Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Dalam Susah, Kita Sepakat
Setelah desa kembali tenang, Arya tidak langsung tidur.
Ia duduk di tepi kasur, memeriksa ulang daftar warga yang harus dipindahkan saat perburuan. Laras berbaring miring dengan bantal menyangga pinggang, memperhatikan garis tegang di bahunya.
“Mas menyesal setuju?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa wajahmu seperti akan menghadapi satu batalion?”
Arya melipat daftar itu. “Karena satu kesalahan bisa melukai orang yang mempercayai saya.”
Laras mengulurkan tangan. “Kita yang memastikan kesalahan itu tidak terjadi.”
“Kita?”
“Mas mengatur orang di lapangan. Aku mengatur tempat aman, obat, makanan, dan kendaraan. Kita sepakat sejak tadi.”
Arya menggenggam tangannya, tetapi tidak segera melepaskannya. “Dulu kamu tidak pernah ingin terlibat dalam urusan keluarga saya.”
“Dulu aku bodoh.”
“Kamu selalu menjawab begitu saat saya membicarakan masa lalu.”
Laras terdiam. Ia tidak dapat menjelaskan bahwa sebagian kenangan itu milik perempuan lain. Namun segala pilihan sejak pagi perceraian adalah miliknya sendiri.
“Kalau aku mengatakan semua yang kurasakan sekarang, apakah itu cukup?”
Tatapan Arya berubah. “Katakan.”
Laras menarik napas. “Aku takut ketika Mas naik ke atap. Aku cemburu saat Melati mencari alasan untuk mendekat. Aku senang kalau Mas memegang tanganku di depan orang lain. Dan setiap kali memikirkan masa depan, aku tidak lagi hanya melihat rumah besar atau nama keluarga yang dipulihkan.”
Jemari Arya mengencang.
“Aku melihat Mas di sana,” lanjutnya. “Aku ingin berjalan sampai akhir bersamamu. Bukan karena anak ini, bukan karena kasihan, dan bukan untuk memperbaiki kesalahan Laras yang dulu. Aku sungguh mencintaimu.”
Kamar menjadi sangat sunyi.
Arya mengangkat tangan Laras ke bibirnya. Ciumannya singkat, tetapi napasnya bergetar.
“Saya menunggu kalimat itu terlalu lama,” katanya.
“Mas boleh mengatakan hal yang sama.”
“Saya mencintaimu.” Kali ini ia tidak bersembunyi di balik tindakan. “Saya mencintai perempuan yang menghitung uang dapur bersama Ibu, yang berani berdiri di depan orang sekampung, dan yang percaya kepada saya ketika saya sendiri ragu.”
Mata Laras memanas.
“Kapan?” tanyanya.
“Kapan apa?”
“Kapan Mas mulai mencintaiku lagi?”
Arya memandang tangan mereka yang bertaut. “Saya tidak tahu apakah perasaan itu pernah benar-benar hilang. Saya hanya menguburnya ketika kamu meminta cerai dan mengatakan anak kita tidak boleh lahir.”
Rasa bersalah menusuk Laras meski keputusan itu bukan buatannya. Ia tetap hidup dalam tubuh yang meninggalkan luka tersebut.
“Maaf.”
“Saya tidak ingin pengakuanmu malam ini berubah menjadi hukuman untuk masa lalu.” Arya menyentuh cincin di jarinya. “Saya mulai berharap lagi saat kamu meletakkan tangan saya di perutmu. Mulai percaya saat kamu masuk ke mobil bersama kami. Lalu setiap hari, kamu memberi saya alasan baru untuk tidak kembali menutup hati.”
Laras menekan bibir agar tangisnya tidak pecah.
“Kalau suatu hari aku berubah lagi?”
“Kita bicara. Kita bertengkar kalau perlu. Tapi kamu tidak mengambil keputusan tentang pernikahan atau anak kita sendirian, dan saya tidak membiarkanmu merasa harus melakukannya sendiri.”
“Janji?”
“Janji.”
Untuk Laras, itulah bentuk cinta yang paling aman. Bukan keyakinan bahwa mereka tidak akan pernah salah, melainkan kesepakatan bahwa tidak seorang pun akan meninggalkan meja sebelum masalah dibicarakan.
Arya mengusap sudut matanya. “Saya tidak bisa menjanjikan hidup kita akan mudah. Kalau perkara Bapak tidak selesai, mungkin saya tidak kembali ke kesatuan. Saya bisa saja gagal mendapatkan pekerjaan di sini.”
“Kalau Mas belum bekerja, aku yang mencari penghasilan.”
“Saya tidak akan membiarkanmu menanggung semuanya.”
