ekspresi. "Hapus melalui laporan hukum atau tekan agensinya?"
"Dua-duanya."
"Investor yang menyentuh Nona Kiara semalam sudah mengirim permintaan maaf tertulis."
"Tidak cukup."
Adi menunggu.
Rayhan memasukkan tangan ke saku celana.
"Dia tidak akan masuk daftar penerima dana film. Semua perusahaan yang dia pegang juga tidak."
"Baik, Bos."
Di depan umum, semua orang melihat Rayhan Purnawan sebagai pria yang melindungi seorang aktris muda dengan elegan.
Di belakang satu pintu kaca, daftar orang yang pernah membuat Kiara tidak nyaman mulai dicoret satu per satu.
Sementara itu, di ruang workshop, Kiara duduk di sudut sambil membuka bubur.
Santi masih berbisik heboh. "Kak, Pak Rayhan tadi keren banget."
Kiara mengaduk bubur pelan.
Keren.
Mungkin.
Tapi ia masih ingat mata Rayhan muda dalam mimpi. Ingat rantai. Ingat kalimat bahwa ia tidak tahu cara lain.
Ponselnya bergetar.
Koko Rayhan: Makan sampai habis.
Kiara menatap pesan itu, lalu menoleh ke pintu kaca.
Rayhan berdiri di luar, membelakanginya, berbicara pada Adi dengan wajah dingin yang tak terlihat oleh para wartawan.
Kiara tiba-tiba paham satu hal.
Pria itu memang sedang belajar tidak mengurungnya.
Tapi dunia di sekelilingnya sedang ia kurung satu per satu agar tidak bisa mendekati Kiara.