NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Menyerang Balik dalam Diam

Pagi berikutnya, Renata kembali ke rumah perawatan dengan map biru dan bukti pembayaran enam bulan di tangannya.

Ia tidak menuju kamar Mama Yolanda lebih dulu. Ia langsung mendatangi kantor farmasi dan meminta bertemu kepala pengadaan.

“Saya sudah menjelaskan kemarin, Bu,” ujar perempuan di balik meja. “Nama Ibu Yolanda masuk pengiriman berikutnya.”

“Dan saya sudah meminta alasan tertulis kenapa namanya dipindahkan.”

“Kami tidak bisa memberikan dokumen internal.”

Renata membuka map biru. Ia meletakkan salinan konfirmasi jatah, bukti uang muka, hasil evaluasi dokter, serta surat permohonan peninjauan di atas meja.

“Kalau begitu, terima pengaduan resmi ini. Saya meminta audit urutan waiting list, bukan data medis pasien lain.”

Perempuan itu membaca halaman pertama, kemudian halaman kedua. “Prosesnya bisa memakan waktu.”

“Obatnya dibagikan sore ini.”

“Kami akan berusaha.”

“Bukan berusaha.” Suara Renata tetap rendah. “Tolong beri nomor registrasi pengaduan dan nama petugas yang menerima. Saya akan menunggu hasilnya di sini.”

Dua pegawai lain menoleh. Tidak ada bentakan atau ancaman dalam suara Renata, tetapi ketenangannya membuat petugas di depan meja berhenti mencari alasan.

Beberapa menit kemudian, Renata mendapat nomor registrasi.

Langkah pertama selesai.

Ia menemui dokter Yolanda setelah itu. Pria tersebut memeriksa map yang sama, lalu menandatangani pernyataan bahwa Yolanda memang pasien pertama yang disetujui secara medis untuk pengiriman tersebut.

“Kalau bagian pengadaan tetap menolak?” tanya dokter.

“Mereka tidak akan bisa mengatakan urutannya tidak pernah berubah.”

Dokter menatapnya. “Kamu menemukan sesuatu?”

“Saya menemukan cukup alasan untuk meminta mereka membuka catatan audit.”

“Renata, data rumah sakit dilindungi.”

“Saya tidak mengambil rekam medis siapa pun, Dok. Saya hanya ingin hak Mama dikembalikan.”

Pria itu masih terlihat khawatir, tetapi akhirnya mengangguk. “Saya akan hadir kalau komite meminta keterangan.”

“Terima kasih.”

Setelah keluar dari ruang dokter, Renata duduk di sudut ruang tunggu. Ia membuka laptop lama, menyambungkannya ke jaringan pribadinya, lalu melihat salinan catatan yang sudah disimpan malam sebelumnya.

Ia tidak mengubah nama siapa pun di daftar aktif. Jika ia memindahkan Yulia sendiri, rumah sakit bisa menganggapnya sebagai serangan dan membatalkan seluruh proses. Yang Renata lakukan adalah mengembalikan jejak perubahan yang sengaja disembunyikan dari catatan audit internal.

Waktu awal. Akun pelaksana. Persetujuan tanpa dasar medis. Panggilan VIP.

Semua kembali terlihat oleh sistem pengawas rumah sakit.

Lalu Renata menautkan nomor pengaduan resminya pada jejak tersebut dan menekan kirim.

Alarm kepatuhan menyala di layar bagian pengadaan.

Sekarang mereka tidak bisa pura-pura tidak tahu.

Di Menteng, pada waktu yang sama, Yulia Chandra sedang duduk di ruang keluarga seorang nyonya kaya bersama belasan anggota arisan.

Gelas-gelas teh diletakkan di atas tatakan porselen. Kotak kue impor terbuka di tengah meja. Beberapa perempuan membicarakan harga tas, sementara yang lain sibuk membandingkan jadwal perjalanan ke Singapura.

Yulia mengangkat ponselnya dengan senyum puas.

“Obatnya sudah diurus. Sore ini tinggal diambil,” katanya.

“Cepat sekali. Katanya waiting list-nya panjang?” tanya seorang perempuan.

“Kalau tahu harus bicara dengan siapa, semuanya bisa diatur.”

“Cheryl yang minta bantuan?”