“Bukan menanggung. Bergantian menopang.”
Arya menunduk hingga dahi mereka bersentuhan. “Rumah ini terasa seperti rumah karena ada kamu.”
Kalimat sederhana itu meruntuhkan pertahanan terakhir Laras.
Ia menciumnya lebih dahulu.
Arya membalas pelan, seolah masih memberi kesempatan baginya untuk berubah pikiran. Telapak tangannya berhenti di pinggang Laras, tidak bergerak sebelum Laras menariknya mendekat.
“Kamu yakin?” bisiknya.
“Aku yakin.”
“Kalau tidak nyaman, bilang.”
“Mas terlalu banyak bicara.”
Senyum Arya terasa di bibirnya.
Ia mematikan lampu, tetapi cahaya bulan masih menggambar garis bahu Arya. Laras menyentuh bekas goresan di lengannya, lalu bekas luka lama yang tidak pernah ia tanyakan. Arya mengecup telapak tangannya satu per satu.
“Tidak perlu takut padaku,” katanya.
“Aku bukan takut pada Mas.”
“Pada apa?”
“Bahwa semua ini hanya sebentar.”
Arya mengambil tangan Laras dan meletakkannya di dadanya. “Rasakan. Saya di sini.”
Detaknya keras, sama gugupnya dengan milik Laras. Kesadaran itu membuatnya tersenyum. Lelaki yang selalu terlihat menguasai keadaan ternyata juga sedang melangkah ke wilayah baru bersamanya.
Mereka adalah suami istri, tetapi malam itu menjadi pertama kalinya keduanya memilih satu sama lain dalam keadaan sepenuhnya sadar. Tidak ada ancaman perceraian, tidak ada kewajiban keluarga, dan tidak ada keputusan orang lain di antara mereka.
Arya bergerak dengan sangat hati-hati, terus memperhatikan wajah Laras dan menjaga perutnya. Keintiman mereka tidak terburu-buru. Setiap sentuhan seperti pertanyaan, setiap jawaban Laras menghapus sedikit lagi jarak yang tersisa dari pernikahan lama mereka.
Ketika napas Laras berubah, Arya berhenti.
“Sakit?”
“Tidak. Bayinya bergerak.”
Ia menuntun tangan Arya ke sisi perut. Tendangan kecil menyambut mereka, membuat keduanya tertawa gugup.
“Dia protes,” kata Laras.
“Atau mengingatkan Bapaknya agar berhati-hati.”
Arya mencium keningnya. Mereka melanjutkan hanya setelah Laras mengangguk, dengan kelembutan yang membuat matanya kembali basah.
Setelahnya, Arya membersihkan diri dan membawa air hangat. Ia membantu Laras mengganti pakaian, menyusun bantal di belakang punggungnya, lalu memeriksa apakah ada nyeri, pendarahan, atau perut mengencang.
“Tidak ada,” kata Laras. “Aku baik-baik saja.”
“Besok kalau ada keluhan, kita ke Puskesmas.”
“Baik, Kapten.”
“Jangan menggoda.”
“Suamiku baru mengaku cinta. Aku punya hak.”
Arya memeluknya dari belakang. Tangannya berada di bawah tangan Laras, melindungi perut mereka.
“Besok saya pergi dengan Pakde Karyo mengurus senapan,” katanya.
“Aku tahu.”
“Kamu tetap di rumah.”
“Aku juga tahu.”
“Laras.”
“Aku berjanji.”
Baru setelah itu tubuh Arya benar-benar rileks. Laras mendengar detak jantungnya di punggung, stabil dan dekat.
Ia pernah mengira tugasnya hanya mengubah akhir buruk sebuah cerita, menyelamatkan keluarga ini, lalu hidup aman.
Kini keselamatan tanpa Arya bukan lagi akhir yang ia inginkan.
Menjelang fajar, Laras terbangun dan mendapati suaminya masih memeluknya. Cahaya pucat masuk melalui celah jendela yang sudah diperbaiki. Daftar ronda terletak di meja, menunggu hari baru.
Arya membuka mata. Tidak ada kecanggungan di antara mereka, hanya senyum kecil yang terasa lebih intim daripada apa pun yang terjadi semalam.
“Pagi, istriku,” katanya.
“Pagi, Mas.”
Arya mencium dahinya, lalu bangkit untuk menjalankan janji kepada desa.
Laras membiarkannya pergi dengan hati yang tenang. Mulai hari itu, mereka tidak lagi sekadar bertahan dalam pernikahan yang hampir berakhir.
Mereka telah memilih menjadi satu pihak, dalam susah maupun setelah badai berlalu.