NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Pengibaran Bendera Mugen

​Awan debu tebal yang menutupi pelabuhan bawah tanah Pulau Rogue perlahan mulai menipis, tersapu oleh hembusan angin laut yang asin.

​Bangunan gudang tiga lantai yang sebelumnya berdiri megah sebagai simbol kekuasaan mafia, kini hanya berupa reruntuhan batu bata dan semen cor yang terbelah dua. Di tengah kehancuran itu, tubuh besar sang pemimpin mafia yang memiliki kekuatan Buah Iblis Zoan terkapar tidak bernyawa, darahnya menggenang membasahi jalanan berbatu.

​Keheningan yang mencekam masih menguasai seluruh penjuru teluk.

​Para kriminal kelas teri, pedagang gelap, dan penyelundup senjata yang biasanya memenuhi pelabuhan ini bersembunyi rapat di balik pintu dan jendela yang terkunci. Mereka menahan napas, tidak berani mengeluarkan suara sekecil apa pun yang mungkin bisa memancing kemarahan sang dewa perang berarmor merah.

​Namun, tidak semua orang bersembunyi karena takut.

​Dari lorong-lorong sempit dan gang kumuh di sekitar pelabuhan, beberapa sosok mulai merangkak keluar dengan langkah ragu. Mereka adalah penduduk asli pulau ini. Orang-orang malang yang mengenakan pakaian compang-camping, tubuh kurus kering kurang gizi, dan wajah yang dipenuhi oleh memar akibat kerja paksa serta siksaan.

​Selama bertahun-tahun, mereka hidup di bawah penindasan mutlak dari aliansi keluarga mafia. Mereka dipaksa bekerja di pabrik senjata bawah tanah tanpa bayaran, sementara hasil keringat mereka digunakan para mafia untuk hidup bergelimang kemewahan.

​Kini, penindas utama mereka telah mati terbelah menjadi dua.

​Seorang pria tua dengan tongkat kayu bergetar melangkah maju mendekati area pertarungan. Dia menatap mayat sang bos mafia, lalu mengangkat kepalanya menatap pemuda berarmor merah yang sedang duduk bersila di atas peti kayu di pinggir dermaga.

​Pria tua itu menjatuhkan tongkatnya. Dia jatuh berlutut hingga lutut kurusnya membentur jalanan berbatu. Air mata mengalir deras dari matanya yang cekung. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya menyentuh tanah kotor.

​Melihat tindakan pria tua itu, puluhan penduduk kumuh lainnya dan sisa-sisa bajak laut yang tertindas ikut berhamburan keluar dari persembunyian mereka.

​Mereka semua melakukan hal yang sama. Mereka bersujud secara massal di jalanan pelabuhan, mengarah tepat ke posisi Uchiha Madara duduk. Suara isak tangis kelegaan dan ucapan syukur bergema bersahut-sahutan, menciptakan paduan suara keputusasaan yang baru saja menemukan secercah harapan.

​“Terima kasih, Tuan Pahlawan! Anda telah membebaskan kami dari kutukan iblis ini!” teriak seorang wanita kurus sambil memeluk anaknya yang menangis.

​“Dewa lautan telah mengirimkan Anda untuk menyelamatkan pulau kami!” sahut penduduk lainnya.

​Madara yang duduk di atas peti kayu membuka matanya perlahan.

​Iris hitamnya menyapu lautan manusia yang sedang bersujud menyembahnya. Dia bisa merasakan emosi kelegaan, rasa syukur, dan pemujaan yang luar biasa tulus dari puluhan orang tersebut melalui instingnya.

​Namun, tidak ada satu pun dari emosi itu yang mampu menggerakkan hati Madara.

​Dia tidak merasakan kebanggaan sebagai seorang pahlawan. Dia tidak merasakan simpati pada penderitaan mereka.

​'Manusia yang lemah selalu mencari dewa untuk disembah saat mereka tidak mampu menyelamatkan diri mereka sendiri,' batin Madara dengan nada merendahkan. 'Mereka menyebutku pahlawan, padahal aku hanya menyingkirkan serangga yang mencoba menggigit kakiku.'