Yulia merapikan gelang di pergelangan tangannya. “Anak saya punya banyak teman yang peduli. Apalagi Nate. Dari dulu dia nggak pernah membiarkan Cheryl kesulitan.”

Beberapa perempuan saling bertukar pandang. Nama Nathan Halim selalu cukup untuk membuat cerita biasa terdengar lebih mahal.

Seseorang mengambil foto meja dan mengirimkannya ke grup WhatsApp arisan. Pesan Yulia ikut dikutip.

Sudah diurus. Tenang saja.

Tanda centang biru berderet di layar.

Di rumah perawatan, Renata sedang berdiri di depan ruang komite ketika seorang pegawai memanggil namanya.

“Bu Renata, silakan masuk.”

Kepala pengadaan, petugas farmasi, dokter Yolanda, dan seorang staf kepatuhan sudah duduk mengelilingi meja. Perempuan yang kemarin menolak memberikan dokumen tidak lagi tersenyum.

“Kami menemukan ketidaksesuaian pada perubahan waiting list,” kata staf kepatuhan. “Nama Ibu Yolanda dipindahkan tanpa rekomendasi medis dan tanpa persetujuan komite.”

Renata menaruh kedua tangan di pangkuan. “Berarti urutan awal dikembalikan?”

“Kami masih harus melakukan verifikasi akhir.”

Dokter Yolanda membuka map pasien. “Verifikasi medis sudah dilakukan bulan lalu. Tidak ada perubahan kondisi yang membuat pasien saya kehilangan prioritas.”

Kepala pengadaan mengangguk kaku. “Benar.”

“Lalu apa yang masih harus diverifikasi?” tanya Renata.

Tak seorang pun langsung menjawab.

Staf kepatuhan akhirnya membalik layar tabletnya. “Ada permintaan dari klinik rekanan yang dimasukkan lewat akses khusus. Permintaan itu tidak mengikuti prosedur. Kami akan membatalkannya.”

“Dan obat untuk Mama saya?”

“Dikembalikan sesuai daftar awal. Ibu Yolanda menerima jatah pengiriman hari ini.”

Udara keluar perlahan dari paru-paru Renata.

Ia telah tahu hasil itu akan datang sejak alarm audit menyala. Namun mendengar nama ibunya disebut sebagai penerima membuat kedua kakinya terasa lemas sesaat.

“Saya minta keputusan ini diberikan tertulis,” katanya.

“Tentu.”

“Termasuk alasan bahwa perubahan sebelumnya tidak sah.”

Kepala pengadaan tampak tidak nyaman. “Untuk apa?”

“Supaya hal yang sama tidak terjadi lagi saat pengiriman berikutnya.”

Staf kepatuhan menyela sebelum perdebatan baru dimulai. “Kami akan menyiapkannya.”

Pertemuan selesai dua puluh menit kemudian. Dokter Yolanda berjalan bersama Renata menuju lift.

“Saya tidak tahu bagaimana catatan yang hilang bisa muncul lagi,” ujarnya pelan.

Renata menatap angka lantai di atas pintu. “Yang penting rumah sakit menemukannya.”

“Apakah ini akan menjadi masalah bagi kamu?”

“Tidak kalau Dokter tidak menceritakan lebih dari yang perlu.”

Pintu lift terbuka. Renata tidak langsung masuk.

“Dok, saya minta satu hal.”

“Apa?”

“Kalau ada yang bertanya bagaimana pengaduan ini bisa berhasil, bilang saja komite melakukan audit rutin. Jangan sebut nama saya di luar berkas keluarga pasien.”

Dokter itu mengerutkan dahi. “Kamu takut keluarga Chandra?”

“Saya hanya tidak mau mereka tahu apa yang bisa saya lakukan.”

Pria itu terdiam, kemudian mengangguk. “Saya mengerti. Saya juga tidak akan membiarkan jatah pasien saya diambil lagi.”

Di Menteng, ponsel Yulia berdering di tengah arisan.

Ia mengangkatnya dengan santai, tetapi senyum di wajahnya hilang sebelum orang di seberang selesai berbicara.

“Dibatalkan bagaimana? Saya sudah dapat konfirmasi.”

Semua percakapan di meja perlahan berhenti.

“Tidak, Anda cek lagi. Nama saya sudah masuk. Ada orang dari Prima yang menelepon langsung.”

