Cinta karena harta akan musnah, karena rupa akan termakan usia.Tapi cinta karena Allah, akan kekal abadi sampai Jannah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurusysyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20.Tanda Tangan Kontrak
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
...______...
Tak mau masuk sendiri di perusahaan besar itu, kini Arini berjalan masuk di gandeng oleh Wati. Wati terus saja tersenyum ramah juga sangat manis saat menoleh ke arah Arini sementara yang di toleh hanya bisa nyengir dengan gagu karena tak percaya diri.
Begitu banyak pasang mata sinis yang terus menatapnya, sepertinya mereka iri dengan apa yang Arini dapatkan kali ini, yaitu perhatian dari Wati.
"Eyang, Arini nggak jadi saja ya? sepertinya Arini tidak akan betah deh di sini," ucapan Arini seketika membuat Wati menoleh. Bagaimana bisa Arini mengatakan itu, ya meski benar sih Arini tidak akan mungkin betah bekerja di lingkungan yang tidak menghargainya, tapi apa salahnya kalau di coba dulu.
"Eyang yakin kamu akan betah, Arini. Jangan pedulikan mereka, yang terpenting sekarang kamu harus semangat untuk kerja di sini," ujar Wati memberikan pengertian.
"Tapi, Eyang...? "
"Sudah sudah, sekarang kita ke ruangan Arya. Katanya kamu harus menandatangani surat kontrak dulu sebelum kamu pulang," Wati bergegas menarik Arini masuk ke lift dia tak ingin sampai Arini mengubah keputusannya.
Sementara Arya sudah lebih dahulu pergi dari tadi. Kini Arya masih ada di ruangan Toni, memerintahkan asistennya itu untuk membuat surat kontrak yang harus di tanda tangani oleh Arini, yang pasti Arya juga akan menyelipkan beberapa peraturan yang harus di patuhi oleh Arini.
"Tuan beneran mau melakukan ini pada Arini? maksudnya, beneran tuan meminta dia yang akan pegang lantai 50 di mana Anda bekerja?" tanya Toni.
"Kenapa, apa kamu keberatan? atau jangan-jangan kamu yang menginginkan Arini mengurus lantai di mana kamu bekerja? aku bosnya jadi aku bisa menentukan siapa dan siapa yang akan ada di sekitar ku," jawab Arya dengan wajah songongnya.
"𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘴𝘶𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘖𝘉 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢? " 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘛𝘰𝘯𝘪.
"Gimana? apakah semua persyaratan dan ketentuannya sudah kamu catat dengan benar? apa kamu sudah pastikan tidak ada kesalahan?"
Peraturan dan persyaratan yang pasti akan sangat memberatkan Arini nantinya, tapi Toni bisa apa? dia tak bisa apapun kecuali menuruti semua perintahnya.
Setelah Arini menandatangani surat itu sudah bisa di pastikan dia tak bisa kabur lagi, dan Arya bisa membalas penghinaan yang Arini lakukan sesuka hatinya.
Toni merasa kasihan sebenarnya kenapa harus gadis sepolos Arini yang akan menjadi mainan untuk Arya. Toni hanya bisa berdoa semoga saja Arini tak selemah yang dia lihat. Semoga Arini bisa melindungi diri dari Arya yang notabene laki-laki yang tidak bener.
"Kenapa kamu diam? apa kamu sudah mulai simpati padanya?!" tanya Arya.
Toni yang tengah terdiam langsung gelagapan tentunya, dia tengah melamun membayangkan Arini yang tidak akan berakhir baik setelah menandatangani semua itu tapi Arya malah mengejutkannya.
"Ti- tidak, Tuan. Saya tidak berani melakukan itu?" jawab Toni. Lagian siapa juga yang akan berani simpati dengan gadis yang akan menjadi mainan dari tuannya.
"Bagaimana, sudah selesai?" tanya Arya dengan menekankan.
"Sudah, Tuan. Silahkan," tangan Toni menyodorkan berkas yang isinya ada beberapa lembar kepada Arya. Sebelum pergi Arya memastikan bahwa pekerjaan Toni benar.
"Bagus, kau selalu bisa di andalkan," Arya tersenyum sinis, dia sangat puas dengan kinerja Toni tapi dia lebih puas dengan semua yang tertulis di atas kertas putih itu.
Tanpa kata-kata lagi Arya keluar dari ruangan Toni. Secepatnya dia harus mendapatkan tanda tangan Arini supaya dia tak lagi khawatir kalau Arini akan kabur darinya.
Sesampainya di ruangannya sendiri Arya melihat Wati juga Arini tengah bergurau, hingga keduanya tertawa bersama-sama dengan lepas.
"Tumben Eyang mudah akrab dengan orang asing," gumamnya sembari melangkah namun matanya sedikit melirik kearah mereka berdua.