​Madara mengalihkan pandangannya, sepenuhnya mengabaikan pujian dan tangisan para penduduk kumuh itu. Dia menatap ke arah kelompok kecilnya yang masih berdiri mematung di dekat papan titian kapal.

​Nico Robin dan Vinsmoke Reiju telah menyelesaikan keterkejutan mereka. Mantan kapten bajak laut gemuk yang sebelumnya pingsan juga sudah disadarkan oleh anak buahnya dengan siraman air laut, meski tubuh pria gemuk itu masih bergetar hebat.

​“Berapa lama lagi kalian akan berdiri di sana seperti patung kayu?” tanya Madara dengan nada datar yang menusuk.

​Robin langsung tersentak. Dia merapikan mantelnya dan melangkah maju.

​“Maafkan kami, Tuan. Kami sedang menunggu perintah Anda selanjutnya,” jawab Robin cepat, menjaga nada suaranya agar tetap tenang dan profesional.

​Madara mengangkat tangan kanannya. Dia menunjuk ke arah bangunan tiga lantai yang kini telah menjadi puing-puing terbelah di ujung jalan, tempat di mana sang bos mafia biasanya menyimpan kekayaannya.

​“Pergi ke sana,” perintah Madara mutlak. “Bongkar sisa-sisa reruntuhan itu. Temukan gudang penyimpanan utama mereka.”

​Para kru bajak laut menelan ludah. Mereka tahu apa artinya ini. Sang monster tidak hanya membunuh penguasa pulau, tetapi juga akan mengambil alih seluruh hartanya.

​“Ambil semua makanan, air bersih, dan obat-obatan yang bisa kalian temukan. Kuras habis peti harta karun mereka. Pindahkan semuanya ke kapal kita,” lanjut Madara.

​Dia memberikan jeda sejenak, matanya menyorotkan kedinginan yang tidak bisa dibantah.

​“Dan setelah kalian mengambil semua yang berguna, sisanya bakar.”

​Mantan kapten bajak laut melebarkan matanya. Membakar sisa-sisa gudang mafia berarti memusnahkan seluruh stok senjata, dokumen, dan barang-barang yang mungkin dibutuhkan oleh penduduk pulau ini untuk bertahan hidup setelah kekuasaan runtuh.

​Tindakan itu bukanlah tindakan seorang pahlawan pembebas. Itu adalah tindakan murni dari seorang perampok dan penakluk yang kejam. Madara benar-benar tidak peduli apakah penduduk pulau ini akan mati kelaparan keesokan harinya setelah dia menguras gudang makanan sang mafia.

​Namun tentu saja, tidak ada satu pun kru yang berani memprotes.

​Robin menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Gadis arkeolog itu langsung mengambil alih komando. Dia memerintahkan mantan kapten dan kelima anak buahnya untuk membawa kereta dorong kayu dan karung-karung besar.

​Reiju juga ikut berjalan bersama mereka. Keahlian medisnya akan sangat berguna untuk memilah obat-obatan berkualitas tinggi dari tumpukan barang selundupan.

​Proses penjarahan dimulai.

​Para kru bajak laut bekerja dengan efisiensi yang didorong oleh rasa takut yang luar biasa. Mereka menggali reruntuhan bangunan batu bata itu. Di bawah puing-puing, mereka menemukan pintu brankas baja yang sudah penyok akibat gelombang tebasan udara Madara tadi.

​Mantan kapten menggunakan linggis besi untuk mencongkel pintu brankas tersebut.

​Saat pintu baja itu terbuka, kilau keemasan langsung menyilaukan mata mereka. Brankas bawah tanah itu dipenuhi oleh tumpukan Berries tunai, perhiasan curian, dan barang antik. Mafia itu rupanya menimbun kekayaan yang sangat besar dari hasil memeras pelabuhan.