Yulia berdiri terlalu cepat hingga cangkirnya bergeser. Teh tumpah ke taplak putih.

“Saya tidak peduli soal audit. Obat itu harus dikirim ke klinik saya hari ini.”

Jawaban dari seberang membuat wajahnya merah.

Salah satu anggota arisan menunduk melihat grup WhatsApp. Pesan baru sudah masuk dari kenalannya yang bekerja di rumah sakit.

Katanya ada nama yang nyelonong masuk waiting list, terus ketahuan audit. Malu banget, koneksinya sampai dibatalkan.

Beberapa tanda tertawa muncul di bawah pesan itu sebelum buru-buru dihapus.

“Ada masalah, Tante Yulia?” tanya seseorang dengan nada terlalu manis.

Yulia mematikan sambungan. “Kesalahan administrasi.”

“Tadi katanya semuanya sudah diurus.”

“Memang sudah.”

“Oh.” Perempuan itu mengangkat cangkir. “Mungkin orang dalamnya kurang dalam.”

Tawa kecil terdengar dari ujung meja.

Yulia meraih tasnya dan pergi tanpa menyelesaikan arisan. Begitu pintu tertutup, grup WhatsApp kembali ramai. Foto teh yang tumpah, kutipan kesombongannya, dan kabar pembatalan menyebar lebih cepat daripada penjelasan apa pun yang bisa ia buat.

Begitu masuk mobil, Yulia langsung menelepon Cheryl.

“Obatnya dibatalkan.”

“Apa?” Suara Cheryl terdengar pelan di antara bunyi papan ketik. “Tapi orang Prima sudah telepon rumah sakit.”

“Sekarang mereka bicara soal audit dan prosedur. Kamu minta Nate urus lagi.”

Cheryl terdiam sesaat. “Nate sedang sibuk. Tim teknis Prima juga lagi menangani masalah keamanan.”

“Ini lebih penting. Semua orang di arisan sudah tahu.”

“Mama tadi cerita ke mereka?”

“Bukan itu masalahnya.”

“Justru itu masalahnya.” Nada Cheryl tetap lembut, tetapi lebih tegang. “Kalau Mama nggak bilang apa-apa sebelum obatnya ada di tangan, mereka nggak akan punya bahan untuk menertawakan.”

Yulia mencengkeram ponsel. “Kamu menyalahkan Mama?”

“Aku cuma minta Mama pulang dulu. Jangan balas pesan siapa pun. Aku akan cari tahu siapa yang mengajukan audit.”

Sambungan berakhir sebelum Yulia sempat menjawab. Di layar ponselnya, notifikasi grup arisan terus bertambah. Ia mematikan data seluler, tetapi penghinaan yang sudah tersebar tidak ikut menghilang.

Renata tidak melihat satu pun pesan itu.

Ia sedang berdiri di depan jendela kamar Mama Yolanda ketika perawat membawa kotak obat tersegel. Dokter memeriksa nomor batch, mencocokkan nama pasien, lalu menandatangani penerimaan di depan Renata.

Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada rasa ingin memamerkan bagaimana ia mengalahkan Yulia.

Hanya lelah yang menekan kedua bahunya.

Di balik kaca, Yolanda tertidur menghadap jendela. Wajahnya tampak tenang. Renata menempelkan ujung jari pada kaca, tepat di tempat bayangan pipi ibunya terlihat.

Ponselnya dibuka pada percakapan dengan Tania. Ia menekan tombol rekam.

“Tata, obat Mama aman.”

Hanya itu.

Suaranya serak di kata terakhir.

Balasan Tania datang dalam hitungan detik.

Pulang. Aku peluk, habis itu kamu tidur dua belas jam.

Renata nyaris tersenyum. Ia menyimpan ponsel, lalu kembali memandang ibunya.

Di tempat lain, sebuah peringatan kecil muncul pada layar pemantauan Prima Aeroteknik.

Salah satu akses khusus yang pernah dipakai untuk memberi rekomendasi ke sistem rekanan baru saja ditelusuri dari luar. Tidak ada data yang dicuri, tetapi seseorang telah membuka lapisan yang seharusnya tidak terlihat.

Seorang teknisi memperbesar catatan aktivitas itu. Wajahnya berubah tegang.

Ia meraih telepon internal dan menghubungi atasannya.

“Pak, sepertinya ada orang yang menyentuh jalur kita.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!