Arsyana, seorang gadis yang diusir demi mempertahankan bayi yang ada dalam kandungannya. Janin yang ia dapatkan dari sebuah kesalahan fatal karena kelalaiannya.
Di bulan ke empat kehamilannya, tiba-tiba datang seorang Presdir ternama di kota itu, yang usianya 12 tahun lebih tua darinya.
"aku ayah dari anakmu." kata Presdir itu tiba-tiba yang membuat Arsy tak percaya.
Seorang presdir yang terkenal baik tanpa cela, mengakui bahwa dirinya ayah dari janin yang dikandungnya? Bagaimana bisa? Atau dia mengakui hal itu karena hanya merasa kasihan karena Arsy hamil diluar nikah.
Apakah benar Presdir itu ayah dari anak yang dikandung Arsy?
Bagaimana tanggapan keluarga presdir yang sangat terpandang itu, menolak atau menerima Arsy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 20 - Restu 2
"jangan coba-coba masuk rumahku." Suara tegas dari ayah Arsy terdengar jelas. "aku sudah bilang, jangan pernah menginjak rumah ini lagi."
Teriakan ayah Arsyana membuat wanita yang memeluk ibunya itu seketika bergetar, terkejut pasti dan rasa takut tak bisa ia hindari. Laki-laki yang usianya sudah melebihi setengah abad itu, menghampiri mereka bertiga dan melipat kedua tangannya.
"pergi kalian dari sini!" kata Ayah Arsy seraya melepaskan pelukan istrinya dengan Arsy hingga wanita hamil itu hilang keseimbangan. Tapi untunglah Dae Jung langsung memegang Arsy.
"maaf tuan, jangan sekasar itu pada calon istri saya." tatapan tajam Dae Jung yang langsung memancing kemarahan ayah Arsy yang sejak tadi memang mulai berkobar. "kami kesini bukan untuk bertengkar dengan Anda, tetapi meminta restu untuk pernikahan kami."
"restu?" ayah Arsy mengulang kembali kata restu dengan terkekeh menggunjing. "Dia bukan anakku, kau tak perlu minta restu padaku." kata ayah Arsy seraya melangkahkan kakinya pergi dengan menarik tangan istrinya dengan kasar.
Arsy melepaskan pegangan tangan Dae Jung dan berlari mengejar ayahnya. Ia duduk bersimpuh merangkul kaki ayahnya, mencegah pak Deni untuk melangkahkan kakinya.
"pa... maafin Arsy, aku mohon. Arsy tahu perbuatan Arsy salah, Arsy telah mencoreng nama papa. Arsy kesini meminta restu sama papa dan mama agar Arsy bisa memperbaiki kesalahan Arsy. Aku mohon pa... " kata Arsy dengan menangis tersedu-sedu hingga kata-katanya tersendat-sendat.
"berdirilah sayang" ucap mama Arsy yang berderai air mata melihat putrinya berlutut di kaki suaminya. Ia memegang tangan Arsy mencoba membantunya berdiri, tetapi Arsy menolaknya ia tetap berpegang erat pada kaki ayahnya.
"pa...Arsy mohon... ampuni Arsy... "
"cukup Arsy," lengan kekar Dae Jung meraih tubuhnya, menarik hingga tangan Arsy tak kuasa untuk berpegang pada kaki ayahnya. Ia segera memeluk calon istrinya dan membelai kepala Arsy. "cukup Arsy, kau tak boleh melakukan itu, dia bukan Tuhan. Dia hanya seorang ayah yang egois, mementingkan kehormatannya, mementingkan apa yang dikatakan orang. Seharusnya sebagai seorang ayah jika ada anaknya yang terjatuh, ia harus menolongnya, berusaha agar anaknya bisa bangkit bukan malah mendorongnya semakin jatuh."
"tapi pak... kita harus mendapat restu papa, aku tidak...."
"kau tak perlu lagi mendapat restu papa, beliau sudah tak menganggapmu anak. Aku yang akan merestuimu, aku yang akan menjadi walimu." sahut seorang laki-laki tinggi yang tak lain adalah Arian yang barusan pulang dari kerja.
Pak Deni tak menghiraukan mereka semua, beliau langsung masuk kedalam kamarnya dan menguncinya dari dalam.
"usap air matamu, Ar..." kata Arian menghampiri dan menatap pada Dae Jung yang mendapat balasan anggukan rasa hormat dari CEO Yoon Entertainment itu. "mari masuk, maaf atas kekakuan papa saya."
"maaf tuan, saya tidak bisa melakukannya tanpa izin pemilik rumah, sebaiknya kami permisi. Aku harap tuan dan nyonya Nia bisa hadir merestui pernikahan kami di rumah saya." pamit Dae Jung yang masih memeluk wanitanya yang terisak.
"baiklah kami akan datang, tuan...."
"Yoon Dae Jung"
"Arian," kata Arian seraya tersenyum kemudian memeluk ibunya dan masuk kedalam.
Sementara Arsy masih membenamkan wajahnya di dada bidang milik Dae Jung. Ia merasa nyaman disana, sejak Dae Jung menarik dirinya dari kaki ayahnya tadi.
*****
Di dalam rumah Deni,
Arian memberikan teh hangat pada ibunya, yang sejak tadi masih meneteskan air mata. Ia tahu bagaimana perasaan ibunya, yang rindu pada putri bungsunya. Ibu tak melihatbeajah Arsy sudah beberapa bulan, dan sekarang ketika ia bertemu anaknya itu bukan rasa senang malah kesedihan dibenaknya karena perilaku suaminya yang keras kepala itu.
"minumlah ma...biar agak tenang sedikit." bujuk Arian.
"bagaimana mama bisa tenang jika papamu terus mengusir Arsy dari sini, seharusnya papamu itu senang kalo cucunya sekarang sudah punya ayah, kalo anaknya ternyata masih sehat dan bugar.
Sejak Arsy pergi dari rumah ini mama tak bisa tidur Rian, mama hanya memikirkan Arsy apa dia sudah makan? dia tinggal dimana? apakah nyaman disana? Apalagi dia mengandung, Mama tahu rasanya Rian. setiap pagi muntah-muntah, makan ini gak enak makan itu gak enak.
sekarang dia sudah menemukan calon suaminya, setidaknya eh... dipersilahkan masuk dulu, duduk dulu bicara baik-baik. Bukan malah mengusirnya. Sungguh mama gak habis pikir." Ucap mama Arsy panjang lebar dengan suara agak keras agar suaminya dengar.
Ya.. Pak Deni memang mendengar dengan jelas kata-kata istrinya itu, sungguh beliau sebenarnya juga memikirkan apa yang dipikiran istrinya tapi beliau begitu terpukul dan sakit hati atas perbuatan Arsy yang melanggar agama. Gadis yang selama ini menjadi putri kesayangannya merusak kepercayaan yang telah ia berikan.
butuh biaya untuk hidup.di luar sana...
no 209