​“Ini... ini gila,” bisik mantan kapten bajak laut dengan tangan bergetar. “Nilai semua ini pasti lebih dari 100.000.000 Berries.”

​Robin berdiri di dekat pintu dengan wajah tanpa ekspresi.

​“Masukkan semuanya ke dalam karung. Jangan ada satu keping koin pun yang tertinggal,” perintah Robin dingin.

​Di ruangan sebelah, Reiju sedang sibuk memeriksa puluhan peti kayu yang berisi perlengkapan medis. Mata birunya memindai label-label botol kaca dan bungkusan herba.

​“Mereka memiliki serum penawar racun kelas atas dan peralatan bedah yang sangat lengkap. Nilai medis di ruangan ini saja mencapai 50.000.000 Berries di pasar gelap,” guman Reiju puas. Dia memasukkan botol-botol kaca itu ke dalam tas khususnya dengan sangat hati-hati.

​Selain harta dan obat, mereka juga menemukan gudang penyimpanan makanan bawah tanah yang masih utuh. Daging awetan kualitas terbaik, tong-tong berisi anggur merah berumur puluhan tahun, gandum murni, dan berbagai macam rempah-rempah eksotis. Semua logistik itu cukup untuk memberi makan seluruh kru kapal selama berbulan-bulan di lautan terbuka.

​Selama hampir dua jam, para kru bolak-balik dari reruntuhan ke kapal, mendorong kereta kayu yang terisi penuh.

​Penduduk kumuh yang masih berlutut di jalanan hanya bisa menatap proses penjarahan itu dalam diam. Mereka tidak berani mendekat. Mereka tidak berani meminta bagian. Pikiran naif mereka masih menganggap bahwa ini adalah hak sang pahlawan yang telah membebaskan mereka. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa pemuda berarmor merah yang sedang duduk dengan mata tertutup itu adalah iblis pragmatis yang jauh lebih berbahaya daripada bos mafia yang baru saja mati.

​Setelah karung terakhir berisi gandum dinaikkan ke atas kapal, Robin berjalan menghampiri Madara.

​“Proses pemindahan selesai, Tuan. Kapal kita telah terisi penuh. Ruang penyimpanan tidak bisa menampung barang lagi,” lapor Robin.

​Madara membuka matanya perlahan. Dia menatap tumpukan sisa-sisa reruntuhan gudang di kejauhan yang masih berisi puluhan peti senjata api, bubuk mesiu, dan barang-barang yang tidak mereka butuhkan.

​“Lakukan instruksi terakhirku,” ucap Madara singkat.

​Robin tidak ragu sedikit pun. Dia memberikan isyarat kepada mantan kapten bajak laut.

​Pria gemuk itu menyalakan sebuah obor kayu berlapis minyak tanah. Dia berlari mendekati reruntuhan, lalu melemparkan obor menyala itu tepat ke tengah tumpukan peti berisi bubuk mesiu yang sengaja dibongkar.

​Mantan kapten itu langsung berlari kembali ke arah kapal dengan kecepatan maksimal.

​Satu detik kemudian, suara ledakan beruntun mengguncang pelabuhan Pulau Rogue.

​Bum. Bum. Bum.

​Kobaran api merah menyala berkobar tinggi, melahap sisa-sisa bangunan dan seluruh isinya. Asap hitam pekat mengepul tebal menutupi langit sore. Panas dari api itu menyapu jalanan pelabuhan, memaksa para penduduk yang bersujud untuk mundur menjauh.

​Madara berdiri dari peti kayunya. Dia mengangkat sabit hitamnya dan memanggulnya kembali di atas bahu kanan. Rantai baja bergemerincing pelan mengikuti gerakannya.

​Dia berjalan menuruni jalanan pelabuhan yang dihiasi oleh mayat dan api yang berkobar, melangkah dengan tenang menaiki papan titian menuju kapalnya.