Arya duduk di kursi kebesarannya, dan secepatnya memanggil Arini. Tak mungkin juga dia akan meminta tanda tangan Arini di depan Wati, yang ada usahanya pasti akan gagal total nanti.
"Heyy kamu!! sini! " panggilnya.
Yang ada panggilan itu membuat Arini dan Wati mengernyit, sebenarnya siapa yang di panggil?.
"Saya?" tanya Arini menunjuk dirinya sendiri.
"Siapa lagi? bukankah yang akan bekerja di sini itu kamu bukan Eyang! " jawab Arya.
Astaga, suara laki-laki itu sama sekali tak ada manis-manisnya, terasa sangat hambar, datar bahkan di tambahin es yang begitu banyak. Dinginnya minta ampun deh.
Arini menoleh sebentar ke arah Wati, dan mendapatkan persetujuan darinya. Arini berdiri mulai melangkah menghampiri tempat Arya.
"Duduk," pinta Arya.
Seandainya saja suara Arya dan juga nada bicaranya itu di buat manis pasti semua wanita akan mimisan saat di hadapannya. Tapi sepertinya itu akan sangat mustahil bagi seorang Arya. Dia tak akan manis seperti itu.
"Duduk! " ucap Arya mengulang perkataannya.
Akhirnya Arini duduk juga setelah ucapan Arya yang kedua. Dengan cepat Arya menyodorkan berkas pada Arini dan tentunya juga bolpoin yang ada di sakunya.
"Nih, tanda tangan yang benar jangan sampai salah. Dan jangan boros-boros juga itu bolpoin mahal, gaji mu tidak akan cukup untuk membelinya,"
Astaga, sepertinya gelar Arya akan bertambah menjadi tuan pelit juga. Emang habis seberapa banyak sih untuk tanda tangan saja? nggak akan sampai habis juga kan?
Arini menerima bolpoin yang katanya mahal itu, mengamatinya dengan teliti tak ada perbedaan dari bolpoin yang lain terlihat sama saja.
"Mana mungkin ini bolpoin mahal? kayaknya sama saja dengan yang ada di warung yang harganya lima ribuan," celetuk Arini.
"Eh! jangan samakan saya dengan kamu yang rakyat jelata. Saya orang terpandang orang terkaya di kota ini, tidak mungkin hanya beli bolpoin harga lima ribu, kalau saya mau pabriknya juga bisa saya beli! " sepertinya Arya mulai kesal lagi. Aktingnya tak akan bisa berjalan dengan baik kalau Arini terus mengujinya.
"Cepat tanda tangan! atau saya bakal berubah pikiran! " desak Arya.
Orang yang memang tak pernah bekerja dan belum berpengalaman membuat Arini menurut saja, tanpa membaca satu kalimat saja dari isi surat kontrak itu.
Hati Arya berteriak penuh kemenangan, akhirnya dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dengan gerakan cepat Arya langsung menarik surat itu juga bolpoin yang ada di tangan Arini.
"Hemm..., tanda tanganmu lumayan juga," sedikit pujian pasti akan membuat Arini terbang dan terlena.
Sepertinya perkiraan Arya salah, bahkan Arini sama sekali tidak tersenyum bahkan tidak terlihat senang.
"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘺𝘢? 𝘠𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩..., 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘔𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘪𝘢𝘵 𝘥𝘻𝘰𝘭𝘪𝘮 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶. 𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘔𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶, " batin Arini yang ternyata tumbuh keraguan setelah memberikan tanda tangan, namun dia sudah tak berani melakukan apapun lagi karena semuanya sudah terlambat.
"Sekarang kamu pulang, istirahat untuk meningkatkan tenaga untuk bekerja besok, pulanglah! " usir Arya.
"Dan ya, jangan sampai telat. Sebelum aku datang kamu harus sudah sampai dan semua ruangan ini sudah bersih, kamu mengerti?"
"Saya mengerti, saya pamit, Assalamu'alaikum.. " pamit Arini.
"Hem.. " tak ada jawaban untuk salam dari Arini. Arya tak pernah mengucapkan apalagi menjawab salam.
"𝘠𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘔𝘶..., 𝘳𝘪𝘻𝘬𝘪, 𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩, 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱, 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘔𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘬𝘶, "
Batin Arini yang benar-benar berserah diri.
__
Bersambung..
_______
ini memang pasangan unik lah ya arini dan Arya
wuah Arya junior sudah mau otw ini semoga lancar ya lahiran nya jangan membuat kerecokan di rumah sakit nanti agar para dokter dan perawat tidak bingung 😅😅😅
nah lho Arya salah jawab kan makanya kalau istri sedang mengagumimu jangan kamu komplain dia keluar kan kata" yg bisa bikin kamu bingung