​Penduduk pulau menatap kepergiannya dengan linangan air mata. Mereka masih menggumamkan doa dan pujian, memuja sang penghancur yang mereka anggap sebagai sang penyelamat. Sebuah ironi yang sangat kelam di dunia yang kejam ini.

​Malam harinya, Kapal Bajak Laut Taring Berkarat telah berlayar menjauhi Pulau Rogue.

​Langit malam dipenuhi oleh bintang-bintang yang bersinar terang, memantulkan cahayanya di atas permukaan air yang tenang. Angin malam North Blue berhembus sejuk, membawa kapal itu meluncur dengan kecepatan yang sangat baik.

​Di atas geladak utama, suasana terasa jauh lebih hidup dari biasanya.

​Para kru bajak laut sedang menikmati makan malam yang mewah. Mereka memanggang daging sapi awetan yang mereka curi dari gudang mafia, meminum anggur merah mahal yang harganya mencapai 20.000 Berries per botol, dan tertawa dengan perut kenyang. Ketakutan mereka perlahan tergantikan oleh euforia kekayaan dan kelimpahan logistik.

​Di ujung haluan, Uchiha Madara berdiri bersandar pada pagar kayu. Dia menatap ke arah laut lepas yang gelap gulita. Tidak ada piring makanan atau gelas anggur di tangannya. Dia hanya menikmati suara deburan ombak dan angin malam yang menyapu wajahnya.

​Terdengar suara langkah kaki yang ragu-ragu mendekat dari arah belakang.

​Madara tidak menoleh. Kenbunshoku Haki miliknya sudah memberi tahu bahwa itu adalah mantan kapten kapal bajak laut. Pria gemuk itu melangkah mendekat dengan postur tubuh yang sangat membungkuk, menunjukkan rasa hormat dan ketakutan yang mendalam.

​“T-Tuan Madara, maaf mengganggu waktu istirahat Anda,” sapa mantan kapten itu dengan suara pelan.

​Madara tetap diam, menunggu pria itu menyelesaikan kalimatnya.

​Mantan kapten itu menelan ludah, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dia memegang sebuah gulungan kain hitam kosong di tangannya.

​“Kapal kita sekarang memiliki persediaan logistik terbaik dan harta yang sangat banyak. Kita siap untuk mengarungi lautan mana pun,” kata mantan kapten itu memulai penjelasannya.

​“Tetapi, ada satu hal penting yang masih kurang. Sebuah hal yang sangat krusial jika kita ingin berlayar melintasi rute berbahaya tanpa diganggu oleh setiap serangga yang lewat.”

​Madara sedikit memiringkan kepalanya.

​“Bicaralah dengan jelas,” potong Madara dingin.

​“K-Kita tidak bisa berlayar tanpa identitas di lautan ini, Tuan,” ucap mantan kapten itu buru-buru. “Kapal tanpa bendera dianggap sebagai kapal bandit rendahan atau kapal pedagang liar. Mereka akan menjadi target empuk bagi Angkatan Laut dan kelompok bajak laut yang lebih besar. Kita membutuhkan sebuah lambang. Sebuah Jolly Roger.”

​Mantan kapten itu mengangkat kain hitam kosong di tangannya.

​“Jolly Roger bukan sekadar gambar tengkorak. Itu adalah deklarasi perang, sebuah simbol kedaulatan, dan sebuah peringatan bagi musuh. Dengan kekuatan yang Anda miliki, kapal ini membutuhkan lambang yang akan membuat seluruh lautan gemetar hanya dengan melihatnya berkibar di tiang tertinggi.”

​Mendengar penjelasan tersebut, Madara perlahan memutar tubuhnya.

​Dia menatap gulungan kain hitam di tangan mantan kapten itu. Penjelasan pria gemuk ini memiliki logika yang sangat masuk akal di dunia bajak laut ini. Identitas adalah kekuatan. Sebuah bendera adalah perpanjangan dari teror yang dia ciptakan. Memiliki lambang berarti menetapkan wilayah kekuasaan imajiner di atas lautan yang tidak berbatas.

​Identitas.

​Madara terdiam sejenak. Pikiran remajanya melayang jauh, menembus ruang dan waktu, kembali ke masa lalunya di dunia shinobi yang telah hancur.

​Siapa dirinya sekarang?

​Dia bukan lagi pemimpin klan Uchiha. Klannya telah lama mati, dikhianati dan dihancurkan oleh sejarah. Dia bukan lagi bagian dari Konohagakure, desa yang dia bangun dengan tangannya sendiri namun berakhir mengasingkannya.

​Dan yang paling menyakitkan, dia bukan lagi sang pembawa kedamaian mutlak. Impian besarnya, rencana agung yang dia persiapkan selama puluhan tahun untuk menciptakan dunia tanpa penderitaan melalui Mugen Tsukuyomi, telah terbukti sebagai sebuah kebohongan manipulatif dari entitas parasit kuno.

​Mimpi tak terbatas itu telah hancur berkeping-keping.

​Namun, konsep tentang ketidakterbatasan itu sendiri masih berakar kuat di dalam jiwanya.

​Di dunia baru ini, tidak ada lagi Pohon Suci. Tidak ada lagi Zetsu Hitam. Tidak ada lagi ilusi bulan yang menipu. Di dunia yang dipenuhi oleh lautan tanpa ujung, Pemerintah Dunia yang busuk, dan para bajak laut yang mengagungkan kebebasan palsu, Madara akan menciptakan ketidakterbatasannya sendiri.

​Bukan sebuah mimpi yang mengikat pikiran, melainkan sebuah jalan penaklukan yang tidak memiliki batas akhir. Dia akan terus melangkah, terus menghancurkan mereka yang berani menghalanginya, hingga kekuatannya mencapai keabadian.

​Madara menatap kain hitam itu dengan mata yang menyala terang di dalam kegelapan.

​“Mugen,” ucap Madara pelan. Suaranya terdengar sangat dalam, membawa bobot sejarah dan masa depan yang menyatu menjadi satu kata.

​Mantan kapten itu mengerjap bingung.

​“M-Mugen, Tuan? Ketidakterbatasan?” tanyanya memastikan.

​“Ya,” jawab Madara mutlak. “Mulai malam ini, kapal ini, dan semua orang yang bernapas di atasnya, berada di bawah nama Mugen.”

​Dari arah tangga geladak atas, Nico Robin melangkah turun. Gadis arkeolog itu telah mendengarkan percakapan tersebut sejak awal. Dia membawa sebuah kotak kayu kecil berisi beberapa kaleng cat warna dasar dan kuas-kuas lukis dengan berbagai ukuran. Keahlian melukis dan kaligrafi adalah salah satu bakat seni elegan yang dia pelajari dari para sarjana Ohara.

​Robin berjalan mendekati Madara. Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memancarkan rasa hormat intelektual.

​“Mugen adalah nama yang sangat puitis namun menyimpan ambisi yang mengerikan,” komentar Robin dengan nada tenang.

​Robin mengambil gulungan kain hitam dari tangan mantan kapten yang masih kebingungan. Dia menggelar kain hitam besar itu di atas permukaan geladak yang datar dan bersih.

​“Izinkan saya yang melukiskannya untuk Anda, Kapten,” tawar Robin. “Apa yang ingin Anda tampilkan sebagai simbol ketidakterbatasan kita?”

​Madara melipat kedua lengannya di depan dada. Dia menatap kain hitam kosong itu.

​Sebuah Jolly Roger biasanya identik dengan tengkorak tulang bersilang. Itu adalah aturan baku di lautan ini. Madara tidak keberatan menggunakan simbol tengkorak sebagai lambang kematian. Namun, dia akan menambahkan sentuhan dari warisan darah dan kekuatannya sendiri. Warisan yang akan dia tanamkan di dunia ini sebagai tanda peringatan tertinggi.

​“Gambar sebuah tengkorak putih di tengahnya,” perintah Madara, memberikan instruksi visual secara perlahan.

​Robin mencelupkan kuas besarnya ke dalam kaleng cat putih. Dengan gerakan tangannya yang sangat luwes dan presisi, dia mulai membentuk kontur sebuah tengkorak manusia yang proporsional di atas kanvas hitam tersebut.

​“Di mata kanannya,” lanjut Madara. Nada suaranya berubah menjadi lebih berat. “Warnai rongga mata itu dengan warna merah darah. Tambahkan tiga titik koma hitam yang melingkar di dalamnya.”

​Robin mengambil kuas yang lebih kecil. Dia menggunakan cat merah tua yang pekat.

​Sesuai instruksi Madara, dia melukis bagian dalam rongga mata kanan tengkorak itu hingga menyala merah. Kemudian dia menambahkan tiga tanda koma hitam dengan sangat hati-hati. Robin tahu persis lambang apa itu. Itu adalah replika sempurna dari mata mengerikan yang selalu menyala di wajah kaptennya setiap kali kematian datang menghampiri musuh mereka.

​Reiju, yang sedari tadi bersandar pada dinding kabin sambil meminum teh herbalnya, melangkah maju untuk melihat proses pelukisan tersebut. Mata birunya memandangi mata merah di lukisan tengkorak itu. Bahkan dalam bentuk cat di atas kain, lambang itu memancarkan aura intimidasi yang sangat nyata.

​“Dan untuk tulang bersilangnya?” tanya Robin, bersiap mencelupkan kuas putihnya kembali.

​Madara menggelengkan kepalanya pelan.

​“Jangan gunakan tulang. Itu terlalu klise untuk seleraku,” jawab Madara dingin.

​Dia mengingat kembali senjata ikoniknya yang sedang menunggu untuk diciptakan ulang. Senjata yang pernah menahan serangan terkuat dari para dewa shinobi.

​“Gambar dua buah kipas perang besar yang saling bersilang di belakang tengkorak itu. Bentuknya seperti labu raksasa. Warnai pinggirannya dengan warna merah tua, dan tambahkan tiga simbol pusaran api di setiap sisinya.”

​Robin kembali bekerja. Tangannya menari di atas kain hitam. Dia melukis bentuk Gunbai yang saling bersilang, menggantikan posisi tulang tradisional. Cat merah dan putih berpadu menciptakan gambar dua buah kipas perang yang terlihat sangat kokoh dan kuno, memberikan latar belakang yang menakutkan bagi tengkorak bermata Sharingan di tengahnya.

​Proses melukis itu memakan waktu sekitar tiga puluh menit.

​Setelah goresan kuas terakhir diselesaikan, Robin berdiri. Dia memandangi hasil karyanya dengan perasaan bangga yang aneh. Itu adalah bendera bajak laut pertama yang pernah dia lukis dengan tangannya sendiri, dan lambang itu terasa sangat pas dengan aura kapten yang memimpin mereka.

​Cat merah dan putih itu mengering dengan cepat diterpa angin laut malam.

​Mantan kapten bajak laut gemuk itu menatap bendera baru mereka dengan lutut bergetar. Hawa pembunuh seolah menguar langsung dari kain hitam tersebut.

​“Sempurna,” ucap Madara singkat. Dia tidak memuji karya seni Robin secara berlebihan, namun satu kata itu sudah cukup untuk menunjukkan persetujuannya.

​“Kerek bendera itu ke tiang utama sekarang,” perintah Madara.

​Para kru bajak laut segera bergerak. Mereka mengikatkan ujung-ujung kain bendera itu ke tali tambang yang terhubung dengan sistem katrol di tiang layar tertinggi kapal.

​Dengan tarikan yang kuat dan berirama, kain hitam besar itu perlahan naik ke atas.

​Setiap sentimeter kain yang naik seolah menandai lahirnya sebuah era baru. Suara gesekan tali terdengar di tengah malam yang sunyi.

​Saat bendera itu mencapai puncak tiang utama, hembusan angin laut North Blue langsung menerpanya. Kain hitam itu terbentang lebar, berkibar dengan sangat gagah dan angkuh di bawah cahaya bintang.

​Gambar tengkorak dengan satu mata Sharingan yang menyala merah dan dua buah Gunbai bersilang kini menghiasi langit malam, seolah menatap rendah ke lautan yang membentang di bawahnya.

​Tepat pada detik bendera itu berkibar sempurna, sebuah suara mekanis tanpa emosi berdenting keras di dalam ruang kesadaran Madara. Layar biru transparan muncul memberikan pemberitahuan.

​[Pemberitahuan Sistem.]

​[Faksi independen terdeteksi. Bendera kedaulatan telah dikibarkan.]

​[Kelompok Bajak Laut "Mugen" resmi terbentuk. Status: Penguasa Faksi - Uchiha Madara.]

​[Poin Reputasi global akan mulai diakumulasi berdasarkan tindakan faksi.]

​Madara menghapus layar itu dari pandangannya tanpa merubah ekspresi wajahnya.

​Dia melangkah maju, berjalan menuju bagian paling ujung dari haluan kapal kayu tersebut. Dia berdiri tegak di sana, tepat di atas patung kayu haluan, menatap lurus ke arah kegelapan laut yang tidak berujung. Jubah hitam dan pelindung dada merahnya berpadu dengan malam.

​Mendengar perintah tak terucap dari postur sang kapten, Nico Robin dan Vinsmoke Reiju bergerak secara bersamaan.

​Robin melangkah ke sisi kiri Madara, sementara Reiju mengambil posisi di sisi kanan. Kedua wanita cerdas dan mematikan itu berdiri tepat satu langkah di belakang punggung pemuda tersebut. Mereka memposisikan diri mereka sebagai dua pilar utama yang akan mendukung setiap langkah penaklukan sang dewa perang.

​Para kru bajak laut yang berada di geladak bawah tidak bisa menahan emosi mereka.

​Melihat bendera hitam yang mengerikan itu berkibar di atas kepala mereka, dan melihat tiga sosok kuat berdiri di haluan membelah malam, sisa-sisa ketakutan mereka menguap sepenuhnya. Mereka mengangkat gelas anggur dan botol minuman keras mereka tinggi-tinggi ke udara.

​“Hidup Kapten Madara!” teriak mantan kapten dengan sekuat tenaga.

​“Hidup Bajak Laut Mugen!” sahut kru lainnya dengan suara gemuruh yang mengalahkan deburan ombak.

​Sorak-sorai mereka bergema di tengah lautan yang sunyi, menjadi deklarasi resmi bahwa sebuah badai baru baru saja lahir di wilayah North Blue.

​Madara tidak memedulikan teriakan perayaan dari para kru bodoh di belakangnya. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

​Mata hitamnya menatap lurus ke depan, ke arah jarum kompas navigasi yang sebelumnya dilaporkan oleh Robin. Arah yang membawa mereka menuju titik pertemuan empat lautan.

​“Kita tidak akan membuang waktu memburu ikan kecil di perairan ini,” ucap Madara pelan. Suaranya hanya bisa didengar oleh Robin dan Reiju yang berada di belakangnya.

​“Robin. Arahkan kemudi. Bawa kapal ini menuju pintu masuk lautan para monster yang kau sebutkan tempo hari.”

​Robin tersenyum tipis. Matanya memancarkan tantangan dan antisipasi.

​“Sesuai perintah Anda, Kapten. Kita berlayar menuju Reverse Mountain. Gerbang menuju Grand Line.”

​Kapal kayu yang kini menyandang nama Bajak Laut Mugen itu membelah ombak dengan kecepatan penuh. Bendera Sharingan berkibar angkuh di tiang tertinggi, membawa iblis dari masa lalu menuju lautan masa depan yang dipenuhi oleh monster, Yonko, dan rahasia dunia yang menunggu untuk dihancurkan. Penaklukan ketidakterbatasan baru saja dimulai.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!